Dua Lelaki


Cerpen Okky Madasari (Media Indonesia, 12 Mei 2013)

Dua Lelaki ilustrasi Pata Areadi

DUA pasang mata itu berjumpa. Agak lama mereka terpaku, hingga kemudian kedua tangan berjabat dalam ragu. Mereka melangkah bersama, beriringan menyusuri jalan raya, lalu berbelok ke tanah lapang yang berbatasan dengan laut. Mereka duduk di beton pembatas. Pandangan mata jauh ke laut lepas.

Lukas mengeluarkan sebungkus rokok. Disodorkannya rokok itu pada laki-laki di sebelahnya, Amir. ”Sudah tak merokok,” tolak Amir. Lukas terkekeh. 

”Merokok itu hiburan buat beta. Rokok inilah teman beta.”

”Beta pun tak ada teman. Yang seumuran sudah masuk ke liang,” kata Amir.

Lukas tak menanggapi. Hening. Angin laut menerpa wajah mereka. Kepulan asap dari mulut Lukas kini jadi perhatian keduanya. Masing-masing sedang menunggu orang di sebelahnya kembali bicara. Mengabaikan gemuruh suara dari diri masing-masing, yang ingin segera menemukan muara.

”Bagaimana tinggal di kampung sana?” Amir akhirnya bersuara. Ia tak tahan diam lebih lama.

”Aman,” jawab Lukas.

Aman. Amir mengulang kata itu dalam hati. Dengan aman, cukuplah sudah yang mereka butuhkan. Apalagi yang lebih penting dari aman? Karena kata aman pula, pembicaraan mereka tak punya celah lagi untuk dipanjangkan.

Dua lelaki itu kembali diam. Lukas tak pernah berhenti mengisap dan menghembuskan asap. Sementara Amir hanya bisa diam terpaku, memandang laut dan langit yang bagai menyatu.

”Boleh beta ikut ke rumah kau, Mir?” tanya Lukas.

Amir kini tertawa. Ia sedang menunda menjawab pertanyaan Lukas. Mungkin Lukas pun hanya sedang bercanda, pikirnya.

”Kau tertawa, Mir?” Lukas kembali bertanya. ”Boleh tidak beta ke rumah kau, Mir?”

”Kampung kita berbeda, Kas.”

”Ah, persetanlah!” suara Lukas meninggi.

Mata Amir memerah. Ia benarkan perkataan Lukas. Persetanlah! Ucapnya berkali-kali dalam hati.

Gemuruh laut tak segemuruh hati mereka. Ada luapan ingatan yang tak bisa ditahan. Ingatan yang menghadirkan keluarga, saudara, tetangga—kehidupan mereka yang dahulu–di hadapan mereka kini. Kedua lelaki itu dulunya bertetangga. Mereka tumbuh bersama. Ibu mereka kerap memasak bersama dan mengobrol sepanjang siang. Ayah mereka bekerja di pelabuhan yang sama. Mengerjakan apa pun yang bisa menghasilkan uang.

Pada hari-hari tertentu mereka berpesta. Berbagai ikan dihidangkan, lalu semua orang berdendang. Tak hanya keluarga Amir dan Lukas, tapi juga tetangga-tetangga lainnya. Mereka bersenang-senang sepanjang malam. Sebagian orang minum arak sampai mabuk. Sebagian lain tetap sadar dan terjaga hingga fajar tiba, lalu segera pergi ke masjid saat cahaya pertama menyapa. Ketika minggu pagi tiba, orang-orang berdandan rapi keluar dari rumah. Di antara mereka ada Lukas dan orangtuanya. Lonceng gereja memanggil mereka. Saat-saat seperti itu, Amir tengah duduk di beranda rumahnya. Menyapa semua orang yang berlalu-lalang, berteriak pada yang sebaya, ”Segera main nanti, ya!”

Waktu itu mereka belum setahun lulus SMA. Ke mana-mana berdua untuk mencari pekerjaan. Tak ingin mereka bekerja seperti ayah-ayah mereka di pelabuhan. Mereka ingin bekerja kantoran, tanpa harus berpanas-panasan. Dengan ijazah SMA di tangan, mereka yakin akan segera mendapat pekerjaan yang diinginkan. Bulan-bulan pertama penuh keyakinan. Bulan-bulan selanjutnya terus memelihara harapan. Hingga akhirnya rasa bosan dan putus asa yang datang. Mereka tak juga mendapat pekerjaan, tapi masih juga enggan untuk bekerja apa saja demi mendapat uang.

Tiap pagi mereka duduk di beranda bersama. Agak siang berputar-putar di pusat kota, lewat tengah hari menyambangi warung kopi, lalu pulang ke rumah sore hari. Mereka habiskan sepanjang malam dengan duduk bersama pemuda-pemuda lainnya. Diiringi petik gitar, nyanyi mereka memecah hening malam. Saat malam seperti itulah Amir dan Lukas melepas gundah. Ada saatnya mereka minum sampai mabuk. Bicara ngelantur dan nyaris hilang kesadaran. Berulang tiap hari, berbulan-bulan. Hingga malam itu….

Tak ada yang bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Tak ada yang bisa menceritakan dengan benar bagaimana satu malam bisa mengubah malam-malam selanjutnya. Semuanya terjadi begitu cepat. Pemuda-pemuda yang setengah sadar, bicara panjang lebar tanpa benar-benar tahu yang sedang mereka katakan. Hingga tiba-tiba seseorang naik pitam dan memukul kepala Lukas dengan botol arak yang ia genggam. Semua orang terbakar. Terpecah dalam dua amarah. Sebagian marah pada pemukul kepala Lukas. Sebagian marah pada Lukas.

Mereka bertarung. Entah memperebutkan apa. Pertarungan tak berhenti setelah malam berganti pagi. Malah semakin penuh emosi. Orang-orang yang ikut berkelahi bertambah banyak. Tak ada lagi yang mau tahu apa yang sebenarnya jadi penyebab. Yang mereka tahu, pertarungan itu untuk dua hal: masjid dan gereja. Iman dijadikan penanda. Amir dan Lukas pun terpisah dalam kelompok yang berbeda. Berhari-hari, berminggu-minggu. Nyawa-nyawa dihilangkan. Dendam saling dibalaskan. Orangtua, saudara, tetangga, semua jadi korban.

***

Lukas dan Amir mengenang masa lalu bersamaan, tanpa dikatakan. Mereka tenggelam dalam lamunan, hingga kemudian Amir mendekat dan menepuk lembut bahu Lukas.

”Jadi ikut ke rumah beta?” bisik Amir. Lukas mengangguk.

Mereka segera menjauhi laut, menumpang angkot yang meninggalkan pusat kota menuju arah selatan.

Amir tinggal di daerah selatan. Lukas di daerah utara. Peristiwa bertahun-tahun lalu telah mengubah segalanya. Yang berbeda dijauhkan. Yang sama disatukan. Muslim di selatan. Kristen di utara. Tak perlu saling berhubungan. Jangan sampai bersinggungan. Bertahun-tahun semua orang mematuhinya. Masing-masing bersembunyi dalam kenyamanan, memelihara aman dan tenteram.

Lukas memasuki kampung Amir dengan ragu. Rasa takut kini berkelebatan di benaknya. Bertahun-tahun ia hanya kenal kampung yang sekarang ditinggalinya. Ia hidup bertetangga dengan mereka yang beriman sama, yang selamanya akan jadi saudara. Kini ia masuk ke kampung yang berbeda, dikelilingi orang-orang yang berbeda. Tak marahkah keluarganya di alam sana, melihatnya kini bercengkerama dengan Amir, bagian dari musuh mereka? Apakah orang-orang di kampung ini bisa dipercaya? Bagaimana jika kedatangannya kembali menghidupkan bara, lalu kobaran dendam menuntut pelampiasannya? Bagaimana jika kampung ini kalap, mengeroyoknya, membakarnya, menghabisi nyawanya?

Kaki Lukas tak mau melangkah. Amir tak memaksa. Ia pun merasakan kegamangan yang sama. Apa yang dipikirkan tetangganya jika ia membawa laki-laki gereja ke rumahnya? Dua laki-laki itu saling curiga, sekaligus saling percaya. Ingin bersama, tapi takut kehilangan nyawa. Ingin berpisah, tapi rindu dan sesal itu lebih keras bicara.

Lukas mengeluarkan rokoknya. Kembali memainkan asap, sekadar menunda waktu dan mengurangi ketegangan.

”Rindu juga rasanya pada kampung kita yang dulu, Kas,” Amir memecah hening.

Lukas mengangguk-angguk. ”Sekarang sudah bukan kampung lagi. Tak ada lagi yang berani tinggal.”

”Rindu sekali pada kawan-kawan kita dulu, pada ayah-ibu kau, pada tetangga….”

”Ah!” Lukas enggan diajak mengenang. ”Tak usah terlalu banyak bernostalgia.”

Lukas bangkit, berjalan lebih dulu, lalu disusul Amir. Tak ada lagi yang bicara di jalan. Mereka berjalan buru-buru agar tak terlihat oleh penghuni kampung yang lain.

”Kenapa belum punya istri, Mir?” tanya Lukas saat mereka sudah berada di rumah Amir.

Amir tertawa. ”Kau sendiri, kenapa tak punya istri?”

Mereka terbahak berdua. Rumah kecil itu nyaris bergetar oleh tawa dua lelaki itu. Mereka sedang menertawakan diri mereka, hidup mereka. Menyusuri ingatan-ingatan yang menyenangkan, sambil berjingkat-jingkat melompati lubang-lubang yang menyakitkan.

Lewat tengah malam, Amir merebahkan tubuhnya di lantai. Tak lama kemudian suara dengkurnya terdengar. Lukas mendengus. Ia masih ingin melanjutkan pembicaraan. Tapi, akhirnya ia pun turut merebahkan diri dan memejamkan mata.

Dengkur dua laki-laki itu saling berkejaran. Sampai tiba-tiba Lukas terbangun oleh suara bentakan: ”Awas kau, awas kau! Mau apa kau? Mau apa?”

“Mir,” panggil Lukas. Amir tak menjawab. Ia masih pada posisi tidur, dengan mata yang tertutup dan mulut bergerak-gerak.

”Pergi kau, Kas! Jangan dekat-dekat rumahku! Pergi!” Amir kembali berteriak. Masih dengan mata terpejam.

”Mir!” bentak Lukas.

”Pergi! Pergi!” kata Amir sambil menggerakkan tangannya, seperti mengusir orang.

Lukas tak tahan. Ia dekati Amir lalu menggoyangnya. ”Mir, bangun, Mir!”

Amir tergagap. Peluh memenuhi keningnya. Rasa takut tampak di wajahnya. Sengal napas berlarian. Butuh beberapa hitungan sampai ia sepenuhnya mendapatkan kesadaran, lalu air mata mendesak ingin dikeluarkan. Amir kini menangis, terisak keras, dan dalam. Lukas menarik tubuh Amir ke dalam pelukannya.

Dua lelaki menangis sambil berpelukan. Ada sesal dan ngilu yang tak terkatakan. Ada luka yang terus mengintip di selip ingatan.

***

Ambon, Oktober 2010–Jakarta, Maret 2013

Okky Madasari meraih Khatulistiwa Literary Award 2012 untuk novelnya, Maryam. Novel terbarunya ialah Pasung Jiwa (2013).

5 Responses

  1. Indahnya perbedaan

    Like

  2. Reblogged this on kata-kata and commented:
    serupa kutaut catatan tangan pada laki-laki yang dua.
    entah karena tersalip ide, atau hanya aku yang malas memupuk.

    Like

  3. kelu.

    Like

  4. bagus, sebuah gambarn nostalgia yang menyentuh, meski terasa sepintas. Namun terasa dalam bil di renungi!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: