Langgar Kiai Bahri

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Marsus Banjarbarat (Media Indonesia, 28 Juni 2015)

Langgar Kiai Bahri ilustrasi TAMPAN DESTAWAN

ADA dua langgar tempat mengaji dan salat jemaah di kampung kami. Langgar Kiai Bahri dan Langgar Kiai Akbar. Nama langgar itu diambil dari nama pengasuhnya. Keduanya sama-sama memiliki santri yang banyak.Saking banyaknya, santri-santri yang mau mengaji sering terkantuk-kantuk menunggu giliran mengaji.

Ketika bulan Ramadan tiba, Langgar Kiai Bahri yang setiap malam selalu ramai tiba-tiba sepi, sedangkan Langgar Kiai Akbar ramai dan penuh oleh jemaah tarawih dan tadarus. Inilah yang selalu mengusik pikiran Kiai Bahri. Read the rest of this entry »

Biodata

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Zaim Rofiqi (Koran Tempo, 28 Juni 2015)

Biodata ilustrasi Koran Tempo

IA masuk ke dalam ruangan itu, lalu duduk di depan sebuah meja bundar, di sebelah kanan pintu tempat tadi ia masuk.

“Tunggu sebentar ya Pak,” kata orang yang mengantarkannya itu, lalu berjalan menuju sebuah ruangan dan berbicara dengan seorang petugas yang ada di dalamnya.

Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya menghampirinya. “Bisa baca tulis?” tanya petugas panti itu datar, matanya menatapnya tajam dengan sorot mata antara curiga dan kasihan. Read the rest of this entry »

Mengendalikan Arah Angin

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 28 Januari 2015)

Mengendalikan Arah Angin ilustrasi Hery

SEGALA yang naik itu kelak akan jatuh sebagaimana pesawat roboh oleh banyak prasangka semisal seekor burung berparuh panjang yang berbahaya, tak lekas mampu mengendalikan arah angin yang ceroboh. Kakek seringkali mengulangi kalimat itu sebagai mantra ajaib burung-burung nakal yang ada di dalam kepalaku.

“Jangan terlalu banyak bergerak, pelankan suaramu ketika berbicara atau jika tidak, burung-burung akan mencuri mimpimu.” Read the rest of this entry »

Prahara Meja Makan

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 28 Juni 2015)

Prahara Meja Makan ilustrasi Jawa Pos

SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah. Read the rest of this entry »

Ziarah Tanpa Makam

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 28 Juni 2015)

Ziarah Tanpa Makam ilustrasi Da'an Yahya

TIDAK semua peristiwa membutuhkan tapak tilas bahkan sebuah kesedihan. Setiap waktu, peristiwa begitu saja terjadi, lantas tidak meninggal apa pun selain kesan kehilangan; sebuah perayaan kekalahan yang terus tertunda. Tarno selalu berpikir bahwa kematian adalah cara baik untuk pulang. Dan, kematian juga tidak membutuh waktu yang tepat saat datang. Kematian bisa kapan saja bekunjung maka manusia tidak dapat menyiapkan segala hiporia kepiluan tersebut. Begitu juga dengan sebuah liang kesedihan tempat mengubur segala duka.  Read the rest of this entry »

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu

June 28, 2015 - Leave a Response

Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 28 Juni 2015)

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu ilustrasi Nandanggawe

Kami dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan dipaksa menjauhi Tuhan kami— Dewata Sewwae, tentu kami tidak berdaya lantas harus menerimanya dengan dada lapang yang perih. Jumat, pada akhir tahun enam puluhan, pada siang yang hujan, segerombol tentara mendatangi Uwak—tetua yang dipercaya akan menyelamatkan orang Tolotang saat hidup dan setelah mati. Aku bergegas menuju bilik.

“UWAK harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali, Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” Read the rest of this entry »