Burung Sirin


Cerpen Kiki Sulistyo (Media Indonesia, 30 Oktober 2016)

burung-sirin-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Burung Sirin ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BURUNG itu jatuh dari langit. Seperti ada yang menembak. Bulu-bulunya berlepasan di udara sebelum tubuhnya menimpa tanah. Bagaimana burung bisa jatuh sementara tak ada suara letupan?

Sirin berjalan ke arah burung yang jatuh itu. Tepat di jalan tanah yang menghubungkan sungai di dekat rumah dengan jalanan lebih besar yang mengarah ke jalan yang lebih besar lagi, Sirin melihat semak-semak mimosa. Diperhatikannya semak-semak itu. “Kalau kau ketemu mimosa berdaun empat, kau bakal mendapat keberuntungan,” Sirin ingat kata temannya, tapi ia tidak ingat nama temannya itu.

Pada sore-sore tertentu di wilayah sepi ini, ayah Sirin akan terlihat membawa senapan di pundaknya. Ia mengenakan kaus dalam berwarna hijau dan celana kain yang longgar. Sebatang rokok terselip di bibirnya, mengepulkan asap tipis yang segera menghilang di udara. Cara berjalannya selalu memperlihatkan betapa ia sedang memikirkan sesuatu dan sepertinya tidak ada satu hal pun yang bakal mengganggunya. Ia menembak burung apa saja, bahkan ia akan membidik ke arah suara burung meski ia tidak melihat wujud burung itu.

Tetapi sudah beberapa bulan ia tidak lagi pergi menembak burung. Memang, kadang-kadang datang niat untuk memakai lagi senapan tuanya. Sesekali ia akan menurunkan senapan itu dari dinding dan membersihkannya. Dibelai-belainya senapan itu seperti membelai kepala anak yang paling disayang. Kegemarannya menembak burung terhenti karena ia tidak pernah lagi mendengar suara burung di sekitar rumah. Setelah istrinya meninggalkannya ke luar negeri, ia menjual rumahnya di kota, kemudian membeli sebidang tanah di sini dan membangun rumah baru. Sebenarnya, istrinya tidak benar-benar meninggalkannya. Istrinya berangkat ke Pulau Sokotra untuk satu tugas ilmiah. Sejak itu istrinya tidak pernah kembali. Berbagai cara telah ditempuh untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Karena tak mendapat hasil, ia memutuskan untuk menganggap istrinya telah meninggalkannya.

Tanah dibelinya dengan murah. Jarang orang mau membeli tanah di sini. Selain karena jauh dari pusat kota, ada riwayat yang kerap dikisahkan orang-orang. Dulu kawasan ini ramai penduduk. Hasil bumi cukup untuk menghidupi mereka. Kawasan ini dipimpin oleh seorang lelaki bersurban yang dulunya penggembala kambing. Kisah masa lalu lelaki itu tidak diketahui kebenarannya. Konon, dia sendiri yang telah menyampaikannya pada seseorang, lalu dari mulut orang itu, kisah tersebar. Hal utama yang paling diyakini oleh penduduk adalah lelaki itu memiliki banyak kesaktian. Ia bisa membuat sumur hanya dengan jarinya. Menyembuhkan orang yang hampir mati dan meramal masa depan.

Pada waktu-waktu tertentu, lelaki bersurban akan mengejutkan penduduk dengan kemunculannya yang tiba-tiba bersama binatang-binatang yang tidak ada di sekitar kawasan ini. Pada suatu perayaan panen, dia datang dengan menunggang gajah. Bukan gajah biasa, melainkan gajah berbulu yang gadingnya melengkung. Pernah juga dia terlihat mengelilingi pemukiman dengan mengendarai seekor kura-kura raksasa.

Kisah-kisah semacam itu ditambah pula dengan berbagai kejadian ajaib: hujan salju yang tiba-tiba turun pada musim kembang lablab, kemunculan ribuan burung yang membawa bola api di kaki dan paruhnya, juga perihal berhembusnya kabar ada seorang manusia yang telah hidup ribuan tahun dan saat itu sedang dirantai di satu bagian kawasan ini. Kisah manusia yang dirantai menjadi musabab perginya satu persatu penduduk ke lain pulau. Alasannya, mereka percaya bahwa suatu ketika manusia yang dirantai itu akan dilepaskan dan seluruh penduduk akan menjadi budaknya. Dan, mereka cemas bahwa masa itu kian dekat manakala pemimpin mereka, si lelaki bersurban tiba-tiba saja hilang. Sejak itu perselisihan antarpenduduk sering terjadi, dan musim kian menampakkan tabiat buruknya. Konon, lelaki bersurban itu telah diangkat ke langit, dan kelak ia akan kembali untuk membunuh manusia yang dirantai selama ribuan tahun itu. Ayah Sirin tahu, di sini dulu daerah transmigran. Karena suatu peristiwa kerusuhan etnis, mereka terpaksa pergi dan enggan kembali.

***

Di antara semak-semak, Sirin melihat setangkai mimosa berdaun empat. Sepasang matanya yang kebiruan berbinar-binar. Dipetiknya tangkai mimosa itu, lalu seperti cahaya yang masuk ketika pintu dibuka, ingatannya mendadak jadi benderang. “Kalau kau ketemu mimosa berdaun empat, kau bakal mendapat keberuntungan.” Sekarang ia ingat nama temannya yang pernah mengatakan hal itu. Ia ingat nama temannya itu sama dengan namanya: Sirin. Hanya saja temannya itu laki-laki.

Sirin mencium mimosa di tangannya, lalu sambil menatap langit ia berbisik, “Aku ingin terbang, seperti burung.”

Ketika Sirin dipenuhi oleh cahaya ingatan, ayahnya memutuskan untuk mengambil kembali senapan tua yang tergantung di dinding rumahnya. Dibukanya laci, diambilnya beberapa pelor, lalu diisinya senapan itu. Ia mengenakan kaus dalam berwarna hijau dan celana kain yang longgar. Dibakarnya sebatang rokok sembari melangkah keluar. Cahaya matahari menjelang senja menerpa wajahnya, membuat kulitnya yang cokelat tua tampak berkilauan. Kerutan-kerutan yang disebabkan waktu dan kesedihan membentuk garis-garis tegas. Dari kejauhan ia mendengar suara burung berkicau. Hasrat lamanya seperti dibangkitkan. Hasrat lama itu membuat ia teringat pada istrinya. Dan, ingatan itu membuat ia seketika melambatkan langkah.

Istrinya seperti peri yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi dari kehidupannya. Perempuan yang telah ia curi sayap-sayapnya agar tak bisa terbang lagi. Namun pada suatu hari, ketika ia telah merasa memilikinya, perempuan itu menemukan kembali sayap-sayap itu dan terbang entah kemana. Meski ada Sirin, yang menjadi bukti paling kuat bahwa semua peristiwa yang dialaminya bukanlah kisah rekaan belaka, tetap saja perasaan kehilangan meremas-remas jiwanya. Sirin tumbuh menjadi seorang remaja yang berbeda dengan ibunya. Sirin begitu pendiam, tak pernah punya teman. Ia merasa antara dirinya dan Sirin ada jarak yang tidak terukur. Di rumah, Sirin memang terlihat seperti seorang remaja biasa. Kecuali sikap diam dan tatapannya yang dingin. Tapi di sekolah, Sirin kerap menimbulkan masalah. Ia memang tidak pernah bolos atau mengusik kawan-kawannya. Tetapi kelakuannya yang ganjil telah menimbulkan keresahan. Wali murid, para guru dan siswa lain yang satu kelas dengannya merasa bahwa ada yang salah dengan kejiwaan Sirin.

“Kami kira Bapak perlu membawa Sirin ke psikolog. Mohon maaf, bukannya kami mau bilang kalau dia tidak waras. Hanya saja tindakannya yang aneh, sedikit mengganggu proses belajar,” kata wali murid pada suatu hari. Ayah Sirin dipanggil ke sekolah setelah Sirin terlihat seperti terus-menerus mencari sesuatu di semak-semak belakang sekolah. Ia melakukannya semenjak tiba di sekolah pada pagi hari. Ia masuk kelas pada jam belajar dan melakukannya lagi pada jam istirahat. Sirin tidak menjawab siapa saja yang bertanya perihal apa yang dicarinya. Sirin seperti tidak melihat orang-orang itu. Ia memang terlihat berbicara, tetapi entah pada siapa. Wali murid juga mengatakan bahwa sejumlah siswa lain pernah melaporkan kalau Sirin sering bertanya, di mana Sirin? Seakan-akan di sekolah ini ada dua Sirin.

Setelah pindah ke sekolah yang baru, Sirin tidak pernah lagi melakukan hal seperti itu. Namun, suatu ketika, saat ayahnya datang menjemput, ia melihat bagaimana tatapan siswa-siswa lain terhadap putrinya. Tatapan yang mengesankan seolah-olah putrinya itu adalah makhluk ganjil. Secara tidak sengaja ia pernah mendengar obrolan para guru. Bahwa semenjak kedatangan Sirin ruangan kelas terasa lebih dingin. Sejak kedatangan Sirin pula, bangunan sekolah seperti menjadi tujuan bagi sekelompok burung untuk membuat sarang.

Tapi ayah Sirin tidak ingin percaya pada semua itu. Ia lebih suka menumpahkan beban ke pundaknya sendiri. Bahwa yang dilihat dan didengarnya perihal Sirin hanya akibat dari kecemasannya belaka. Karena ketidakmampuannya menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah hilang untuk selamanya.

Pikiran tentang semua itu terputus ketika ia melihat seekor burung melintas di ketinggian. Ia berhenti melangkah. Dibidikkannya senapan ke arah burung itu. Ia menekan pelatuk. Tapi tak ada bunyi letupan. Ia melihat burung itu pelan-pelan merendah, terus merendah ke arahnya. Saat burung itu semakin dekat ia merasa matanya telah menipunya. Itu bukan burung. Ayah Sirin terpaku ketika yang disangkanya burung itu jatuh di hadapannya. Ia merasa, jarak tak terukur antara ia dan putrinya semakin tak terukur saat ia mendengar makhluk di hadapannya berucap, “Ayah…” ***

 

 

Kiki Sulistyo, cerpenis, bermukim Lombok Tengah. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: