Yang Datang dari Negeri Asap

April 20, 2014 - Leave a Response

Cerpen Hary B Kori’un (Media Indonesia, 20 April 2014)

Yang Datang dari Negeri Asap ilustrasi Pata Areadi

KAU keluar dari asap, mengerjap-ngerjapkan mata, dan berjalan menyusuri trotoar. Jalan  memutih, cenderung kelabu, asap di mana-mana. Tak jelas, apakah masih pagi, siang,  atau senja. Asap mengepung kota. Orang-orang bergegas dengan masker di wajah mereka. Dan kau, tetap santai berjalan di trotoar itu, berlawanan arah dengan mereka yang hampir semuanya berpakaian warna kelabu, mirip warna asap.  Read the rest of this entry »

Jurus Pamungkas

April 20, 2014 - Leave a Response

Cerpen Fandiant Uge (Suara Merdeka, 20 April 2014)

Jurus Pamungkas ilustrasi Toto

AKU sebenarnya tidak setuju dengan usulan Mama. Menurut agama manapun, bunuh diri bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Masih ada cara lain yang lebih manusiawi. Memang utang sebegitu banyaknya tidak mungkin terbayar dalam tempo singkat. Apalagi lima laki-laki bertubuh kekar dan bertato yang gemar membentak dan menampar hanya memberi tenggat hingga Senin depan. Harta dan barang berharga lenyap dijual. Tersisa perabot-perabot lusuh, pakaian kumal, dan lukisan ikan koi berjumlah delapan, yang kata Papa itu sebagai penarik keberuntungan. Sepertinya lukisan tersebut tidak memiliki daya tarik yang kuat, buktinya keluarga kami terjerat utang dan berujung sedemikian sial.  Read the rest of this entry »

PR Matematika

April 20, 2014 - Leave a Response

Cerpen N Mursidi* (Republika, 20 April 2014)
PR Matematika ilustrasi Rendra Purnama

TELEVISI di ruang tengah rumah Noura masih menyala.

Noura duduk bersimpuh di karpet, dengan tangan kanan memegang pensil dan di hadapannya terbentang dua ruas buku tulis yang sudah penuh coretan. Gadis berusia sepuluh tahun yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu bingung menuliskan angka di lembaran kertas. Sesekali, ia menambahkan beberapa angka. Sayang, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.   Read the rest of this entry »

Angela

April 20, 2014 - Leave a Response

Cerpen Budi Darma (Kompas, 20 April 2014)
Angela ilustrasi

SEPULUH tahun yang lalu saya lulus S3 Indiana University, Bloomington, Indiana, Amerika, lalu lima tahun kemudian saya menerbitkan buku New Paradigm of Psycho-Revenge, dan selama dua tahun berikutnya saya menerbitkan buku lain yang tidak begitu penting.

Berkat buku-buku itu sekarang saya kembali ke Indiana University, dikontrak sebagai dosen mata kuliah Psikologi Sastra, mulai Januari ini, ketika salju sedang kencang-kencangnya menghantam seluruh Barat Tengah Amerika, termasuk Bloomington, Indiana. Kamar kerja saya terletak di Lantai 12, dan dari situ saya dapat melihat bongkah-bongkah salju meluncur ke sebuah pemakaman tua berumur lebih dari seratus tahun.  Read the rest of this entry »

Perempuan-Perempuan

April 13, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ana Mustamin (Media Indonesia, 13 April 2014)

Perempuan-Perempuan ilustrasi Pata Areadi

1/

TELEPON genggam itu bergetar lagi. Dan untuk ke sekian kali, ia meraihnya dengan perasaan rawan.

“Ya?” Telinganya menguping lebih tajam. “Sa… saya akan bicara dengan Ibu!”

Suara dengan timbre kasar menghardik. Membuatnya seperti terjengkang.

“Se… sebelum jam sembilan!” Meski tergeragap, ia berusaha meyakinkan.  Read the rest of this entry »

Kejadian-kejadian pada Layar

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 13 April 2014)

Kejadian-Kejadian pada Layar ilustrasi Munzir Fadly

—untuk Avianti Armand

SEBUAH layar. Sebuah biru yang dominan. Di sudut kanan agak ke bawah, sesosok lelaki.

Ada benda-benda serupa burung lamat beterbangan dari kanan tengah ke kiri atas, dari sebentuk rimbun pohon dengan daun-daun gemuk menuju semacam langit yang masih hampa. Hanya ada kepak yang gamak. Lelaki itu mendengkur. Seseorang di sampingnya, sesosok perempuan, serupa perempuan, mengatur desah napasnya untuk tak mengendap jadi mimpi buruk yang akan membangunkan lelaki itu. Tangan kanannya menjuntai, seperti hendak menyentuh tubuh lelaki itu. Tapi, tangan itu terhenti, seperti jeda yang dipaksa ada.  Read the rest of this entry »

Tiga Inkarnasi

April 13, 2014 - 2 Responses

Cerpen Tjahjono Widijanto (Suara Merdeka, 13 April 2014)

Tiga Inkarnasi ilustrasi Falia

1357 Masehi: Kawali-Kabantenan

PANJI-PANJI itu berkelebatan di mana-mana, diusung dan dikibar-kibarkan oleh prajurit- prajurit penunggang kuda dan gajah yang gagah. Pasukan bersama panji-panji berkelebat- kelebat itu berderap dengan langkah teratur dengan rumbai-rumbai kebesaran membentang membujur ke kiri dan ke kanan dengan formasi garuda nglayang, burung garuda yang melayang lamban tapi gagah membentangkan sayap-sayapnya. Di mata bocahku warna-warni panji-panji megah itu mengingatkanku pada dongeng Emak tentang rambut bidadari yang berkibar-kibar keemasan turun ke mayapada dengan lesung pipitnya membuat moyangku kepincut dan jatuh hati padanya.  Read the rest of this entry »

Kekasih Hujan (6)

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 13 April 2014)

Kekasih Hujan (6) ilustrasi Bagus

BULAN dua belas. Bulan di mana orang-orang senang membicarakan cuaca. Di bulan ini pula ia lahir. Tetapi bulan kelahiran ini, baginya, tidak lebih sebagai perayaan sekian kemurungan.

***

Ia berubah menjadi perempuan yang banyak menarik diri dari kehidupan – selain tentu pula kulitnya mulai kendur, kantung mata sedikit turun, dan bintik-bintik hitam makin banyak di pipi. Dulu –paling tidak sebelum ia memasuki usia 40—ia perempuan manis yang selalu menyenangkan di mata orang lain. Ia menyimpan kesedihan dalam-dalam dan bersikap ramah dalam situasi apa pun. Teman-teman, kenalan, tetangga, menyukainya. Ia membagikan kue-kue yang dibikin di hari libur. Anak-anak membukakan pintu dengan riang tiap ia memencet bel di rumah mereka dan menjulukinya ”Ibu Baik Hati“.  Read the rest of this entry »

Opera Langit

April 13, 2014 - Leave a Response

Cerpen Arul Chairullah* (Republika, 13 April 2014)

 

Opera Langit ilustrasi Rendra Purnama

GHADRAK biya, asshar fiya, ba taghayyarte syuwayya, ba tagh rayarte musy hu bedayah,” sembari menari-narikan sekujur tubuhnya, Harits, pemuda berkacamata kotak itu lantang mendendang lirik lagu Ummi Kultsum. Tangannya melambai-lambai biru langit menyapa burung kenari, sesekali menggayung air pantai dari samping cadik, lalu menyeka raut kusutnya dari kucuran keringat.

“Ya Said, perahu itu diikuti segerombolan burung, mengapa kita tidak?” tanya Harits sejurus kemudian pada nelayan bertubuh hitam legam yang duduk tenang di sudut perahu.  Read the rest of this entry »

Syukuran

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Sori Siregar (Kompas, 13 April 2014)

Syukuran ilustrasi 13 April 2014

SETELAH aku baca, undangan itu kulemparkan ke meja di depanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil keputusan, tidak akan memenuhi undangan itu. Ini tak dapat ditawar karena merupakan keputusan final. Tidak akan.

Tidak ada yang salah sebenarnya jika untuk memasuki rumah baru Dilan mengadakan upacara selamatan atau syukuran. Tapi mengaitkannya dengan pembebasan Darmola terlalu mengada-ada. Aku mengenal Dilan selama dua puluh tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, kejujurannya mengagumkanku. Ia menabung bertahun-tahun untuk membayar sebagian uang muka rumah jenis T-70. Pembayaran cicilan juga akan dilakukannya bertahun-tahun.  Read the rest of this entry »