Setelah 16.200 Hari


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 24 Juli 2016)

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

– Cerita untuk Gus Mus dan almarhumah Nyai Siti Fatmah Mustofa

 

/1/

“Allah telah mengutusku, Nyai.” [1]

“Ya, aku tahu…”

“Aku tidak bisa menghambat atau mempercepat.”

“Tetapi Abah [2] masih tidur.”

“Nanti kiai mulia itu akan bangun juga.”

“Aku sangat mencintainya.”

“Aku tahu.”

“Mengapa harus sekarang? Aku masih 62 tahun, Abah baru 72 tahun.”

“Karena Allah menginginkan sekarang.”

“Beberapa waktu lalu Abah bilang kepadaku, ‘Tetaplah muda bersamaku. Tetaplah muda dalam semangat meraih rida-Nya.’ Ia juga bilang, ‘Semoga Allah senantiasa mengasihi dan menyayangimu melebihi kasih-sayangmu kepadaku, kepada anak-cucu, dan kepada sesamamu.’ Jadi, kurasa Abah akan merasa sangat kehilangan.”

“Dia akan ikhlas.”

“Kami hampir tidak pernah berpisah selama 16.199 hari.”

“Suamimu tahu aku akan datang saat Ramadhan.”

“Dia tidak pernah bercerita kepadaku.”

“Dia sangat mencintaimu.”

“Aku tahu.”

“Dia tak ingin kau bersedih.”

“Semalam Abah begitu lama menatapku.”

“Itu karena dia tahu kau akan pergi untuk selama-lamanya.”

“Dia tidak ingin bersamaku lebih lama lagi?”

“Tentu saja ingin. Tetapi dia tidak ingin melawan Allah. Dia merasa kau akan lebih bahagia bersama Allah, bersama Sang Pemilik Sejati.”

“Dia tidak cemburu pada Allah?”

“Dia tidak pernah cemburu pada Allah.”

“Jam berapa kau akan mencekikku?”

“Aku tidak akan mencekikmu.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan membuatmu sedikit sesak napas.”

“Abah akan melihatku menghadapi sakratul maut?”

“Kau ingin dia melihatmu kesakitan?”

“Tidak.”

“Dia memang tidak akan melihatmu menghadapi sakratul maut.”

“Apa yang akan Abah lakukan saat aku menghadapi sakratul maut?”

“Dia akan shalat Asyar.”

 

/2/

DARI sabda Nabi Muhammad, Abah tahu benar kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutra. Abah juga paham tidak mungkin batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa bagian dari kain sutra yang tersobek. Karena itu atas izin Allah, Abah tidak melihat kesakitan yang kurasakan saat mayatku dicabut.

“Seorang pencinta memang tak perlu melihat sang kekasih berubah menjadi cahaya, Nyai.”

“Mengapa?”

“Karena dia akan terburu-buru ingin malih rupa jadi cahaya juga.”

“Apakah tidak boleh?”

“Belum waktunya, Nyai.”

“Aku selalu memohon kepada Allah agar kami menjadi sepasang cahaya yang melesat bersama-sama ke tujuh lapis langit yang tak teraba, ke Cahaya Mahacahaya.”

“Aku tahu, Nyai. Akan tetapi, kehidupan dan kematian sudah termaktub di Lauh Mafuz.”

“Tentu saja aku tak hendak melawan kehendak Allah.”

“Ya, sepanjang hidup kalian hanya menjadi manusia yang berserah kepada kehendak Allah.”

“Ah, tidak juga. Kadang-kadang kami mempercakapkan orang-orang yang hendak menipu kami.”

“Justru karena kalian manusia, apa pun yang dilakukan manusia, cenderung kalian lakukan juga.”

“Kami tidak melulu sujud di sajadah. Kadang-kadang kami melakukan tindakan-tindakan kecil yang membahagiakan di dapur. Kadang-kadang kami memasak cumi-cumi, menggoreng ikan asin, atau membuat gudhangan bersama-sama.”

“Kadang-kadang kau ngomel karena suamimu sering ikut-ikutan memasak jangan lodeh, tetapi rasanya tak keruan, bukan?”

“Kau mengingatkan aku pada hal-hal lucu. O, rasanya sekarang ini aku ingin mengupas pepaya untuk Abah. Rasanya aku ingin menyajikan nasi jagung untuk dia secepatnya.”

“Tentu tidak bisa lagi, Nyai. Engkau telah menjadi seberkas cahaya.”

“Cahaya Dewi Dapur?”

“Jangan bergurau, Nyai. Engkau cahaya sebenar-benar cahaya.”

Anak-anak dan Abah tidak mendengarkan percakapan kami saat itu. Dokter berusaha menghidupkan aku dengan pemacu jantung. Aku tidak tahu apakah tumbar, miri, merica, bawang putih-bawang merah, kunyit, ikan asin, cumi-cumi, udang, empal, santan, tahu, tempe, onclang, sledri-prei, dan segala rempah-rempah di dapur menunggu kuolah saat itu.

 

/3/

Sebelum maut merenggut aku memang bilang kepada anak-anakku, “Panggilkan Abah. Aku mau minta maaf.”

Abah menatapku tajam-tajam dan dengan lembut dia menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku, “Mengapa harus minta maaf?”

“Doakan aku agar husnulkhatimah [3], Abah.”

“Mengapa kau tidak berdoa untuk meminta umur panjang?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Abah. Aku tahu Abah hanya ingin mengulur-ulur waktu maut merenggut nyawaku.

Aku tahu maut tidak bisa menunggu. Aku tahu.

 

/4/

Malaikat Izrail mencabut nyawaku saat Abah shalat Asyar. Andai aku batu, aku tidak akan merasa kehilangan. Aku akan diam. Tenteram di dasar sungai. Aku bukan batu dan karena itu rasanya bersama Abah aku masih ingin mempercakapkan tentang kota-kota yang dihajar rob, orang-orang yang tenggelam di laut, dan nasib siapa pun yang didera bencana longsor.

“Kau tidak perlu merisaukan apa-apa lagi, Nyai. Apa pun yang kau cari ada di dalam dirimu. Jika kau mencari laut, laut ada di dalam dirimu. Jika kau mencari harum pohon jati, harum pohon jati ada di dalam dirimu.”

“Tentu saja aku mencari Allah.”

“Allah ada di dalam dirimu.”

“Aku tidak perlu mencari Allah lagi?”

“Allahlah yang mencarimu.”

“Ketemu?”

“Kau tidak yakin telah bertemu Allah?”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Aku justru melihat Abah takjub memandang jasadku. Aku mendengar Abah menggumamkan semacam nina bobo, semacam puisi yang sangat lirih di telingaku:

Tidur, tidur, kau hanya tidur, Sayang. Tidur bersama burung-burung. Tidur bersama hujan dan bunga-bunga yang berzikir di taman.

Mimpi, mimpi, kau hanya mimpi, Sayang. Mimpi bersama langit di atas langit. Mimpi bersama cahaya-cahaya yang melesat ke surga yang tak teraba pikiran.

Adakah yang lebih indah dari senyummu sebelum segalanya sunyi diam? Adakah yang lebih indah dari cinta yang tak pernah kau katakan?

Tidur, tidur, tidur baik-baik, Sayang. Aku akan menjagamu bersama angin. Bersama keheningan.

Tentu saja aku tidak bisa tidur. Aku tak akan pernah tidur sekarang.

 

/5/

Abah tidak menangisi jasadku. Abah justru meminta siapa pun jangan menangis.

“Aku tidak bisa menangisi kematian siapa pun. Aku tidak tahu apakah aku akan menangisi kematian istriku. Saat ini aku belum bisa menangis.”

Aku tidak terkejut mendengar perkataan Abah. Seakan-akan menasihati diri sendiri, Abah pernah membisikkan kalimat-kalimat serupa puisi tentang kematian kepadaku:

Jangan kau berhalakan tangismu saat siapa pun meninggalkanmu di dunia. Kematian adalah gerbang cinta ke pangkuan terindah Allah. Kau tidak perlu mengikuti kerandaku ke kuburan. Kuburan hanya pintu untuk memandang surga.

Karena itulah aku juga tidak terkejut, ketika tahu, sambil menunggu jasadku, Abah berusaha mengisahkan kehidupan kami yang biasa-biasa saja kepada para sahabat. Kehidupan yang kadang-kadang tidak romantis. Kehidupan yang kadang-kadang dibumbui pertikaian kecil.

“Aku paling sebal kalau istriku mulai memberes-bereskan buku-bukuku yang berserakan di meja. Hal-hal yang belum selesai kutulis jadi berantakan,” kata Abah.

Tentu aku tidak akan membereskan buku-buku Abah lagi. Tentu setelah ini aku hanya akan memandang Abah menulis puisi atau esai untuk koran. Aku kok tidak yakin Abah akan menulis novel.

“Makin lama aku kian pikun. Aku tidak tahu siapa yang akan mengingatkan siapa nama-nama tamuku. Aku tak tahu siapa yang akan mengingatkan di mana aku akan memberi khotbah atau tausiah…”

Hmmm, tentu saja aku akan mengingatkan Abah dengan berbagai cara. Aku akan bertanya kepada Malaikat Izrail atau Malaikat Jibril bagaimana cara mengingatkan Abah.

