Meisa dan Ular di Lehernya
January 25, 2015


Cerpen Maltuf A Gungsuma (Suara Merdeka, 25 Januari 2015)

Meisa dan Ular di Lehernya ilustrasi Suara Merdeka

LIHAT perempuan itu, bukan emas atau berlian di lehernya, tapi ular. Ia memang cantik, semua pemuda di sini tahu itu dan berdecak kagum setiap melihatnya melintas di jalanan desa. Tapi kau mesti tahu kalau ular di lehernya itu berbisa. Dan yang sangat mengerikan lagi, ular itu hanya patuh pada majikannya.

“Meisa, ada banyak lelaki ingin mengalungkan berlian di lehermu, tapi selalu terhalang sama ular itu.” (more…)

Helah
January 18, 2015


Cerpen Raedu Basha (Suara Merdeka, 18 Januari 2015)

Helah ilustrasi Suara Merdeka

Juni 1999

Janadin. Lelaki berkumis tebal itu merasa degup jantungnya tak berdetak. Matanya bersemburat merah seketika, duduk bersila di antara hadirin yang melingkar di mihrab masjid. Sebuah upacara pernikahan tak biasa akan dilaksanakan.

Dia menatap runcing seorang anak muda yang mengenakan setelah jas-sarung rapi tak ubahnya mempelai pria. Santab. Ia penolong Janadin dari sial. Tetapi sial itu kini seolah pekat langit kembali burat, dan menjadi. Kecemburuan bergejolak. (more…)

Terusir
January 11, 2015


Cerpen Jumari HS (Suara Merdeka, 11 Januari 2015)

Terusir ilustrasi Putut Wahyu Widodo

SIAPA pun orangnya, setiap kali melewati rumah reot dihuni seorang janda tua bernama Parni pada menjelang malam pasti telinganya mendengar tembang-tembang Jawa. Mbah Parni yang giginya sudah hampir habis itu masih memiliki suara kuat dan bagus. Maklum pada masa mudanya dia memang mantan sinden tersohor di kampungnya. (more…)

Tulang Ikan di Tenggorokan
January 4, 2015


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 4 Januari 2015)

Tulang Ikan di Tenggorokan ilustrasi Heri Purnomo

RUMAH kami dan rumah Wak Karni bersebelahan, hanya bersekat pagar beluntas setinggi pinggang dan beberapa pohon petai cina yang tak pernah berbuah. Rumah Wak Karni berlantai dua, berwarna kuning muda, dan berubin keramik, sedangkan rumah kami berlantai satu, sedikit reot, dan berubin tanah mentah. Jika ditilik secara saksama, dua rumah itu akan tampak seperti gubuk dan istana yang bersandingan. Atau seperti tahi lalat yang menempel di wajah cantik. (more…)

Rajah Nurbuwat
July 20, 2014


Cerpen Tiyasa Adfian (Suara Merdeka, 20 Juli 2014)

Rajah Nurbuwat ilustrasi Hery

Tidak akan manjur rajah nurbuwat kalau tidak dibungkus kafan perempuan yang meninggal dalam keadaan perawan. Demikian pesan Kiai Arofah kepada Pak Kalimas. Jabatan “kiai” bukan lantaran gemar memberi ceramah melainkan karena Kiai Arofah bisa berurusan dengan hal tak terlihat. Juga karena lelaki yang tak pernah luput mengemut kretek itu selalu memakai kemeja putih seperti baru pulang dari Makkah. (more…)

Luka Bakar
July 13, 2014


Cerpen Budi Saputra (Suara Merdeka, 13 Juli 2014)

Luka Bakar ilustrasi Toto

Segalanya begitu cepat berubah. Ketika hari terburuk dalam usianya itu terjadi, di ambang pintu, ia hanya bisa menahan tangis sambil memegang luka bakar di tangannya. Berdiri tersandar, menyaksikan istri dan ketiga anaknya berlalu menuju kejauhan. Ia tak kuasa untuk menahan, memberi sedikit penjelasan perihal ujung pangkal mimpi buruknya yang mahaaneh itu. Setelah 12 tahun meniti bahtera, ia pun harus menerima kenyataan pahit. Tinggal sendirian, dalam kesepian yang kian menyeramkan. (more…)

Kesumat
July 6, 2014


Cerpen Amalia Achmad (Suara Merdeka, 6 Juli 2014)

Kesumat ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Selema tak tahu harus bagaimana. Ia bersembunyi di pojok kandang kuda yang tak terjangkau cahaya lampu gantung. Tak ada angin malam ini, dinding-dinding papan bergeming, segalanya terasa kering. Kuda-kuda meringkik gelisah seolah tahu ada hidup yang sedang terancam bahaya. Sementara di luar, teriakan memanggil-manggil namanya terdengar sahut menyahut.

Selema menerka-nerka, Tuan Pieter telah mengerahkan seluruh lelaki di rumah ini untuk mencarinya. Hanya masalah waktu, mereka pasti menemukannya. (more…)

Tulah Si Tulah
June 29, 2014


Cerpen Arena Bayu (Suara Merdeka, 29 Juni 2014)

Tulah Si Tulah ilustrasi Farid S Madjid

IA biasa dipanggil Tulah, si pembawa sial yang tak pernah mujur, padahal bapaknya menamainya Ragil, si anak terakhir. Tapi sekarang orang-orang kampung sudah lupa bagaimana melafalkan nama aslinya, jadilah ia akrab dipanggil Tulah.

Nyatanya hidup Tulah tak benar-benar tak mujur, setidaknya menurutnya sendiri. Dua tahun lalu ia berhasil mengawini Tini, si perawan malu-malu yang menunduk ketika dipandang dan merona ketika dipuji. Tini kecil yang bergigi gingsul, begitu Tulah menyebut istri yang selalu menyambutnya dengan teh tawar ketika pulang mencari ikan. (more…)

Kelelawar di Atas Kepala Mama
June 22, 2014


Cerpen Erna Surya (Suara Merdeka, 22 Juni 2014)

Kelelawar di atas kepala mama ilustrasi hery purnomo

MAMA tak pernah marah padaku. Ia selalu muncul sebagai peri nan cantik. Rambut panjang mama tergerai indah, itu yang selalu kulihat. Selebihnya, suara lembut yang kudengar bila ia dekat-dekat denganku. Mama tak pernah meninggalkanku di malam hari. Pernah aku tersedak ketika tengah makan malam. Ia menepuk-nepuk punggungku seraya berkata, ’’Tak apa-apa.’’ Ah, mama yang baik.

’’Kau sudah besar.’’  (more…)

Hujan
June 15, 2014


Cerpen Nufi Ainun Nadhiroh (Suara Merdeka, 15 Juni 2014)

Hujan ilustrasi Toto

“APAKAH hujan terbuat dari kesedihan sehingga setiap kali ada hujan kau menangis?’’

Kau diam. Matamu berkaca-kaca. Sedang suara hujan mungkin menyamarkan pertanyaanku. Atau, kau sudah bosan mendengar pertanyaan itu? Tapi, bukankah kau sangat menyukai hujan? Hujan yang jatuh di atap dan menimbulkan suara aneh, airnya yang menetes satu per satu dari pepohonan, menggaris di kaca-kaca, pun aroma tanah yang perlahan menelusup, katamu sayang kalau dilewatkan. (more…)