Percakapan Tengah Malam


Cerpen Shabrina WS (Republika, 20 Maret 2016)

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Menjelang tengah malam, Jas mematikan traktornya. Aku segera meniup lampu minyak di meja. Tak berapa lama, terdengar kecipak air dari kamar mandi di belakang rumah. Aku tak bersuara, hingga pintu terbuka, dan cahaya bulan menghambur masuk ruangan. Aku bisa melihat bayangan Jas yang melangkah masuk.

“Kamu selalu pulang jam segini?”

“Ibu?”

Aku menyulut lampu minyak di meja.

“Kapan Ibu datang?” Jas duduk di depanku sambil mengusap rambutnya yang basah.

“Sore tadi. Ibu bawa opor, biar kupanasi dulu.”

“Bu, jangan repot-repot.”

Tanpa bicara, aku menuju pojok ruangan dengan lampu minyak di tangan. Menaruh pada papan kecil di dinding kayu, kemudian menyalakan kompor, dan menjerang panci tanggung berisi opor.

Aroma harum segera memenuhi ruangan tanpa sekat ini.

“Ayo makan.”

Tak lama, kami telah duduk menghadap meja kayu. Dalam cahaya lampu minyak, aku masih bisa melihat jakun Jas bergerak menelan ludah.

Dia menyendok sepotong besar lontong berlumur kuah opor. Aku mengamati tak berkedip. Tenggorokanku seperti dipenuhi dedak jagung ketika suapan-suapan berikutnya, Jas mengunyah seperti orang yang berbulan-bulan tidak makan.

Untuk beberapa saat, hanya terdengar bunyi sendok dan kerupuk.

“Jadi, kamu baru masak sepulang dari sawah tengah malam begini?” tanyaku setelah Jas mengosongkan piringnya. Aku bertanya begitu karena sewaktu aku datang tak ada makanan.

Dia mengangguk. “Sekalian untuk sarapan.”

“Kamu menyiksa dirimu sendiri.”

“Hanya mengejar masa tanam, Bu.”

Aku menatap Jas lekat-lekat. Cambangnya tumbuh tak beraturan. Rambutnya menyentuh tengkuk. Wajahnya yang dulu bersih, kini cokelat kehitaman terbakar matahari. Betapa cepat waktu mengubahnya.

“Ibu minta maaf….”

Jas mengangkat kepala.

“Akhir-akhir ini, Ibu menyadari ada keputusan masa lalu yang keliru.”

“Ibu tidak perlu minta maaf.” Jas melipat kedua tangannya di atas meja.

“Mbak Yun berhasil kan?”

“Tapi…” Aku menelan ganjalan di tenggorokanku.

“Aku tidak apa-apa, Bu.”

***

Rasanya, baru kemarin kami bertengkar di meja makan. Terbayang jelas, Jas masih mengenakan seragam abu-abu putih. Dia berteriak tak terima ketika kukatakan itu terakhir kali dia sekolah karena kami akan meninggalkan Jawa dan transmigrasi ke Sumatra. Dia merasa tidak adil.

Kami memang memutuskan pergi setelah Pak Lurah memberitahu bahwa di tanah trans, peluang Yuni yang lulusan SPG untuk diangkat menjadi pegawai negeri lebih terbuka. Lagi pula, saat itu hampir semua harta kami habis untuk membiayai sekolah Yuni selama tiga tahun.

Aku berjanji Jas akan sekolah lagi. Tapi, aku salah, jangankan melanjutkan SMA, bahkan SMP-pun berjarak ratusan kilo jauhnya. Di wilayah transmigrasi hanya ada satu sekolah SD.

Yuni memang menjadi guru, tetapi butuh proses beberapa tahun untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Sementara Jas, tumbuh menjadi pemuda pemberontak dan pemalas. Dia sama sekali tak mau turun ke sawah. Setiap kali bapaknya mengajak bekerja, Jas justru mengungkit semua hal tentang dirinya. Sekolah, masa depan. Dan, menimpakan kesalahan padaku yang berujung pada pertengkaran.

Jas baru berubah bertahun-tahun kemudian ketika dia jatuh hati pada Marini, seorang guru pendatang baru. Dia mulai mau turun ke sawah. Berkecipak dengan lumpur. Lalu, memberanikan diri melamar Marini. Dan, mereka menikah.

Aku merasakan tahun-tahun kelegaan. Setidaknya, Jas tidak hidup sebagai pengangguran. Sebagai kepala rumah tangga, dia cukup bertanggung jawab dan menjalani hari-hari sebagaimana umumnya para petani trans. Hingga, anak-anak mereka lahir dan tumbuh besar.

Tetapi, aku seorang ibu. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi pada kehidupan Jas. Apalagi, ketika dia memilih tinggal di pondok ladang dari pada tinggal di rumahnya.

“Kalian bertengkar?” tanyaku waktu itu.

“Hanya berselisih paham.”

Suatu siang, ketika aku hendak mengantar kue untuk cucuku, tanpa sengaja, aku mendengar pertengkaran hebat antara Jas dan Marini. Menantuku bicara panjang lebar. Perihal kegagalan panen, cara kerja Jas yang tidak tepat, mengungkit latar belakang pendidikan, harta, hingga kudengar kata perpisahan.

Rasanya kepalaku mendidih saat itu. Aku kembali berjalan pulang dengan sempoyongan. Aku menunggu Jas bercerita. Tetapi, dia selalu bilang semua baik-baik saja.

Malam-malamku tak pernah tenang setelah mendengar pertengkaran itu. Aku selalu diliputi rasa bersalah pada Jas. Ketika aku mengatakan semuanya pada suamiku, dia justru menyalahkan aku karena telah menguping rumah tangga Jas.

***

Sekarang, aku di sini, benar-benar melihat dengan mata kepala bagaimana anak lelakiku bekerja membanting tulang tanpa kenal waktu. Ingin kukatakan padanya bahwa sebagai kepala rumah tangga dia harus tegas. Ingin kukatakan padanya bahwa sebagai mertua, aku telah terluka oleh kata-kata istrinya. Tetapi, melihat Jas duduk kelelahan dan tampak lebih tua dari usianya, aku menelan kembali semua kalimat yang kusiapkan di sepanjang perjalanan.

“Ayo kita tidur,” ucapku memecah keheningan.

Jas mengangguk. Dia berdiri dan membersihkan ranjang kayu beralas tikar. “Tapi, tak ada kasurnya.”

“Di hutan pun ibu bisa tidur.”

Kami berbaring bersisihan dalam keremangan cahaya lampu minyak yang bergoyang-goyang ditiup angin. Tak lama, terdengan dengkur halus Jas. Aku mengingat sesuatu dan membangunkannya.

“Jas.”

“Jas.”

Tak ada jawaban. Aku miring ke arah Jas, mengulurkan tangan ingin menggoyangkan tubuhnya, tetapi buru-buru kutarik kembali.

Kutatap wajah Jas yang kelelahan. Bahkan, dalam tidur pun, terlihat garis-garis di dahinya. Aku ingat, terakhir kali kami tidur bersisihan adalah saat dia selesai dikhitan. Setelah itu, Jas benar- benar tak pernah berbaring di sampingku.

Sekarang, kami berbaring satu ranjang lagi, bertahun-tahun setelah hari itu. Andai dulu, kami bertahan untuk tidak pergi hingga Jas lulus sekolahnya, apakah kejadiannya akan lain? Apakah Jas akan memiliki kehidupan yang lebih membahagiakannya?

Masalahnya, dulu aku tak pernah berpikir mengirim kembali Jas ke Jawa untuk melanjutkan sekolahnya. Padahal, saat itu, mungkin penghasilan kami cukup untuk membiayai Jas. Tetapi, aku justru selalu memarahinya dan menuntutnya bekerja di sawah dengan bapaknya.

Sayang, lagi-lagi aku keliru menyadari ketika Jas berubah. Kukira, karena dia telah menerima nasihatku. Padahal, sebetulnya dia berubah karena orang lain.

Memikirkan semua itu, aku tak bisa tidur. Bagaimana perasaan Jas menjalani malam-malam sendiri di tempat terpencil seperti ini? Tiba-tiba, pikiran lain kembali melintas.
Aku menatap Jas dan berniat membangunkannya.

“Jas.”

Kali ini, aku menepuk-nepuk lengannya.

“Jas.”

Hm.” Jas bergerak. “Bu? Kenapa?”

“Apa kamu sudah Isya?”

“Aduh!” Jas bangun seketika. “Aku bahkan belum Maghrib, Bu.” Jas turun dari ranjang dan tergesa berjalan keluar.

Aku merasakan kelegaan ketika mendengar kecipak air dari kamar mandi belakang.

“Jangan terbiasa menunda shalat,” kataku begitu dia masuk.

“Aku biasa pulang Maghrib dan balik lagi setelah Isya,” kata Jas ketika kembali ke dalam rumah. “Tapi, tadi nanggung, jadi kuteruskan.”

Jas mengambil tikar gulung dari pojok ruangan, menggelar di lantai dan berdiri di sana. Mataku memanas saat melihat Jas yang rukuk dan sujud seperti itu. Kukira, ketika dia menghadapi masalah dan menjauh dari keluarga, dia juga menjauh dari yang Maha Kuasa. Ternyata, kekhawatiranku tak terbukti.

***

Aku tidur dengan perasaan lega. Paginya, ketika bangun, Jas bahkan sudah menyiapkan dua gelas kopi di meja.

“Jadi, kemarin Ibu ke sini diantar siapa?” tanya Jas setelah aku selesai Subuh.

“Naik ojek.” Aku berjalan medekati kompor dan membuka dandang yang berisi nasi.

“Aku minta dijemput lagi nanti jam delapan.”

“Jaga kesehatanmu, Jas,” kataku lagi sambil menarik kursi.

“Sena ingin kuliah ke Jawa, Bu. Jadi, aku harus bekerja keras.”

Aku menyesap kopiku. Kalimat Jas membuatku tak bisa bicara. Aku tahu sekarang. Jas tak ingin Sena mengalami nasib seperti dirinya. Aku mengerti, mengapa Jas memilih mengalah pada istrinya. Itu dia lakukan demi anak-anaknya. Dan, aku tak perlu memberi komentar apa pun yang bisa jadi justru terkesan menghakiminya.

Pagi itu, sepanjang jalan meninggalkan pondok Jas, kulafalkan doa-doa untuk Jas, anak lelakiku yang pernah kukecewakan, dulu. (*)

 

 

Shabrina Ws, nama pena dari Eni Wulansari. Cerpen dan puisinya tersiar di beberapa media. Novel yang sudah terbit, di antaranya: Always Be in Your Heart, Ping A Message from Borneo, Betang Cinta yang Tumbuh dalam Diam, Lesus, Rahasi Pelangi, dan lain-lain.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: