Tiga Orang Gila di Kampung Itu


Cerpen Setta SS (Berita Pagi, 20 Juni 2010)

AKHIR-AKHIR ini kampung kecil di pinggiran desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota itu kerap dikunjungi orang gila. Sudah dua orang gila yang singgah, semuanya lelaki usia empat puluhan, berperawakan kekar.

Selain postur mereka yang tampak sehat, yang membuat sebagian penduduk kampung Cicanggah gelisah adalah penampilan mereka yang tidak seperti orang gila pada umumnya. Yaitu mengenakan baju koko, celana pangsi hitam, kopiah khas pribumi, dan sepotong kain sarung usang dibelitkan di pinggang. Meski seperangkat pakaian itu tampak lecek dan kumal. Selama beberapa hari singgah di kampung Cicanggah, kedua orang gila itu selalu hadir di mushala untuk shalat Maghrib dan Isya berjamaah.

Tentang pakaian mereka yang lebih rapi dari orang gila kebanyakan, sebagian warga kampung ada yang berkomentar sumbang. Separohnya acuh tak acuh. “Bagiku sih bodo amat! Asal tidak mengganggu ketertiban dan kedamaian kampung kita. Aku hanya was-was keduanya orang waras yang sedang mengawasi kampung kita. Anak buah kelompok teroris misalnya. Siapa tahu?” Beberapa warga kampung yang lain mengangguk-anggukan kepala, sepakat.

“Masih mending pakaiannya sopan! Coba kalau tidak berpakaian sama sekali seperti orang gila yang sering berkeliaran di pinggir jalan kota itu. Hii….” celetuk seorang ibu muda yang hanya mengenakan kutang dan kain samping sekenanya. Rona mukanya memerah seketika setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya. Ia sedang menyusui bayinya.

“Aku pilih si Jamali saja,” kali ini sebuah suara serak terdengar dari arah belakang kerumunan mereka di pos ronda sore itu. “Dia tidak pernah membuat onar di kampung kita. Dan, hahaha… dia juga baik sekali! Kalian masih ingat saat aku tanyakan nomor buntut padanya? Tidak sia-sia aku bertaruh uang sepuluh ribu yang tadinya untuk bayar SPP sekolah si Toto anakku. Tembus dah!” Tawa lelaki yang tampak jauh lebih tua dari usianya itu kembali membahana, memamerkan gigi-gigi besarnya yang kuning kusam. Tapi si Jamali yang selalu menjadi rebutan orang sekampung untuk menanyakan nomor togel yang akan keluar itu sudah tidak pernah mampir lagi ke kampung Cicanggah sejak lama. Begitulah.

Orang gila pertama mengawali kedatangannya di kampung Cicanggah dengan aksi nyeleneh. Matahari masih bertengger garang di tepi langit menjelang sore itu. Sawah pecah-pecah. Batang-batang padi bertumbangan. Para warga terpaksa menggantinya dengan biji kedelai hitam. Orang gila itu sudah berada di tengah ladang kedelai seorang warga. Mengeruk jerami kering yang menutupi tunas-tunas kedelai yang baru tumbuh tak lebih dari tujuh senti dengan kedua tangannya. Menumpuknya menjadi gunungan jerami di tengah sawah kerontang. Seperti hendak membumihanguskannya dalam sekejapan mata.

Sang pemilik ladang panik bak orang kesetanan mendapat kabar dari anaknya yang sedang asyik bermain layangan di lapangan. Ia berlari menghampiri sang terdakwa dengan golok besar mengkilat terhunus di tangan kanannya. Tetapi orang gila itu bergeming. Tak peduli teriakan si empunya sawah yang nyaris kehabisan suara dan kata-kata. Tak hirau sebilah golok yang baru beberapa saat lalu selesai diasah bergerak-gerak liar di depan wajahnya. Acuh pada warga kampung yang berkerumun menatap heran padanya.

Siapa namanya? Dari mana asalnya? Kenapa bisa gila? Sejak kapan dia gila?

Lelaki kekar berkopiah khas pribumi itu baru menghentikan aktivitasnya sesaat setelah pemilik sawah menghamburkan jerami kering yang hampir mencapai setinggi pusar ke tubuhnya. Menutupi badannya. Ia ngeloyor pergi begitu saja. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Anehnya saat azan maghrib berkumandang, ia sudah duduk bersila di shaf pertama mushala kampung satu-satunya. Dan akan tetap tinggal di sana hingga jamaah Isya selesai ditunaikan. Beberapa kakek dan nenek yang suka shalat berjamaah di mushala itu bertambah heran saja ketika mendengarkan wirid yang terlantun seusai shalat dari bibirnya. Sama persis dengan apa yang mereka lafalkan: istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, surat Al-Fatihah, ayat kursi dan doa-doa yang biasa mereka panjatkan. Bahkan ada beberapa wirid yang dilantunkan orang gila itu yang tidak mereka hafal, namun pernah diucapkan oleh seorang kiai yang mengisi pengajian ibu-ibu setiap Jum’at sore.

“Orang gila itu benar-benar aneh,” ujar seorang jamaah, sesaat sebelum mereka meninggalkan mushala menuju kediaman masing-masing.

“Mungkin tadinya dia seorang ustad, tetapi gila…,” seorang nenek yang menutupi rambut putihnya dengan cindung ungu menimpali.

“Ustad gundulmu! Masa ustad bisa gila? Bagaimana orang yang bukan ustad?” hardik seorang kakek tak sepaham.

“Ya sudah! Aku tidak akan ngomong lagi tentang orang gila itu!” balas si nenek sengit. Ia pundung, tak terima kata-kata kasar sang kakek.

Obrolan itu terhenti total. Mereka berjalan perlahan menjauhi mushala yang sudah gelap gulita dalam diam. Tak peduli lagi nasib wong edan yang mungkin sedang merenungi nasib sialnya di pelataran mushala. Pintu satu-satunya yang ada di mushala kampung itu telah dikunci sempurna.

Hanya tiga hari orang gila pertama tinggal di kampung Cicanggah. Saat mentari kembali menyembul di Timur tepat di hari keempat pasca kemunculannya, sosoknya lenyap bagai ditelan bumi. Tetapi warga kampung Cicanggah terlalu sibuk menghadapi paceklik yang sedang menghampiri mereka. Tak sempat lagi sekadar bertanya-tanya tentang kepergiannya. Mungkin hanya sekompok warga yang rajin mendatangi mushala saat petang menjelang saja yang tiba-tiba merindukan sosoknya.

Sepuluh hari berselang, warga kampung Cicanggah kembali geger. Kampung mereka kedatangan tamu tak diundang lagi. Orang gila lain dengan pakaian yang nyaris sama dengan orang gila pertama. Dan lagi-lagi, orang gila kedua pun menjadikan mushala renta satu-satunya di kampung Cicanggah sebagai base camp.

Ia tiba di kampung Cicanggah saat para penduduk sedang asyik ngerumpi di teras-teras rumah mereka sekitar jam lima sore. Ia datang dengan damai. Tidak seperti orang gila pertama. Bahkan ia sempat bercakap-cakap dengan warga kampung. Diskusi konyol, tentu saja. Lumayan untuk menghilangkan stress, kata mereka. Ada juga warga yang memberinya rokok kretek dan menyulutkannya sambil diam-diam berharap kejatuhan sempur diberi info nomer togel yang akan keluar.

Maka begitulah. Orang gila kedua pun sudah khusyuk berzikir saat gelap menggantikan terang sore itu. Lagi-lagi jamaah maghrib yang hanya beberapa gelintir dan orang yang itu itu juga hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan wiridnya yang fasih seusai shalat.

“Orang gila sekarang kok aneh-aneh sekali tingkahnya,” gumam sang imam mushala tak mengerti menyaksikan orang gila kedua itu sedang menyelesaikan rakaat kedua shalat bakdiyah maghribnya.

“Mendingan orang gila masih ingat pada Tuhan. Zaman sekarang sudah banyak kok orang yang waras dan merasa pintar, tetapi sudah berani melupakan-Nya…,” jawab jamaah lain, entah ditujukan kepada siapa.

Orang gila kedua singgah dua malam sehari di kampung mereka. Di siang hari, ia akan memunguti kuntung rokok di sepanjang jalan kampung atau mencabuti teki di halaman mushala. Persis seperti polah orang gila pertama. Hanya itu rutinitasnya selain minta jatah makan ke rumah warga yang didatanginya acak di pagi hari dan saat matahari akan tenggelam. Tak ada yang perlu dicurigai. Jika pun ada, tentu pilihan keduanya yang menjadikan mushala kampung sebagai base camp yang masih menyisakan tanda tanya hingga kini.

Seminggu berselang setelah orang gila kedua pergi tanpa meninggalkan jejaknya, kampung Cicanggah lagi-lagi geger. Namun kali ini bukan orang gila seperti dua orang sebelumnya yang menjadi penyebab. Tetapi salah seorang dari warga mereka sendiri yang dicap gila. Namanya Ani. ABG perempuan. Badannya bongsor. Hanya sempat mengenyam SD sampai kelas empat. Ani divonis gila oleh warga sepulang dari ibu kota menjadi babu.

Tiba-tiba saja ia sering terlihat tertawa cekikan sendirian di pos ronda di siang bolong. Berjalan kesana-kemari sambil ngromyang tak karuan. Menjadi hiburan gratis anak-anak kampung yang mengikutinya kemana saja ia melangkahkan kaki. Ani pun menjadi bahan tertawaan sesama warga kampung yang tak kalah stress-nya. Orang tuanya hanya mampu mengelus dada dan menangis tanpa air mata melihat tingkah gadisnya yang berubah drastis tak jelas apa penyebabnya.

Berbagai prasangka memerahkan kuping berloncatan seolah tak ada rem yang menahannya.

“Si Ani gila pasti gara-gara diperkosa majikannya di Jakarta!”

“Pasti tidak dibayar gajinya!”

“Bukan. Ia di PHK!”

“Salah besar. Ia pasti kena guna-guna cowok kota. Lihat, badannya kan termasuk seksi juga.”

Yang benar, ia naksir anak majikannya. Tapi ditolak mentah-mentah!”

Masih banyak lagi komentar asbun lain yang mereka lontarkan. Namun tak ada seorang pun yang tahu pasti apa sebenarnya penyebab Ani menjadi gila. Satu-satunya orang yang diharapkan bisa menjelaskan perkara ini hanya Toyimah, sejawat Ani yang mengajaknya bekerja di ibu kota lebih setengah tahun lalu. Dari orang tua Ani, warga kampung tahu kalau Ani diantarkan pulang ke kampung Cicanggah oleh sopir pribadi majikannya. Hanya sayangnya sopir itu tidak bersedia menjelaskan musabab Ani menjadi seperti sekarang ini.

Menjelang lebaran, barulah Toyimah mudik ke kampung Cicanggah. Penampilannya masih tetap seperti dulu. Pakaian-pakaian sederhana yang suka dikenakannya sebelum ia berangkat ke ibu kota bersama Ani. Ia tak terimbas tren gadis-gadis kota yang gemar memakai kaos-kaos super ketat seperti yang menimpa Ani.

Seusai ritual tarawih, hampir semua warga kampung berkumpul di rumah setengah bata keluarga Toyimah. Karena sewaktu di mushala tadi Toyimah hanya mengunci mulutnya rapat-rapat menghadapi pertanyaan bertubi-tubi mereka. Apalagi Toyimah sudah diberitahu ibunya perihal stress-nya Ani yang sudah menjadi bahan olokan sehari-hari warga di kampungnya. Tak bosan-bosannya mereka menggunjingkan ABG malang itu. Ya, sesungguhnya Toyimah tak tega dan tak ingin menjelaskan apa yang sesungguhnya menimpa Ani pada mereka. Tetapi para warga terus memaksanya membuka rahasia sesungguhnya.

“Maaf, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Sebenarnya saya pun tidak tahu pasti mengapa Ani jadi hilang ingatan seperti sekarang. Tapi….”

Semua warga kampung yang hadir menahan nafas. Beberapa tampak sudah tak sabar menunggu kelanjutan kata-kata Toyimah.

“Tapi majikan saya bilang, Ani kerjanya hanya duduk-duduk saja di teras rumah setiap hari. Menyaksikan gadis-gadis kota berpakaian you can see my ketiak melenggang manis dengan ponsel merk terkini yang nyaris tak henti-henti berbunyi. Ani lupa tugas utamanya sebagai babu. Ani jadi suka tersenyum dan berbicara sendiri….”

Tiga menit berlalu. Kebekuan di ruang tengah rumah setengah bata keluarga Toyimah itu baru mencair. Semua yang hadir hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepala mereka dalam bisu. Tidak tahu komentar apa yang seharusnya mereka lontarkan. Kemudian satu persatu undur diri dalam diam. Tapi entah apa yang sedang bergolak dalam batok kepala mereka saat itu.

Tiba-tiba mereka terbayang kembali sosok dua orang gila yang sempat mampir beberapa waktu sebelumnya di kampung mereka. (*)

Yogyakarta, 26/11/2oo4 – 24/o5/2o1o oo:42 a.m.

Setta SS lahir di Lubuklinggau 22 Desember 1981, penikmat sastra, alumni Jurusan Mesin FT UGM.

5 Responses

  1. Cerpen ini asyik… Cukup panjang tapi menarik. Kok Berita Pagi gak tertulis di Judul lakon hidup hehe

    Like

  2. Hehehe persis Benny Arnas yang protes via sms, Mas Bamby. Aku jawab–kurang lebih gini, “Kekecualian, Benn, meski rada-rada nepotisme dikit sih. So, bolehdipertanyakan.com dah. Haha….” Padahal diam-diam grundel, kelamaan klo harus nunggu dimuat kelima koran itu mah… 🙂

    Like

  3. widiii, mas setta hebat euy mlebu koran.

    Like

    • Alhamdulillah 🙂 Semoga bisa lebih dari sekadar penikmat, Fan. Hidup harus ada kemajuan kan? Sip!

      Like

      • oke, sip. doakan saya! *lho. :d

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: