Archive for the ‘Wina Bojonegoro’ Category

Sam, Soe, Emak
July 3, 2016


Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 03 Juli 2016)

Sam, Soe, Emak ilustrasi Pata Areadi

Sam, Soe, Emak ilustrasi Pata Areadi

SAM duduk memandang gerai kopi merek impor di hadapannya. Aroma kopi yang dicampur susu dan krim berbusa menggerayangi hidungnya. Lelaki 29 tahun itu menelan kembali air liurnya. Cukup lama perjuangan ini, sejak petugas Bandara Halim mengumumkan pesawat mengalami keterlambatan dengan alasan operasional. Aroma ikan asin atau sambal boleh lewat, tapi aroma kopi? Malaikat tak pernah mengikat setan yang bersembunyi di balik gerai kopi di bulan puasa.

Sam menggengggam erat botol air mineral yang ia beli pada tukang asongan di luar bandara. Pesan bosnya, jangan membeli apa pun di bandara, kalau tak ingin dompetmu jebol. Maka, cukuplah ini sebagai sarana berbuka puasa, sebotol air mineral yang tak dingin lagi. Ia ingin melupakan kopi sialan itu, yang memasang banderol Rp 40 ribu dalam ukuran kecil, tapi toh orang-orang berdiri mengantre untuk mendapatkannya. Barangkali gaya, itulah sisi lain selain rasa yang hanya sampai di tenggorokan. (more…)

Dering
April 10, 2016


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 10 April 2016)

Dering ilustrasi Bagus

Dering ilustrasi Bagus

TEPAT pada dering ketiga aku mengangkat telepon wireless di meja kayu mahoni berwarna cokelat kemerahan itu.

“Hallo…” Suaraku rendah dan datar seperti lazimnya suara manusia di pagi hari, malas.

“Eh, sejak kapan boleh terima telepon dengan kata hallo…??” Aku tersambar petir, rasanya begitu. Suara itu…

“Ken… ayo ulangi!!” Terdengar suara telepon di seberang diletakkan sembarangan. Suaranya terdengar ngilu. Kepalaku pening mendadak. Dengan gerakan zombie aku meletakkan telepon tanpa kabel pada tempat duduknya.Suara itu… (more…)

Pengakuan Rusmini
March 20, 2016


Cerpen Wina Bojonegoro (Kompas, 20 Maret 2016)

Pengakuan Rusmini ilustrasi Emmy Go

Pengakuan Rusmini ilustrasi Emmy Go

Kesendirian seringkali lebih mematikan dari sebilah belati. Caranya membunuh begitu perlahan, terkadang menyerupai kenikmatan. Kesendirian tidak membunuh tubuh, melainkan jiwa. Lihatlah Nyonya Rusmini. Ia terlalu terpukau pada lukisan tangannya di tembok kamar itu, hingga sering lalai pada tubuhnya. Kenangan demi kenangan ia sesapi dan cumbui seperti cerutu di bibir lelaki dalam lukisan itu. Kurasa, Nyonya Rusmini bukan kehilangan kecantikan fisiknya. Ia kehilangan sebagian jiwanya. Terbunuh perlahan bukan oleh belati, namun kesendirian itu. (more…)

Dunia Angka
April 27, 2014


Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 27 April 2014)

dunia angka ilustrasi pata areadi

MAUKAH kau kuberi tahu sebuah rahasia?

Kalau begitu, mari, duduklah di sini. Di dekatku. Sebab, ini rahasia antara kau dan aku saja. Jangan sampai ada orang lain yang menguping. Sebab, itu berarti kematian bagi kita.

Baiklah, kumulai saja cerita ini.

Kau lihat, orang-orang yang lalu-lalang di koridor itu? Pasien-pasien yang diusung menuju ruang ICU, beberapa pasti kau kenal baik, bukan? Ya. Para pemimpin, birokrat, orang-orang penting di negerimu, mereka yang mencari dan mencuri perhatian dengan jauh-jauh berobat ke sini. Tahukah kau, apa sebenarnya yang dilakukan oleh dokter kami pada mereka? Dokter-dokter itu sesungguhnya sedang memasang chip pada otak mereka.  (more…)

Tentang Drupadi
January 26, 2014


Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 26 Januari 2014)

Tentang Drupadi ilustrasi Bagus

“SEHARUSNYA tempat ini menjadi kenangan yang indah. Saksi sebuah pesta pernikahan yang tak akan terlupakan…“

Kalimat itu meluncur rapuh dari bibir seorang lelaki tua yang tak kukenal, ketika aku sedang duduk bersantai di taman ini menikmati langit November yang dipenuhi guguran kelopak flamboyan. Aku terhipnotis dalam waktu sekejap. Lelaki tua itu memandangi ranting-ranting yang menjulur rendah di hadapan kami. Semata merah. Bulir-bulir daun hijau seolah hanya kelopak, dan mahkotanya adalah merah yang menyala kontras di paparan langit biru sore hari.  (more…)

Mozaik
March 17, 2013


Cerpen Wina Bojonegoro (Media Indonesia, 17 Maret 2013)

Mozaik ilustrasi Pata Areadi

VIE:

ADA sejumlah pertanyaan yang membiang di dadaku. Bagai hendak meletus, seperti balon kebanjiran udara.

Pertama, jika pasanganmu diam ketika ia tahu kau telah berdusta padanya. Kau mestinya bertanya; ia diam karena sudah tak ingin ribut atau sudah tak peduli apa pun. Coba kau cerna pertanyaan ini, meski kau tak punya waktu menggunakan hatimu. Mungkin saja hatimu telah kisut, kering seperti kain pel yang lupa diangkat dari jemuran. (more…)