Dari Iklan Koran Kuning
November 6, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 06 November 2016)

dari-iklan-koran-kuning-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Dari Iklan Koran Kuning ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aji sampai pada rakaat terakhir shalat duhanya ketika Jibi berteriak-teriak dari luar rumah mengabarkan bahwa salah satu kambing milik Aji yang dititiprawatkan kepadanya baru saja beranak. “Kambingnya tidak sakit. Kambingnya beranak manusia,” teriak Jibi. (more…)

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya
October 30, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 30 Oktober 2016)

perempuan-yang-tergila-gila-pada-mesin-cucinya-ilustrasi-suara-merdeka

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya ilustrasi Suara Merdeka

“Akan kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil menyeret tanganku menuju ruang dapur.

“Lihatlah!” serunya riang.

Di depan kamar mandi, di sebelah pintu, aku melihat benda terkutuk itu. Sebuah mesin cuci dengan penutup di bagian atas. Persis ibu-ibu gemuk yang mendekam karena kekenyangan.

Aku pun bertanya. “Mesin cuci? Kamu beli mesin cuci? Untuk apa?” (more…)

Bapak dan Ribuan Nisan
October 23, 2016


Cerpen Ryan Rachman (Suara Merdeka, 23 Oktober 2016)

bapak-dan-ribuan-nisan-ilustrasi-farid-suara-merdeka

Bapak dan Ribuan Nisan ilustrasi Farid/Suara Merdeka

Memang, saat ini bapak sudah tidak terlalu ngaya untuk membuat nisan dalam jumlah banyak. Bapak sudah tidak sekuat dulu. Terlebih lagi bapak baru setengah tahun lalu sembuh dari stroke. Lumpuh separuh itu menyerang bapak tepat setahun yang lalu.

Bapak memang punya riwayat darah tinggi dan emosi yang labil. Sering bapak membentak-bentak karyawannya jika melakukan kesalahan. Tak jarang ibu, aku dan adikku juga menjadi sasaran kemarahannya. (more…)

Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas
October 16, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016)

rinjani-pada-suatu-hari-yang-malas-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Rinjani Pada Suatu Hari yang Malas ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Pada masa tuanya waktu seakan berjalan malas. Detak jam ikut-ikutan lesu memutar momentum di tubuh waktu. Bahkan rasa lambat diperparah dengan suasana ruangan tak terawat. Terlalu banyak debu yang menelingkupi perabotan rumah; menyaput ganas guci-guci mungil, piring dan gelas hias, patung-patung kurcaci yang terbuat dari kaca; yang membeku di etalase tua. Apabila kau melirik ke arah timur ruangan 5×6 itu, terdapat kalender usang yang telah lima tahun tak diganti.

Selain pemadangan muram itu, ada satu ruangan yang masih terlihat hidup: serambi rumah. Reva memiliki serambi yang tak terlalu besar. Hanya berukuran 2×3. Dan terdapat bunga melati, sedap malam, serta bonsai. Ruangan itu sedikit redup karena terhalangi rindang pohon akasia berusia 30 tahun. Di serambi, Reva sering duduk menghabiskan waktunya di kursi goyang yang terbuat dari rotan. Kursi yang mengelurkan decit lembut dan menghadirkan kantuk. Di sana Reva duduk menekur; menerawang sesuatu dengan sepasang mata yang mirip gundu. (more…)

Pencuri Kopi
October 9, 2016


Cerpen Arianto Adipurwanto (Suara Merdeka, 09 Oktober 2016)

pencuri-kopi-ilustrasi-suara-merdeka

Pencuri Kopi ilustrasi Suara Merdeka

Suara ranting patah di bawah telapak kaki telanjang Maq Sukiq mengagetkan jangkrik yang tadinya mengkrik nyaring. Kesunyian yang tiba-tiba, mendorong ia untuk menghentikan langkahnya. Lalu melanjutkan lagi setelah ia rasa semuanya aman terkendali.

Golok panjang di tangan kanannya beberapa kali berdenting tatkala berbenturan dengan semak-semak dan ranting pepohonan. Senter di tangan kirinya semakin lama kian meredup. Beberapa kali ia hampir terperosok ke dalam lubang. Di kejauhan sana, ia mendengar deburan arus sungai Keditan, sungai yang membelah kampung Lelenggo. (more…)

Rahasia Ibu
September 25, 2016


Cerpen Damanhuri Armani (Suara Merdeka, 25 September 2016)

rahasia-ibu-ilustrasi-putut-wahyu-widodo

Rahasia Ibu ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Di Sebuah Toko Buku

Rahasia Membutuhkan Kata. Itu judul buku yang beberapa tahun lalu kudapati teronggok di sebuah rak toko buku di kotaku.

Sebenarnya bukan karena aku betul-betul pecinta buku, apalagi buku sastra, jika aku akhirnya membeli buku itu. Bukan, sama sekali bukan. Karena kalau aku seorang penyuka buku, sikapku pasti tidak instrumentalistik hanya membeli buku yang kuanggap memiliki nilai praktis. Jika aku pecinta sastra, tentu saja bukan buku telaah sastra itu yang aku beli; tapi justru buku sastra.

Aku pasti akan membeli buku-buku puisi Sapardi atau Sutardji. Aku akan membeli buku-buku prosa Seno Gumira, Budi Darma, Remy Sylado atau Umar Kayam—nama-nama pengarang dengan reputasi menjulang tapi hanya satu-dua buku karya mereka yang terselip di rak bukuku. (more…)