Ayat-Ayat yang Menangis
June 21, 2015


Cerpen Sule Subaweh (Republika, 21 Juni 2015)

Ayat-ayat yang Menangis ilustrasi Rendra Purnama

LAKI-LAKI itu menangis, di tangannya Alquran terbelah menjadi dua. Dia menunduk seperti mengeja ayat-ayat yang berbaris. Basah oleh air matanya. Perlahan matanya mengeja satu persatu huruf-huruf yang berbaris rapi, bibirnya mulai komat-kamit, tanpa suara. Tak lama setelah itu, air matanya kembali membasahi lembaran kitab yang dipangkunya, diikuti seduan-seduan kecil yang ditelannya. (more…)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh
January 25, 2015


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh ilustrasi Rendra Purnama

DI luar sana, langit telah rata berselimut mendung. Hujan mulai merintik sejak beberapa menit lalu. Perempuan muda berparas ayu khas Jawa itu masih berdiri, bergeming di tepi jendela kamarnya.

Tuhan, mengapa orang yang kucintai pergi dengan begitu cepat, bahkan sebelum aku sempat bersanding dengannya. (more…)

Taubat
January 18, 2015


Cerpen Daruz Armedian (Republika, 18 Januari 2015)

Taubat ilustrasi Rendra Purnama

DINI hari tepat waktu Tahajud, dua orang itu menyusuri jalanan. Kanan kiri tampak sepi. Lampu-lampu temaram seperti kunang-kunang. Menjadi saksi bisu langkah mereka menuju stasiun kereta.

“Dek, kenapa anak ini harus lahir dari rahimmu?”

“Kang, ini salahmu. Waktu aku mengandung, Kang pasti berbuat jahat pada orang lain.” (more…)

Rela Rella
January 11, 2015


Cerpen Aya Emsa (Republika, 11 Januari 2015)

Rela Rella ilustrasi Rendra Purnama

“KAMU yakin, La? Undangan pernikahan kamu udah disebar….” Yasha menatap Rella tajam- tajam. Mencari jawaban darinya. Keputusan yang diambil Rella terlalu riskan, mana bisa dia membatalkan pernikahannya yang akan terlaksana dalam hitungan jari? (more…)

Insomnia
January 4, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 4 Januari 2015)

Insomnia ilustrasi Rendra Purnama

“ANDA benar-benar terserang insomnia akut. Sepekan tidak tidur itu batas maksimal tubuh manusia. Anda harus tidur,” kata Dokter Kamal. Pendingin udara menggelontorkan udara di suhu 20 derajat dengan pengharum ruangan aroma citrus.

Hamdani duduk termangu mendengar semua penjelasan Dokter Kamal. Tubuhnya lesu tidak bergairah. Wajahnya pucat karena kurang tidur. (more…)

Nurani
November 23, 2014


Cerpen Rian Gusman Widagdo (Republika, 23 November 2014)

Nurani Ilustrasi Rendra Purnama

“Hussy… husy… husy….”

Kudekap koper hitam di tanganku dengan dada naik turun. Suara teriakan massa di belakangku semakin mendekat. Aku pun semakin merapatkan diri di balik puing-puing bangkai kapal bekas tsunami empat tahun lalu, berharap tak satu pun dari mereka mencium jejakku. (more…)

Firasat
June 22, 2014


Cerpen Fahdiant Uge (Republika, 22 Juni 2014)

Firasat ilustrasi Rendra Purnama

“BU, tapi ini sudah keempat kalinya. Berturut-turut!” kalimat Shafira bergetar. Ketakutan.  Air teh panas yang di tuangnya membuat gelas beling bening retak. Air teh memenuhi meja makan. Menetes ke lantai. Shafira mengempaskan teko. Ada embusan putus asa atas kepungan firasat buruk di benaknya.

“Kamu ini termakan sinetron. Gelas retak itu biasa. Kualitas pabrik sekarang menurun,” ibunya tidak menggubris. Konsentrasinya tertuju pada mangkuk berisi sayuran dan lauk yang dihidangkan di meja makan. Dalam hati, ibunya membenarkan hipotesis tersebut. Shafira berusia 30 tahun, tetapi kekanak-kanakan. Bagaimana jadi istri orang jika setiap kejadian diartikan firasat buruk? Bisa makan hati.  (more…)

Balada Rindu Nek Padma
May 25, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Republika, 25 Mei 2014)
balada rindu nenek padma 25 mei 2014

MATA cekung Padma mengerjap menatap senja yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa muram. Kerinduannya akan masa lalu seolah lindap pada semburat merah kekuningan itu. Hanya desir angin yang tak memberinya isyarat apa pun yang ia dengar. Atau, gemerisik daun-daun jambu yang tumbuh di pelataran yang sudah sangat akrab di telinganya.

Dulu, saat seperti ini, dari kursi beranda ia bisa saksikan bocah-bocah itu pulang. Dan, satu per satu mereka masuk ke dalam rumah dengan wajah masai usai bermain. Bocah-bocah itu kini telah dewasa, tapi tak bersamanya lagi sejak delapan tahun lalu. Pekerjaan telah membawa mereka meninggalkan rumah dan menyebar ke tempat yang jauh. Bahkan, ada yang di luar pulau. Dan, sejak itu pula, belum pernah mereka berkumpul bersama di rumah itu. Bahkan, saat Lebaran sekalipun.  (more…)

Amplop Kosong
May 18, 2014


Cerpen Daud Insyirah* (Republika, 18 Mei 2014)
Amplop Kosong ilustrasi Rendra Purnama

Syawal 1429 H

IA masih menatap undangan yang bergerak perlahan mengikuti angin. Kemudian ia menyandarkan diri di tembok dan sesekali melihat undangan yang sempat ia buka beberapa hari yang lalu. Wajahnya kusut dan memelas seperti tak ada lembaran penyambung hidup di kantongnya.

Andai ia diterima kerja di pabrik bulan ini, mungkin ia bisa memperoleh pemasukan. Jika tak ada pemasukan, apa layak menghadiri pesta pernikahan? Biasanya, orang menyebut resepsi pernikahan dengan sebutan bowo.

Di acara tersebut ada semacam kotak infak yang dihias sedemikian rupa hingga jauh dari kesan kotak infak itu sendiri. Malahan ada juga bentuknya seperti pot bunga yang besar sekali. Namun, fungsinya sama saja. Untuk mengisi amplop.  (more…)

Kabut Api
May 11, 2014


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 11 Mei 2014)
Kabut Api ilustrasi Rendra Purnama

“KALAU kau masih nekat juga, akan kucacah-cacah, kubakar, dan kubuang ke laut!”

Seharusnya Mintarsih menyembunyikan baju yang baru selesai dijahit itu. Semestinya Yu Tami tak mengantarkannya ke rumah. Andai saja ia menyerahkannya ketika nelayan itu sedang miyang.

“Baju baru, beli baju baru lagi!” Kang Baidi marah-marah.  (more…)