Duri Ibu
November 6, 2016


Cerpen Anindita S. Thayf (Jawa Pos, 06 November 2016)

duri-ibu-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Duri Ibu ilustrasi Bagus/Jawa Pos

SERINGKALI aku merasa seolah tengah bermimpi. Ada bulan menerobos jendela dapur dan menjelma bubur. Di kali lain, seolah ada penculik yang mengambil bayiku dan menggantinya dengan Ibu.

Meskipun sekelebat, tapi rasanya sungguh nyata. Hingga gelegak air atau panas panci menyadarkanku bahwa itu hanya permainan kesadaranku yang baru separo terjaga. Ternyata, aku sedang memasak bubur dengan mata sesekali mengatup, menahan beratnya kantuk. Persis seperti saat ini. (more…)

Mayat Mengambang di Malioboro
October 30, 2016


Cerpen Indra Tranggono (Jawa Pos, 30 Oktober 2016)

mayat-mengambang-di-malioboro-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Mayat Mengambang di Malioboro ilustrasi Bagus/Jawa Pos

DATANGLAH ke Malioboro! Anda akan menyaksikan peristiwa yang menakjubkan. Di sini waktu terasa berhenti. Mati. Dan keajaiban dari peradaban yang tenggelam pun akan menyergap Anda. Juga, makhluk-makhluk aneh yang selama ini hanya Anda percayai sebagai mitos!

Begitu bunyi teks iklan yang terpahat di layar televisi. Huruf-huruf itu menyatu dengan gambar-gambar dengan berbagai imaji. Mengaduk perasaan. Membuncahkan rasa penasaran.

***

Ada mayat mengambang di Malioboro. Seorang polisi langsung mengevakuasi dan membawa mayat itu ke pinggir. Jenis kelamin mayat itu perempuan. Dari wajahnya yang masih segar, ditaksir usianya sekitar 23 tahun. Tubuhnya langsing. Kulitnya kuning. Rambutnya pendek, agak ikal. Wajahnya manis. (more…)

Asbabul Wurud
October 23, 2016


Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 23 Oktober 2016)

asbabul-wurud-ilustrasi-bagus-budiono-jawa-pos

Asbabul Wurud ilustrasi Bagus Budiono/Jawa Pos

TUBUH Karim mendadak diserang panas. Keringat membasahi seluruh tubuh dan tempat tidurnya. Napasnya berat, matanya memancarkan ketakutan yang dahsyat seolah-olah ia akan masuk neraka. Memang benar, ia akan masuk neraka. Kenapa bisa ia akan masuk neraka? Padahal seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah. Sejak keluar sekolah dasar ia sudah nyantri di Tebuireng, Jombang, kemudian menginjak SMA ia lanjut mesantren ke Krapyak, Jogja. Semasa kuliah pun ia habiskan hidupnya di pesantren dengan mengabdi menjadi guru mengaji. Lengkap. Seluruh napasnya seakan-akan untuk Yang Memberinya Hidup. Tapi kenapa ia akan masuk neraka? Sementara Warjem, seorang PSK di kampungnya bisa masuk surga. (more…)

Nini Kalakay
October 16, 2016


Cerpen Toni Lesmana (Jawa Pos, 16 Oktober 2016)

nini-kalakay-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Nini Kalakay ilustrasi Bagus/Jawa Pos

RAMBUT putih Nini Kalakay dimainkan angin. Rambut seputih awan. Awan tipis. Rambut panjang putih tipis yang dibiarkan terurai begitu saja. Cahaya senja dari barat sedikit menyepuh rambutnya dengan warna keemasan.

Nini Kalakay suka duduk di bangku di sudut halaman rumahnya. Di bawah pohon beringin. Ngangin. Dalam pangkuannya terbaring sebuah kecapi. Kecapi yang sejak tadi hanya dielus-elus saja. Tak sekali pun dipetik. Ia asyik sendiri. Menikmati angin semilir, mendengar sayup lagu sungai di bawah sana. Senandung sungai yang ngungun bagi Nini Kalakay. Sungai kematian. Tentu karena di sungai itulah, setahun yang lalu, suaminya dijemput maut.

Angin memetik daun. Berguguran. Melayang. (more…)

Ia Terus Mengguntingi Ujung Jarinya
October 9, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 09 Oktober 2016)

ia-terus-mengguntingi-ujung-jarinya-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Ia Terus Mengguntingi Ujung Jarinya ilustrasi Bagus/Jawa Pos

SEINGATKU, malam ketika Nona Kecil membakar dirinya di meja makan, Kiral terbahak sambil mengguntingi ujung jari-jarinya satu per satu. Aku tidak mungkin lupa jeritan Nona Kecil di antara kobaran api yang menyambar gaun dan dengan cepat bergerak ke ujung rambutnya yang halus—khas rambut anak-anak—dan panjang. Bagaimanapun ia seorang anak kecil yang tidak tahu persis apa yang ia lakukan. Ia hanya gegabah melampiaskan rasa tertekannya dan bermain-main dengan sebatang lilin yang tengah menyala. Namun, ketidakwarasan benar-benar tengah menyelimuti keluarga ini. Di saat Nona Kecil terus menjerit, Kiral malah mencari-cari potongan jari yang jatuh di dekat kakinya. Beruntung, seseorang menerobos pintu dan mengambil tubuh Nona Kecil yang menggeliat-geliat dan mulai menguarkan aroma daging panggang.

Sudah puluhan tahun lamanya dan aku tetap saja bertanya-tanya siapa orang yang mengambil tubuh Nona Kecil itu dan di mana mereka sekarang berada? Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya ketika itu. Seolah wajah itu ditutupi cahaya pelindung dan tidak satu mata pun bisa mengintip ke dalamnya. (more…)

Tombak Penenun
October 2, 2016


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Oktober 2016)

tombak-penenun-ilustrasi-bagus

Tombak Penenun ilustrasi Bagus

KAMI berkenalan pada 2008 dan laki-laki penenun itu datang bersama seorang pegiat teater yang juga laki-laki. Pertemuan pertama kami langsung diisi dengan materi perbincangan yang absurd: manusia adalah pohon-pohon dan pohon-pohon yang berpenyakit takkan ditebang sebab ia akan mati oleh dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pegiat teater itu saya masukkan namanya ke dalam daftar seniman yang baik budinya dan… sungguh saya lupa alasan mengapa tak memasukkan si penenun di waktu yang sama, sebagaimana saya sudah lupa cerita tentang pohon penyakitan itu. Keparatnya, beberapa hari sebelum cerita ini disiarkan, penenun itu juga mengikuti jejak temannya masuk ke daftar yang sama! (more…)