Quantum

May 1, 2016 - Leave a Response

Cerpen Nurul Alfiyah Kurniawati (Jawa Pos, 01 Mei 2016)

Quantum ilustrasi Bagus

Quantum ilustrasi Bagus

Je te vois partout dans le ciel

Je te vois partout sur la terre

Tu es ma joie et mon soleil

Ma nuit, mes jours, mes aubes claires *)

 

Marseille, 2016

Suara khas Edith Piaf seolah menggema di sepanjang jalan menuju katedral-katedral tua di Marseille. Kota terbesar kedua setelah Paris ini tak pernah sungkan membuatku terpesona. Dibingkai pantai Mediterania, dengan angin mistral yang bertiup dari utara di musim-musim terbaiknya. Hawa nostalgia semerbak dari segala arah, dalam setiap suasana. Read the rest of this entry »

Kawan Keluarga

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Rilda A Oe Taneko (Media Indonesia, 24 April 2016)

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

DAVE datang lagi. Untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Ketika ia masuk ke rumah, dibawanya pula salju dan udara dingin dari luar. Minus satu sore itu.

“Jika tidak keberatan, boleh kau tutup pintu?” tanya Wibi.

Dave menutup pintu. Ia melepas sarung tangan, kemudian memasukkannya ke kantong mantel. Topi dijejalkannya ke kantong satunya lagi. Ia membuka mantel dan menggantungnya di kaitan yang terletak di samping rak sepatu. Beberapa serbuk salju yang menempel di mantelnya jatuh ke lantai keramik khas zaman Victoria, meninggalkan bercak air di beberapa tempat. Read the rest of this entry »

Ular-ular Peliharaan Bapak

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 24 April 2016)

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Sudah berulangkali kami meminta Bapak berhenti. Memelihara ular bukan pilihan yang tepat. Apalagi dalam jumlah banyak. Dipelihara sejak baru menetas pun, ular tetap buas dan licin. Kalau ular-ular itu lepas dari kandang, Bapak dan kami sekeluarga pasti bingung. Seekor ular sajalepas bisa bikin geger orang sekampung, bahkan lebih.Ular itu bisa menyelinap masuk ke kamar, ke laci meja, ke lemari baju, bahkan ke brankas Bapak.

“Jangan pelihara ular, Pak! Mereka licik. Bisa-bisa Bapak ketularan.” Read the rest of this entry »

Robohnya Bukit Kami

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 24 April 2016)

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

SURAD berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis, tapi suara gemuruh dari hutan bagian selatan menghantuinya. Hutan di sisi barat ini jalan terpendek satu-satunya menuju tobu (kampung) Olondoro. Hujan telah menggemburkan tanah, membuat goyah bukit Lere’Ea yang mengelilingi desa di mulut tanjung itu.

Tapi, harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada. Read the rest of this entry »

Kisah Cinta yang Dungu

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 24 April 2016)

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Kisah Cinta yang Dungu ilustrasi Rendra Purnama

Gerimis baru saja reda. Senja tersaput mendung yang murung. Orang-orang bergegas dengan terburu: berlalu lalang dengan wajah panik memasuki ruang tunggu kereta di stasiun Tugu. Aroma perpisahan mengendap di setiap sudut stasiun.

Pun ditambah deru mesin kereta yang siap bergegas pergi: membuat seorang seolah terjebak pada keterbatasan ruang dan jarak untuk saling menyapa. Saling bertemu. Begitu pula dengan aku dan kau. Hari ini kita bagai ikut merayakan perpisahan di stasiun Tugu. Kita saling berpegang tangan: tidak mau telepas dan berpisah dari pertemuan terakhir yang sentimentil ini. Read the rest of this entry »

Jaket Kenangan

April 24, 2016 - One Response

Cerpen Gerson Poyk (Kompas, 24 April 2016)

Jaket Kenangan ilustrasi I Made Susanta Dwitanaya

Jaket Kenangan ilustrasi I Made Susanta Dwitanaya

Sudah lama aku meninggalkan sebidang tanah kebun yang kubeli beberapa tahun sebelumnya di Denpasar. Dulu, selama tinggal di Bali aku buka usaha garmen sehingga aku bisa membeli kebun itu. Karena anakku berbakat matematika dan di Bali tak ada fakultas matematika aku menjual pabrik garmenku untuk ongkos pindah ke Jakarta. Read the rest of this entry »