Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran
September 18, 2016


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 18 September 2016)

sebuah-kasus-ganjil-di-sebuah-restoran-ilustrasi-fsm

Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran ilustrasi FSM

Sosok itu terlihat gelisah sejak awal-awal duduk di kursi itu. Hingga beberapa menit ke depan, entah sudah berapa kali ia menengok jam dinding. Seperti tengah menunggu sesorang.

Seorang pelayan sempat menghampirinya—menanyakan pesanan. Tapi dia hanya tersenyum saat itu, seperti telah menemukan apa yang ia cari, meski tak memberi jawab sama sekali. Seperti orang yang pelit kata-kata. Atau bahkan mungkin bisu. Membuat pelayan itu memajukan bibir—tapi berusaha memaklumi. Duapuluh menit kemudian pelayan itu tetap membawakan secangkir teh hangat ke meja itu.

“Cuma dua ribu,” kata si pelayan. “Daripada cuma menganggur. Kalau tak mau, maksudku tak sanggup bayar, biar aku yang bayar. Tak enak sama si bos, kalau sampai beliau lihat kau cuma mampir untuk duduk.” (more…)

Kambing Kurban dan Sepotong Hati
September 11, 2016


Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 11 September 2016)

kambing-kurban-dan-sepotong-hati-ilustrasi-hery-purnomo

Kambing Kurban dan Sepotong Hati ilustrasi Hery Purnomo

Orang-orang masih duduk berkumpul di teras masjid. Seorang takmir yang juga ikut nimbrung dengan pujian penuh kebahagiaan bercerita tentang sedekah Pak Aris. Pada mulanya Pak Aris memang pelit. Tapi, kini ia ingin berkurban pada hari raya kurban. Hanya Pak Aris satu-satunya warga yang memberikan sapinya. Selain itu, kadang hanya tiga ekor kambing. Ada yang urunan. Tapi, Kurnia selalu rutin memberikan kambing ternaknya untuk kurban pada hari raya.

Di tengah embusan angin perbincangan sebagian huruf-huruf meniupkan aroma yang membuat Kurnia harus menanggung malu. Seorang warga selalu memuji Pak Aris dengan hewan kurbannya yang tak tanggung-tanggung. Dua ekor sapi. Tapi, di tengah pujian itu, ada kata-kata yang memang sengaja mengejek Aris karena hanya berkurban satu ekor kambing setiap tahun. Itu pun kambing kurus. (more…)

Wagimin Tikus
September 4, 2016


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 04 September 2016)

Wagimin Tikus ilustrasi Suara Merdeka

Wagimin Tikus ilustrasi Suara Merdeka

Di Gebyog, kampung tempat tinggal saya 12 tahun terakhir ini, saya adalah pendatang. Dan, sialan, agaknya sampai kapan pun, sekalipun bakal tinggal sampai mati di kampung ini, saya tetap dianggap dan diperlakukan sebagai pendatang. Tentu saja saya merasa berhak tersinggung. Ya, siapa mau dianggap dan diperlakukan terus-menerus sebagai pendatang, meski sudah tinggal berbelas tahun? Bahkan berniat tinggal sampai maut menjemput.

Bagi saya, rata-rata warga asli—begitulah mereka menyebut diri mereka—kampungan dan sungguh tak terpelajar. Apalagi kebanyakan mereka cuma lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada satu-dua lulusan perguruan tinggi, sikap dan cara berpikir mereka pun setali tiga uang. Sama saja, kampungan dan tak terpelajar.

Sialan! (more…)

Apartemen Malaikat
August 28, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 28 Agustus 2016)

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Setelah bertahun-tahun bus itu melaju seakan tanpa tujuan akhir, aku dan Sapono diturunkan di gedung tua dengan gerbang berlogo ayam jago. Sapono membawa barang berupa sekeping white board dan spidol warna hitam yang baunya tidak enak. Papan itu digantung begitu saja di lehernya untuk dapat berkomunikasi, karena ia tidak memiliki kepala. White board itu didapat secara gratis ketika malaikat Sapono menumpang bus pelintas dua dunia.

Jika Anda belum mendengar alasan bagaimana aku, yang manusia biasa, terjebak di alam gaib ini dan tidak bisa pulang dan terpaksa mengikuti kemana malaikat bernama Sapono pergi, sebaiknya tidak perlu mendengar lebih jauh tentang ini. (more…)

Kebun Kelapa Bapak
August 21, 2016


Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 21 Agustus 2016)

Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Jadi, kebun kelapa itu akan dijual untuk kepentingan pakde Parsidi pergi ngulon—menjalankan rukun Islam yang kelima. Kebun itu sebelumnya memang milik bapak. Warisan dari simbah untuk anaknya yang wuragil. Kebun yang berdampingan dengan kebun milik pakde Parsidi, anaknya simbah yang pertama. Kedua kakak bapak yang lain tidak mendapatkan warisan karena meninggal dunia sewaktu masih bujang. Namun semenjak bapak menggadaikan kebun itu kepada pakde—demi kelanjutan studiku di Perguruan Tinggi—surat tanah kebun kelapa itu akhirnya dikuasai pakde.

“Beruntung Pakdemu masih mengizinkan Bapak mengambil nira dari pohon kelapa yang tumbuh di kebun itu, Le. Jadi simbokmu masih bisa menitis dan mengolah legen menjadi gula merah untuk sangu kuliahmu. Begitupun dengan kelapanya,” begitu kata bapak saat melepas surat tanah demi mendapatkan pinjaman uang sepuluh juta rupiah, agar aku bisa merasakan bangku kuliah. (more…)

Kenangan Kemerdekaan
August 14, 2016


Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 14 Agustus 2016)

Kenangan Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka

Kenangan Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka

Pada masa penjajahan Jepang, sikap remajaku sangat menggebu-gebu. Aku selalu ingin berperang dan menantang orang-orang Jepang. Tapi, kadang nyaliku bagai kain basah karena tak memiliki senjata tajam seperti pedang atau keris. Aku dengar-dengar dari banyak taman dan tetangga, mereka menggunakan bambu untuk membunuh orang-orang Jepang. Pada mulanya aku meragukan tentang penggunaan bambu sebagai alat untuk membunuh orang. “Masak hanya dipentungkan?” gumamku setangah heran dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh para tetangga.

Aku pun menyimak dan banyak bertanya perihal bambu yang digunakan untuk membunuh tentara Jepang. Aku baru menyadari setelah melihat dengan mata kepala sendiri. Bambu itu diruncingkan. Seruncing kuku serigala di hutan. Aku segera melonjak ke pagar-pagar rumah untuk menebang pohon bambu untuk diruncingkan. (more…)