Kisah Cinta yang Dungu
April 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 April 2016)

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Gerimis baru saja reda. Senja tersaput mendung yang murung. Orang-orang bergegas dengan terburu: berlalu lalang dengan wajah panik memasuki ruang tunggu kereta di stasiun Tugu. Aroma perpisahan mengendap di setiap sudut stasiun.

Pun ditambah deru mesin kereta yang siap bergegas pergi: membuat seorang seolah terjebak pada keterbatasan ruang dan jarak untuk saling menyapa. Saling bertemu. Begitu pula dengan aku dan kau. Hari ini kita bagai ikut merayakan perpisahan di stasiun Tugu. Kita saling berpegang tangan: tidak mau telepas dan berpisah dari pertemuan terakhir yang sentimentil ini. (more…)

Pak Kodir
April 17, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Republika, 17 April 2016)

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat… Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, “Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?” (more…)

Mendekap Takdirmu
April 10, 2016


Cerpen Hanafi Akbar (Republika, 10 April 2016)

Mendekap Takdirmu ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Mendekap Takdirmu ilustrasi Rendra Purnama

“Aku tidak pernah menyesal menjadi suamimu, bidadariku,” seuntai kalimat yang meluncur tulus dari bibir Ahmad Syahroni menghujam dada sang istri sembari membersihkan kedua kakinya dengan penuh cinta.

Ahmad Syahroni, lelaki dengan mata sipit, berambut hitam membelah pinggir, berbibir tipis, berkulit putih sedang membersihkan telapak kaki istrinya, Aisyah Lathifah. Seorang istri yang dinikahinya enam bulan yang lalu. Perempuan yang sama sekali tidak dipercayainya akan menjadi teman hidupnya. (more…)

Mayam untuk Cut Nyak
April 3, 2016


Cerpen Fadilah Raharyo (Republika, 03 April 2016)

Mayam untuk Cut Nyak ilustrasi Rendra Purnama

Mayam untuk Cut Nyak ilustrasi Rendra Purnama

Wajar kiranya jika ibu cemas dengan keadaan yang kualami saat ini. Umur sudah berlabuh di kepala tiga, namun tak kunjung menemukan pendamping. Teman semasa SMA bahkan sudah hampir rata menikah. Si Johan, misalnya, sudah menikah, bahkan hingga empat kali. Kini, Johan menduda. Ditinggal mati oleh istri pertama dan ditinggal lari oleh tiga yang lain karena ‘hijau mata’. Sebenarnya, ini aib bagi Johan, tetapi nasibnya masih lebih baik daripada aku.

Terlepas dari apa yang kuceritakan tentang Johan adalah aib, yang kualami kini justru aib di bumi serambi Makkah ini. Orang-orang tua di gampong berkata sangat pantang anak gadis belum menikah jika umurnya sudah tepat dia angka 25. Akan susah “laku”, begitu kata mereka. (more…)

Penggali Liang Lahat
March 27, 2016


Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 27 Maret 2016)

Penggali Liang Lahat ilustrasi Rendra Purnama

Penggali Liang Lahat ilustrasi Rendra Purnama

Tak ada keahlian apa pun yang dimiliki Darso kecuali menggali liang lahat. Pada hari kematian seorang warga di dekat rumahnya. Ia datang hanya membawa cangkul disanggulkan di pundak. Tubuhnya ringkih, membawa langkahnya terpincang-pincang, tetapi tenaganya berlipat ganda ketika ia mulai mencangkuli tanah, menggali lubang sedalam dua meter bagi yang meninggal.

Ia menolak seseorang yang berniat membantu pekerjaannya. Mulanya warga mengira laki-laki yang rambutnya dipenuhi uban itu tak akan sanggup menggali tanah, namun mereka sungguh tercengang saat Darso menyelesaikan galian liang lahat dalam kurun waktu yang bisa dibilang cepat untuk ukuran lelaki serenta dia. (more…)

Percakapan Tengah Malam
March 20, 2016


Cerpen Shabrina Ws (Republika, 20 Maret 2016)

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Menjelang tengah malam, Jas mematikan traktornya. Aku segera meniup lampu minyak di meja. Tak berapa lama, terdengar kecipak air dari kamar mandi di belakang rumah. Aku tak bersuara, hingga pintu terbuka, dan cahaya bulan menghambur masuk ruangan. Aku bisa melihat bayangan Jas yang melangkah masuk.

“Kamu selalu pulang jam segini?”

“Ibu?” (more…)