Terumbu Tulang Istri


Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 30 Oktober 2016)

terumbu-tulang-istri-ilustrasi-iyan-sagito-kompas

Terumbu Tulang Istri ilustrasi Iyan Sagito/Kompas

Apakah tubuh menggiring perahu atau perahu menyeret tubuh, dari tepi ke tengah laut? Kayan tak pernah bertanya. Satu hal ia tahu, tubuh dan perahu seakan memiliki rasa pedih dan ngilu yang sama—pedih dan ngilu yang meluncurkan mereka dalam satu garis lurus di atas landai ombak, di laut utara, saban pagi, saat matahari memanjat langit di terang timur.

Ini ritual sederhana, seperti hukuman pada harapan sia-sia. Jelang cahaya, Kayan keluar pondok, menyapa dingin, menghirup asin, menuju pantai. Ia lepas perahu dari ikatan. Meloncat naik, dan bersatulah tubuh bersama perahu menuju lapang lautan. Di tengah laut, ketika garis cahaya menyelip di bawah gelombang, tubuh Kayan terlontar dari perahu.

Tubuhnya meleset mengikuti garis cahaya hingga ke dasar. Di atas air, tinggal perahu terapung. Di dasar laut, ia menemui sesosok tulang rangka yang ditumbuhi terumbu karang dan selalu diitari ikan warna-warni. Di depan tulang rangka ia bersimpuh sebelum mengelusnya dari ujung tengkorak kepala hingga ke ujung tulang rangka belakang dengan kasih sayang meluap-luap.

Tulang rangka itu adalah istrinya. Hampir setiap pagi, ketika matahari baru muncul di langit timur ia menemui tulang rangka itu. Sekuat napas menyelam ia elus, lalu kembali naik ke permukaan dan mencari perahu yang kadang terapung jauh dari tempat ia menyelam. Memang, laut seperti halaman rumah, ia bisa berkeliling seperti jalan-jalan pagi, tanpa jerih dan payah. Begitu perahu menyatu kembali dengan tubuhnya, ia meluncur ke darat, kemudian duduk di atas batu, memandang ke tengah laut hingga matahari terbenam.

Dari atas batu yang menjulang di ujung air, ia menyaksikan dengan mata merah turis-turis diantar pemandu ke tengah laut. Turis berlomba menunjukkan aksi diving dan snorkeling sambil menyaksikan rimbun terumbu karang dan gerak indah ikan di dasar laut. Salah satunya, melihat terumbu karang pujaan Kayan—terumbu yang membalut erat seonggok tulang rangka.

Kayan sejatinya juga pemandu. Namun ia kehilangan kepercayaan karena kerap membuat turis resah. Begitu turis tiba pada terumbu tulang rangka itu, dari mulut Kayan selalu saja menyembur cerita yang terus diulang, bahwa terumbu karang itu adalah tulang rangka istrinya sendiri. Ia akan bercerita panjang tentang bagaimana istrinya ditenggelamkan, beberapa saat setelah ia menikah. Ditenggelamkan ke dasar laut dengan batu pemberat menggelantung di badannya.

“Bukankah itu kejam dan mengerikan?” kata Kayan selalu setelah usai bercerita.

Satu-dua turis percaya. Tentu kebanyakan menganggap Kayan pemandu gila, pengkhayal, dan pengarang ngawur. Jika turis tak percaya, ia akan ngotot dan marah. Biasanya ia tinggalkan turis itu begitu saja di dasar laut. Turis penyelam pemula pasti ketakutan, secepatnya naik ke permukaan lalu berteriak minta tolong. Pengusaha jasa wisata diving dan snorkeling akhirnya tak sudi menggunakan jasa Kayan. Turis pun diwanti-wanti tak memilih Kayan jadi pemandu selam jika ingin selamat. Kayan dianggap perusak citra pariwisata.

