Ular-ular Peliharaan Bapak
April 24, 2016


Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 24 April 2016)

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Sudah berulangkali kami meminta Bapak berhenti. Memelihara ular bukan pilihan yang tepat. Apalagi dalam jumlah banyak. Dipelihara sejak baru menetas pun, ular tetap buas dan licin. Kalau ular-ular itu lepas dari kandang, Bapak dan kami sekeluarga pasti bingung. Seekor ular sajalepas bisa bikin geger orang sekampung, bahkan lebih.Ular itu bisa menyelinap masuk ke kamar, ke laci meja, ke lemari baju, bahkan ke brankas Bapak.

“Jangan pelihara ular, Pak! Mereka licik. Bisa-bisa Bapak ketularan.” (more…)

Agama Baru Penemu Dompet
April 17, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 17 April 2016)

Agama Baru Penemu Dompet ilustrasi Toto

Agama Baru Penemu Dompet ilustrasi Toto

Sebuah dompet tergeletak di dekat selokan, berisi uang jutaan rupiah dan beberapa lembar tulisan aneh. Aku tidak tahu siapa pemilik dompet ini, tetapi kukira dia manusia dermawan dan tidak memikirkan soal dunia. Salah satu tulisan itu berbunyi: boleh ambil sesuka Anda, tetapi jangan semua, dan kembalikan dompet itu ke tempat di mana Anda menemukannya.

Memang aneh, tetapi karena dompet ini nyata, bukan gaib, dan berisi pecahan uang seratus ribu dalam jumlah sedemikian banyak, diam-diam aku menepi dan memeriksa lebih teliti. Sudah pasti, yang dimaksud ambil oleh tulisan itu tidak lain adalah uang. Jadi, aku boleh ambil berapa pun, tetapi sesudah itu harus menaruh dompet itu kembali? (more…)

Plasenta 3
April 10, 2016


Cerpen Tarisman Kalangka (Suara Merdeka, 10 April 2016)

Plasenta 3 ilustrasi Farid

Plasenta 3 ilustrasi Farid

Orang menyebut Arian Si Anak Kidal. Panggilan itu pada mulanya membuat Arian harus melepas pakaian di hadapan teman-temannya. Ia seakan terpaksa telanjang bulat. Meski jiwanya memberontak dan meronta-ronta, ia rela diperlakukan seperti binatang yang tak berdaya. Tangan kirinya yang paling banyak digunakan kadang membuatnya tak siap bertemu dengan siapa pun.

Sebagian orang menyebut, itu kelebihan Arian. Tapi itu sebenarnya kekurangan yang dirasa oleh dirinya sendiri. Arian selalu memeras keringat dan membanting tulang agar tangan kanannya bisa digunakan dengan baik. Seperti teman-temannya yang selalu menggunakan tangan kanannya. Tapi, percuma dan sia-sia. Sekitar lima tahun sejak ia menyadari, usahanya tak pernah berhasil. (more…)

Delapan Kuda Putih Berpacu
April 3, 2016


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 03 April 2016)

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

TAK pernah dipikirkan Aryo sebelumnya, bila Zahra, calon istrinya, seorang dokter, menolak menempati rumah baru. Aryo membeli sebuah rumah di kota baru—kawasan yang dibangun sejak lima belas tahun silam, dengan menebang hutan karet. Semula ia berharap Zahra akan bahagia bisa membuka ruang praktik di rumah. Tapi Zahra menolak. Zahra ingin memiliki rumah di kampung, di antara orang-orang papa agar bisa membantu mengobati mereka.

Memasuki kawasan kota baru, Aryo selalu terpana dengan sebuah tugu bertiang delapan, dikelilingi air mancur, di taman yang membelah jalan. Di ujung jalan menuju perumahan, patung delapan kuda putih berpacu didirikan di taman yang rimbun pohon trembesi. Kuda-kuda yang gagah, mengangkat kaki muka, berpacu, tanpa kereta, tanpa pangeran dan dewa yang menungganginya. (more…)

Bintang-bintang di Jendela
March 27, 2016


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 27 Maret 2016)

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Tiga bilah cahaya masuk ke dalam remang-remang kamar itu. Seperti sebuah tangan yang ingin meraih, memeluk erat, dan menghiburnya dari segala kesedihan.

Ia lantas meregangkan tubuh untuk mengusir pegal-pegal. Tubuhnya menggelinjang aneh. Ini untuk sebuah penyambutan. Malam sudah datang. Ia harus bersiap menyambut sebuah kereta harapan yang akan datang menjemput. Meski kereta itu selalu datang diam-diam, tapi selalu tepat waktu. Selalu tepat ketika sunyi mendekap malam sedemikian pekatnya. Karena itulah ia sendiri yang harus siap menunggu. Tak peduli sepi tengah melumuri semesta raya. (more…)

Siwa
March 20, 2016


Cerpen Saroni Asikin (Suara Merdeka, 20 Maret 2016)

Siwa ilustrasi Toto

Siwa ilustrasi Toto

Suli menelan ludah pahitnya saat suaminya berkata, “Atas restu Ibu Ratu, sudah kuputuskan, kau harus melacur, Suli!”

Ucapannya persis desisan beludak siap menyemburkan bisa. Kepulan asap kretek Siwa, lelaki itu, meliuk-liuk di depan muka dinginnya, memedihkan mata Suli. Perempuan itu tak berani menengadahkan wajah. Serupa tawanan kalah perang. Dia tak pernah mampu menatap muka lelaki yang lima belas tahun jadi suaminya itu. Hanya sekejap saja tak mampu. Sebab pada muka itu, dia selalu melihat kebengisan Dasamuka menjelang tiwikrama. (more…)