Magena
July 5, 2015


Cerpen Ida Fitri (Suara Merdeka, 5 Juli 2015)

Magena ilustrasi Suara Merdeka

BUKIT La Sabira masih berdiri kokoh. Dua belas patung singa masih mengelilingi kolam air mancur. Taman ini masih taman yang sama ketika kau memintaku menunggumu. Katamu kau akan kembali sebelum kebab lumer di mulut. Apa yang terjadi?

Sudah empat ratus kali lebih bumi mengelilingi matahari—aku berdiri di sini—engkau tak kunjung  datang juga. Tak pernah ada mata elang, rambut ikal, dan aroma tubuhmu. (more…)

Mengendalikan Arah Angin
June 28, 2015


Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 28 Januari 2015)

Mengendalikan Arah Angin ilustrasi Hery

SEGALA yang naik itu kelak akan jatuh sebagaimana pesawat roboh oleh banyak prasangka semisal seekor burung berparuh panjang yang berbahaya, tak lekas mampu mengendalikan arah angin yang ceroboh. Kakek seringkali mengulangi kalimat itu sebagai mantra ajaib burung-burung nakal yang ada di dalam kepalaku.

“Jangan terlalu banyak bergerak, pelankan suaramu ketika berbicara atau jika tidak, burung-burung akan mencuri mimpimu.” (more…)

Peternakan Lebah dan Kematian Amirudin
June 21, 2015


Cerpen I Putu Supartika (Suara Merdeka, 21 Juni 2015)

Peternakan Lebah dan Kematian Amirudin ilustrasi Putut Wahyu WidodoJIKA kau mendengar seseorang mati karena disengat ular, kalajengking, atau laba-laba beracun itu hal yang biasa. Tapi bagaimana jika kau mendengar bahwa seseorang mati karena disengat seekor lebah? Jika lebah yang menyengat itu ratusan atau ribuan mungkin kau masih percaya. Tetapi, jika yang menyengat itu hanya seekor lebah dan orang itu mati, pasti kau tak akan pernah percaya. Bagaimana mungkin hewan sekecil lebah dengan sengatan yang tidak begitu berbisa bisa membunuh seseorang? Pasti hal itu hanya ada di negeri dongeng dan menjadi pengantar tidur bagi anak-anak yang baru lahir kemarin sore. Namun, kini kau harus percaya dengan hal itu, karena kini orang-orang sedang ramai-ramai membicarakan kematian Amirudin yang konon disengat seekor lebah. (more…)

Danau, Sinyo, dan Seorang Bocah Bertopi Gatsby
June 14, 2015


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Juni 2015)

Danau, Sinyo, dan Seorang Bocah Bertopi Gatsby ilustrasi Toto

TAK  lama setelah Sinyo duduk, mengaitkan umpan di kail, dan melemparkannya ke dalam air, bocah lelaki bertopi gatsby itu datang. Ia tersenyum pada Sinyo. Tapi Sinyo tak membalasnya. Ia tak pernah menyukai anak kecil. Bahkan seandainya itu dirinya sendiri sewaktu kecil. Sinyo melirik bocah itu, seolah mendoakan supaya bocah itu tidak mengail di sampingnya.

Tapi bocah itu malah duduk tepat di sebelahnya, sekitar dua meter dari tempat Sinyo duduk. Bocah itu melakukan persis yang dilakukan Sinyo: mengait umpan di kail, lalu melemparkan kail ke dalam air. Tiba-tiba Sinyo merasa, bocah itu sengaja meniru gerak-geriknya. Sinyo mendengus, dasar makhluk peniru. (more…)

Meisa dan Ular di Lehernya
January 25, 2015


Cerpen Maltuf A Gungsuma (Suara Merdeka, 25 Januari 2015)

Meisa dan Ular di Lehernya ilustrasi Suara Merdeka

LIHAT perempuan itu, bukan emas atau berlian di lehernya, tapi ular. Ia memang cantik, semua pemuda di sini tahu itu dan berdecak kagum setiap melihatnya melintas di jalanan desa. Tapi kau mesti tahu kalau ular di lehernya itu berbisa. Dan yang sangat mengerikan lagi, ular itu hanya patuh pada majikannya.

“Meisa, ada banyak lelaki ingin mengalungkan berlian di lehermu, tapi selalu terhalang sama ular itu.” (more…)

Helah
January 18, 2015


Cerpen Raedu Basha (Suara Merdeka, 18 Januari 2015)

Helah ilustrasi Suara Merdeka

Juni 1999

Janadin. Lelaki berkumis tebal itu merasa degup jantungnya tak berdetak. Matanya bersemburat merah seketika, duduk bersila di antara hadirin yang melingkar di mihrab masjid. Sebuah upacara pernikahan tak biasa akan dilaksanakan.

Dia menatap runcing seorang anak muda yang mengenakan setelah jas-sarung rapi tak ubahnya mempelai pria. Santab. Ia penolong Janadin dari sial. Tetapi sial itu kini seolah pekat langit kembali burat, dan menjadi. Kecemburuan bergejolak. (more…)