Wajah di Lidah Api
September 11, 2016


Cerpen Daisy Rahmi (Jawa Pos, 11 September 2016)

wajah-di-lidah-api-ilustrasi-bagus

Wajah di Lidah Api ilustrasi Bagus

Bukan di dalam, tapi di luar. Di pekarangan. Semula Rhien tak menyadarinya. Ia sangat gembira memiliki rumah sendiri, setelah bertahun-tahun ngontrak. Bulan lalu ayah suaminya meninggal dunia, menyusul sang istri yang berpulang lebih dahulu. Sebagai satu-satunya keturunan, Andri mewarisi rumah milik orang tuanya. Hari ini ia mengajak istrinya menempati kediaman baru mereka. Saat tiba di depan rumah dan melihat pekarangan rumah yang cukup luas, Rhien berkhayal betapa bahagianya bila anak-anak mereka bermain di tempat itu. Hal yang belum terwujud walau pernikahan keduanya telah berusia 8 tahun. (more…)

Bayangan di Bawah Pohon Kersen
September 4, 2016


Cerpen S. Prasetyo Utomo (Jawa Pos, 04 April 2016)

Bayangan di Bawah Pohon Kersen iluatrasi Bagus

Bayangan di Bawah Pohon Kersen iluatrasi Bagus

RUMAH kayu yang menaungi kenyamanan Wulan, gadis matang yang menanti lamaran jejaka, dijual ibu. Telah beberapa bulan ibu meninggalkan ayah, Wulan dan Lintang. Ibu menghilang, membawa serta sertifikat rumah dan tanah—atas namanya. Tanpa sepengetahuan siapa pun rumah kayu dijual ibu pada seorang pengusaha. Hampir senja ketika Wulan melihat ayah terhenyak, pucat, dan gemetar saat didatangi seorang pengusaha yang mengusirnya untuk segera mengosongkan rumah. Ayah memandangi setiap sudut ruang: dapur, kamar-kamar, ruang makan, pendapa, teras, dan pelataran.

Di sudut kanan pelataran berdiri condong ke jalan pohon kersen, dengan daun-daun rimbun yang senantiasa luruh, tersebar, berserakan setiap angin berpusar kencang. Berguguran pula buah-buah kersen, ranum, bulat mungil, merah, dirontokkan codot-codot semalam. Di bawah pohon kersen itulah ari-ari (plasenta) Wulan ditanam ayah, 22 tahun silam, ketika bulan purnama. Di sisi lain tertanam pula ari-ari Lintang, adik perempuan Wulan, ketika bintang-bintang gemerlapan di langit. (more…)

Jimat Datuk
August 28, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 28 Agustus 2016)

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

KAMI telah ikhlas jika malaikat maut datang menjemput Datuk. Ketimbang berminggu-minggu tergolek di kasur, tersiksa antara hidup dan mati, kami pasrah ditinggalkan beliau. Bukan berarti kami tak menyayangi Datuk atau ingin dicap sebagai anak cucu durhaka. Kami hanya ingin yang terbaik untuknya. Kami harap surga akan lebih indah jika Datuk ditempatkan di sana.

Dua bulan lalu Datuk opname. Saat itu kondisinya belum anjlok seperti sekarang. Di rumah sakit, beliau ngotot minta pulang. “Aku mau mati di rumah saja, bukan di sini,” keluhnya pada kami dan perawat.

Tak ada penyakit medis dalam tubuh Datuk. “Ini faktor umur. Beranjak tua, organ-organ tubuh manusia kian aus,” jelas dokter. Usia Datuk memang delapan puluhan lebih. Seizin dokter, Datuk kami bawa pulang. Kami diimbau merawat dan menjaga pola makannya. (more…)

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi
August 21, 2016


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 21 Agustus 2016)

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi ilustrasi Budi

Seperti Ular Raksasa, tetapi dari Besi ilustrasi Budi

Mereka dirawat di ruangan yang sama, di sebuah rumah sakit kota kecil di daerah pesisir utara, dan keduanya mengidap penyakit yang tampaknya hanya bisa disembuhkan oleh mukjizat. Ruangan berwarna putih, dengan satu jendela, dan di dindingnya tergantung dua lukisan bunga. Gadis remaja yang tempat tidurnya berada di samping jendela sudah dua minggu menempati kamar itu. Ada masalah besar yang merusak fungsi paru-parunya. Untuk meringankan penderitaannya, dokter menyarankan gadis itu duduk tegak di tempat tidurnya tiap pagi dan sore sebelum tiba jam besuk. Ia harus melakukannya untuk membuang cairan yang terus memenuhi paru-paru.

Gadis remaja yang satunya lagi dirawat di ruangan itu lima hari kemudian. Sekujur tubuhnya melemah, begitu pula detak jantungnya. Ia, seperti putri tidur dalam dongeng, hanya terbaring dengan mata terpejam sejak hari pertama masuk. (more…)

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta
August 14, 2016


Cerpen Muliadi GF (Jawa Pos, 14 Agustus 2016)

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta ilustrasi Budi

Penjaga Toko Bernama Jung yang Ingin Menjadi Pencipta ilustrasi Budi

MESKI tak menjanjikan penyelesaian—mungkin akan berakhir di tengah jalan seperti yang lainnya—aku tetap berharap yang satu ini berbeda. Semoga ia hidup dan terbang ke luar sana, menuju benak orang-orang dan dihidupkan oleh mereka.

Bila keberuntunganku berlanjut, suatu hari mungkin aku bisa melihat salah satu tokoh ciptaanku berdiri di muka toko, memandangku dengan tatapan akrab dan sekaligus asing. Kubayangkan ia berseru:

“Hei, Jung, aku ingat hari itu, hari ketika kau menulisku!”

Aku akan ke luar, lalu menatapnya lekat-lekat. Setelah menoleh ke kanan-kiri dan percaya tak seorang pun memperhatikan kami dan kalaupun ada mereka takkan tahu hubungan antara kami berdua, barulah aku berani membuka mulutku—Oh, harus kuingat, mestinya suara tak di butuhkan saat itu!

“Kau mengenalku?” (more…)

Sunyi Juga dan bahkan Sunyi
August 7, 2016


Cerpen Yus R. Ismail (Jawa Pos, 07 Agustus 2016)

Sunyi Juga dan bahkan Sunyi ilustrasi Bagus

Sunyi Juga dan bahkan Sunyi ilustrasi Bagus

SAYA sedang di kantor ketika kabar itu datang. Ayah sakit. Teh Aisyah, kakak tertua saya, yang menelepon.

“Kamu harus pulang!” kata Teh Aisyah seperti yang penting harus mengatakan kalimat perintah seperti itu. “Kalau mau bareng, sekarang ditunggu di sini.”

“Saya nyusul aja, Teh. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

“Tapi harus pulang, ya?”

“Iya Teh, pasti pulang.”

Teh Aisyah dan saya memang tinggal dan bekerja di Bandung. Sementara tiga kakak saya lainnya di kota lain. Aa Akbar dan Teh Zenab tinggal dan bekerja di Jakarta, sedangkan Aa Lukman tinggal dan bekerja di Kalimantan. (more…)