Kayan sesunguhnya pencerita yang bagus, jika ia diberi waktu. Mungkin banyak turis akan percaya. Tapi setiap turis yang tampak ingin tahu, selalu saja dengan cepat ditarik orang untuk menjauh. Kepada si turis, Kayan dibilang tidak waras dan punya tingkah aneh sejak kecil. Kayan tak bisa melawan. Semua orang di desa pesisir itu memang memusuhinya.

Meski dimusuhi, ia tetap dibiarkan duduk seharian, kadang tanpa makan, di atas batu yang menjulang di tepi air. Selain memandang lalu-lalang turis, matanya lebih sering tertuju pada satu titik, tempat di mana terumbu tulang rangka itu berada. Ia kadang memandang titik itu agak lama dengan pikiran yang seakan mengapung di muka lautan.

Jika pikirannya kemudian mengapung, ia akan terkenang bagaimana warga adat menghukumnya dengan ritual nan sempurna. Ia bersama istrinya digiring ramai-ramai menuju perempatan desa, didudukkan di atas debu jalan, sementara istrinya tak bisa duduk dan tetap berdiri dengan kaki gemetar.

Ratusan warga mengurungnya. Upacara guru piduka digelar sebagai bentuk permintaan maaf kepada dewa-dewa agar desa dan warga tetap selamat tak kena amarah. Di tengah upacara Kayan duduk sebagai terdakwa. Ia didakwa membuat desa jadi leteh, kotor dan hina-dina, sehingga dewa bisa marah. Jika dewa sampai marah, bencana dan penyakit bisa datang dengan mudah.

Usai upacara guru piduka, Kayan dan istrinya dibuatkan upacara pernikahan, upacara tidak biasa yang tak banyak dipahami bahkan oleh sebagian besar warga desa. Lebih aneh lagi, setelah dinikahkan, Kayan dan istrinya digiring ke tepi pantai, diiringi gamelan balaganjur dan untaian kidung suci. Tubuh Kayan dibalut pakaian putih. Tubuh istrinya dilingkari kain putih.

Di tepi pantai, Kayan dan istrinya digotong ke perahu. Kayan sempat menolak, tapi warga adat menggotongnya dengan paksa. Ia lihat ibunya menangis dan ayahnya menahan geram tapi memberi tanda agar ia menurut saja. Gamelan bertalu, perahu yang dinaiki Kayan dan istrinya meluncur ke tengah laut. Di belakangnya ikut dua perahu mengangkut sesaji dan sejumlah tetua adat. Beriringan mereka ke tengah laut. Dari tengah laut, gamelan balaganjjur di pantai masih terdengar bertalu dengan nada semangat seperti lagu perayaan di hari gembira.

Pada satu titik di tengah laut, perahu berhenti. Istrinya digantungi pemberat dari batu besar untuk kemudian ditenggelamkan. Air mata Kayan meleleh. Sebelum tubuh menyentuh air, istrinya sempat memandnag Kayan dengan sorot mata meminta iba. Istrinya meronta, namun batu pemberat menariknya dengan cepat ke dasar laut. Kayan membeku. Hancur seluruh harap dalam hidupnya.

Kayan pernah punya harapan besar untuk menjadi warga adat yang berguna bagi desanya, sebuah desa kecil di tanjung pesisir utara Bali, tempat ia lahir. Ia ingin menjadi pahlawan terumbu karang dan ikan hias. Harapan itu seakan sudah dekat ketika desa pesisir itu dikembangkan menjadi kawasan wisata menyelam.

Turis datang makin banyak, untuk menyelam, melihat terumbu dan ikan hias. Ada juga yang menetap. Sejumlah turis membeli tanah di tepi pantai, tentu dengan meminjam nama pemilik dari seorang warga lokal. Tanah dibangun vila untuk dihuni sendiri atau disewakan pada rekan sesama turis.

Ladang garam ibunya sudah lama terkubur. Ayahnya sudah lama sakit-sakitan. Ia putus sekolah di kelas enam, menjelang ujian nasional. Umurnya 13 tahun ketika ia diajak seorang turis tinggal di vila. Turis itu dari Eropa, biasa dipanggil Mario. Siang ia menata kebun, memotong rumput, memangkas ranting kering. Kadang menguras kolam renang. Malam ia memijat Mario.

“Apa cita-citamu?” kata Mario suatu malam ketika tubuhnya menggeliat dipijat Kayan.

“Saya pernah melihat seorang laki-laki datang ke pantai ini. Jago menyelam. Setiap hari memeriksa terumbu karang, mencatat sesuatu di laptop, menggambar, lalu menelepon berkali-kali dengan HP layar lebar. Gagah sekali. Kata orang-orang dia pakar lingkungan laut. Saya tak tahu apa itu pakar lingkungan laut. Tapi saya suka karena dia ke pantai ini untuk meneliti dan menyelamatkan terumbu karang!” kata Kayan.

“Cita-citamu jadi pakar lingkungan laut?”

“Ya, seperti lelaki itu!”

“Sekolah pakar lingkungan laut itu di mana?”

“Tak tahu!”

“Tentu kamu tak tahu. SD saja tak tamat!”

Pijatan Kayan terhenti.

“Kamu ingin tamat?”

Kayan memulai lagi pijatannya.

“Besok kamu bersama ayahmu ke sekolah, bilang kamu masuk lagi.”

“Ayah tak punya uang. Jika tamat, tak bisa juga masuk SMP!”

“Di Indonesia kan sekolah gratis?!”

“Uang bemo, seragam, buku, bekal ke kantin, tak ada!”

“Saya beri uang untuk seragam dan buku, juga bekal setiap hari, sampai kamu SMP!”

Pijatan Kayan makin kuat, Mario menggeliat. Secara perlahan Kayan mengarahkan pijatan ke bagian tubuh yang paling disukai Mario.

Kayan pun tamat SD dan masuk SMP. Selain diberi uang bemo dan bekal sekolah setiap hari, oleh Mario ia dibelikan seekor bibit sapi betina. Setelah besar, sapi itu tentu akan dikawinkan. Punya anak, dan anak sapi dijual untuk biaya sekolah sampai Kayan mewujudkan cita-cita menjadi pakar lingkungan laut. Sejak kecil, sejak mulai belajar menyelam, ia punya kecintaan besar pada terumbu karang dan selalu bahagia jika bisa bermain bersama ikan hias. Maka tekadnya pun menggumpal menjadi cita-cita. Ia ingin menyelamatkan terumbu karang yang sejak lama rusak akibat bom ikan dan pukat raksasa.

Kayan tentu harus lihai mengatur waktu. Dini hari, sebelum benar-benar pagi, sebelum ke sekolah, ia menyiram taman di vila. Sepulang sekolah ia melesat ke semak perbukitan, menyabit rumput dan mencari daun gamal makanan sapi. Sore ia tak lupa menata taman di vila. Malam ia memijit Mario.

Malam ketika angin laut sangat dingin, vila Mario didatangi dua polisi dan dua pecalang. Mario sedang terengah dipijat Kayan ketika pintu kamar dipukul dari luar. Kayan membuka pintu. Polisi langsung meminta Mario memakai baju, lalu digiring ke markas sektor. Kayan dibiarkan tinggal di vila.

Besoknya Kayan bersama ayahnya dipanggil polisi. Di markas sektor ia dengar berkali-kali kata pedofilia. Kayan tak mengerti sama sekali. Semua pertanyaan polisi ia jawab jujur, bahkan untuk jawaban yang ia sendiri merasa malu untuk menjelaskan secara rinci. Selain ditanya polisi, Kayan diajak ke rumah sakit. Beberapa bagian tubuhnya diperiksa, termasuk dubur dan kelamin. Ia sendiri tak banyak tanya.

Ayah Kayan juga ditanya polisi. Tapi polisi agak kesulitan menghimpun keterangan dari orang tua yang sakit-sakitan itu. Jawabannya timur-barat tak tentu maksud, apalagi disertai batuk dengan irama menyedihkan. Ia lebih banyak bicara dengan kalimat yang terus diulang.

“Mario itu orang baik, Pak Polisi. Orang baik jangan dihukum. Jika dihukum, kami sedih. Kami menderita lagi,” katanya.

Polisi tersenyum tanpa mencatat satu kalimat pun di kertas mesin ketiknya.

Enam bulan, rangkaian waktu dilewati Kayan dengan rasa unik dan aneh. Ia jadi pemurung. Sekolah putus, ia dijauhi teman, disindir para orang tua. Ia lebih suka ke hutan, menyabit rumput dan memangkas ranting muda serta daun gamal pakan sapi. Selebihnya ia memaku diri di kandang sapi, kadang sampai malam, kadang tidur di sisi sapi.

Sesekali Kayan menengok vila Mario. Tentu ia tak bisa masuk secara leluasa seperti dulu. Vila itu sudah punya tuan yang berbeda, seorang turis lelaki muda yang pencuriga dan tak suka menyapa warga. Kayan tak tahu bagaimana nasib Mario. Terakhir ia bertemu di sidang pengadilan, tapi tak sempat menyapa. Kayan dengar Mario dipenjara lalu dipulangkan ke negaranya. Kayan bersdih. Benar-benar bersedih seperti rasa sedih ketika ia kehilangan patung batu karang yang dibuat ayahnya waktu kanak.

Satu yang bisa membuat Kayan bergairah hanya sapi. Sapi betina pemberian Mario. Sapi itu makin gemuk, beberapa bulan lagi mungkin birahi dan bisa dikawinkan. Kayan berharap sapi itu punya anak, dipelihara sebentar lalu dijual, dan ia bisa sekolah lagi. Ia masih menyimpan cita-cita jadi pakar laut agar bisa menyelamatkan terumbu karang.

Jika sapi itu juga hilang, tak tahu seperti apa nasibnya. Maka sapi dirawat sebaik-baiknya. Pakan tak boleh kurang. Minum harus cukup. Sapi tak boleh flu, apalagi diare. Agar tak sakit, sapi yang makin sintal itu dimandikan setiap sore, lalu dipijat, dan dielus agar bulunya tetap rapat dan menyala.

Kayan selalu saja terkenang Mario ketika jemari kecilnya memijat lekuk badan sapi. Kadang perasaan aneh dirasa menekan dada saat sapi itu menggeliat dan melenguh perlahan. Seringkali Kayan merasa sedang menahan sesuatu dengan rasa gelisah, sesuatu yang berat, seperti balon karet berisi lumpur yang perlahan terasa makin panas. Dan ia menahan panas dengan sekuat tenaga.

Namun di satu senja, ketika gerimis menciptakan nyanyian aneh di atas daun talas dekat kandang, seseorang memergoki Kayan tanpa pakaian. Kakinya menginjak keranjang rumput dan setengah badannya telungkup di punggung sapi. Ia dilaporkan ke pengurus adat. Atas nama rapat adat, Kayan dan sapi betina itu dikawinkan dalam satu upacara dengan saksi seluruh warga adat di perempatan desa, di pantai, dan di tengah laut. Upacara penghakiman dan penghukuman yang ia kenang dengan rasa pedih dan ngilu hingga tua. (*)

 

 

Made Adnyana Ole, tinggal di Singaraja, Bali Utara. Menulis cerpen dan puisi. Karya-karyanya tergabung dalam berbagai buku antologi. Buku kumpulan cerpennya Padi Dumadi (2007) dan kumpulan puisinya Dongeng dari Utara (2014). Satu cerpennya termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: