Parang Ulu


Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 13 November 2016)

parang-ulu-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Parang Ulu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

RUANGAN persegi berdinding papan itu hening. Keheningan merambati foto-foto usang dan rak kayu yang dipenuhi kitab-kitab tebal berdebu. Kiai Hambali duduk berhadapan dengan seorang lelaki tambun. Lelaki tambun itu berdiri, lalu berjalan ke arah rak kayu. Ia mengambil satu kitab dan membukanya. Tiga lelaki muda berdiri tak jauh dari Kiai Hambali. Pandangan mereka mengikuti gerak tubuh lelaki tambun dengan waspada.

“Pondok ini sudah sepi, percuma saja dipertahankan,” kata lelaki tambun sambil mengembalikan kitab ke tempat semula.

“Aku akan merundingkan hal ini terlebih dulu,” jawab Kiai Hambali tenang.

“Berunding dengan siapa?” tanya lelaki tambun. Ia kembali duduk di samping Kiai Hambali.

“Dengan para santriku!”

Lelaki tambun bermata sipit itu mendelik, lalu tergelak, “Santri yang mana, Kiai? Mereka bertiga?” telunjuknya mengarah pada tiga pemuda di belakang Kiai Hambali.

“Kuharap kau mau menunggu,” Kiai Hambali mengabaikan tawa lelaki tambun di hadapannya. “Beri kami waktu.”

Lelaki tambun menghela napas sambil mengangkat bahu, “Baiklah. Tapi kami tak punya banyak waktu. Semakin lama proyek ini tertunda, semakin besar denda yang kami terima. Aku harap Kiai bisa mengerti.”

Kiai Hambali tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan ikut berdiri. Setelah berbasa-basi sebentar, lelaki tambun itu pergi. Ia pergi meninggalkan jejak lebam di dada Kiai Hambali. Ia tahu ada kekuatan cukup besar di belakang lelaki tambun itu. Kekuatan yang tak mungkin dilawannya seorang diri.

Jauh sebelum kedatangan lelaki tambun, Kiai Hambali sudah tahu bahwa semua ini pasti akan terjadi. Pembangunan sedang gencar dilakukan di Kampung Parang Ulu, lahan persawahan dan tegalan milik warga sudah banyak yang disulap jadi pasar dan kantor-kantor swasta. Tempat hiburan dan toko-toko mulai menjamur. Singkatnya, Kampung Parang Ulu sedang menggeliat dan terus tumbuh dengan cara melahap apa saja.

“Apa pilihan yang kita miliki, Kiai?” tanya Umar, salah seorang santri yang paling lama belajar pada Kiai Hambali.

“Tidak ada.” Kiai Hambali mengusap janggut dengan jari-jari keriputnya. Ia melangkah ke jendela dan menumpukan tangan ke kusen. Mata lelaki tua itu mengembara ke awan-awan kapas di puncak langit, sementara benaknya terus mencari cara untuk bertahan. Tiga lelaki muda di belakangnya turut memandang ke luar jendela. Pandangan mereka sama-sama menuju ke langit luas, namun pandangan itu buntu. Seperti membentur tembok tinggi yang tak kasat mata.

“Mungkinkah ini perwujudan sumpah Serunting Sakti?” gumam Zarnawi, salah seorang santri.

“Kau percaya hikayat itu?” tanya Burhan. Usianya sama dengan Zarnawi. Sama-sama dua puluh lima.

“Entahlah,” jawab Zarnawi. “Tapi aku percaya satu hal…”

“Apa itu?” tanya Burhan.

“Aku percaya jika dada lelaki tambun tadi berlubang. Lubang yang tak akan pernah sesak meski seisi dunia dijejalkan ke dalamnya,” jawab Zarnawi. Burhan terdiam.

Lalu keheningan kembali merambat. Wajah Kiai Hambali sekuyu warna putih yang melekat di kursi yang didudukinya. Ketiga pemuda itu turut duduk. Kursi mereka tersekat sebuah meja beraroma cendana. Di meja itulah selama ini mereka mengkaji ilmu al-Quran, hadits, fiqih, akidah, akhlak, faraidh, hingga isi kitab kuning. Kegiatan yang mungkin hanya akan menjadi kenangan beberapa minggu atau mungkin beberapa hari lagi.

“Kiai, benarkah hikayat itu pernah terjadi?” tanya Umar memecah keheningan.

“Mungkin kita telah sampai di akhir zaman, Umar. Hikayat itu sudah lama dilupakan orang, untuk apa meminta Kiai menceritakannya lagi,” celetuk Zarnawi.

Kiai Hambali tersenyum kecut, tetapi ia mengangguk juga. Ia bersetuju dengan kata-kata Zarnawi. Hikayat sarat nasihat hanyalah pembasah bibir yang lekas mengering ditiup angin. Kini, jangankan hanya pada sebuah hikayat, bahkan pada hadits dan kitab suci saja orang sudah tidak takut lagi.

Di balik dinding bangunan rapuh itu, Kiai Hambali dan ketiga santrinya tertunduk lesu. Alotnya perdebatan dengan lelaki tambun tadi telah melempar ingatan mereka pada hikayat yang tak bisa terkelupas dari Kampung Parang Ulu. Hikayat tentang pertarungan iblis dan malaikat yang memang pernah terjadi di masa lalu.

***

Dahulu, Kampung Parang Ulu adalah kampungnya orang-orang gelap. Kampung itu berada di pedalaman Sumatra, dipeluk rimbun Bukit Barisan dan digelungi seutas sungai yang bermuara ke Sungai Musi. Kesan angker terpahat di benak siapa saja yang mendengar namanya. Namun semenjak kedatangan Syekh Ali, kegelapan itu perlahan-lahan memudar. Seperti malam disibak cahaya fajar.

Tidak ada yang tahu riwayat Syekh Ali. Simpang siur kisah menyebut ia datang dari Malaka, sebagian lagi menyebut ia datang dari kerajaan Siak Sri Indrapura. Semua tentang Syekh Ali hanya melekat pada seonggok makam tua dan sekelumit kisah yang hidup di balik tempurung kepala orang-orang.

Para begundal selalu mengganggu dakwah Syekh Ali dengan segala cara. Mulai dari gangguan paling halus, hingga paling kasar. Namun sebagai musafir, Syekh Ali tentu saja memiliki bekal ilmu yang tidak sedikit. Gangguan-gangguan itu mampu ia bungkam satu per satu. Puncak dari gangguan itu datang dari Serunting Sakti. Dedengkot begundal Kampung Parang Ulu itu menantang Syekh Ali bertarung di Bukit Mategelung, bukit wingit di sebelah selatan Kampung Parang Ulu.

Maka pada suatu malam yang diguyur hujan lebat, terjadilah pertarungan sengit itu. Pertarungan hidup mati yang diwarnai jurus-jurus kanuragan tingkat tinggi. Bukit Mategelung bagai dilanda topan prahara, pohon-pohon tumbang, tanah dan batu beterbangan. Saking dahsyatnya, bukit Mategelung seolah hendak terbongkar dari kulit bumi.

Perlu waktu tujuh hari tujuh malam untuk menentukan pemenang. Serunting Sakti memiliki ilmu kebal yang membuatnya tak bisa mati. Namun dengan karomah pada dirinya, Syekh Ali mampu menaklukkan Serunting Sakti. Gembong begundal itu melarikan diri dengan membawa malu tak terpermanai. Namun sebelum menghilang, Serunting Sakti mengucap satu sumpah, bahwa suatu hari ia akan kembali dan membuat celaka orang-orang di Kampung Parang Ulu.

Selepas kepergian Serunting Sakti, tidak ada lagi kegelapan. Syekh Ali menyalakan suluh yang pendarnya menuntun orang-orang menuju jalan kebaikan. Di pinggir kampung, tepatnya di kebun jati tak bertuan, suluh itu ia pancangkan. Ia membangun sebuah pondok tempat mengaji untuk anak-anak Kampung Parang Ulu.

Dahulu, tak ada satu keluarga pun yang tak memerintahkan anaknya belajar di pondok Syekh Ali. Hikayat Syekh Ali dan Serunting Sakti menjadi tunggul kepercayaan, bahwa hanya di sana, di pondok sederhana itu saja, sumpah Serunting Sakti tak memiliki taji untuk membuat anak-anak mereka celaka.

***

Lapangan rumput yang ditumbuhi tiga batang pohon tanjung itu riuh. Di tengah-tengahnya, Kiai Hambali berhadapan dengan lelaki tambun. Lelaki tambun tidak sendiri, ada banyak lelaki berseragam di belakangnya. Kiai Hambali juga tidak sendiri, ada tiga lelaki muda di belakangnya. Pandangan mata mereka sama tajam. Sama menikam.

“Bangunan ini tak memiliki izin resmi. Tanahnya milik negara dan kalian tak memiliki bukti kuat untuk mempertahankannya.”

“Tanah ini milik Tuhan. Kami sudah menempatinya atas izin Tuhan. Apakah itu tak cukup bagi kalian untuk membiarkannya tetap berdiri?”

Lelaki tambun terkekeh mendengar kata-kata Umar dan mengacuhkannya. Ia membuka tas di pinggangnya dengan tenang. “Uang ini sebagai ganti rugi. Terimalah, Kiai.”

“Anak-anak kampung ini membutuhkan tempat untuk belajar agama. Daripada menggantinya dengan tempat yang tak bermanfaat, ada baiknya kalian bantu kami membawa mereka kembali ke sini.”

“Menyerahkan tanah ini berarti bersedekah, Kiai. Tanah ini juga dibangun atas permintaan umat,” jawab lelaki tambun seraya tersenyum. Namun di mata Kiai Hambali, senyum itu menyiratkan watak yang rakus. Ia tak bisa melihat kejernihan di sana. Sorot mata itu memancarkan kegelapan yang sempurna.

“Aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Maafkan aku. Mungkin kalian harus mencabut nyawaku dulu jika memang ingin merobohkan pondok ini.”

“Baiklah,” kata lelaki tambun seraya memasukkan kembali uang ke dalam tas. Otot di rahangnya menegang. Ada amarah yang tergambar jelas di wajahnya. “Kami akan kembali seminggu lagi.”

Lelaki tambun pergi diikuti selusin lelaki berseragam di belakangnya. Kiai Hambali memandangi punggung mereka dengan dada bergemuruh. Ia bisa merasakan hawa jahat pada kalimat terakhir itu. Kiai Hambali memejamkan mata dan diam-diam memanjatkan doa tolak bala.

***

Sore itu, selepas Ashar, sebuah mobil hitam dan serombongan alat-alat berat memasuki pelataran pondok. Kiai Hambali dan tiga santrinya keluar dengan tergopoh. Puluhan lelaki bertubuh tegap dan berseragam sigap menghadang. Kiai Hambali dan ketiga santrinya menjadi bulan-bulanan ketika berusaha menghentikan gerak alat-alat berat yang beringas.

Dengan mata yang lamur oleh genangan darah, Kiai Hambali berbaring di rerumputan dengan hati pedih. Mata lelaki senja itu pelan-pelan mengatup, namun sebelum betul-betul terkatup, ia melihat lelaki tambun keluar dari mobil hitam sambil tersenyum. Di mata Kiai Hambali, senyum itu tampak gelap dan jahat. Seolah-olah itu adalah senyum kemenangan Serunting Sakti yang kembali ke Kampung Parang Ulu.

 

 

2016

Adam Yudhistira, cerpenis asal Muara Enim, Sumatra Selatan. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media. Buku terkininya, Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (2016).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

One Response

  1. Astaga. Aku pikir ada sangkut pautnya dengan kisah si pahit lidah. Jauh sekali ternyata. Tetapi menarik, karena jadi versi yang lain cerita. Hidup orang ulu😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: