Mayat Mengambang di Malioboro


Cerpen Indra Tranggono (Jawa Pos, 30 Oktober 2016)

mayat-mengambang-di-malioboro-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Mayat Mengambang di Malioboro ilustrasi Bagus/Jawa Pos

DATANGLAH ke Malioboro! Anda akan menyaksikan peristiwa yang menakjubkan. Di sini waktu terasa berhenti. Mati. Dan keajaiban dari peradaban yang tenggelam pun akan menyergap Anda. Juga, makhluk-makhluk aneh yang selama ini hanya Anda percayai sebagai mitos!

Begitu bunyi teks iklan yang terpahat di layar televisi. Huruf-huruf itu menyatu dengan gambar-gambar dengan berbagai imaji. Mengaduk perasaan. Membuncahkan rasa penasaran.

***

Ada mayat mengambang di Malioboro. Seorang polisi langsung mengevakuasi dan membawa mayat itu ke pinggir. Jenis kelamin mayat itu perempuan. Dari wajahnya yang masih segar, ditaksir usianya sekitar 23 tahun. Tubuhnya langsing. Kulitnya kuning. Rambutnya pendek, agak ikal. Wajahnya manis.

Baju perempuan itu robek, pas di bagian dada. Celana jeans birunya melorot ke bawah. Ada dugaan, perempuan nahas itu diperkosa lalu dibunuh. Ada bekas tikaman di perutnya. Begitu meninggal, mayat itu langsung dibuang di Malioboro. Polisi mendapatkan data, nama perempuan itu adalah Nancy Kusuma. Karyawan sebuah panti hiburan karaoke. Ia berasal dari Wono Saree, Gunung Kidul.

Malioboro bukan nama jalan, tapi nama danau. Danau itu luas dan dalam. Sepuluh sungai menggenangi danau itu. Masih ditambah ratusan mata air. Jika air sedang jernih maka bisa dilihat beberapa bangunan yang masih berdiri di dasar danau itu. Ada hotel-hotel bertingkat. Deretan rumah-toko. Bangunan bergaya kolonial yang dulu pernah difungsikan menjadi pusat kegiatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Ada juga mal, stasiun kereta api, pasar kembang, Istana Negara, kantor pos, kantor tentara, kantor polisi, kantor bank, benteng peninggalan Belanda, alun-alun, pusat kesenian, perpustakaan, museum, dan lainnya.

Eloknya, meskipun sudah terendam ratusan tahun, bangunan-bangunan itu masih utuh dan memikat. Tak mengherankan jika banyak pelancong dari dalam dan luar negeri membeli “paket wisata ke dasar danau” untuk bisa berenang ke dasar danau, dan menikmati seluruh fenomena yang ada. Mereka menyebutnya, “sebuah peradaban yang tenggelam”.

Bukan hanya di sekitar danau saja para pedagang asongan beraksi. Mereka bahkan merangsek ke dasar Danau Malioboro. Dengan pelampung dan pakaian khusus yang antibasah, mereka menawarkan dagangannya. Sambil menyelam mereka bisa membuat kopi atau wedang jahe kepada para pelancong yang kelelahan berenang mengitari kompleks bangunan warisan budaya.

Di dasar danau itu juga sudah berdiri hotel, rumah makan, dan toko. Setiap hari tamu yang datang selalu penuh. Namun sejak ada mayat mengambang di Malioboro, jumlah pengunjung merosot jauh. Apa lagi ketika jumlah mayat mengambang semakin banyak. Malioboro pun berubah menjadi danau sepi dan menakutkan.

***

Orang begitu mudah membuang mayat di Malioboro. Mereka percaya mayat-mayat itu akan langsung lenyap karena dimakan Genderuwo Toya, sosok raksasa tinggi besar, berkulit hitam, berbulu kasar, bermata merah, dan bertaring panjang. Genderuwo Toya tidak setiap saat mau muncul ke permukaan. Ia baru muncul ketika ada mayat mengambang. Mayat itu langsung diterkam dan dibawanya ke dasar danau. Di dalam istananya itu sang raksasa melahap mayat dengan penuh gairah. Tandas tanpa sisa.

Ketika semakin banyak mayat mengambang di Malioboro, Genderuwo Toya juga semakin rajin muncul ke permukaan pada malam atau dini hari, pada saat danau itu sepi pengunjung. Para pembuang mayat melemparkan korbannya pada jam-jam itu.

Begitu pula orang-orang yang berniat bunuh diri, selalu memilih waktu dini hari. Mereka berharap mayatnya langsung dilahap sang Genderuwo Toya. Menurut seorang polisi yang gagal mengakhiri hidupnya, Danau Malioboro menjadi tempat terindah untuk bunuh diri. Ada semacam kekuatan magis yang mendorong mereka mengakhiri hidup dengan cara menenggelamkan diri ke danau. Kenikmatan akan dirasakan saat air danau itu memasuki hidung dan paru-paru. Kenikmatan pun memuncak saat orang kehilangan napas. Mati. Dan mayatnya mengambang di danau itu.

Jumlah mayat yang mengambang semakin banyak. Jumlah orang bunuh diri pun terus meningkat. Pemerintah Daerah Kota Zoja pun gerah. Dengan melibatkan banyak pakar lintas bidang, berbagai program pun dilaksanakan. Misalnya, menangkap dan menghukum para pembunuh dan pembuang mayat. Umumnya mereka mengaku tidak secara sadar melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Seperti ada kekuatan aneh yang mendorong mereka berbuat nekat.

Pemerintah daerah pun mengupayakan dialog dan negosiasi dengan Genderuwo Toya. Puluhan paranormal terpilih dikerahkan. Masing-masing mendapatkan tugas. Ada yang berdoa membersihkan danau itu dari energi buruk, ada pula yang menemui dan merayu sang Genderuwo untuk tidak mengganggu. Namun, bukan penaklukan atas Genderuwo yang didapat, tapi puluhan paranormal itu justru terlempar ke danau dan jadi santapan Genderuwo Toya.

Sejak saat itu sering terdengar suara tawa Genderuwo yang tidak keras tapi pelan, berat, dan tajam. Selain itu, pada dini hari, di atas danau sering terlihat orang-orang berperahu sambil tertawa-tawa. Wajah mereka mirip dengan perempuan-perempuan yang diperkosa dan dibunuh, mirip juga dengan orang-orang yang bunuh diri di danau itu. Umumnya wajah mereka putih, layaknya rias pemain pantomim. Mereka juga bisa melayang dan terbang lincah serupa burung sriti atau walet.

Ada seorang warga yang berhasil memotret pemandangan ganjil itu, dan mengunggahnya ke media sosial. Kontan, masyarakat geger. Apalagi setelah media massa mewartakannya. Orang-orang dari berbagai kota dan negara pun menyerbu Danau Malioboro. Mereka takjub menyaksikan orang-orang yang sudah mati itu bisa terbang.

Air liur Pemerintah Daerah Kota Zoja langsung menetes. Tambang uang itu tak bisa dilewatkan. Mereka kontan menjadikan peristiwa itu sebagai objek wisata. Mereka menamakannya, “wisata horor”. Dan, suasana pun semakin ramai, ketika Genderuwo Toya sering menampakkan diri. Jumlah pengunjung meningkat tajam. Bahkan setiap malam bisa mencapai puluhan ribu orang. Para pelancong tidak takut lagi, tapi justru menjadikan Gendewuwo Toya sebagai hiburan.

Wajah sang Genderuwo menebarkan senyum, dan memamerkan taringnya yang tajam. Mayat-mayat pun semakin banyak yang mengambang. ***

 

 

INDRA TRANGGONO, cerpenis dan esais, tinggal di Jogjakarta.

2 Responses

  1. Malioboro adalah pusat dari pada pariwisata dan pernak-pernik alat dan para wisatawan, ternoda dengan adanya penemuan mayat. Sekiranya bapak mendapatkan berita ini dari sumber mana ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: