Gembok

February 1, 2015 - 7 Responses

Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 1 Februari 2015)

Gembok ilustrasi Pata Areadi

“FRAU Wiechert?”

“Ja.”

Wiechert terjaga karena suara berisik. Suara langkah kaki tergesa menaiki tangga. Pintu dibuka, pertanyaan-pertanyaan, tetangga sebelah banyak bicara dengan setengah menangis. Perkataannya tidak jelas sehingga polisi mengulang jawaban untuk memastikan kebenaran. Wiechert menggeram, bangkit dari tidur, tersaruk meraih sisa kopi semalam. Ia memperhatikan pekerjaan yang belum rampung. Mesin ketik dengan sehelai kertas berisi separuh tulisan teronggok diam. Semalam otaknya mampat dan punggungnya yang terlalu letih butuh istirahat. Read the rest of this entry »

Penguburan Kembali Sitaresmi

February 1, 2015 - Leave a Response

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 1 Februari 2015)

Penguburan Kembali Sitaresmi ilustrasi Jitet

SELAMA 50 tahun aku dipaksa menjadi orang bisu. Selama 50 tahun warga kampung mungkin sudah menganggap aku sebagai batu berlumut. Namun karena kau bersama puluhan anak muda tiba-tiba berniat membongkar gundukan menyerupai kuburan dan ingin memakamkan kembali siapa pun yang dibunuh dan dikubur di gundukan batu menyerupai makam di Bukit Mangkang, aku harus menceritakan kisah pembantaian konyol kepada 24 perempuan tangguh itu kepadamu. Read the rest of this entry »

Pelajaran Berladang Kol

January 25, 2015 - 4 Responses

Cerpen Alizar Tanjung (Media Indonesia, 25 Januari 2015)

Pelajaran Berladang Kol  ilustrasi Rio B

PAGI Selasa yang berkabut, antara gonggongan anjing di dalam kandang dan kokok ayam kinantan di halaman, Bapak memanggil Sulaiman. Memberikan pelajaran bertanam kol, setelah pelajaran-pelajaran lain diberikan pada hari yang lain, di kampung yang bersuhu kisaran 16-18 derajat itu. Read the rest of this entry »

Meisa dan Ular di Lehernya

January 25, 2015 - Leave a Response

Cerpen Maltuf A Gungsuma (Suara Merdeka, 25 Januari 2015)

Meisa dan Ular di Lehernya ilustrasi Suara Merdeka

LIHAT perempuan itu, bukan emas atau berlian di lehernya, tapi ular. Ia memang cantik, semua pemuda di sini tahu itu dan berdecak kagum setiap melihatnya melintas di jalanan desa. Tapi kau mesti tahu kalau ular di lehernya itu berbisa. Dan yang sangat mengerikan lagi, ular itu hanya patuh pada majikannya.

“Meisa, ada banyak lelaki ingin mengalungkan berlian di lehermu, tapi selalu terhalang sama ular itu.” Read the rest of this entry »

Sebelum Pesawat Itu Jatuh

January 25, 2015 - 3 Responses

Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)

Sebelum Pesawat Itu Jatuh ilustrasi Rendra Purnama

DI luar sana, langit telah rata berselimut mendung. Hujan mulai merintik sejak beberapa menit lalu. Perempuan muda berparas ayu khas Jawa itu masih berdiri, bergeming di tepi jendela kamarnya.

Tuhan, mengapa orang yang kucintai pergi dengan begitu cepat, bahkan sebelum aku sempat bersanding dengannya. Read the rest of this entry »

Tenung

January 25, 2015 - Leave a Response

Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)

Tenung ilustrasi Amelia Budiman

KABAR kematiannya menyebar sangat cepat, seperti angin yang berbuah badai dan merontokkan dedaunan. Barangkali kabar kematian tak secepat itu jika yang meninggal bukan si tukang tenung.

“Siapa yang meninggal?”

“Murtaep.”

“Murtaep tukang tenung itu?” Read the rest of this entry »

Kahia dalam Ajal yang Bergeming

January 18, 2015 - One Response

Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 18 Januari 2015)

Kahia dalam Ajal yang Bergeming ilustrasi Pata Areadi

PEREMPUAN Tua menjelaskan, “Kalian menuduhku hanya karena aku mampu bicara dengan kahia? Mengapa kalian tak tuduh diri sendiri? Kalian yang lebih mampu lihat kahia.Siapa beri tahu kalian buat menuduh?

Ya, ya. Tak perlu dilanjut. Aku tahu namanya. Orang itu lagi. Aku dengar suaranya di toa saat lufu kie. Aku tahu, dia punya sakit jantung dan tulang punggung. Hatinya juga. Mengapa dia tak ikut dan hanya utus kalian? Kalian lihat sekarang? Aku hanya perempuan tua pembuat boso dari sekian banyak perempuan Marekofo. Aku tak punya bahan peledak. Tak seperti pencari ikan yang sering membuatku bangun buru-buru di tengah malam. Mau kucerita? Read the rest of this entry »

Helah

January 18, 2015 - One Response

Cerpen Raedu Basha (Suara Merdeka, 18 Januari 2015)

Helah ilustrasi Suara Merdeka

Juni 1999

Janadin. Lelaki berkumis tebal itu merasa degup jantungnya tak berdetak. Matanya bersemburat merah seketika, duduk bersila di antara hadirin yang melingkar di mihrab masjid. Sebuah upacara pernikahan tak biasa akan dilaksanakan.

Dia menatap runcing seorang anak muda yang mengenakan setelah jas-sarung rapi tak ubahnya mempelai pria. Santab. Ia penolong Janadin dari sial. Tetapi sial itu kini seolah pekat langit kembali burat, dan menjadi. Kecemburuan bergejolak. Read the rest of this entry »

Taubat

January 18, 2015 - One Response

Cerpen Daruz Armedian (Republika, 18 Januari 2015)

Taubat ilustrasi Rendra Purnama

DINI hari tepat waktu Tahajud, dua orang itu menyusuri jalanan. Kanan kiri tampak sepi. Lampu-lampu temaram seperti kunang-kunang. Menjadi saksi bisu langkah mereka menuju stasiun kereta.

“Dek, kenapa anak ini harus lahir dari rahimmu?”

“Kang, ini salahmu. Waktu aku mengandung, Kang pasti berbuat jahat pada orang lain.” Read the rest of this entry »

Penjor

January 18, 2015 - Leave a Response

Cerpen I Wayan Suardika (Kompas, 18 Januari 2015)

Penjor ilustrasi Didie SW

Kerumunan kecil di bale banjar itu perlahan menyusut ketika melihat I Beneh dari kejauhan. Hanya tinggal dua orang yang masih bertahan di situ ketika I Beneh benar-benar sampai di bale banjar. Seorang dari mereka menyapa lelaki itu. Tapi I Beneh tak ambil peduli. Read the rest of this entry »