Kolak
July 5, 2015


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 5 Juli 2015)

Kolak ilustrasi Rendra Purnama

Seolah, selama setahun disembunyikan dan hanya digelontorkan saat Ramadhan, kolak melimpah ruah sepanjang hari-hari puasa. Meskipun misterius, kurma yang mendadak melimpah di swalayan modern hingga pasar tradisional masih masuk nalar. Meski bermula dari Tanah Persia, nyatanya sebulan menjelang puasa hingga pasca- Lebaran kurma mudah sekali ditemukan. Bersama hadis cara Nabi berbuka, buah pokok Phoenix dactylifera lantas mendunia. Lantas, bagaimana dengan kolak? Tak ada ulama, kiai, ustaz, atau wali menyahihkan bahwa kolak kudapan khusus saat Ramadhan. Tapi, semua seperti sepakat kolak hanya enak dimakan saat buka puasa.  (more…)

Ziarah Tanpa Makam
June 28, 2015


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 28 Juni 2015)

Ziarah Tanpa Makam ilustrasi Da'an Yahya

TIDAK semua peristiwa membutuhkan tapak tilas bahkan sebuah kesedihan. Setiap waktu, peristiwa begitu saja terjadi, lantas tidak meninggal apa pun selain kesan kehilangan; sebuah perayaan kekalahan yang terus tertunda. Tarno selalu berpikir bahwa kematian adalah cara baik untuk pulang. Dan, kematian juga tidak membutuh waktu yang tepat saat datang. Kematian bisa kapan saja bekunjung maka manusia tidak dapat menyiapkan segala hiporia kepiluan tersebut. Begitu juga dengan sebuah liang kesedihan tempat mengubur segala duka.  (more…)

Ayat-Ayat yang Menangis
June 21, 2015


Cerpen Sule Subaweh (Republika, 21 Juni 2015)

Ayat-ayat yang Menangis ilustrasi Rendra Purnama

LAKI-LAKI itu menangis, di tangannya Alquran terbelah menjadi dua. Dia menunduk seperti mengeja ayat-ayat yang berbaris. Basah oleh air matanya. Perlahan matanya mengeja satu persatu huruf-huruf yang berbaris rapi, bibirnya mulai komat-kamit, tanpa suara. Tak lama setelah itu, air matanya kembali membasahi lembaran kitab yang dipangkunya, diikuti seduan-seduan kecil yang ditelannya. (more…)

Ketika Ayah Tiada
June 14, 2015


Cerpen S Saiful Rahim (Republika, 14 Juni 2015)

Ketika Ayah Tiada ilustrasi Rendra Purnama

KETIKA dengan mata yang berair Bunda mengatakan Ayah sudah tiada, aku masih melihat sosoknya terbaring damai di depan kami. Tak ada yang hilang dari diri Ayah.  Senyumnya masih yang dulu juga. Melekat pada bibir yang ditumbuhi kumis yang dicukur dengan tidak tertib. Tidak setiap hari. Tidak seperti janggutnya yang tumbuh terpelihara dengan baik. Dengan warna yang putih merata dan berkilau bak berminyak. (more…)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh
January 25, 2015


Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh ilustrasi Rendra Purnama

DI luar sana, langit telah rata berselimut mendung. Hujan mulai merintik sejak beberapa menit lalu. Perempuan muda berparas ayu khas Jawa itu masih berdiri, bergeming di tepi jendela kamarnya.

Tuhan, mengapa orang yang kucintai pergi dengan begitu cepat, bahkan sebelum aku sempat bersanding dengannya. (more…)

Taubat
January 18, 2015


Cerpen Daruz Armedian (Republika, 18 Januari 2015)

Taubat ilustrasi Rendra Purnama

DINI hari tepat waktu Tahajud, dua orang itu menyusuri jalanan. Kanan kiri tampak sepi. Lampu-lampu temaram seperti kunang-kunang. Menjadi saksi bisu langkah mereka menuju stasiun kereta.

“Dek, kenapa anak ini harus lahir dari rahimmu?”

“Kang, ini salahmu. Waktu aku mengandung, Kang pasti berbuat jahat pada orang lain.” (more…)