 

/6/

Para pelayat yang mengusung kerandaku mengular berkilo-kilometer dari rumah hingga ke kuburan. Para pelayat berebut memanggul keranda seakan-akan tidak akan bisa melakukan lagi pada kematian orang lain. Abah hanya sebentar memanggul kerandaku.

“Akhirnya Abah tidak mengantarku ke kuburan.”

“Kau keberatan?”

“Sama sekali tidak. Walau hanya sesaat, bagiku Abah telah memanggul kerandaku sepanjang waktu.”

“Ya, kuburan toh bukan tempat abadimu.”

“Abah tahu benar di mana harus mencariku.”

“Di mana?”

“Di cinta yang tergurat pada cahaya yang justru pelan-pelan melesat meninggalkan kuburanku.”

“Di cinta?”

“Ya, karena cinta adalah pintu suci yang memungkinkan siapa pun mengintip Cahaya Mahacahaya yang bersembunyi dari kefanaan dunia.”

 

/7/

Akhirnya segalanya sirna ketika jasadku telah dikubur di permakaman. Doa-doa telah berhenti dilantunkan. Bunga-bunga telah selesai ditaburkan.

Abah masih berdoa di rumah. Abah paham bersamaku doa-doa itu akan berubah jadi cahaya. Cahaya yang lebih indah dari sinar matahari. Cahaya yang lebih indah dari sinar rembulan. Cahaya yang seakan-akan hijau seakan-akan kuning seakan-akan biru. Cahaya yang melesat bersama Alif bersama Lam bersama Lam bersama Alif bersama Ha. Cahaya yang melesat bersama Surat Alfatihah. Cahaya yang melesat bersama Surat Al Ikhlas.

“Sebentar lagi kiai akan tidur, Nyai.”

“Ya, biarkan dia tidur.”

“Toh dalam tidur pun ia berdoa untukmu, Nyai.”

“Ya, dalam tidur pun ia berzikir.”

“Doa-doanya akan membuatmu husnul khatimah, Nyai.”

“Amin.”

“Telanlah doa-doa yang bagai makanan surgawi itu, Nyai!”

“Telah aku telan.”

“Hiruplah zikir-zikir yang bagai lautan cinta itu, Nyai.”

“Telah aku hirup.”

“Sekarang biarkan dia tidur.”

Abah memang kemudian tertidur. Dalam tidur yang indah itu, Abah melantunkan serupa tembang serupa suluk, “Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah. Allah.”

Sangat lama Abah berzikir. Sangat lama. Tepat pada hitungan 16.200 hari kami bersama, pelan-pelan tubuh Abah diselimuti cahaya.

“Sekarang kalian tidak perlu mencari Tuhan lagi. Tuhan telah menemukan kalian!”

Tentu saja aku hanya takjub. Aku hanya terpesona. Tak bisa berkata-kata. Tak bisa…. (*)

 

 

Catatan:

[1] Saya terpesona pada ungkapan Allah, “Sakit adalah pelayan-Ku yang Aku berikan kepada sahabat pilihan-Ku.” Kalimat pada awal cerita ini bertolak dari teks yang saya temukan dalam penjelasan Imam Gazali tentang sakit dalam Penyembuhan Cara Sufi karya Syakh Hakim Mu’inuddin Chisyti itu.

[2] Abah sesungguhnya bermakna sebagai ayah. Abah dalam cerita ini merupakan panggilan sayang seorang istri kepada suami. Sang istri menirukan anak-anak yang memanggil Abah pada sang ayahanda.

[3] Husnulkhatimah adalah meninggal dalam keadaan baik.

 

 

Triyanto Triwikromo adalah penerima anugerah Tokoh Seni Pilihan Tempo 2015 (bidang puisi) untuk buku Kematian Kecil Kartosoewirjo. Ia juga menerima Penghargaan Sastra 2009 dari Pusat Bahasa untuk antologi cerpen Ular di Mangkuk Nabi. Ia antara lain menulis Sesat Pikir Para Binatang (kumpulan cerpen, 2016), Celeng Satu Celeng Semua (kumpulan cepen, 2013), dan Bersepeda ke Neraka (kumpulan cerita ringkas, 2016). Sepanjang 2003-2015 telah 13 cerita Triyanto masuk Cerpen Pilihan Kompas. Buku-bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris antara lain A Conspiracy of God-killers (2015), The Serpent in The Holy Grail (2015), dan Upside-Down Heaven (2015). Ia tinggal di Semarang, Jawa Tengah.

One Response

  1. Indah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: