Pagar Ayah

June 26, 2016 - Leave a Response

Cerpen Niduparas Erlang (Media Indonesia, 26 Juni 2016)

Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi

Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi

TANAH basah. Rintik hujan masih berdenting. Kau hanya ingin berlari ke halaman, berkecipak di rumputan, dan berputar-berjingkrak dalam hujan. Lalu, mungkin kau akan berjingkat dan berteriak di muka rumah Kaf, memanggilnya berulang-ulang, dan mengajaknya berhujan-hujan. Kau mengira Kaf akan senang. Bukankah Kaf selalu tampak semringah jika kau ajak bermain? Tentu kau pun tahu, Kaf telah menyukai rambut kucir ekor kudamu dan bedak tabur yang tak rata pada pipimu, sejak kalian pertama kali bertemu di kelas satu SD Inpres Gedebong Cau.

Tapi kau tidak beranjak ke luar. Tubuhmu sedang demam. Dan ibu tentu akan marah besar jika tahu kau masih berhujan-hujan ketika ia tidak di rumah. Kau hanya termangu di ruang tamu, dan sesekali menyibakkan gorden ungu bergambar bangau terbang itu. Menempelkan kening, hidung, dan bibirmu pada kaca jendela yang sesekali bergetar saat guntur menggelegar. Kau merasakan dingin yang menular. Berpindah dari kaca jendela ke kening, hidung, dan bibirmu yang meninggalkan bekas lucu di kaca bening itu. Read the rest of this entry »

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray

June 26, 2016 - Leave a Response

Cerpen Adam Yudhistira (Jawa Pos, 26 Juni 2016)

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus

KETIKA Russel Donovan dibawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberi tahu bahwa Russel akan diinterogasi. Read the rest of this entry »

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua

June 26, 2016 - Leave a Response

Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. Read the rest of this entry »

Kotak Amal

June 19, 2016 - Leave a Response

Cerpen Wayan Jengki Sunarta (Media Indonesia, 19 Juni 2016)

Kotak Amal ilustrasi Ade Praditas

Kotak Amal ilustrasi Ade Praditas

BEBERAPA bulan terakhir, kotak amal di sebuah rumah ibadah di kota kecil itu berisi banyak uang. Setiap akhir bulan, pengurus rumah ibadah rajin memeriksa dan menghitung jumlah uang yang ada di kotak amal itu. Dan, pengurus selalu heran, bercampur takjub.

“Ini tidak seperti biasanya,” ujar seorang pengurus.

“Iya, biasanya isinya tidak jauh beda dengan kotak uang di WC umum…” sahut pengurus yang lain.

“Kira-kira siapa dermawan yang telah beramal begini banyak? Kudoakan semoga ia masuk surga.” Read the rest of this entry »

Lelaki Tua dan Kudanya

June 19, 2016 - Leave a Response

Cerpen Bonifasius Bulu (Jawa Pos, 19 Juni 2016)

Lelaki Tua dan Kudanya ilustrasi Bagus

Lelaki Tua dan Kudanya ilustrasi Bagus

DARI balik dinding bambu, melalui celah sebesar bola mata, di bawah remang rembulan, Malo Lede dapat melihat begitu jelas bayang-bayang berkelebat dekat kangali [1]. Ia tak tahu berapa jumlah pasti mereka, yang jelas lebih dari satu, dan tak kan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Perlahan ia melepas kain yang membungkus tubuhnya. Rasa nyeri yang amat sangat menyerang pinggangnya begitu ia berdiri. Dengan berjinjit, ia melangkah penuh hati-hati menuju bilik kecil di satu sudut ruangan, menghindari bambu-bambu yang dapat berderak begitu ia menjejakkan kaki, menghindari baris-baris sinar rembulan yang menerobos celah-celah dinding. Begitu tiba di bilik itu, segera ia raih sebatang tombak dan kembali ke tempat pengintaiannya. Read the rest of this entry »

Tanah Air

June 19, 2016 - Leave a Response

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela.

Tanpa menatapku barang sekejap pun, seperti berbisik pada dedaunan di luar, lagi-lagi dia mengulangi igauan yang saban pagi, menjelang matahari terbit, diucapkannya seperti merapal mantra. Atau pesan yang aku tak tahu kepada siapa. “Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi, yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah yang kelihatan membuat penderitaannya lebih dalam. Read the rest of this entry »