Hajar Aswad

August 21, 2016 - Leave a Response

Cerpen Zaenal Radar T (Media Indonesia, 21 Agustus 2016)

Hajar Aswad ilustrasi Pata Areadi

Hajar Aswad ilustrasi Pata Areadi

PEKERJAAN saya adalah merayu orang-orang yang berada di sekitar Kabah, terutama yang berwajah Asia dan mengerti bahasa Indonesia. Saya menawarkan, apakah mereka sudah mencium Hajar Aswad? Ini saya lakukan terutama kepada jemaah yang sedang sendirian. Jemaah yang sepertinya ingin sekali mencium dan mengelus batu hitam yang letaknya di pojokan bangunan Kabah, tapi mereka tidak sanggup atau belum dapat kesempatan. Tak mudah mendekati Hajar Aswad, apalagi mencium atau sekadar mengelusnya.

Siapa saja yang setuju dengan penawaran saya, dengan gerak refleks dan sejurus kode kepada teman-teman saya, maka kami langsung berupaya menggerakkan orang yang setuju dengan penawaran tadi. Saya dan teman-teman (sekitar empat atau lima orang) sudah hafal di luar kepala, bagaimana caranya agar orang yang meminta bantuan bisa mendekatkan tubuhnya mengarah ke sudut Hajar Aswad, sampai akhirnya dia mampu meraba-raba dan mencium batu hitam itu. Read the rest of this entry »

Tawa Gadis Padang Sampah

August 21, 2016 - Leave a Response

Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 21 Agustus 2016)

Tawa Gadis Padang Sampah ilustrasi Nyoman Suyadnya

Tawa Gadis Padang Sampah ilustrasi Nyoman Suyadnya

Korep, Carmi, dan Sopir Dalim adalah tiga di antara banyak manusia yang sering datang ke padang pembuangan sampah di pinggir kota. Dalim tentu manusia dewasa, sopir truk sampah berwarna kuning dengan dua awak. Dia pegawai negeri, suka lepas-pakai kacamatanya yang berbingkai tebal. Carmi sebenarnya masih terlalu muda untuk disebut gadis. Korep anak laki-laki yang punya noda bekas luka di atas matanya. Keduanya pemulung paling belia di antara warga padang sampah.

Sopir Dalim sesungguhnya pemulung juga. Dia mengatur kedua pembantunya agar memulung barang-barang bekas paling baik ketika sampah masih di atas truk. Perintah itu diberikan terutama ketika truknya mengangkut sampah dari rumah-rumah amat megah di Jalan Anu. Ikat pinggang kulit yang dipakai Sopir Dalim juga barang pulungan. Katanya, itu barang buatan Perancis yang dibuang oleh pemiliknya hanya karena ada sedikit noda goresan. Katanya lagi, kebanyakan penghuni rumah-rumah megah itu hanya mau memakai barang-barang terbaik tanpa noda sekecil apapun. Read the rest of this entry »

Badut

August 14, 2016 - Leave a Response

Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 14 Agustus 2016)

Badut ilustrasi Pata Areadi

Badut ilustrasi Pata Areadi

SEPULUH tahun sudah Fahri menjalani kehidupannya sebagai badut di sebuah kelompok sirkus keliling. Dari kota ke kota Fahri dan kelompoknya setia mengais rejeki. Banyak orang mengenal nama Fahri karena kelompok sirkus itu juga kerap muncul di koran. Formasi para pemainnya, nama dan perannya, tentu saja diingat baik, lekat di hati masyarakat. Tentu juga, banyak aksi dalam sirkus keliling itu yang ditunggu-tunggu. Ada atraksi menegangkan antara orang dan harimau. Orang dan ular. Orang dan gajah. Orang dan lingkaran api, dan sebagainya.

Namun, diam-diam, di antara semua atraksi menegangkan itu, yang paling ditunggu adalah aksi Fahri. Aksi Fahri selalu mengundang gelak tawa. Memang, ia akan selalu beraksi sebagai pemecah suasana tegang, setelah atraksi-atraksi sebelumnya yang sungguh mendebarkan. Read the rest of this entry »

Roh Meratus

August 14, 2016 - Leave a Response

Cerpen Zaidinoor (Kompas, 14 Agustus 2016)

Roh Meratus ilustrasi I Made Ananta Wijaya

Roh Meratus ilustrasi I Made Ananta Wijaya

Belantara ini seperti memiliki kutukan. Rojik adalah orang ketiga yang dijemput ajal. Mayatnya terbujur kaku di hadapan kami. Seluruh tubuhnya menguning. Persis seperti dua teman kami sebelumnya. Sekarang yang tersisa hanya Budir dan aku. Dan hidup kami tak lebih dari undian mengerikan. Menduga-duga giliran siapa yang akan mati.

Tak ada siapa pun yang bisa dimintai pertolongan. Jarak antara permukiman warga lokal dan pondok kami hampir 10 kilometer. Tak mungkin kami berdua membopong tubuh Rojik naik turun gunung hanya untuk menguburkannya di permukiman sana. Kami menguburkan Rojik tepat di samping pondok.

Setelah penguburan Rojik, kami duduk di teras pondok. Sore ini mulai gerimis. Budir menyalakan rokok. Ia tampak gelisah. “Aku sudah tak tahan lagi berada di tempat busuk ini,” katanya. Jari tempat rokoknya terselip gemetar. Read the rest of this entry »

Kisah Sepotong Pai

August 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 07 Agustus 2016)

Kisah Sepotong Pai ilustrasi Pata Areadi

Kisah Sepotong Pai ilustrasi Pata Areadi

TAS plastik putih bertuliskan nama toko roti itu tergeletak lunglai di tepi trotoar. Ada bekas goresan tipis yang cukup membuat tas plastik itu nyaris koyak menjadi dua. Di dalam tas plastik itu ada sebuah kardus mungil yang sudah penyok. Dalam kardus penyok itu ada sepotong pai. Sepotong pai kacang yang juga sudah bonyok. Tak berbentuk lagi. Kardus penyok itu sedikit basah di bagian atas. Mungkin karena lelehan saus atau gula atau mentega.

Sepotong pai yang tersesat dan tak lagi memiliki tuan. Sepotong pai yang kehilangan takdirnya sebagai pai lezat yang seharusnya karam dengan bahagia di lambung seorang bocah. Sepotong pai yang menyedihkan. Read the rest of this entry »

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri

August 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Agus Noor (Kompas, 07 Agustus 2016)

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo

Koruptor atau bukan, ada baiknya kalian menyimak cerita anjing Pak Kor ini. Setiap orang punya nasibnya sendiri-sendiri, tetapi kalau ada anjing yang nasibnya lebih beruntung dari manusia, sudah sepantasnya kalau kami iri.

Sebleh, seorang pemulung, menemukan anjing yang sekarat di tempat pembuangan sampah. Tubuh anjing itu bobrok oleh borok, belepotan lumpur penuh kutu dengan kepala belepotan darah terkena bacokan. Begitu menyedihkan anjing itu, sampai maut pun tak berani mendekat. Sebleh membawa anjing itu bukan tersebab kasihan, tapi karena ia berpikir bisa menjual anjing itu ke penjual daging anjing. Sebleh mengikat kedua kaki anjing itu, kemudian berhari-hari menjemurnya di atap seng, berharap luka penuh kutu di kulit anjing itu mengering dan ia bisa menjualnya dengan harga sedikit mahal. Kalau pun tak laku, ia bisa menyembelih anjing itu untuk anak istrinya yang belum tentu setahun sekali makan daging. Read the rest of this entry »