Parang Ulu

November 13, 2016 - One Response

Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 13 November 2016)

parang-ulu-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Parang Ulu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

RUANGAN persegi berdinding papan itu hening. Keheningan merambati foto-foto usang dan rak kayu yang dipenuhi kitab-kitab tebal berdebu. Kiai Hambali duduk berhadapan dengan seorang lelaki tambun. Lelaki tambun itu berdiri, lalu berjalan ke arah rak kayu. Ia mengambil satu kitab dan membukanya. Tiga lelaki muda berdiri tak jauh dari Kiai Hambali. Pandangan mereka mengikuti gerak tubuh lelaki tambun dengan waspada.

“Pondok ini sudah sepi, percuma saja dipertahankan,” kata lelaki tambun sambil mengembalikan kitab ke tempat semula. Read the rest of this entry »

Menjelang Badai Pasir

November 12, 2016 - Leave a Response

Cerpen Jamil Massa (Koran Tempo, 12-13 November 2016)

menjelang-badai-pasir-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Menjelang Badai Pasir ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

MELIHAT tamu asing itu makan dengan lahap, mau tak mau aku harus mengakui kebenaran kata-kata Sang Bapa: Ketenteraman hati dimulai dengan memberi makan orang lapar. Ini sungguh bukan tabiatku. Bukan kebiasaanku membiarkan orang asing masuk ke rumahku yang mungil ini, lalu menyuguhinya persediaan makanan terbaik yang aku punya.

Aku hanya mengikuti anjuran Sang Bapa untuk tidak menolak tamu. Menurut lelaki tua itu, seorang tamu seringkali akan memberikan berkah yang tidak pernah diduga-duga. Berkah yang bisa berbentuk harta benda, atau kabar gembira, atau setidaknya doa. Menjamu tamu, terutama yang sedang melakukan perjalanan jauh, juga adalah perkara yang bisa menyenangkan Tuhan. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang baik. Read the rest of this entry »

Ziarah Terakhir

November 6, 2016 - 2 Responses

Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 06 November 2016)

ziarah-terakhir-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ziarah Terakhir ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SUDAH saatnya Bardi membuka kisah rahasia antara ia dengan mendiang istrinya kepada mereka. Bardi tahu, ini tidak penting bagi mereka, tapi ia harus menceritakannya.  Sore itu seusai membersihkan kuburan mendiang istrinya, Bardi berencana mampir ke rumah anak dan menantu tirinya. Bardi berdiri dekat persilangan hendak menyeberang, tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung melaju kencang ke arahnya. Read the rest of this entry »

Dari Iklan Koran Kuning

November 6, 2016 - Leave a Response

Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 06 November 2016)

dari-iklan-koran-kuning-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Dari Iklan Koran Kuning ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aji sampai pada rakaat terakhir shalat duhanya ketika Jibi berteriak-teriak dari luar rumah mengabarkan bahwa salah satu kambing milik Aji yang dititiprawatkan kepadanya baru saja beranak. “Kambingnya tidak sakit. Kambingnya beranak manusia,” teriak Jibi. Read the rest of this entry »

Duri Ibu

November 6, 2016 - One Response

Cerpen Anindita S. Thayf (Jawa Pos, 06 November 2016)

duri-ibu-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Duri Ibu ilustrasi Bagus/Jawa Pos

SERINGKALI aku merasa seolah tengah bermimpi. Ada bulan menerobos jendela dapur dan menjelma bubur. Di kali lain, seolah ada penculik yang mengambil bayiku dan menggantinya dengan Ibu.

Meskipun sekelebat, tapi rasanya sungguh nyata. Hingga gelegak air atau panas panci menyadarkanku bahwa itu hanya permainan kesadaranku yang baru separo terjaga. Ternyata, aku sedang memasak bubur dengan mata sesekali mengatup, menahan beratnya kantuk. Persis seperti saat ini. Read the rest of this entry »

Nelayan yang Malas Melepas Jala

November 6, 2016 - One Response

Cerpen Damhuri Muhammad (Kompas, 06 November 2016)

nelayan-yang-malas-melepas-jala-ilustrasi-amelia-budiman-kompas

Nelayan yang Malas Melepas Jala ilustrasi Amelia Budiman/Kompas

Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya.  Read the rest of this entry »