Rendang Terakhir
January 31, 2016


Cerpen Syafaati Suryo (Republika, 31 Januari 2016)

Rendang Terakhir ilustrasi Rendra Purnama

Rendang Terakhir ilustrasi Rendra Purnama

Lelaki itu selalu terjaga sepanjang malam. Duduk di ubin sudut ruangan dengan terpaan cahaya bulan yang menyelinap melalui lubang udara. Didekapkan kedua kakinya hingga menyentuh dada. Bulir-bulir keringat meluncur di balik kausnya. Pikirannya kocar-kacir. Pandangannya tertuju pada pasukan semut di dinding. Semut-semut itu seakan menggerogoti isi kepalanya. (more…)

Filosofi Rumah
January 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 Januari 2016)

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Filosofi Rumah ilustrasi Rendra Purnama

Waktu cepat tergelincir ketika ia mulai merancang sebuah rumah yang kelak akan ditinggalinya bersama sang istri. Sebuah tempat yang dapat membuatnya memiliki alasan untuk pulang; tinggal di dalam dan menghabiskan masa tua hingga malaikat maut mengetuk pintu rumah; menjemput pada batas waktu yang telah ditentukan. Maka, sebelum semua itu terjadi, ia tidak ingin serampangan merancang sebuah rumah. Karena, selain nyaman untuk ditinggali, rumah baginya juga harus mampu menyimpan seluruh harap sepanjang hidup. (more…)

Lakon Lama
January 17, 2016


Cerpen Pipiet Senja (Republika, 17 Januari 2016)

Lakon Lama ilustrasi Rendra Purnama

Lakon Lama ilustrasi Rendra Purnama

Telah beberapa bulan ibuku harus dirawat. Keluhannya tak lain sakit kepala yang menghebat. Migrain, katanya. Kemarin kami sudah menjemputnya. Ibu harus banyak istirahat di rumah. Tiap pagi aku sibuk bantu Emih, melayani para pembeli, saatnya banyak orang belanja. Ikut membungkusi, itu pun kadang masih harus diperbaiki oleh nenekku. (more…)

Randu
January 10, 2016


Cerpen Shabrina WS (Republika, 10 Januari 2016)

Randu ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Randu ilustrasi Rendra Purnama

Sejak pertama Randu mengajakku bertemu, aku selalu menjawab, bahwa cara bercandanya tak pernah lucu. Tentu saja, itu bukan jawabanku yang sebenarnya. Entah bagaimana, susah kujelaskan kalau sesungguhnya, aku tak cukup punya nyali untuk berhadapan langsung dengannya.

“Sekali saja, Bree,” desaknya. Waktu itu, pesannya masuk ke ponselku ketika aku sedang belanja. Aku bahkan sampai lupa, barang apa saja yang ingin kubeli.

“Kalau besok aku mati, apakah kamu benar-benar tak menyesal kita tak sekalipun bertemu?” (more…)

Gaun Putih Berenda Ungu
January 3, 2016


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 3 Januari 2016)

Gaun Putih Berenda Ungu ilustrasi Rendra Purnama

Gaun Putih Berenda Ungu ilustrasi Rendra Purnama

“EL, jadi kamu akan tetap ke pesta pernikahan Mas Robby?”

“Ya, Bu.”

“Yakin? Nanti kalau ada apa-apa, bagaimana?”

“Saya akan kuat, Bu. Saya harus datang memenuhi undangan Mas Robby. Justru kalau saya tidak datang, keluarga mereka akan menganggap saya orang yang kalah.” (more…)

Doa Pulitan
December 27, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 27 Desember 2015)

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

Doa Pulitan ilustrasi Daan Yahya

ADA labirin di kepala Pulitan. Labirin rumit yang menjadikan Pulitan tersesat dalam pikirannya sendiri. Hingga membuat orang terseok-seok mengikuti alur berpikirnya. Saban mencoba mencerna kejanggalan sikap dan ucapan Pulitan yang seruncing taring, berbisa seperti kecubung, justru kita akan terjerembap di kedalaman sesat atau terbentur tembok buntu. Banyak tetangga tak menyukai dan mengucilkannya. Bahkan istri-istrinya—Pulitan tiga kali menikah tiga kali berpisah—selalu punya alasan untuk minta talak. (more…)