Terbang
July 31, 2016


Cerpen Kartika Catur Pelita (Suara Merdeka, 31 Juli 2016)

Terbang ilustrasi Farid

Terbang ilustrasi Farid

“Ibu tak ingin kau jadi pilot. Setelah kehilangan Ayah, lalu abangmu, Ibu tak ingin kehilanganmu karena terbang!”

Padahal sejak kecil ia suka diajak Ayah terbang. Padahal ia paling senang melihat ayahnya terbang. Padahal ia bangga memiliki Ayah dan Abang yang pintar mengemudikan pesawat terbang.

Demi Ibu, ia akhirnya memupus cita-cita yang sudah kadung mendarah daging. Demi Ibu, selepas SMA, ia urung mendaftar ke sekolah penerbang. (more…)

Di Stasiun Kereta Api
July 24, 2016


Cerpen Kurnia Gusti Sawiji (Suara Merdeka, 24 Juli 2016)

Di Stasiun Kereta ilustrasi Suara Merdeka

Di Stasiun Kereta ilustrasi Suara Merdeka

Jati diri hilang di stasiun kereta api. Tidak ada yang tahu apakah barang itu hilang di tengah keramaian peron atau terseret kereta api. Tidak ada yang tahu atau mau tahu, kecuali seorang penjaga loket tiket.

Ia adalah seorang lelaki paruh baya yang sudah menjaga loket semenjak ia masih akil baleg. Adalah ayahnya yang menurunkan pekerjaan itu kepadanya, dan adalah kakeknya yang menurunkan pekerjaan itu kepada sang ayah, dan begitu seterusnya berurut ke atas. Singkat kata, pekerjaan menjaga loket tiket adalah sebuah pekerjaan turun-temurun, dan kelak ia juga akan menurunkan pekerjaan ini kepada anak lelakinya yang tak lama lagi akil baleg. (more…)

Riwayat Harjuna dan Teman Perempuan
July 17, 2016


Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 17 Juli 2016)

Riwayat Harjuna dan Teman Perempuan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Riwayat Harjuna dan Teman Perempuan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Sudah sampai Juli lagi kini. Semenjak ada situs jejaring sosial, kita jadi selalu mampu memantau siapa saja yang berganti usia saban harinya. Mungkin sebagian sudah kita mengerti tanggal berapa hari lahirnya sejak dulu, namun ada juga yang baru ketahuan setelah terhubung Facebook. Setidaknya, jika kita lupa pun jadi mengingatnya dan mengucapkan selamat ulang tahun, tentu disertai sejumlah doa istimewa kala tiba masanya. Sesuatu yang baru belakangan disadari Harjuna–yang akrab dipanggil Juna—adalah  beberapa perempuan yang pernah dekat dengannya sama-sama memiliki tanggal lahir pada bulan ketujuh. Inilah sedikit riwayat yang pernah terjadi antara Juna dengan mereka.

***

Perempuan yang pertama berulang tahun setiap tanggal 4 Juli. Ia adalah adik kelas Harjuna sewaktu kuliah belasan tahun silam. Perlu waktu rada lama baginya hingga terasa ada yang berbeda di relung kalbu melihat gadis manis bernama Evalina. Sampai akhirnya Juna memutuskan mendatangi rumahnya, mengajaknya berkenalan, dan mereka sempat cukup dekat sebagai teman. Eva berparas menawan dengan rambut panjangnya nan indah biasa dibiarkannya tergerai secara alami. Sosoknya kadang mengingatkan Juna pada aktris favoritnya, Sandra Bullock, terutama ketika bermain dalam film “While You Were Sleeping”. (more…)

Berkereta ke Surga
July 10, 2016


Cerpen Teguh Affandi (Suara Merdeka, 10 Juli 2016)

Berkereta ke Surga ilustrasi Suara Merdeka

Berkereta ke Surga ilustrasi Suara Merdeka

Pikirannya agak goyah seperti sebotol minuman soda yang dikocok berulang kali kemudian dibuka dan berhamburanlah semua isinya keluar. Mungkin karena Mulatin sudah tua dan seumur hidup tidak memiliki anak, demikian terkaan orang. Tapi sejatinya, musabab mengapa Mulatin sedemikian berang tiap ada hal kecil menganggu—misal lepek kopi yang dirubung semut, koran yang basah karena si loper koran melemparkan buru-buru dan mengenai genangan air hujan di emper rumahnya, atau tepung karambol yang makuk kuku dan susah dibasuh—ialah karena dua karib sejawatnya, Mudakir dan Muyasir, telah mati mendahuluinya.

Mulatin beserta Mudakir dan Muyasir adalah gerombolan yang semenjak muda gemar menyentil-nyentil biji karambol di pos ronda saban usai sembahyang isya. Mereka bertiga berkelakar tanpa mengenal waktu. Tak peduli kopi di gelas telah hampir tandas menyisakan ampas kental. Atau suara jangkrik malam mulai bersahutan pertanda malam hampir turun ke fajar. Kita habiskan malam sebelum malam ini mengunyah kita, demikian rayu Mulatin untuk mengikat Mudakir dan Muyasir yang memang dasarnya tak punya kemampuan bergadang setangguh Mulatin. (more…)

Malam Lebaran
July 3, 2016


Cerpen Amir Yahyapati ABY (Suara Merdeka, 03 Juli 2016)

Malam Lebaran ilustrasi Toto

Malam Lebaran ilustrasi Toto

Gerimis di senja itu membuat orang-orang menumpuk di teras warungku. Dua Angkudes (angkutan desa) yang berhenti hampir bersamaan menumpahkan penumpangnya, pada berebut mencari tempat berteduh. Warung peninggalan mertuaku yang sengaja dibikin berteras luas dan memanjang agar orang-orang yang mau bepergian atau yang datang dari kota bisa berteduh di situ. Orang-orang menyebut warungku adalah pangkalan Angkudes dan ojek sepeda motor. Dan imbasnya, mereka yang berteduh banyak jajan di warungku.

Tahun-tahun belakangan ini, cuaca seringkali mengingkari siklusnya. Ini bukan musim penghujan, tapi kilat berpijaran serupa sulur-sulur api yang menyebar dan menancap ke pasak bumi. Kemudian tidak berapa lama disusul suara geluduk yang memekakkan telinga. Mendung tebal menyungkup di atas bukit Lindur. Angin terus-menerus berkesiur susul-menyusul; memilin, menerabas dan mengayun ranting-ranting pohon mahoni dan sonokeling yang berjejer di sepanjang jalan desa, hingga menimbulkan suara kemerosak di mana-mana. Air makin lama makin deras tumpah ke bumi. Dan orang-orang yang berdesakan di teras warungku sebagian ada yang masuk ke dalam. Tetapi mereka tidak memesan apa-apa. Ini bulan Ramadan, dan biasanya warungku mulai buka pukul 04.30. Sore. Kalau pun mereka membeli biasanya minta dibungkus untuk dibawa pulang. Atau memesan makanan ketika azan maghrib berkumandang untuk berbuka puasa. (more…)

Pengantar Malaikat
June 26, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 26 Juni 2016)

Pengantar Malaikat ilustrasi Farid

Pengantar Malaikat ilustrasi Farid

Suatu malam, ketika kepalaku setengah pusing, seseorang mengetuk pintu. Kuintip dari jendela; aku tahu ia bukan manusia. Tidak ada manusia hidup tanpa kepala. Karena tidak pernah takut dengan apa yang orang sebut hantu, kubuka saja pintuku dan kutanya ada perlu apa dia kemari.

Lelaki itu tentu tidak bisa bicara, tetapi di lehernya terkalung sekeping white board dan nyaris membuatku tersedak. Seekor hantu membawa white board, dan ia memegang spidol hitam seperti seorang guru yang siap menerangkan sebuah teori di depan kelas. Apa yang Anda pikirkan jika melihat hantu semacam ini? (more…)