Kambing Sebbal

September 11, 2016 - One Response

Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 11 September 2016)

kambing-sebbal-ilustrasi-pata-areadi

Kambing Sebbal ilustrasi Pata Areadi

APABILA aku berubah menjadi kambing, lalu dikorbankan saat Idul Adha, akankah itu bisa menjadi kendaraan ibu pergi ke surga?

Angan-angan itu terus berkecamuk dalam pikiran Sebbal, laki-laki dewasa yang terperangkap dalam tubuh dan kapasitas otak yang tak lebih baik dari seekor kerbau.

“Tentu saja bisa,” sambut Pak Baonk. Kala itu mereka sedang berada di pos ronda.

“Bagaimana bisa, Pak?” sahut Sebbal terheran-heran.

“Kalau kau membaca karya Franz Kafka, diceritakan Gregor Samsa, si tokoh utama, berubah menjadi kecoak,” Pak Baonk melanjutkan penjelasannya. “Kau ingin berubah menjadi kecoak?” Read the rest of this entry »

Kambing Kurban dan Sepotong Hati

September 11, 2016 - One Response

Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 11 September 2016)

kambing-kurban-dan-sepotong-hati-ilustrasi-hery-purnomo

Kambing Kurban dan Sepotong Hati ilustrasi Hery Purnomo

Orang-orang masih duduk berkumpul di teras masjid. Seorang takmir yang juga ikut nimbrung dengan pujian penuh kebahagiaan bercerita tentang sedekah Pak Aris. Pada mulanya Pak Aris memang pelit. Tapi, kini ia ingin berkurban pada hari raya kurban. Hanya Pak Aris satu-satunya warga yang memberikan sapinya. Selain itu, kadang hanya tiga ekor kambing. Ada yang urunan. Tapi, Kurnia selalu rutin memberikan kambing ternaknya untuk kurban pada hari raya.

Di tengah embusan angin perbincangan sebagian huruf-huruf meniupkan aroma yang membuat Kurnia harus menanggung malu. Seorang warga selalu memuji Pak Aris dengan hewan kurbannya yang tak tanggung-tanggung. Dua ekor sapi. Tapi, di tengah pujian itu, ada kata-kata yang memang sengaja mengejek Aris karena hanya berkurban satu ekor kambing setiap tahun. Itu pun kambing kurus. Read the rest of this entry »

Wajah di Lidah Api

September 11, 2016 - One Response

Cerpen Daisy Rahmi (Jawa Pos, 11 September 2016)

wajah-di-lidah-api-ilustrasi-bagus

Wajah di Lidah Api ilustrasi Bagus

Bukan di dalam, tapi di luar. Di pekarangan. Semula Rhien tak menyadarinya. Ia sangat gembira memiliki rumah sendiri, setelah bertahun-tahun ngontrak. Bulan lalu ayah suaminya meninggal dunia, menyusul sang istri yang berpulang lebih dahulu. Sebagai satu-satunya keturunan, Andri mewarisi rumah milik orang tuanya. Hari ini ia mengajak istrinya menempati kediaman baru mereka. Saat tiba di depan rumah dan melihat pekarangan rumah yang cukup luas, Rhien berkhayal betapa bahagianya bila anak-anak mereka bermain di tempat itu. Hal yang belum terwujud walau pernikahan keduanya telah berusia 8 tahun. Read the rest of this entry »

Tukang Cukur

September 11, 2016 - Leave a Response

Cerpen Budi Darma (Kompas, 11 September 2016)

tukang-cukur-ilustrasi-muhammad-fatchi

Tukang Cukur ilustrasi Muhammad Fatchi

Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, Sekolah Dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.

Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apalagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot. Read the rest of this entry »

Talauma

September 10, 2016 - One Response

Cerpen Wihambuko Tiaswening Maharsi (Koran Tempo, 10-11 September 2016)

talauma-ilustrasi-munzir-fadly

Talauma ilustrasi Munzir Fadly

MENGHABISKAN waktu dengan orang yang tak kau sukai itu membutuhkan tenaga ekstra besar. Sungguh. Berapa makian yang susah payah kau telan kembali karena ia acap kali membuatmu naik pitam? Tapi ini kewajibanmu. Kau satu-satunya orang yang bisa ia andalkan di kota ini. Dan ia satu-satunya anak dari seorang lelaki yang, kata ibumu, berjasa banyak bagi keluargamu. Lelaki itu menebus ayahmu keluar dari penjara.

Kau sendiri tidak pernah bertemu dengan lelaki itu secara langsung, jadi tidak pernah tahu seperti apa orangnya. Ibumu sekali pernah bercerita bahwa ia bertubuh tinggi dan rupawan. Ia juga lelaki yang bertanggung jawab. Tak seperti ayahmu, imbuhnya. Read the rest of this entry »

Rahasia Mawar

September 4, 2016 - Leave a Response

Cerpen Leo Agung Srie Gunawan (Media Indonesia, 04 September 2016)

Rahasia Mawar ilustrasi Pata Areadi

Rahasia Mawar ilustrasi Pata Areadi

“Katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang mawar? Kalau tahu rahasia mawar, kau juga akan tahu rahasia keindahan.” Itu bunyi surat dari sahabatku. Ia kuliah di fakultas pertanian. Setelah aku membalas suratnya, ia katakan; “Kau belum tahu rahasianya.” Berkali-kali kujawab suratnya, ia bilang, “Rahasia itu masih tersembunyi bagimu.” Sampai surat yang terakhir, ia katakan; “carilah rahasianya.” Aku sungguh penasaran!

“Kalau tahu rahasia mawar, kau juga akan tahu rahasia keindahan.” Kalimat itu menggangguku siang-malam. Rahasia keindahan dari bunga mawar? Mawar dan keindahan, dua kenyataan atau satu kenyataan? Bunga mawar dan keindahan atau keindahan bunga mawar? Dua kenyataan yang terpisah atau dua kenyataan yang menyatu? Mengapa ia berani mengatakan rahasia mawar sama dengan rahasia keindahan? Aku benar-benar ingin tahu. Read the rest of this entry »