Dongeng Laba-Laba


Cerpen Yetti A. KA (Media Indonesia, 6 April 2014)

Dongeng Laba-Laba ilustrasi Pata Areadi

WAKTU bergerak, namun dia tidak–umurnya berhenti di angka 15 tahun setelah 40 tahun dilahirkan. Duri. Itu nama dia. Banyak orang tidak menyukai kehadirannya. Mungkin karena dia tidak sama dengan orang lain. Perempuan 40 tahun yang bertingkah laku seperti remaja menyebalkan. Terkikik-kikik genit dan sering dianggap tidak tahu diri.

Dia memiliki dunia yang orang lain tidak miliki. Dunia kecil yang riang bersama orang-orang yang menyukainya. Orang-orang itu tentu saja teman-teman remaja Duri. Mereka yang terjerat dalam cerita-ceritanya, dalam dongeng dengan banyak pintu yang menawarkan kejutan. Dalam imajinasi-imajinasi yang sebagian orang menganggap tidak lebih dari pikiran perempuan gila. 

Tapi tidak bagi teman-teman remajanya itu. Mereka sama murninya dengan air yang terdapat dalam batang-batang tumbuhan. Mereka menerima cerita-ceritanya dengan kebahagiaan yang meruntuhkan kedengkian atau kebencian-kebencian yang menyembur dari mulut orang dewasa yang cemburu atau yang merasa terancam seolah-olah dia penyakit menular yang menjijikkan.

Pada teman-teman dikatakannya kalau dia lahir dari serumpun putri malu yang paling banyak durinya. Paling tajam, serupa ranjau. Aku tidak punya ibu seperti kalian, katanya, aku ditemukan Ibu Tua, pagi buta, dekat rumpun putri malu di lahan bersemak tempat hewan melata biasa tidur setelah makan kenyang. Ibu Tua membawaku pulang. Setelah aku agak besar, Ibu Tua bilang: namamu Duri. Nama itu akan melindungimu dari kehidupan yang sejak awal telah menolakmu.

Teman-teman Duri anak orang kaya yang tinggal di kompleks. Mereka, anak-anak yang kesepian sejak lahir. Rumah Ibu Tua berdiri di pinggir kompleks itu.

Ibu Tua membuka warung sayuran, juga menjual buah-buahan musiman. Bila sedang tidak membantu Ibu Tua, sesekali Duri diajak bermain ke rumah teman-temannya yang bagus (yang dinding-dindingnya dihiasi lukisan besar-besar) saat orangtua anak-anak itu tidak di rumah.

Duri kerap mengaku kalau dia bisa bicara dengan laba-laba.

“Laba-laba?” tanya seorang anak yang senang membaca buku cerita fantasi tanpa berkedip.

“Laba-laba itu Ayahku,” Duri menyeringai dan membuat teman-temannya menjerit.

Temannya yang paling keras menjerit waktu itu bernama Nino. Kini, sudah 10 tahun mereka tidak bertemu. Nino yang entah di mana. Namun Duri tetap mengingat Nino seakan-akan baru kemarin mereka bermain. Duri menyukai anak laki-laki itu karena dia mengaku kalau ayahnya juga laba-laba.

“Apa kau sungguh-sungguh tidak punya seorang ibu yang melahirkanmu?” tanya Nino sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.

“Aku tidak pernah memikirkannya,” jawab Duri setengah bingung. Di rumah, Ibu Tua jarang sekali membicarakan tentang ibunya, dan sebaliknya sering sekali mengumpat-umpat mengenai ayahnya.

“Selain punya Ayah laba-laba, aku punya Ibu yang menyebalkan. Aku membenci keduanya,” kata Nino dingin, “aku sering berpikir ingin menyingkirkan mereka selama-lamanya.” Mata Duri membeliak.

Nino tertawa karena bisa menceritakan sesuatu yang tak pernah bisa diceritakannya pada orang lain.

Sementara Duri, sejak Nino berbagi rahasia dengannya,dan mempercayakan tentang rencana paling mengerikan, berjanji akan menjaga rahasia itu baikbaik sampai kapan pun.

***

Ketika teman-temannya sekolah, Duri di rumah saja. Dia tidak pernah sekolah. Duri hanya belajar pada Ibu Tua. Dia diajari berhitung, menulis, membaca, dan berdongeng. Dia lambat menyerap pelajaran berhitung, menulis dan membaca, tapi dia dengan mudah menyimpan apapun yang didongengkan Ibu Tua, dan bahkan mulai bisa mengarang cerita sendiri. Sekarang, pada usia 40tahun (meski tentu saja dia tetap merasa berusia 15 tahun) Duri bisa mendongeng semahir Ibu Tua.

***

Nino memiliki ayah seekor laba-laba. Laba-laba besar. Ia membuat jaring yang lebar berwarna perak di atas pintu. Laba-laba itu beracun. Nino sering ketakutan jika laba-laba itu kebetulan turun ke lantai. Merangkak ke atas meja makan. Atau ke atas sofa tempat ibunya sering malas-malasan di pagi hari. Nino memperhatikan Ibu sering ketakutan jika laba-laba itu turun. Ibu tidak punya pilihan. Ibu memaksakan diri tertawa bersama laba-laba.

Nino benci pada laba-laba itu, yang suka menelanjangi dan menggerayangi dia saat ibunya lengah. Awas ya! ancam Nino berkali-kali dengan mata galak. Tapi berkali-kali pula laba-laba itu berhasil menjerat Nino, membalut tubuh Nino dengan benang perak yang tiada henti-henti keluar dari mulutnya. Ketika Nino sudah lemas, laba-laba itu membuka benang-benang perak yang membalutnya, dan memasukinya dengan beringas, meninggalkan nyeri berhari-hari di lubang dubur Nino.

Nino juga benci ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ibunya yang senang melarikan diri dengan pergi keluar; merokok, minum bir, dan bersenang-senang dengan seorang pacar kaya yang selalu memberinya uang.

Nino baru 12 atau 13 tahun saat pertama kali dimasuki laba-laba (sebelumnya lelaki itu bukan laba-laba, melainkan lelaki tampan yang perlahan-lahan berubah menjadi binatang).Bahkan ibunya bercerita kalau lelaki itu datang dari negeri dongeng. Hidup yang kejam membuat ayahmu berubah, kata ibunya sambil merokok dan setengah mabuk. Dia dipecat dari pekerjaan. Terpuruk dan tidak pernah bangun lagi. Ada sebagian lelaki yang jiwanya terbuat dari cermin, sekali pecah, tidak bisa utuh lagi. Itu yang terjadi pada ayahmu. Lalu kita hancur bersamasama.

Nino mengkerut. Dia berharap tubuhnya mengecil perlahan, dan hilang.

***

Nino temanku yang paling baik, kata Duri mengenang lelaki yang sudah bertahun-tahun mendekam dalam pikirannya. Sebenarnya Duri bohong.

Dia tidak tahu apakah Nino benar-benar baik atau tidak. Mereka cuma bertemu beberapa kali. Terakhir saat mereka berbagi rahasia. Sejak itu Nino tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman. Dia sibuk sekolah dan mengurus laba-laba di rumah atas perintah ibunya, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian dia minggat. Tidak kembali lagi.

Aku suka padanya, Duri tersenyum.

Kami sama-sama punya ayah seekor laba-laba. Teman-teman baru Duri, sebagaimana sebelumnya jika ia bercerita pada teman-teman terdahulunya yang sekarang sudah dewasa, menikah, punya anak-anak lucu dan meninggalkannya, langsung menjerit. Duri tetap tersenyum kalem. Dia sudah terbiasa mendengar jeritan semacam itu dan mulai menikmatinya.

Memang sih aku tidak pernah melihat ayah Nino, begitu juga ayahku. Tapi aku sering melihat laba-laba di dinding, kadang bergelantungan di jaring-jaringnya. Mungkin seperti itulah ayah Nino atau ayahku. Dan pasti berbeda dengan ayah kalian yang tampan, yang setiap hari sibuk bekerja, yang suka memberi hadiah. Kalian pasti sayang sekali pada ayah yang seperti itu, kan?

Tentu saja, jawab beberapa teman Duri sambil tersenyum manis.

Aku tidak boleh iri, ujar Duri tegas.

Teman-temannya menatap haru sambil memegang tangan Duri.

Aku tidak sedih, Duri tergelak. Aku justru suka punya ayah laba-laba. Aku bisa menangkapnya dan membiarkan dia berjalan di telapak tanganku. Kalau berjalan, kaki laba-laba itu bikin geli.
Hihihi. Apa kalian pernah melakukannya?

Iiiiih! Teman-teman Duri serempak berseru.

Duri terkikik panjang. Namun dalam setiap tawa, seriang apa pun, ternyata selalu ada kesedihan yang menyelinap. Duri belum pernah bertemu ayah yang sesungguhnya. Itu membuatnya mendadak sedih. Ibu Tua bilang, setengah meracau, ayahmu lebih menjijikkan dari laba-laba. Dia membuat seorang perempuan putus asa dan mati bunuh diri.

Duri meremas-remas jari-jarinya. Mukanya tidak lagi ceria. Teman-temannya langsung mengerti kalau Duri tidak akan melanjutkan ceritanya. Mereka bubar satu per satu. Lalu karena kesibukan sekolah dan berbagai macam les, mereka tidak lagi mengundang Duri untuk mendongeng atau bercerita apa saja. Apalagi ketika mereka terus tumbuh dewasa. Sementara Duri tetap saja gadis 15 tahun, bahkan tidak bertambah satu hari pun.

***

Duri memilih kesepian. Dia tentu bisa mencari teman baru, anak-anak yang terus tumbuh menjadi remaja di sekitar tempat dia tinggal. Namun Duri tidak menginginkannya lagi. Dia bosan pada perpisahan. Kehilangan. Lebih baik dia bermain sendirian. Dan ternyata itu menyenangkan. Dia bisa bicara pada apa saja. Pada Belalang. Capung. Kupu-kupu.
Cacing. Atau bicara pada dirinya sendiri.

Malah dia juga bisa bicara pada Nino yang ada di kepalanya. Mereka kembali berbagi rahasia.

***

Kautahu, kata Nino, aku juga seekor laba-laba.

Laba-laba? Mata Duri berkejap-kejap.

Aku seekor laba-laba berbahaya.

Mata Duri masih berkejap-kejap. Hatinya berdesir. Laba-laba itu bergerak lebih dekat lagi ke arahnya. Duri bisa merasakan bulu-bulu di tubuhnya. Duri bisa melihat gigi-giginya yang mirip gergaji. Duri menatap matanya yang serupa lorong kegelapan dalam dongeng-dongeng Ibu Tua. Jangan pernah mendekati lorong kegelapan itu, pesan Ibu Tua setiap habis mendongeng. Tapi sekarang Duri berdiri begitu dekat.

***

Duri menjerit-jerit sepanjang malam, setelah hari itu si laba-laba dalam kepalanya berhasil menyeret dia ke dalam lorong kegelapan.

 

 

2014

Yetti A KA, sudah menerbitkan 4 buku kumpulan cerita pendek. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media.

 

 

4 Responses

  1. Wah, lagi” fiksi kejiwaan. Mantap!

    Like

  2. whoa O_o *meskipun ada yang nggak mudeng*

    Like

  3. penuh makna meskipun sulit tuk dicerna ^_^

    Like

  4. bagus. bagus.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: