Perempuan Leter
February 7, 2016


Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 07 Februari 2016)

 

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Sadiman masih merasakan kantuk bergantung pada sepasang matanya. Semalaman dikerubungi nyamuk-nyamuk hutan yang menggerayangi tubuhnya. Ia menyerapahi Sarkab yang semalam mendadak minta ijin pulang lantaran istrinya mau melahirkan. Dengan wajah masam Sadiman mengangguk. Pagi terasa lembab saat lelaki usia kepala dua itu menarik kain sarungnya, melindungi tubuh ringkihnya dari serangan dingin. (more…)

Suman
January 24, 2016


Cerpen Umar Affiq (Suara Merdeka, 24 Januari 2016)

Suman ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Suman ilustrasi Putut Wahyu Widodo

“Suman.” Aku baca tulisan itu dalam hati. Tulisan pada kayu jati yang sebagian terpendam dalam gunduk tanah di depanku. Tak sekali pun aku sangka, barangkali pemilik nama itu juga, bahwa semua yang ia ceritakan padaku tempo hari lebih segera dari yang tak pernah kami duga. (more…)

Sekantong Wajah
January 17, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 17 Januari 2016)

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Sekantong Wajah ilustrasi Farid

Ada lima wajah terbungkus plastik di atas meja. Semuanya berbeda. Baru. Wajah-wajah itu terlihat rupawan; menguarakan karisma dan kesantunan seorang alim ulama yang sering Tarno tonton di televisi. Sekilas juga mirip seorang kiai terkenal yang menjadi panutan setiap orang. Tarno mengamati wajah-wajah di dalam plastik; melihat kelima wajah yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Ia harus lekas memilih satu dari kelima wajah untuk mengganti wajah lamanya saat ini; menanggalkan dirinya yang lama, menjadi sosok yang baru. (more…)

Edelweis Merbabu yang Merindu
January 10, 2016


Cerpen A Hil (Suara Merdeka, 10 Januari 2016)

Edelweis Merbabu yang Merindu ilustrasi Hery Purnomo

Edelweis Merbabu yang Merindu ilustrasi Hery Purnomo

“Cinta itu berasal dari Yang Maha Cahaya, diciptakan dari cahaya, ditulis dengan tinta cahaya, ke permukaan kertas cahaya, dan berbahasa cahaya” [1]

PROLOG

Halimun memeluk Merbabu. Embun meranum membasahi daun-daun, menyerupai bulir-bulir keringat di tubuh dua insan yang lekas bercinta. Burung-burung berkicau, terkadang berbisik, terkadang menggumam, bersahutan merangkai musik bernada harmoni alam, sejiwa dengan gairah desah napas perawan dan perjaka yang saling mencinta. Pagi masih buta, matahari belum pula menampakkan binarnya. Angin semilir memanjakan muda-mudi yang terbungkus selimut tebal, mereka mendengkur di dalam tenda-tenda. (more…)

Menjelang Kepergian Ibunda
January 3, 2016


Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 3 Januari 2016)

Menjelang Kepergian Ibunda ilustrasi Toto

Menjelang Kepergian Ibunda ilustrasi Toto

SABAN tiba menjelang pergantian warsa, hingga menjelmalah angka tahun yang baru, senantiasa aku terkenang pada mendiang Ibunda. Sembilan tahun sudah tak dapat kutemui ibuku dalam keseharian di atas buana. Benakku beranjak menuju masa silam, pada sejumlah hari sebelum kepergian selamanya perempuan yang sungguh kusayangi. Ketika itu sebenarnya Ibu telah berada di rumah kembali selama hampir dua bulan. Beliau sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit sekitar dua pekan lantaran mengalami gangguan jantung dan ginjal. Sebagai upaya memulihkan kesehatannya, kata dokter tiada pilihan lain bagi Ibu kecuali menjalani cuci darah secara rutin seminggu dua kali. (more…)

Magena
July 5, 2015


Cerpen Ida Fitri (Suara Merdeka, 5 Juli 2015)

Magena ilustrasi Suara Merdeka

BUKIT La Sabira masih berdiri kokoh. Dua belas patung singa masih mengelilingi kolam air mancur. Taman ini masih taman yang sama ketika kau memintaku menunggumu. Katamu kau akan kembali sebelum kebab lumer di mulut. Apa yang terjadi?

Sudah empat ratus kali lebih bumi mengelilingi matahari—aku berdiri di sini—engkau tak kunjung  datang juga. Tak pernah ada mata elang, rambut ikal, dan aroma tubuhmu. (more…)