Obituarium Patah Hati

July 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Dicky Zulkarnain (Media Indonesia, 24 Juli 2016)

Obituarium Patah Hati ilustrasi Pata Areadi

Obituarium Patah Hati ilustrasi Pata Areadi

ORANG dungu juga pasti tahu, tak ada yang kekal di dunia ini, bahkan secuil ingatan tentang cinta pertama sekalipun.

Kalimat konyol itu tercetak pada sudut halaman 19 di koran minggu pagi, di salah satu kolom obituarium yang berada di antara kotak-kotak iklan penawaran rumah kontrakan dan krim antikebotakan. Di bawahnya, tertera foto hitam putih seorang wanita dengan rambut sebahu, wajah oval, mata sipit, dan bibir kaku tanpa senyuman. Rest in peace. Nyonya Maria Kornelia telah pergi meninggalkan dunia yang kejam ini, tanpa sudi menikmati kesedihan sanak keluarga serta orang-orang dalam kehidupannya. Tanpa ada suntingan dari redaktur, kata-kata itu tercetak persis seperti yang diinginkan oleh klien. Read the rest of this entry »

Di Stasiun Kereta Api

July 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Kurnia Gusti Sawiji (Suara Merdeka, 24 Juli 2016)

Di Stasiun Kereta ilustrasi Suara Merdeka

Di Stasiun Kereta ilustrasi Suara Merdeka

Jati diri hilang di stasiun kereta api. Tidak ada yang tahu apakah barang itu hilang di tengah keramaian peron atau terseret kereta api. Tidak ada yang tahu atau mau tahu, kecuali seorang penjaga loket tiket.

Ia adalah seorang lelaki paruh baya yang sudah menjaga loket semenjak ia masih akil baleg. Adalah ayahnya yang menurunkan pekerjaan itu kepadanya, dan adalah kakeknya yang menurunkan pekerjaan itu kepada sang ayah, dan begitu seterusnya berurut ke atas. Singkat kata, pekerjaan menjaga loket tiket adalah sebuah pekerjaan turun-temurun, dan kelak ia juga akan menurunkan pekerjaan ini kepada anak lelakinya yang tak lama lagi akil baleg. Read the rest of this entry »

Tubuh yang Dikerubungi Semut

July 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 24 Juli 2016)

Tubuh yang Dikerubungi Semut ilustrasi Bagus

Tubuh yang Dikerubungi Semut ilustrasi Bagus

SIAPA yang tak mengenal Salgi? Perempuan itu sekarat selama 20 tahun dan sepertinya belum akan mati hingga beberapa tahun yang akan datang. Di rumah yang terbuat dari kayu tenam, ditemani lelaki yang pernah mencintainya (lelaki itu kini duduk menungguinya, meski hati dan pikirannya berlayar ke laut jauh), sepanjang waktu Salgi telentang dengan mata lebih banyak tertutup dan tubuh yang diam. Hampir semua kulit punggungnya hitam dan mengelupas akibat tidur yang panjang itu hingga memperlihatkan beberapa bagian daging merah pucat. Kuku-kukunya bulat berwarna kehijauan seolah akan segera meletus dan mengeluarkan cairan busuk. Kepalanya sudah lama sekali botak, menyisakan rambut tipis tak merata mirip bulu anak burung baru keluar dari cangkang telur. Read the rest of this entry »

Setelah 16.200 Hari

July 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 24 Juli 2016)

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

Setelah 16.200 Hari ilustrasi Ida Bagus Shindu Putra

– Cerita untuk Gus Mus dan almarhumah Nyai Siti Fatmah Mustofa

 

/1/

“Allah telah mengutusku, Nyai.” [1]

“Ya, aku tahu…”

“Aku tidak bisa menghambat atau mempercepat.”

“Tetapi Abah [2] masih tidur.”

“Nanti kiai mulia itu akan bangun juga.”

“Aku sangat mencintainya.”

“Aku tahu.”

“Mengapa harus sekarang? Aku masih 62 tahun, Abah baru 72 tahun.” Read the rest of this entry »

Buntalan Mikail

July 23, 2016 - Leave a Response

Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 23-24 Juli 2016)

Buntalan Mikail ilustrasi Munzir Fadly

Buntalan Mikail ilustrasi Munzir Fadly

MIKAIL melipat mendung, kemudian memasukkannya dalam buntalan bawaannya. Ia hendak beranjak, namun memergokiku yang sedang menatapnya tidak percaya. Seketika aku sadar telah berada pada tempat yang salah.

“Hai! Kau yang mencuri dari buntalanku?”

Aku harus cepat-cepat menghilang dari tempat ini. Aku berbalik dan mulai berlari, memutar otak, berpikir tentang tempat yang harus dituju.

“Jangan lari! Kau!” ujarnya penuh amarah.

Langkah kakiku menjadi sangat berat. Read the rest of this entry »

Rendang Buatan Ibu

July 17, 2016 - Leave a Response

Cerpen Ahda Imran (Media Indonesia, 17 Juli 2016)

Rendang Buatan Ibu ilustrasi Pata Areadi

Rendang Buatan Ibu ilustrasi Pata Areadi

DEDAK rendang itu dijumputnya dengan tiga ujung jari, dibenamkannya ke dalam nasi. Lalu pelan dan hati-hati dua jari itu mengoyak serat daging sambil menekannya agar tidak menggelincir, menaruhnya bersama dedak rendang tadi. Daging dan dedak rendang terbenam dalam suapan nasi hangat, masuk pelan ke dalam mulutnya. Ia makan begitu nikmat seolah baru pertama merasakan rendang Padang. Ia makan tak ubahnya anak bujang di hadapan keluarga calon istrinya.

Rendang dan sambal cabai hijau. Itu selalu yang dimintanya, tanpa rebus daun singkong, kuah gulai, atau ulam irisan mentimun. Ia tak pernah tertarik pada dendeng balado, gulai usus, kikil, cincang, paru, atau gulai kepala kakap. Tampaknya ia memang datang ke kedai nasi kami hanya untuk makan dengan rendang. Lelaki itu sangat pendiam. Kukira umurnya lebih muda barang lima atau tujuh tahun dari suamiku. Read the rest of this entry »