Dari Iklan Koran Kuning


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 06 November 2016)

dari-iklan-koran-kuning-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Dari Iklan Koran Kuning ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aji sampai pada rakaat terakhir shalat duhanya ketika Jibi berteriak-teriak dari luar rumah mengabarkan bahwa salah satu kambing milik Aji yang dititiprawatkan kepadanya baru saja beranak. “Kambingnya tidak sakit. Kambingnya beranak manusia,” teriak Jibi.

Yai Mun, ayah Aji, cenderung percaya bahwa kejadian itu adalah tanda dari Tuhan bahwa kampung mereka, khususnya keluarga mereka, sedang kelimpahan anugerah. Ia menghubungkan hal itu dengan perubahan sikap Aji. Meski merupakan putra tunggal dari salah satu dari tiga orang haji di kampung itu yang tersohor sebagai juru kotbah paling handal seantero kecamatan, Aji terkenal dengan kebandelannya. Ia menghabiskan masa kecilnya dengan mencuri ayam milik tetangga dan memuntir kepala si ayam hanya karena ia memang ingin melakukannya. Di lain waktu, ia menebar potas di kolam ikan mas seorang tetangga yang lain, dan kedapatan tertawa-tawa menyaksikan betapa ikan-ikan itu mengambang di permukaan kolam. Semua orang sudah mafhum hal itu, sama seperti mereka mafhum bahwa setelahnya, Yai Mun, dalam kemarahan dan rasa malu yang luarbiasa, menyeret Aji, membuat jalur-jalur merah di punggung Aji dengan sebatang tongkat rotan, dan untuk beberapa hari, Aji akan berubah menjadi anak baik dengan mendaras ayat suci dan mengumandangkan azan di masjid, seakan menunjukkan penyesalan dan keinginan bertobat. Tahun lalu, Aji kembali ke kampung itu setelah menamatkan pendidikannya di sebuah uinversitas di Surabaya. Kata orang, ia belajar cara memelihara sapi dan kambing yang baik dan benar. Untuk melatih kemandiriannya, sekaligus mempraktikkan ilmu yang ia dapat di universitas, Yai Mun membelikan beberapa ekor sapi dan kambing untuk Aji meski pada akhirnya, Aji memasrahkan perawatan semua binatang ternak itu kepada Jibi, seseorang yang bahkan tak lulus sekolah dasar. Sedangkan Aji terus disibukkan dengan upaya menjaga gaya hidup yang ia dapatkan dari kota. Ia tampil dengan tindik di kuping kiri kanan, bernyanyi lagu bahasa Inggris, tiga kali seminggu membiarkan dirinya berjalan sempoyongan di jalan-jalan kampung dalam naungan alkohol, dan menggoda Mayang, kembang kampung putri kepala kampung dengan puisi-puisi yang menurutnya lebih membius dari ayat suci yang didaraskan Yai Mun. Semua yang dilakukan Aji memberi kesan bahwa satu-satunya hal yang dipelajarinya di kota adalah teknik membikin kemarahan Yai Mun meluap dan bagaimana mengabaikan kemarahan lelaki tua itu. Pertengkaran di antara mereka seakan tak pernah berakhir. Dan kini, Yai Mun tak kuasa lagi memaksa Aji bertobat dengan sabetan tongkat rotan. Aji sudah terlalu besar dan ia memiliki tenaga yang kuat untuk melawan. Namun kurang lebih empat bulan yang lalu, secara mendadak, Aji melepas anting-antingnya, mengganti kaus bergambar band metal dengan baju koko, rajin mengumandangkan azan, menunaikan shalat wajib, menjalankan puasa sunah ditambah shalat sunah semacam duha, dan hal-hal lain yang diangankan oleh Yai Mun. Ia juga tidak lagi tampak menggoda Mayang, dan bahkan ia sepenuhnya mengabaikan gadis itu sewaktu Mayang berkunjung ke rumahnya. Satu-satunya penjelasan untuk perubahan itu, menurut Yai Mun, adalah hidayah dari Tuhan.

“Dan Gusti Allah memberikan anugerahnya kepada kita karena itu,” ujar Yai Mun, “melalui keajaiban ini. Kita akan merawat bayi ini,” lanjutnya sembari menimang anak kambing itu, yang benar-benar utuh seperti bayi manusia, dan menangis seperti bayi manusia.

Keyakinan Yai Mun itu seakan mendapat pembuktiannya ketika orang-orang dari luar kampung berdatangan untuk menyaksikan dan mendengar cerita ajaib tentang seekor kambing beranak manusia itu. Koran-koran meliputnya besar-besaran, dan tiga hari kemudian, televisi nasional menayangkan wawancara selama tiga puluh menit dengan Yai Mun dan Aji. Jibi, mengingat keterbelakangan mental yang dideritanya, cenderung disembunyikan oleh Yai Mun. “Dia kadang tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya,” kata Yai Mun.

Jibi memang menderita kelainan mental. Paling tidak, itu keyakinan orang kampung. Itulah sebabnya ia tidak menyelesaikan sekolahnya. Ia suka bertingkah aneh dan beradu pendapat dengan orang lain. Ketika hari sedang panas, misalnya, ia akan mengatakan bahwa neraka terletak tepat di atas kampung mereka. “Sangat dekat sehingga bila kau mengacungkan tanganmu, kau akan terbakar apinya,” katanya. Namun reputasinya sebagai penderita kelainan mental terbangun kuat oleh kebiasaannya berbicara dengan pohon-pohon dan binatang-binatang. Tentu saja tak ada yang percaya bahwa ia memang bisa berbicara dengan pohon-pohon dan binatang-binatang meski tak ada yang meragukan kemampuannya dalam merawat binatang ternak. Ada orang-orang yang diberkahi dengan kemampuan membuat gambar jelek namun bisa menjualnya dengan harga mahal, ada orang bertampang menjijikkan namun malah sering tampil di televisi dan punya istri cantik, ada orang dengan suara buruk tapi jadi penyanyi terkenal, dan Jibi, punya kemampuan merawat hewan dengan baik. Tidak ada satu pun hewan yang ia rawat yang sakit atau kurus, tak peduli wabah aratan tengah melanda. Itulah sebabnya banyak orang yang mempercayakan perawatan hewan ternaknya kepada Jibi, dan dari situlah ia mendapatkan nafkahnya. Pada waktu Aji menyuruh Jibi merawat hewan ternaknya, Jibi sudah tiga bulan menganggur. Dan hal itu dipicu oleh sebuah peristiwa pada suatu pagi. Salah satu pemilik hewan ternak yang dirawat oleh Jibi memergoki Jibi tengah memasukkan batang kemaluannya ke dubur seekor kambing dan binatang itu mengembik keras sekali. Embikan penuh rasa sakit itulah yang mendorong si pemilik untuk menengok ke kandang yang berada persis di belakang rumahnya. Hari itu, dan sampai beberapa hari setelahnya, Jibi menghabiskan waktu dengan badan sakit dan wajah lebam.

Cerita tentang perbuatan brutal Jibi itu, mau tak mau, mendorong sejumlah orang untuk berspekulasi bahwa bayi yang dilahirkan oleh si kambing milik Aji adalah anak Jibi. Yai Mun berusaha mengabaikan spekulasi tersebut. Dan itulah yang menyebabkannya melarang wartawan mewawancarai Jibi.

Sementara itu, merespons jumlah pengunjung yang terus berdatangan, Yai Mun meletakkan kotak amal di depan rumahnya dengan tulisan “infaq seikhlasnya” dan penduduk kampung membuka warung serta penginapan. Menyadari keuntungan tersebut, penduduk kampung, tanpa perintah siapa pun, menutup mulut dari prasangka bahwa Jibi adalah bapak biologis dari bayi tersebut.

***

Hari itu, Mayang menyadari bahwa perempuan hanyalah ladang dan laki-laki tak lebih seorang petani. Tak peduli sebagus apa letak ladang itu, bila ia gersang dan tak memungkinkan sebatang pun alang-alang bertahan hidup, ia tetap tak berguna.

“Kau mandul,” kata Aji waktu itu, “lalu buat apa? Aku tak mungkin menikahimu.” tambahnya. Kalimat yang diucapkan Aji pada kunjungan terakhir Mayang ke rumah Aji itu mengakhiri pertengkaran mereka selama beberapa hari terakhir. Pada waktu itu, Aji sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan. Awalnya, Aji suka merenung dan terkesan menghindari Mayang. Dan untuk pertama kalinya setelah Aji pulang dari Surabaya, Mayang mendapati Aji pergi ke masjid, sesuatu yang mengingatkannya pada masa kecil mereka, setiap kali Aji mendapat hukuman dari Yai Mun.

Mayang hanya bisa menangis. Menangis. Dan menangis. Setelahnya, ia menarik diri dari dunia sekitarnya dan mengurung diri dalam kamarnya yang semakin lama terasa semakin pengap. Bapaknya, si kepala kampung, berulang membujuknya dari balik pintu. “Sudahlah, patah hati itu biasa,” katanya. Ibunya mengatakan hal yang serupa.

“Lagipula, apa sih baiknya Aji itu?”

Bujukan yang terakhir malah membuat Mayang kembali jatuh dalam tangis. Upaya membuat Mayang keluar dari kamarnya sama sia-sianya dengan usaha seekor pungguk yang merayu bulan agar turun ke bumi. Makanan diantar tiga kali sehari dan diletakkan di depan pintu. Meski Mayang hanya makan sedikit, itu adalah hal yang melegakan sekaligus menandakan bahwa gadis itu masih hidup. Namun, pada hari ketika Jibi mengumumkan bahwa salah satu kambing rawatannya, yang menurut Jibi sendiri menderita sakit aneh sejak empat bulan terakhir—satu-satunya sakit yang diderita hewan rawatannya sejauh ini—melahirkan seekor (atau seorang) bayi yang persis bayi manusia, Mayang keluar dari kamarnya, menimbulkan keheranan sekaligus kegemparan bagi keluarga kepala kampung, lalu melarutkan diri dalam gelombang orang-orang yang dilanda keheranan akan perisitiwa ajaib itu. Tak ada yang memperhatikan—bahkan orangtuanya sendiri—bahwa pada saat-saat tertentu, Mayang menyusut airmatanya dengan punggung tangannya.

***

Zaman terus berubah. Ludruk dan wayang digantikan layar tancap. Layar tancap digantikan vcd dan televisi. Surat digantikan sms dan email. PT Pos Indonesia berusaha bertahan dengan menerima pembayaran kredit sepeda motor. Dan dunia perdukunan juga mesti mengambil inovasi yang tak pernah dilakukan pada zaman-zaman sebelumnya.

Kini, dukun-dukun memasang iklan di koran-koran kuning. Awalnya, mereka malu-malu menawarkan jasanya. Para pemilik perguruan ilmu setruman yang merintis upaya ini. Mereka menawarkan ilmu kebal dengan mahar sekian rupiah. Mereka menjual jimat dan amalan instan. Semakin lama, jasa yang mereka tawarkan semakin beraneka dan lebih berani. Mereka, misalnya, mulai terang-terangan menawarkan jasa pelet dan pesugihan.

Terdorong oleh semangat kemajuan itu, Wak It, pewaris ilmu-ilmu tradisional yang berkaitan dengan janin, yang nenek dan buyutnya tersohor sebagai dukun beranak paling handal, dan yang emaknya tersudut dan tersuruk oleh invasi yang dilakukan para bidan yang membuka praktek hingga ke sudut-sudut terpencil, mulai mengais khazanah terlupakan keluarganya dalam upayanya bertahan hidup. Bidan-bidan itu, dalam penilaiannya, membantu orang-orang melahirkan, namun tidak membantu memecahkan masalah orang-orang yang terlanjur hamil namun tak menginginkan seorang anak pun bakal keluar dari rahimnya. Ia kemudian mempelajari—dari kitab-kitab keluarga—ilmu-ilmu gaib memindahkan janin dengan usia dalam kandungan lebih dari tiga bulan ke dalam rahim binatang dengan resiko bahwa perempuan yang janinnya dipindahkan itu akan selamanya mandul dan selalu terbuka kemungkinan bahwa janin itu, alih-alih mati dan menjelma kanker dalam rahim binatang, justru bertahan hidup dan terus tumbuh hingga tiba hari kelahirannya.

Dan setelah ia merasa mahir dalam bidang tersebut, ia memasang iklan di sebuah koran kuning.

Pada saat itulah, Aji yang sedang kebingungan dan tersiksa dan merasa terkutuk dan menyesal, membaca iklan yang ia pasang. (92)

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul “Wisata Buang Cinta” (2013) dan “Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu” (2015). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: