Empat Lakon Pendek dalam Kutukan Panjang


Cerpen Tjahjono Widijanto (Suara Merdeka, 2 Juni 2013)

 

Empat Lakon Pendek ilustrasi Toto

Gandari Menari di atas Api

SESUDAH 42 tahun kuselimuti kornea mataku dengan sepotong kain hitam, kini biji mataku telanjang kembali menatap jagat. Lidah api yang menjilat-jilat itu amboi indahnya. Memandangi lidah merah itu membuatku rindu rupa matahari, maka kudongakkan mata ke arah langit, tapi tak kulihat bulatan emas itu di sana. Mataku yang baru saja bebas dari kungkungan tak sanggup menerobos pucuk-pucuk pohon yang merapati langit, terlebih lagi asap begitu tebal hanya segugusan warna hitam mungkin kelabu yang dapat kulihat. Bau sangit dahan-dahan kayu yang terbakar bersama gumpalan asap berlomba-lomba merasuki hidung dan paru-paruku.

Suamiku, lelaki tua yang berapa bulan ini terlihat makin renta, tubuhnya sudah nyaris semuanya gosong menyisakan bau sangit yang aneh. Saat sebelum api menelannya masih sempat tadi ia bertanya, “Aku mendengar gemeratak api, juga sangit kayu terbakar. Ada apa, Dinda?” suaranya terbata nyaris tak terdengar.

Aku tak menjawabnya. Kupandang sebentar wajah tua yang pucat itu. Seluruh perhatianku tertumpah kembali pada api yang menari-nari menjilati apa saja di sekelilingku. Pikirku, telah 42 tahun kucurahkan hidupku untuknya, kini apa salahnya bila aku ingin menikmati kesenanganku sendiri toh ini takkan menghabiskan waktu terlampau lama.

Ia bertanya lagi. Dan terpaksa kujawab, “Tak ada apa-apa, Kanda, cuma yang berasal dari api akan kembali ke api….”

“Apa maksudmu, Dinda? Bukankah semua berawal dari tanah dan kembali ke tanah?”

“Apa Kanda lupa bahwa manusia tak hanya beranasir dari tanah, tapi juga udara, air dan api? Apa salahnya kalau kita memilih api untuk kembali?”

Suamiku itu tak menjawabnya. Mungkin dia bingung dengan jawabanku tadi. Api kini melahirkan asap berwarna abu-abu. Betapa gagahnya. Asap abu-abu itu membuatku teringat akan saudara laki-lakiku, Sangkuni yang bedah dari mulut hingga perutnya. Konon kuku pancanaka merobek pangkal bibirnya melebar seukuran mulut lalu menukik turun hingga tengah perutnya mendongkel keluar usus dan seluruh isi perutnya. Rasa nyerinya turut kurasakan sampai di dasar jantungku. Untunglah dia mati dengan cara itu, paling tidak akan ada orang yang kelak mengenangnya bahwa dia tak sepengecut yang banyak diberitakan. Sejarah akan mencatatnya sebagai orang yang memilih mati di medan perang dan tak melulu mengenangnya sebagai orang yang sekadar lihai dalam berjudi.

Lidah api itu mulai mendekat dan merangsekku. Betapa gagah tariannya yang panas gemulai. Aku melambainya. Kubisikkan kata-kata serupa mantra untuk memanggilnya, “Yang berawal dari api kembalilah ke api, sengat panasnya akan menjelma sedingin air yang membekukan jiwa!”

Aku memandangnya tanpa berkedip. Sebelum semua selesai, aku akan memanjakan kornea mataku yang sekian lama kupenjara dalam sepotong kain hitam yang kumal, memandangnya tanpa berkedip sesaat pun.

“Api kini dapat kau sebarkan pada seluruh isi jagat dan sekaligus tanyakan pada para Dewa, siapa wanita paling setia di dunia ini? Gandari yang merelakan membungkus kedua kornea matanya demi sepasang mata suaminya yang buta? Madrim yang turut mencebur ke api pancaka mengikuti roh suaminya dan setelah itu tak peduli akan cita-cita bahkan tak peduli nasib anak-anaknya yang masih merah kulitnya? Kunti yang cuma mengikuti ke arah mana angin membawa anak-anaknya pergi? Atau perempuan seperti Drupadi yang malu telanjang?”

Lidah api mulai menyentuh kulitku, perlahan membakar kembenku. Aku telanjang menari dalam api. Kornea mataku melebur dalam merah panasnya.

“Yang berasal dari api kembalilah ke api….”

 

Lelaki yang Membuntungi Jari-jarinya

“Mana buktinya bahwa kau benar muridku dan aku benar gurumu, wahai sang jagoan?” demikian kabar berita yang dibawa sepotong senja ke kediamannya yang sepi di ceruk lembah senyap di tengah hutan yang cokelat.

“Kuberikan potongan jari-jariku sebagai baktiku padamu guru!” demikian kalimat terakhir yang ia ucapkan sambil menyorongkan potongan jari-jarinya ke muka gurunya. Lalu perlahan tubuhnya layu merangkul bumi di depan gurunya dan patung gurunya.

“Ekalaya, mengapa kau begitu bodoh percaya hanya pada sebongkah patung yang cuma serupa aku?” tanya lelaki renta itu sambil memunguti potongan-potongan jari yang berserakan di atas rumput yang masih basah oleh embun untuk oleh-oleh buat muridnya yang seorang lagi.

Tak ada yang menjawab kecuali hutan yang makin senyap dan makin cokelat.

 

Lelaki Pengampak Kepala

“Ini kapak pembelah kayu untuk mengampak kepala ibumu,” demikian kata Bapak sembari mengobarkan api Siwa di matanya.

Dapat kau bayangkan betapa groginya aku di depan Ibu. Lututku gemetar dan kuda-kudaku goyah di ujung lembing mata Ibu yang sayu.

“Parasu, mengapa kau ragu? Kalau kau benar-benar mencintai ibu, janganlah ragu segera kapak leher Ibu!” kata perempuan itu lembut tersenyum sambil menyibakkan rambut di kuduk lehernya yang jenjang.

Tak ada lagi yang berkata-kata. Hanya warna merah melengkapi senja.

 

Lelaki yang Dibuang ke Arus Sungai

“Tuan Radeya, manakah yang lebih berharga, seorang anak kusir kereta atau kesatria?”

Pertanyaan itu yang membuatnya tak dapat memicingkan mata setiap malam sekaligus pula mengingatkan akan air kali yang dingin. Ya, air kali yang dingin bukan air mata ibu yang hangat tak juga air susu ibu yang sedap.

“Akan kubuat jagat ini bungkuk di hadapan seorang anak kusir kereta!” geramnya ketika matahari pagi pecah sambil meludahi bumi dan mengerek panji-panjinya.

“Tuan Radeya, apakah kau hafal warna kutang ibumu?”

Seorang perempuan berkerudung nampak tua dengan air mata membentangkan tangan menyapanya dengan terbata-bata.

“Ibu, tak ada kutukan di sini. Juga tak ada dongeng-dongeng romantik tentang pangeran, putri dan rembulan malam. Karena itu biarkan aku merajah nasibku sendiri!” (*)

 

 

Ngawi, 2011

Tjahjono Widijanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan cerpen di berbagai media nasional. Dia telah menerbitkan Dari Zaman Kapujanggan hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (Januari 2011) dan kumpulan puisi Janturan (Juni, 2011).

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: