Pulang
July 5, 2015


Cerpen Adi Wicaksono (Jawa Pos, 5 Juli 2015)

Pulang ilustrasi Bagus

IBU menelepon mengabarkan bahwa adikku Hanum sudah mendapatkan jodoh, Baskara namanya, seorang insinyur yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik.

Bagiku ini sebuah kejutan. Bagaimanapun Hanum adalah perempuan yang sulit didekati laki-laki, sehingga agak sulit pula mendapatkan jodoh. Beberapa kali ia menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi kemudian mereka lekas menjauh setelah mengetahui watak Hanum yang lugas, kritikal, bahkan terkadang agak sinis. Tapi, setiap kali putus hubungan, Hanum cuek saja dan seolah tidak ambil pusing.  (more…)

Prahara Meja Makan
June 28, 2015


Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 28 Juni 2015)

Prahara Meja Makan ilustrasi Jawa Pos

SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah. (more…)

Sunat
June 21, 2015


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 21 Juni 2015)

Sunat ilustrasi Jawa Pos

PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiap kali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya.

Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerap kali terlontar dari mulut orangtua kami. (more…)

Bawang Merah dan Ibunya
June 14, 2015


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 14 Juni 2015)

Bawang Merah dan Ibunya ilustrasi Jawa Pos

SEJAK berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya.

“Kau mendengar cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?” (more…)

Kapal Terakhir
November 23, 2014


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 23 November 2014)

Kapal Terakhir ilustrasi Bagus

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

Roderick menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.” (more…)

Kota Rawa
May 25, 2014


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 25 Mei 2014)

Kota Rawa ilustrasi Bagus

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga.  (more…)