Cinta Pertama


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 3 Januari 2016)

Cinta Pertama ilustrasi Bagus

Cinta Pertama ilustrasi Bagus

MEREKA berpisah karena perempuan itu merasa sudah tak mungkin mereka hidup serumah dan mereka bertemu lagi tiga puluh tahun kemudian, pada Selasa siang, di sebuah pusat pertokoan dekat persilangan jalan ke arah kebun binatang. Perempuan itu 57 tahun sekarang dan separuh rambutnya sudah menjadi uban. Ia baru keluar dari toko pakaian di lantai satu, lalu naik dengan eskalator ke lantai dua, lalu naik lagi dan masuk ke toko buku di lantai tiga dan di situlah ia bertemu dengan bekas suaminya, lelaki yang pernah ia cintai dan kemudian ia benci. Itu pertemuan yang tak pernah ia harapkan; ia bahkan tak tahu, sejak mreka berpisah, apakah lelaki itu masih hidup atau sudah mati.

Lelaki itu setahun lebih muda dibandingkan bekas istrinya. Ia mengenakan kemeja putih dan celana jins biru dan sedang berdiri membuka-buka sebuah jurnal di depan rak koran dan majalah. Perempuan itu di depan rak buku-buku hobi, tak jauh dari tempat lelaki itu berdiri, menanyakan kepada pegawai took apakah ada buku tentang cara merawat burung hantu. Suaranya sampai ke telinga si lelaki, yang secara spontan menengok ke arah sumber suara. Lelaki itu hanya menengok sekilas, lalu melanjutkan membuka-buka lagi jurnal di tangannya, namun sesaat kemudian kembali ia menengok ke arah perempuan itu—kali ini agak lama. Ia merasa mengenali perempuan itu. Dan ia yakin ia mengenali perempuan itu saat melihat tahi lalat di dagunya.

Pegawai toko pergi melanjutkan urusannya merapikan susunan buku di rak-rak setelah menjawab bahwa kelihatannya tidak ada buku tentang burung hantu. Perempuan itu kembali melihat-lihat buku.

Di tempatnya berdiri, lelaki itu tiba-tiba merasa agak kurang enak ketika menyadari ia sudah memandangi perempuan itu terlalu lama. Untung perempuan itu tidak mengangkat wajah ke arahnya. Ia pasti akan salah tingkah jika perempuan itu tahu bahwa ia sedang mengamatinya. Sesungguhnya ia ingin mendekati perempuan itu, tetapi menjadi ragu-ragu. Mereka pernah serumah selama empat tahun dan sekarang, saat bertemu lagi, lelaki itu merasakan jantungnya berdetak cepat, sama dengan yang terjadi dulu saat ia pertama kali mencoba mendekati perempuan itu.

Ia kembali membuka-buka jurnal di tangannya.

“Ben?”

Ia membalikkan tubuh. Perempuan itu berdiri di depannya, warna rambutnya lebih terang dibandingkan warna sweater abu-abu yang ia kenakan.

“Aku sebenarnya sudah melihatmu sejak tadi,” kata perempuan itu.

“Mhhh, kau jadi memelihara burung hantu rupanya,” kata Ben.

“Tidak,” kata perempuan itu. “Cuma nanya asal-asalan tadi.”

“Oh,” kata Ben.

Ia tidak tahu harus berkata apa selain “oh.” Sunyi setelah itu, dan selanjutnya percakapan mereka seperti dimulai dari awal lagi.

“Kau tinggal di mana sekarang, Ben?” tanya perempuan itu.

“Semarang.”

“Kukira masih di Jakarta.”

“Hanya ada urusan dua tiga hari di sini. Suamimu baik-baik saja, Rina?”

Tiba-tiba lelaki itu merasa keliru. Untuk apa menanyakan kabar suaminya? Tidak ada pentingnya sama sekali mengetahui apakah suaminya baik-baik saja atau tidak.

“Ya,” kata Rina.

Sebetulnya tidak begitu, namun itu jawaban paling mudah ketimbang perempuan itu harus membuat penjelasan panjang perihal suaminya. Memang tidak terlalu buruk keadaannya, tetapi tidak baik-baik saja. Dua tahun menjelang pensiun, lelaki itu pernah mengikuti pelatihan menulis tiap Sabtu selama empat bulan. “Untuk mengisi masa-masa menganggur nanti,” katanya. Ia diajar oleh seorang penulis kacangan yang mengatakan bahwa menulis memang mudah, tetapi orang itu sendiri jarang menulis dan akhirnya keranjingan klenik dan beberapa waktu kemudian membuka pelatihan sihir dengan semboyan: “Menyihir memang mudah.’’

Suaminya sangat mempercayai orang itu dan mengikuti pelatihan sihir yang diadakannya pada akhir pekan. Rina yakin bahwa kepercayaan membuta suaminya terhadap penulis merangkap penyihir itu tumbuh karena orang itu berasal dari Kalipace, kampung halaman suaminya juga, sebuah tempat yang letaknya di perbatasan antara langit dan comberan. Sejak mengikuti pelatihan sihir, suaminya menjadi akrab dengan berbagai jenis pendulum, bola kristal, dan lencana-lencana berukir rajah Nabi Sulaiman. Terakhir, dua tahun lalu, ia membeli papan ouija, sebuah papan pemanggil yang ia katakan sebagai penemuan paling jenius dalam sejarah hubungan antarmanusia.

“Dengan papan ini, kematian bukan lagi perpisahan selamanya. Orang yang masih hidup tetap bisa berhubungan dengan yang sudah mati,” katanya. Selama sebulan sejak membeli papan itu hampir tiap malam ia tekun memanggil arwah-arwah.

Lalu muncul efek samping. Lelaki itu menjadi suka membicarakan hantu-hantu, baik dengan istrinya maupun dengan tetangga, dan setengah tahun terakhir ia sering mengomel karena hantu-hantu itu sudah bertingkah melampaui batas. Hari ini mereka menyembunyikan pendulum, besoknya mengambil lencana dari tempat penyimpanan dan memindahkannya ke laci meja dapur, besoknya lagi bola Kristal tak ada di tempatnya dan pembantu rumah mereka menemukannya di kebun.

“Melda,” kata Rina kepada pembantunya, “lain kali kalau kau melihat bandul atau apa pun milik Bapak tergeletak di mana saja di rumah ini, tolong kembalikan di tempat penyimpanannya, ya. Tapi beres-beresnya jangan sampai ketahuan Bapak, biar tidak cerewet dia.”

“Ya, Bu,” kata pembantunya. “Tadinya saya mau begitu, tapi takut jangan-jangan benda-benda itu tidak boleh kena tangan orang lain kecuali pemiliknya.

“Halah! Kau pikir Bapak itu penyihir sungguhan apa?”

“Ada tetangga menganggapnya begitu. Saya pernah dengar omongan mereka waktu beli sayur.”

“Makanya kau bereskan, malu kalau lihat Bapak ngomel soal hantu ke mana-mana.”

“Tapi kadang lucu juga, sih, mendengar Bapak tiap hari mengancam hantu-hantu.”

“Ya, memang. Nanti kau juga selucu itu kalau sudah pikun.”

Melda mengerjakan perintah; alat-alat sihir kini selalu rapi di tempatnya dan mudah ditemukan. Suami Rina, dengan wibawa seorang bekas kepala personalia pabrik pakan ternak, memberi petuah bahwa hantu-hantu memang harus diancam agar tidak bertingkah keterlaluan. “Kita akan disangka lemah jika diam saja dan mereka makin kurang ajar,” katanya.

Beberapa saat situasi tenang tanpa omelan tentang hantu-hantu, beberapa saat sesudahnya lelaki itu kumat lagi dan mengoceh soal ketukan di pintu kamar tiap tengah malam, yang mulai ia dengar pada malam Jumat bulan lalu sehabis ia memainkan lagi papan ouija yang sudah berbulan-bulan ia lupakan.

“Ia mengetuk pelan, sangat pelan, seperti takut membangunkan orang,” katanya. “Tapi aku bangun dan membuka pintu, ternyata tidak ada siapa-siapa.”

Rina ingin memberi tahu suaminya bahwa itu hanya khayalannya sendiri. Tidak mungkin lelaki itu bisa mendengar suara ketukan yang sangat pelan, sementara suara sekeras apa pun ia nyaris tidak bisa mendengar. Setiap kali menyampaikan sesuatu kepada suaminya, Rina harus berteriak keras, seperti orang membentak-bentak, baru lelaki itu akan mendengar suaranya sayup-sayup.

Itu cara bercakap-cakap yang melelahkan, selain ia sendiri tak sampai hati berbicara secara begitu kepada suaminya. Karena itu paling-paling Rina lebih banyak diam saat mendengar suaminya mengomel—tentang apa pun. Lelaki itu sebetulnya belum begitu tua, baru 63, tetapi kondisinya cepat merosot sejak memasuki masa pensiun.

Puncak keberisikan suaminya terjadi tadi pagi. Sejak bangun tidur lelaki itu rebut menyuruh Rina pergi secepatnya dari rumah dan jangan pulang sebelum pukul Sembilan malam. “Ia akan datang hari ini, menemuimu di rumah ini, dan membawamu pergi selamanya,” kata suaminya. “Aku akan menghadapinya, tetapi kau tidak boleh ada di rumah saat aku bertarung dengannya.”

Rina akhirnya menuruti perintah itu karena suaminya tak henti-henti menyuruhnya pergi. Dan ia harus pergi sendirian. Mereka hanya berdua di rumah, bertiga dengan Melda, dua anak mereka sudah menjalani hidup mereka sendiri-sendiri. Yang besar di Malang, yang kecil di Denpasar.

Pukul satu Rina sudah siap berangkat. Ia memilih dandanan yang simpel saja: sweater abu-abu, celana panjang hitam, dan tas kulit cokelat terang. Suaminya duduk bersila di kamar mempersiapkan pertempuran. Ia tampak tekun sekali dengan pendulum, bola kristal, dan segala macam peralatan sihirnya.

“Apakah pakaian ini cocok untuk menghindari sergapan hantu?” tanyanya.

“Tidak,” kata suaminya. “Tidak ada yang bisa membawamu pergi selama aku masih hidup. Aku akan menjagamu dan mengusir dia, hari ini dan selamanya.”

Kepada Melda, Rina berpesan agar nanti malam saat mengunci pintu depan jangan lupa mencabut lagi kuncinya. “Tidak usah menunggui aku datang,” katanya, “Aku bawa kunci. Kalau nanti mau tidur dan aku belum pulang, tidur saja.” Lalu ia pergi menyetir sendiri ke pusat pertokoan yang paling ia ingat, yang letaknya paling dekat dari rumah. Ada waktu panjang sampai pukul sembilan malam, tanpa ia tahu harus melakukan apa selain keluar masuk toko, tanpa ia duga akan berjumpa dengan Ben.

Pusat pertokoan ini selalu ramai, tetapi took bukunya dari dulu sepi pengunjung. Di bagian seberang sana ada tiga anak kecil sedang memainkan apa saja yang bisa mereka mainkan. Mereka berebut menggebuk drum, berebut memainkan piano elektrik, berebut mengayuh sepeda statis. Ben melihat arloji di tangan kirinya.

“Pukul berapa sekarang?” tanya Rina.

“Tiga seperempat,” kata Ben. “Kau buru-buru?”

“Tidak,” kata Rina. “Eee… sebetulnya ada teman ngajak ketemu di sini. Tapi mungkin tidak datang.”

Ada hal-hal pahit di antara mereka yang terjadi di masa lalu dan terus melekat di dalam ingatan, tetapi ada juga hal menyenangkan untuk dikenang. Bagaimanapun mereka pernah saling mencintai. Ingatan tentang ke pahitan membuat gerak tubuh mereka tampak kikuk dan percakapan di antara keduanya terasa seperti perjalanan mendaki di jalur setapak yang sulit ditempuh. Sebaliknya, ingatan tentang segala yang menyenangkan membuat Ben berupaya keras agar percakapan mereka bisa berlangsung lebih enak. Tetapi ia tidak tahu apakah Rina masih menyimpan ingatan tentang hal-hal menyenangkan yang pernah mereka alami bersama. Perempuan itu begitu membencinya dalam setahun terakhir rumah tangga mereka dan Ben tak mampu meyakinkan istrinya—bekas istrinya—bahwa ia sangat mencintai perempuan itu dan bahwa mereka berdua bisa memperbaiki situasi bersama-sama.

Mereka berpisah dan dua-duanya merasa sangat pahit dan sejak itu mereka tidak pernah saling berhubungan –demi alasan apa pun.

“Kau mau menemaniku makan, Rina? Sambil menunggu temanmu kalau ia jadi datang.”

“Aku sudah makan.’’

“Oh, tidak apa-apa. Aku cuma….”

Ben tampak kesulitan. Rina menunggu.

“Sudah lama aku ingin minta maaf kepadanya. Ia perempuan pertama yang kucintai, dan aku tetap mencintainya, dan sekarang ia berdiri di depanku. Aku ingin tahu apakah ia mau memaafkan aku.”

“Untuk?’’

“Semua ketololan yang kulakukan, yang membuatnya tidak bisa lagi mencintaiku.”

“Apa perlu membicarakan itu lagi sekarang, Ben?”

“Mungkin tidak perlu. Mungkin ia merasa tidak perlu, tapi aku merasa perlu.”

“Untuk apa?”

“Tidak untuk apa-apa, Rina. Jika ia tidak bisa memaafkan aku, itu juga tidak apa-apa. Tetapi aku merasa perlu minta maaf kepadanya. Ia cinta pertamaku, dan ia bersedia menjadi istriku, dan aku tak bisa—.”

“Ben, kau tahu aku memiliki suami?”

“Ya, aku tahu ia memiliki suami setelah berpisah denganku dan aku tak memiliki istri setelah berpisah dengannya.” Ben berhenti beberapa saat, menarik napas sampai dadanya penuh, mengarahkan pandangannya ke samping kiri, ke lantai di bawah rak Koran dan majalah, dan kemudian melanjutkan bicaranya seperti orang bergumam untuk diri sendiri.” Aku mencoba mencintai orang lain setelah kami berpisah, tak pernah bisa. Sembilan kali aku berpacaran dan semuanya berakhir sama. Ia selalu ada dalam pikiranku, menjadi orang ketiga yang membayangi setiap hubunganku, membuatku gagal mencintai siapa pun yang kupikir bisa kupinang sebagai istri.”

Rina mem balikkan badan, meninggalkan Ben yang berbicara seperti orang melamun. Ben hanya memandanginya pergi. “Aku di sini sampai besok, Rina, seharian di tempat ini,” serunya. “Kuharap kita masih bisa bercakap-cakap lagi. Kau tidak perlu memaafkan aku jika tak bisa.”

Langkah Rina kian cepat. Ia tak tahan mendengar Ben bicara. Ia pernah sangat mencintai lelaki itu, dulu, dan ia tahu apa yang membuatnya jatuh cinta. Ia membayangkan rumah tangga bahagia ketika mereka menikah, dan itu tak terjadi. Ia justru kehilangan rasa cintanya kepada lelaki itu dan ia tahu apa yang membuatnya kehilangan rasa cinta.

Ia terus berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang, turun ke lantai satu, menyusuri deretan toko-toko, hampir menabrak perempuan muda yang baru keluar dari toko sepatu. Pukul berapa sekarang? Toko-toko tidak memasang jam dinding. Ia tidak pernah mengenakan jam tangan. Ketika ia tiba di pintu selatan pusat pertokoan itu, hari sudah sore tetapi langit masih cukup terang. Mungkin baru pukul lima dan itu berarti ia masih harus menunggu empat jam lagi untuk bisa pulang. Ia mengutuk hari sial yang harus dijalaninya. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa mau menuruti perintah orang pikun, pergi keluar rumah sampai pukul sembilan, tanpa rencana apa yang akan ia lakukan. Ia mengutuk pertemuannya dengan Ben dan benci kenapa bekas suaminya itu meminta maaf.

Dulu Ben tidak pernah meminta maaf. Lelaki itu seperti kanak-kanak yang congkak, seolah-olah ia akan mati seketika jika meminta maaf, dan sekarang ia melakukannya. Itu ucapan yang Rina ingin sekali mendengarnya keluar dari mulut Ben. Dulu. Kenapa baru sekarang, Ben, setelah terlambat tiga puluh tiga tahun, setelah semuanya tak mungkin dipulihkan lagi?

Lalu lintas mulai padat dan jalanan mulai macet, namun Rina memutuskan keluar dari pertokoan itu. Ben bisa menemukannya lagi jika ia masih di situ, lalu bicara lagi, lalu membuatnya tersiksa lagi. Ketika hari petang dan jalanan makin macet, ia membelokkan mobilnya ke tempat parkir pusat pertokoan pertama yang ia jumpai dan tidak turun dari mobil. Pukul setengah sebelas ia keluar dari tempat parkir, menempuh jalanan yang masih agak macet, dan tiba di rumah hampir pukul dua belas.

Lampu ruang tamunya masih menyala. Rina membuka pintu depan dan mendapati suaminya tertidur di kursi ruang tamu. Lelaki itu mengenakan baju putih dengan lencana Nabi Sulaiman di dada kirinya, tangannya meng genggam pendulum, dan di atas meja terhampar seluruh peralatan sihirnya.

Rina membangunkannya tetapi suaminya hanya terbatuk kecil dan tidak membuka mata. Beberapa kali ia mengguncang-guncangkan tubuhnya. Lelaki itu tetap tidak terbangun. Rina kemudian masuk kamar, mengganti pakaian, membersihkan muka di kamar mandi, dan tidur—begitu lelap, seolah-olah tidak akan pernah bangun lagi.

Keesokan harinya mereka kembali bertemu, di tempat yang sama, pada jam yang kurang lebih sama, Ben masih mengenakan kemeja putih dan celana jins biru yang sama. Rina menemuinya setelah beberapa keanehan yang terjadi di rumah dan ia perlu teman bicara. Telinga suaminya sudah sepenuhnya tuli dan sekarang matanya pun buta. Melda juga begitu. Rina mencoba menghubungi anak-anaknya, tetapi telepon mereka tidak bisa dihubungi. Ke tetangga ia tidak mau. Tetangga sering bukan teman bicara yang tepat untuk urusan seperti ini, mereka nanti akan menjadikannya bahan gunjingan. “Pagi yang aneh, Ben,” katanya. “Rasanya seperti aku tidur bertahun-tahun dan ketika bangun semua orang sudah berubah.”

Ketika kemarin suaminya memaksanya pergi menghindari hantu, Rina pergi, tetapi bukan untuk menghindari hantu. Lelaki itu sudah agak pikun dan memang suka berkhayal tentang hantu-hantu. Kalaupun ia menuruti ucapannya, itu karena ia tidak ingin suaminya terus ribut seharian. Sekarang, menjumpai keadaan mereka seperti itu, Rina pikir mungkin suaminya benar kali ini. Lelaki itu sungguh-sungguh bertarung kemarin dan kalah dan si hantu membuat mereka menjadi begitu.

Rina tampak sedikit lega setelah menceritakan kejadian yang berlangsung di rumahnya.

“Urusanmu sudah selesai, Ben?”

“Ya.”

“Besok jadi pulang?”

“Tergantung kapan kau siap kubawa, Rina.

“Aku punya suami, Ben. Kau sudah tahu aku punya suami.

“Ya.”

“Dan aku tidak mungkin meninggalkan suamiku dan lari bersamamu.”

Ben memandangi wajah Rina, tidak bicara. Toko buku tetap sesepi hari kemarin. Seorang pegawai toko melintas di dekat mereka, berjongkok di depan rak, mengambil satu buku dan membawanya kepada satu orang yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Ben?”

“Ya.”

“Kau benar masih mencintaiku?”

“Itu sebabnya aku menjemputmu.”

“Tapi aku tidak mungkin meninggalkan suamiku, bagaimanapun keadaannya.”

“Ia tidak bisa melihatmu lagi, juga tidak bisa mendengar suaramu.”

“Seburuk apa pun keadaan suamiku saat ini.”

“Kalaupun ia baik-baik saja, seperti kau bilang kemarin, ia tetap tidak bisa melihat dan mendengarmu sekarang. Itu karena kau sudah mati, Rina. Sepanjang waktu aku berharap aku sendiri yang datang menjemputmu jika waktumu tiba. Karena itu aku datang menjemputmu sekarang.”

Rina menundukkan wajahnya, memeriksa dirinya sendiri, lalu mengangkat kembali wajahnya, memandangi Ben agak lama.

“Kau juga sudah mati, Ben?”

Tengah malam itu, ketika Rina pulang ke rumah sebelum pergi selamanya, ia mendapati suaminya tertidur di dalam kamar, dengan pendulum di dalam genggaman dan lencana Nabi Sulaiman di dada kiri. Kepalanya menelungkup di atas papan ouija. Ia mencium kepala lelaki itu, lembut sekali, seperti takut membangunkan tidur lelapnya.

“Aku pamit,” bisiknya di telinga kiri lelaki itu.

“Kau bisa memanggilku jika ingin bertemu, bukan?”

Di pekarangan depan, Ben menunggu. ***

 

 

Akun Twitter: @aslaksana

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: