Surga dalam Pistol


Cerpen Abdullah Khusairi (Jawa Pos, 8 April 2012)

BAYANGAN penjahat tersungkur berkelebat di benaknya. Entah di bagian mana peluru bersarang, yang jelas ia telah menembak dengan benar. Sesuai prosedur. Sebutir timah panas telah merobohkan tubuh penuh tato itu. Jeritnya melengking ke langit membelah malam.

Peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu. Ketika mendapat tugas melumpuhkan sekelompok rampok. Sejak itu, ia merasakan sebagai aparat sejati. Membasmi kejahatan, menjaga kedamaian. Itulah cita-cita sejak kecil. Ketika tokoh-tokoh dalam film yang pernah ditontonnya menjadi pahlawan dalam kepalanya.

Tapi semua itu adalah tugas. Kedamaian yang ia impikan justru tak terjadi dalam dirinya. Ia gundah gulana hingga hari ini. Sebuah rindu dan dendam berkecamuk bercampur cemburu.

Ia pandangi pistol di hadapannya. Tepat di atas meja berkaca hitam. Ia genggam lalu diangkat. Ia berdiri tegap. Matanya memicing. Kedua tangannya memegang kuat. Arahnya ke depan. Sebuah cermin yang ada bayangan dirinya. Lama seperti itu, ia turunkan lagi. Dan ia duduk lunglai.

Sabar mana lagi yang aku miliki? Haruskah ada yang tergeletak di halaman? Telah aku ulur hingga habis benang. Kau tak juga mengerti. Kau tutup rapat hatimu. Beku. Membatu.

Apakah tak ada lagi sisi baik dari hubungan kita ini? Apa memang semua harus patah arang? Kenapa tak patah tebu saja? Apa tak pernah kau pertimbangkan lagi masa depan yang pernah kita impikan bersama? Bukankah aku telah memberikan semua hidupku sebagai tanda betapa aku ingin membangun mahligai rumah tangga yang kita impikan bersama? Sungguh tak ingin menghitung pengorbanan itu dengan cara matematika.

Enam bulan lalu, ia mengajak istrinya, Janna, pindah dari rumah mertua. Ia sudah tak tahan lagi ingin merasakan sebagai nakhoda dalam sebuah kapal yang ia layarkan. Kapal kecil sarat kebahagiaan dan kedamaian. Walau hanya menempati rumah kontrakan, ia ingin sekali merasakan benar-benar sebagai seorang lelaki. Seorang ayah, seorang suami. Selama ini ia belum merasakan hal demikian. Tinggal di rumah mertua, ia merasa sebagai penumpang.

Itulah pangkal segala perih yang dirasakan menyempurnakan kekejaman terhadap jiwa. Sungguh ia tak menyangka, semuanya menjadi runyam.

Kita sudah suami istri. Kau anggukkan kepalamu waktu akad itu terjadi di suatu pagi. Jadilah kita sepasang anak manusia yang saling menerima apa adanya. Tapi kenapa kau tak mau lepas dengan keluargamu? Bukankah itu sangat keliru? Kau anggap aku akan memisahkan engkau dari ibumu, tetapi, ayolah, kita harus mandiri dan mencoba merentang sayap. Terbang bersama.

Ia patahkan pistol itu untuk meraih peluru di dalamnya. Ada. Tiga butir peluru bersarang diam dalam lubang. Sementara lubang yang lain terlihat kosong. Refleks dan mahir, pistol itu terlihat siap tembak kembali. Seperti di film cowboy. Bunyi lipatan pistol itu menyeruak dalam kesepian. Traakk!

Dan ibu jari kanan laki-laki itu mengangkat pelatuk belakang pistol, lalu ia kembalikan secara semula. Tak jadi.

Aku telah mengadu persoalan ini kepada orang yang wajib menuntaskannya. Kepada pamanmu, kepada keluargamu yang lain di luar rumahmu itu. Juga kepada orang-orang di mana urusan keluarga besar dikabarkan dan diurus hingga selesai. Ketika urusan kita mulai diselesaikan, kau justru angkat senjata dengan sanak saudaramu itu. Kau ternyata melawan, begitu juga dengan ayah ibumu itu. Setali tiga uang.

***

Ia orang muda yang gagah. Dengan nama di dada tertera Edola Septiawan. Jadi aparat keamanan setelah melewati seleksi yang ketat. Lulusan terbaik yang membanggakan keluarga. Saat bertugas, di suatu tempat, ia mengenal seorang gadis yang rupawan. Berkerudung dan cantik. Guru sekolah menengah pertama. Noor Janna, itulah namanya. Perempuan yang telah memberikan seorang puteri cantik, Rezi Septiawan.

Betapa tersiksa aku tak memeluk anakku dalam enam bulan terakhir ini. Kau begitu laknat menjauhinya dariku. Kau bohongi dia dengan mengatakan ayahnya sedang tugas jauh, padahal kita masih satu kota. Aku makin membencimu pada sisi lain. Dan sangat merindukanmu pada sisi lainnya.

Wajah Edola terlihat kalut. Bergelayut masalah yang membuat seluruh wajahnya sangat lelah. Ia angkat lagi pistol itu lalu ia dekatkan pangkalnya ke pipi. Matanya memicing. Moncong pistol itu menghadap ke depan. Tepat ke sebuah cermin yang ada bayangan tubuhnya yang sedang duduk pongah di balik meja kerjanya. Ingin sekali ia menuntaskan persoalan yang ada dalam kepalanya.

Bukan aku tak mau mengambil jalan pintas dari hubungan kita ini. Aku begitu sayang kepadamu dan anak kita. Aku begitu menghormati keluarga besarmu. Apakah kau tak menyadari itu? Ke mana semua kenangan indah kita itu? Kenapa begitu cepat engkau lupakan? Siapa pula yang cepat mengisi hatimu? Menggantikan aku.

Ia mendengar kabar, istrinya sudah akrab dengan seseorang di tempat ia mengajar. Sebagai seorang guru, perempuan muda yang cantik dan lincah, ia akrab dengan beberapa orang guru, termasuk kepala sekolah. Sering pergi berduaan dengan alasan tugas untuk keluar sekolah. Sering keluar masuk ruang kepala sekolah. Hal yang tabu bagi guru lain. Inilah yang menjadi bahan gunjingan seluruh sekolah dari polahnya yang ganjil itu.

Aku cemburu. Tahukah kau? Tak ada asap kalau tak ada api. Minimal apa yang kau perbuatkan di sekolah, atas segala sikap dan pergaulan, pastilah sudah bergelanggang di mata orang banyak. Apalagi sebagai seorang guru. Sedikit saja sumbang dari perlakuan umum pastilah menjadi sorotan dari masyarakat di sekelilingmu. Apakah kau menyadari itu?

Ia kembali meletakkan pistol ke atas meja. Lalu ia mengotak-atik telepon seluler. Tertera foto Rezi. Anak perempuan semata wayang. Foto itu ia pandangi lekat-lekat. Balita itu sedang tersenyum manis. Betapa ia merindukan anak perempuan itu. Tapi, bagaimana bisa bertemu jika pintu rumah mertua sudah tertutup untuknya?

Kedua orang tuamu begitu mendominasi hidupmu, sehingga kau tak mendengar apa yang aku katakan sebagai seorang suami. Padahal, aku berkewajiban untuk membimbingmu sebagai imam. Ah, kau seorang guru yang tak patut aku gurui. Tapi kau tak pernah menyadari, betapa kau sangat kanak-kanak urusan seperti ini. Atau kau terlalu banyak menonton infotainment di televisi yang bercerita tentang kebanggaan artis untuk gonta-ganti pasangan? Bangga membuang suami lalu merebut suami orang? Ah, semoga prasangkaku tak sejauh itu.

Noor Janna. Nama yang melesat. Tamat kuliah langsung mendapat kesempatan menjadi guru di tengah ketatnya ujian masuk menjadi guru. Ia memang cantik dalam banyak hal. Berprestasi. Menonjol. Awalnya, Edola merasa sangat beruntung mempersunting perempuan ini. Seperti mendapat cahaya dari surga.

Kau belum dewasa. Pun mungkin aku. Kita masih terlalu kanak-kanak untuk saling mengerti. Ditambah lagi, biduk kecil kita dirasuki oleh orang lain. Ayah dan ibumu. Bukankah kita telah menyatu dan tak ada yang boleh ikut lebih dalam, dalam kehidupan kita?

Hari-hari sebelum Janna kembali ke rumah orang tuanya. Edola sudah merasakan gersangnya hidup di kontrakan. Ia tak merasakan bidadari seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Janna merana. Diam tak mau banyak bicara. Wajahnya mendung. Edola mencoba memberi pengertian. Tapi percuma.

Aku sangat menghormati ayah dan ibumu sebagai mertua. Tapi ayah dan ibumu ternyata menyalahkan aku atas kepindahan kita. Padahal, awalnya sedikit pun aku tak pernah memaksa. Aku membicarakan jauh hari demi kemandirian dan masa depan kita.

Suasana kantor yang sepi. Senja mulai merayap. Ia belum berselera untuk pulang. Percuma pulang ke rumah kontrakan, bila sepi makin menyengat hatinya. Tubuhnya ingin beranjak tapi hatinya belum juga. Masih juga ia tenggelam di kursi. Tak juga berdiri. Ingin sekali ia mendapat telepon dari pimpinan untuk sebuah tugas penggrebekan. Sebab dengan demikian ia bisa melampiaskan seluruh emosinya. Menangkap penjahat. Susahnya, penjahat di dalam kepalanya tak bisa ia tuntaskan dengan apa pun. Sebagai aparat keamanan, ia percaya diri untuk mengamankan dunia. Hanya, untuk persoalan diri sendiri, ia merasa bodoh!

Kau ternyata materialis! Sosok perempuan pintar yang salah jalan. Silau dengan materi. Tidak mengerti tentang kesetiaan, kebahagiaan yang lahir dari batin. Kau ternyata bukan jalan surga abadi seperti yang aku bayangkan selama ini. Aku telah tertipu dari penampilanmu selama ini.

Ia lihat wajahnya di cermin. Betapa kuyu. Hari-hari telah tak menentu. Membuatnya hanyut dalam perih yang paling deras. Ia menyesali telah menjalani kehidupan seperti ini. Padahal, awalnya semua begitu manis.

Kau ternyata hanya fatamorgana. Aku kejar-kejar tak pernah dapat. Aku selam-selam tak pernah sampai. Kau perempuan keparat yang pernah aku kenal. Terimalah cintaku dan sejarah panjang yang kelam nantinya.

Edola lagi-lagi menghadapkan pistolnya ke kepala sendiri. Pelatuknya sudah siap ditekan. Ia pejamkan mata dengan lambat. Di benaknya, ada kilauan cahaya surga menyelinap dari moncong pistol. Tapi ia tak menekan pelatuknya. Ia bayangkan anak dan istrinya tersenyum.

***

Aku bukan perempuan jalang seperti yang dianggap orang! Tapi mengertikah kau, aku seorang perempuan biasa? Tak boleh sesiapa yang meremehkan itu. Sebagai anak tertua yang menjadi harapan ayah dan ibu, tak boleh ada yang menjajah kebebasanku.

Belasan kilometer ke arah utara dari kantor Edola, seorang perempuan menyetir sedan. Berkerudung. Berkaca mata hitam bulan dan lebar. Modis. Mulutnya mengikuti alunan lagu penyanyi luar negeri. Sangat menikmati perjalanan. Seorang bocah perempuan di samping sedang memegang boneka. Ayah ibunya duduk di belakang sedang bercakap-cakap. Lagu terus mengalun. Sepertinya perjalanan jauh segera dimulai.

Aku masih sayang kepadamu. Tapi memisahkan aku dengan ayah dan ibu bukan hal yang baik menurutku. Sebab, rumah ayah dan ibu hanya kami berempat awalnya. Rumah itu besar. Jadi, tak perlu rumah kontrakan. Kita cukup tinggal di situ bersama. Kita bisa ramai ada ayah dan ibu, dirimu, Rezi dan Arai adikku. Jadi, sulit sekali aku menerima ajakan untuk hidup di kontrakan. Susah. Soal aku dekat dengan beberapa guru di sekolah, juga dengan kepala sekolah, apakah mesti dicurigai? Ah terserahlah. Aku ingin hidup bebas.

Ia tampak mahir menyetir. Matanya memandang lurus ke depan. Fokus. Sesekali ke spion kiri kanan dan tengah. Matanya bulat indah tampak serius. Mata itulah yang telah meruntuhkan seluruh kehidupan laki-laki yang ditakluknya. Tapi lama-lama, matanya tampak berair. Sepertinya ada penyesalan atas perjalanan hidupnya. Ia menyimpan itu baik-baik selama ini. Tak mau memperlihatkan pada siapa pun. Namun matanya tak bisa didustai. Ada luka menganga atas keangkuhannya selama ini. Betapa ia telah salah jalan tapi tak mau kembali ke belakang untuk sekadar menghapus keliru.

Buat apa kita kembali jika semuanya telah berubah. Kini sudah begitu runyam. Kita sulit untuk bertemu dalam satu biduk. Dan aku tak siap untuk sekadar menjadi istri. Sudahlah. Cukup sampai di sini.

Senja mengatap. Jingga. Jalan luar kota sangat sepi. Sebuah kendaraan meluncur cepat. Tiba-tiba berhenti mendadak. Berdecit suara ban yang tak berputar. Ada asap tipis mengepul. Bekas ban menghitam di aspal. Di dalamnya, Janna terguncang hebat. Sesuatu ia rasakan di dalam kepalanya. Ia seperti mendengar tembakan tepat di kepalanya. Dor! Janna terguncang hebat. Terasa keluar semua isi di kepalanya. Ayah ibunya panik setengah mati. Sedangkan Rezi menangis sejadi-jadinya. Keluarga itu di jalan yang sepi.

***

Asal kau tahu. Semua ini adalah perjalanan pendewasaan kita yang terlalu pagi mengayuh biduk berdua. Harusnya kita kembali bersama dan bercerita di bawah rambutan tempat kita pernah berdua setiap bulan purnama. Tapi kau, ayah dan ibumu ingin menang sendiri. Padahal sanak familimu ingin kita tetap bersama mengayuh lagi.

Laki-laki itu kembali mengangkat pistol dan mengarah ke kepalanya. Tepat di atas telinga sedikit. Tapi ia belum menekan pelatuknya. Matanya menatap tajam cermin yang membayangi polahnya dari tadi. Malam beranjak datang. Sepi. Cahaya surga berkelibat dari dalam moncong pistol ke dalam pikirannya. Ia merasakan sesuatu yang tuntas, jika pelatuk benda itu ia tekan seperti menembak penjahat. Penjahat itu ada dalam kepalanya. Sebagai petugas keamanan, wajiblah dia membuat semua menjadi aman. Tetapi bila penjahat itu ada dalam kepalanya, haruskah menembak diri sendiri?

***

Banyak sekali yang menyayangkan hubungan mereka harus berkeadaan seperti sekarang. Dulu banyak yang iri melihat kebahagiaan yang mereka rengkuh. Keduanya sudah ada pekerjaan tetap dan terhormat. Membanggakan siapa saja yang tahu tentang mereka. Apalagi orang tua kedua belah pihak.

Percuma pendidikan tinggi kalau ego lebih maju dari pada nalar. Kesombongan, keangkuhan, lupa diri, mencintai materi berlebihan, narsis, dikedepankan dalam kehidupan. Padahal, kita ini hanya orang biasa-biasa saja. Tak lebih. Masih ada langit di atas langit.

Edola kembali mengacungkan moncong pistolnya ke kepala dengan tangan kanannya. Kali ini sangat cepat. Makin yakin apa yang akan segera dilakukannya. Sebentar lagi ia seperti akan melakukannya. Ya, sebentar lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara anaknya sangat jelas memanggil.

“Ayah. Ayah. Ayah….” (*)

 .

.

Padang-Sarolangun 2011

.

.

2 Responses

  1. sy suka dengan kisah ini,,, hampir sama dengan kehidupanku,,, dua insan yg terpenjara ego, di tambah pengaruh dari luar yg seharusnya tak pantas tuk mengatur kehidupan

    Like

  2. Reblogged this on Fytabadangel's Blog.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: