Darojat dan Istrinya
July 17, 2016


Cerpen Budi Darma (Jawa Pos, 17 Juli 2016)

Darojat dan Istrinya ilustrasi Bagus

Darojat dan Istrinya ilustrasi Bagus

DAROJAT benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Driani. Driani juga benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Darojat. Memang, sebelum menikah, kadang-kadang mereka merasa sama-sama senang, kadang-kadang merasa sama-sama membenci, dan kadang-kadang saling tidak peduli sama sekali. Tidak jarang pula Darojat menganggap Driani kotor dan menjijikkan, demikian pula anggapan Driani terhadap Darojat.

Darojat ganteng dan pandai, dan karena itu, jangan heran manakala dia berhasil menjadi dokter spesialis penyakit dalam terkemuka. Pasiennya banyak, dan semua pasien merasa senang dirawat oleh Darojat, dan Darojat bertindak dengan sangat profesional, termasuk dalam menarik biaya dari pasien-pasiennya. Kalau penghasilannya dikumpulkan dan dibelikan emas, bisa dipastikan, dalam waktu singkat dia mampu dengan mudah mengumpulkan berbatang-batang emas antam. (more…)

Museum Luka
July 10, 2016


Cerpen Yudhi Herwibowo (Jawa Pos, 10 Juli 2016)

Museum Luka ilustrasi Bagus

Museum Luka ilustrasi Bagus

SEJAK sang kekasih meninggalkannya, Araning memutuskan satu hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Ia tahu–mungkin—orang-orang akan menganggapnya gila. Tapi sekarang ini ia tak mau memikirkan orang lain. Orang-orang itu tak tahu seberapa banyak ia telah dilukai oleh laki-laki, yang semuanya nyaris dicintainya dengan tulus. Seperti kekasih terakhirnya itu, yang tanpa tanda-tanda apa pun, tiba-tiba saja berkata, “Kupikir ini tak akan berhasil. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini.”

Dan Araning tak bisa berucap apa-apa. Sampai laki-laki itu pergi dari hadapannya, ia hanya bisa menahan tangis. Tapi ia tak ingin menangis sekarang. Ia bosan menangis gara-gara hal seperti itu. Membuatnya terlihat lemah. Ia ingin berdiam diri saja di sini. Memandangi apa yang ada di sekelilingnya, seperti lukisan perempuan yang tengah termenung di depan jendela, yang tepat ada di depannya. Entah kenapa, ia merasa lukisan itu begitu mirip dengan keadaannya sekarang. (more…)

Malam Lebaran Paling Sunyi
July 3, 2016


Cerpen Mustofa W. Hasyim (Jawa Pos, 03 Juli 2016)

Malam Lebaran Paling Sunyi ilustrasi Bagus

Malam Lebaran Paling Sunyi ilustrasi Bagus

DAPUR atau pawon, tempat paling mengasyikkan bagi Sumi. Sejak kecil dia dilatih memasak oleh nenek dan ibunya di dapur. Hawa dan suasana dapur sangat dikenalnya. Di tempat ini dia bisa membiakkan kebahagiaan dan dapat menenggelamkan duka. Ia merasa dapur dapat menjadi dunia tempat dia melarikan diri dari beban hidup dan tempat untuk merayakan kegembiraan hidup. Sebuah ruang yang bagi dia sangat mengesankan. Tempat dia mengenal hidup berumah tangga, lewat obrolan, nasehat dan cerita nenek dan ibunya.

Dapur, bagi Sumi, tempat yang amat luas. Di dapur ada amben atau dipan besar, ada meja kursi, ada tempat menyimpan bumbu atau gothekan, ada almari khusus menyimpan makanan matang disebut gledeg, dan ada rak-rak besar dan tinggi tempat menyimpan alat memasak dan alat menyajikan makanan dan minuman. Aneka macam pisau, aneka macam sendok, aneka macam piring, aneka macam bakul, aneka macam mangkok, aneka macam gelas, aneka macam teko, ada di situ. Dengan isi dapur lengkap seperti itu, rasa-rasanya tidak ada satu jenis pun masakan yang tidak dapat dimasak dan disajikan di dapur untuk kemudian dihidangkan di meja makan. (more…)

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray
June 26, 2016


Cerpen Adam Yudhistira (Jawa Pos, 26 Juni 2016)

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus

KETIKA Russel Donovan dibawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberi tahu bahwa Russel akan diinterogasi. (more…)

Lelaki Tua dan Kudanya
June 19, 2016


Cerpen Bonifasius Bulu (Jawa Pos, 19 Juni 2016)

Lelaki Tua dan Kudanya ilustrasi Bagus

Lelaki Tua dan Kudanya ilustrasi Bagus

DARI balik dinding bambu, melalui celah sebesar bola mata, di bawah remang rembulan, Malo Lede dapat melihat begitu jelas bayang-bayang berkelebat dekat kangali [1]. Ia tak tahu berapa jumlah pasti mereka, yang jelas lebih dari satu, dan tak kan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Perlahan ia melepas kain yang membungkus tubuhnya. Rasa nyeri yang amat sangat menyerang pinggangnya begitu ia berdiri. Dengan berjinjit, ia melangkah penuh hati-hati menuju bilik kecil di satu sudut ruangan, menghindari bambu-bambu yang dapat berderak begitu ia menjejakkan kaki, menghindari baris-baris sinar rembulan yang menerobos celah-celah dinding. Begitu tiba di bilik itu, segera ia raih sebatang tombak dan kembali ke tempat pengintaiannya. (more…)

Hantu di Depan Pintu
June 12, 2016


Cerpen  Toni Lesmana (Jawa Pos, 12 Juni 2016)

Hantu di Depan Pintu ilustrasi Bagus

Hantu di Depan Pintu ilustrasi Bagus

DI pintu kamar aku bertemu hantu. Ceking. Jangkung. Topi runcing para penyihir. Kulit mukanya keriput sedang matanya seperti hendak melompat. Jubah kelabunya menjuntai ke lantai. Hantu itu berdiri. Diam. Wajahnya mengerikan dan sedih. Hantu itu perempuan. Mirip Nenek Sihir musuh Nirmala. Tapi tak cerewet. Hanya berdiri menghalangi jalan. Aku hendak pindah kamar. Dari kamar depan ke kamar tengah. Dari ranjang ayah ke ranjang ibu. Dari bantal bau ke bantal wangi.

Hantu yang benar-benar pendiam. Hanya bayangannya yang tak berhenti bergerak. Memanjang di ruang tengah rumah. Duduk di kursi. Berdiri di atas meja. Memanjat lemari. Dan bergelantungan di langit-langit. Ruang tengah rumah seperti sirkus. Sirkus yang sedih. Aku dan hantu saling berhadapan. Dekat sekali. Hantu itu menatapku dan aku menatap bayangannya yang terus saja jumpalitan di udara. Bayangkan, jumpalitan di udara tanpa sapu atau tongkat ajaib. (more…)