Quantum
May 1, 2016


Cerpen Nurul Alfiyah Kurniawati (Jawa Pos, 01 Mei 2016)

Quantum ilustrasi Bagus

Quantum ilustrasi Bagus

Je te vois partout dans le ciel

Je te vois partout sur la terre

Tu es ma joie et mon soleil

Ma nuit, mes jours, mes aubes claires *)

 

Marseille, 2016

Suara khas Edith Piaf seolah menggema di sepanjang jalan menuju katedral-katedral tua di Marseille. Kota terbesar kedua setelah Paris ini tak pernah sungkan membuatku terpesona. Dibingkai pantai Mediterania, dengan angin mistral yang bertiup dari utara di musim-musim terbaiknya. Hawa nostalgia semerbak dari segala arah, dalam setiap suasana. (more…)

Robohnya Bukit Kami
April 24, 2016


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 24 April 2016)

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

SURAD berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis, tapi suara gemuruh dari hutan bagian selatan menghantuinya. Hutan di sisi barat ini jalan terpendek satu-satunya menuju tobu (kampung) Olondoro. Hujan telah menggemburkan tanah, membuat goyah bukit Lere’Ea yang mengelilingi desa di mulut tanjung itu.

Tapi, harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada. (more…)

Musiklehrer
April 17, 2016


Cerpen Sahasra Sahasika (Jawa Pos, 17 April 2016)

Musiklehrer ilustrasi Bagus

Musiklehrer ilustrasi Bagus

FRUSTRASI karena aransmen dari beberapa arranger yang dibayar mahal selalu gagal mengantar Stimme ke tangga juara, kami memutuskan untuk “memakai” laki-laki yang dari namanya kami kira berdarah Warsawa itu: Innev Zladek. Laki-laki yang numpang lahir di Lubuklinggau—karena sejak berumur dua bulan dia sudah diboyong orang tuanya ke Gelsenkirchen—yang menafikan matematika dalam membuat komposisi. Kami menjadi anak-anak keledai yang mengikuti ringkikan induknya. Ketika ia meminta Borris membunyikan lirik pada nada sol rendah, atau meminta Leidy mengeluarkan head-voice pada chorus terakhir, atau memintaku menstabilkan longtone tanpa crescendo, ia mengingatkan kami pada beberapa pelatih vokal sebelumnya. Ia tampil sebagai arranger yang meyakinkan. (more…)

Dering
April 10, 2016


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 10 April 2016)

Dering ilustrasi Bagus

Dering ilustrasi Bagus

TEPAT pada dering ketiga aku mengangkat telepon wireless di meja kayu mahoni berwarna cokelat kemerahan itu.

“Hallo…” Suaraku rendah dan datar seperti lazimnya suara manusia di pagi hari, malas.

“Eh, sejak kapan boleh terima telepon dengan kata hallo…??” Aku tersambar petir, rasanya begitu. Suara itu…

“Ken… ayo ulangi!!” Terdengar suara telepon di seberang diletakkan sembarangan. Suaranya terdengar ngilu. Kepalaku pening mendadak. Dengan gerakan zombie aku meletakkan telepon tanpa kabel pada tempat duduknya.Suara itu… (more…)

Petimun Sikinlili
April 3, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 03 April 2016)

Petimun Sikinlili ilustrasi Bagus Hariadi

Petimun Sikinlili ilustrasi Bagus Hariadi

IA tiba dari negeri jauh ketika Bengkulu digoyang lindu. Awal yang buruk baginya. Setelah sekian pekan terapung di lautan, ia seakan tak diberi waktu untuk berleha-leha. Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, ia bangkitkan lagi kota yang oleh penghuninya sempat disebut tanah mati karena nyaris seluruh bangunan luluh-lantak. Dan sebagai Gubernur Jenderal yang baru, ia buktikan bahwa kerjanya lebih keras ketimbang suaranya.

Kuketahui ihwal itu dari Tuan Presgrave, lelaki rambut jagung yang selalu berpakaian rapi dan jika bicara hanya seperlunya. Selaku Residen Manna, Tuan Presgrave meminta kami, enam pegawai pribumi, untuk ikut dalam rombongan. Andai bukan Tuan Presgrave yang bicara langsung di depan mataku, sudah kutampik perintahnya. Usia telah membuat tenagaku susut. Bukan ringan menyusur rimba, menanjak bukit, menuruni ngarai, dan menyeberang sungai. Terlebih lagi, harus kutinggalkan anak bini berhari-hari. Jika masih bujang tanpa tanggungan, usah pikir sepanjang galah, sudah kuladeni itu perintah. (more…)

Seorang Petani
March 27, 2016


Cerpen Fyodor Dostoyevsky (Jawa Pos, 27 Maret 2016)

Seorang Petani ilustrasi Bagus

Seorang Petani ilustrasi Bagus

Ini adalah Senin Paskah. Udara terasa hangat dan langit tampak biru, tetapi aku terjebak dalam kemuraman. Aku berkeliling menjelajahi sudut-sudut halaman penjara, menghitung jeruji di dalam pagar besi yang kokoh. Sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh ingin menghitung jeruji. Aku melakukannya lebih karena kebiasaan saja.

Hari itu adalah hari “liburan” keduaku di penjara. Inilah hari-hari saat seorang narapidana tidak perlu bekerja. Kebanyakan di an tara para narapidana itu memilih mabuk-mabukan dan berkelahi. Yang lainnya bernyanyi keras-keras, lagu-lagu yang menjijikkan. Semua ini berakibat buruk kepadaku. Aku bahkan merasa sakit. Aku tidak pernah tahan dengan pesta-pesta yang dilakukan orang-orang jelata ini. Di dalam penjara, pesta-pesta itu bahkan lebih mengerikan lagi daripada yang terjadi di luar sana. (more…)