Reuni
May 15, 2016


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 15 Mei 2016)

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Saya baru merasakan kalau waktu itu seperti mengejar ekor layang-layang putus. Sampai napas ini hampir habis, tak sekali pun dia mau mampir di tangkapan. Hari seperti berlari. Pekan tak sampai dikejar. Bulan menggelinding penuh kecepatan. Dan tahun yang lewat membuat semua tubuh ini makin rapuh. Bukan hanya soal waktu yang tidak bisa diputar bak piringan hitam belaka. Menikmati waktu pun perlu usaha ekstra.

Saya masih mengingatnya betul. Di ujung-ujung perpisahan, kami bertiga berjanji untuk sesekali menelepon, mengirimkan pesan, atau sengaja mengatur janji bertemu bisa jumpa dengan jeda liburan. Tapi, hidup kami ternyata lebih susah diatur. Mula-mula kami masih sering bertelepon seminggu sekali di tengah kesibukan kerja. Juga saling kunjung. Kegembiraan kami masih sama, seperti saat kami masih di kota yang sama dulu, Jogja. (more…)

Kukuyaan
May 8, 2016


Cerpen Pretty Angelia (Republika, 08 Mei 2016)

Kukuyaan ilustrasi Rendra Purnama

Kukuyaan ilustrasi Rendra Purnama

Petir menggelegar mencabik udara. Ia datang tak sendirian. Bersama dengan arakan mega kelabu, ia menebar teror di seluruh sudut Kota Bandung. Aku tengadah. Kusadari hujan akan menyapaku segera.

Aku tahu kau sangat membenci hujan. Kau mengutuki kemarau yang acap kali melibas tanahmu jadi kering. Anehnya kau juga menangisi hujan yang membagi airnya pada ladangmu dengan sukarela. Karena menurutmu seringnya itu terlalu berlebihan sehingga bisa membuatku meluap dan merampas apa pun yang kau miliki dalam sekejap.

“Hai, Sungai. Aku mau berenang di sini, ya.” (more…)

Kisah Cinta yang Dungu
April 24, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 April 2016)

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Gerimis baru saja reda. Senja tersaput mendung yang murung. Orang-orang bergegas dengan terburu: berlalu lalang dengan wajah panik memasuki ruang tunggu kereta di stasiun Tugu. Aroma perpisahan mengendap di setiap sudut stasiun.

Pun ditambah deru mesin kereta yang siap bergegas pergi: membuat seorang seolah terjebak pada keterbatasan ruang dan jarak untuk saling menyapa. Saling bertemu. Begitu pula dengan aku dan kau. Hari ini kita bagai ikut merayakan perpisahan di stasiun Tugu. Kita saling berpegang tangan: tidak mau telepas dan berpisah dari pertemuan terakhir yang sentimentil ini. (more…)

Pak Kodir
April 17, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Republika, 17 April 2016)

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat… Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, “Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?” (more…)

Mendekap Takdirmu
April 10, 2016


Cerpen Hanafi Akbar (Republika, 10 April 2016)

Mendekap Takdirmu ilustrasi Rendra Purnama.jpeg

Mendekap Takdirmu ilustrasi Rendra Purnama

“Aku tidak pernah menyesal menjadi suamimu, bidadariku,” seuntai kalimat yang meluncur tulus dari bibir Ahmad Syahroni menghujam dada sang istri sembari membersihkan kedua kakinya dengan penuh cinta.

Ahmad Syahroni, lelaki dengan mata sipit, berambut hitam membelah pinggir, berbibir tipis, berkulit putih sedang membersihkan telapak kaki istrinya, Aisyah Lathifah. Seorang istri yang dinikahinya enam bulan yang lalu. Perempuan yang sama sekali tidak dipercayainya akan menjadi teman hidupnya. (more…)

Mayam untuk Cut Nyak
April 3, 2016


Cerpen Fadilah Raharyo (Republika, 03 April 2016)

Mayam untuk Cut Nyak ilustrasi Rendra Purnama

Mayam untuk Cut Nyak ilustrasi Rendra Purnama

Wajar kiranya jika ibu cemas dengan keadaan yang kualami saat ini. Umur sudah berlabuh di kepala tiga, namun tak kunjung menemukan pendamping. Teman semasa SMA bahkan sudah hampir rata menikah. Si Johan, misalnya, sudah menikah, bahkan hingga empat kali. Kini, Johan menduda. Ditinggal mati oleh istri pertama dan ditinggal lari oleh tiga yang lain karena ‘hijau mata’. Sebenarnya, ini aib bagi Johan, tetapi nasibnya masih lebih baik daripada aku.

Terlepas dari apa yang kuceritakan tentang Johan adalah aib, yang kualami kini justru aib di bumi serambi Makkah ini. Orang-orang tua di gampong berkata sangat pantang anak gadis belum menikah jika umurnya sudah tepat dia angka 25. Akan susah “laku”, begitu kata mereka. (more…)