Satu Hari di Awal Musim Semi

February 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 07 Februari 2016)

 

Suatu Hari di Awal Musim Semi ilustrasi Pata Areadi

Suatu Hari di Awal Musim Semi ilustrasi Pata Areadi

GADIS itu sedang mengamati deretan bunga Peony yang berbaris di halaman kuil ketika seorang lelaki muda menyentuh pundaknya.

Sore itu adalah awal musim semi, setelah bulan-bulan dengan suhu setajam jarum es, kini bunga-bunga mulai bermekaran, kuncup bunga Peony adalah yang pertama menarik perhatian gadis itu.

“Aku membayangkan mereka berbaris menyambut keberuntungan tahun baru. Kelopaknya lebar dan berdesakan.” Read the rest of this entry »

Perempuan Leter

February 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Zainul Muttaqin (Suara Merdeka, 07 Februari 2016)

 

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Perempuan Leter ilustrasi Hery Purnomo

Sadiman masih merasakan kantuk bergantung pada sepasang matanya. Semalaman dikerubungi nyamuk-nyamuk hutan yang menggerayangi tubuhnya. Ia menyerapahi Sarkab yang semalam mendadak minta ijin pulang lantaran istrinya mau melahirkan. Dengan wajah masam Sadiman mengangguk. Pagi terasa lembab saat lelaki usia kepala dua itu menarik kain sarungnya, melindungi tubuh ringkihnya dari serangan dingin. Read the rest of this entry »

Judi Kodok-Kodok

February 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 07 Februari 2016)

Judi Kodok-Kodok ilustrasi Bagus

Judi Kodok-Kodok ilustrasi Bagus

DULU saat aku masih kecil, di kampung kami semua orang bisa bermain judi dengan bebas dan riang di teras rumah, pekarangan, bahkan di pinggir jalan, tanpa harus takut diciduk polisi atau sekadar diganggu tentara yang datang meminta uang dengan pongah. Tidak seperti sekarang, mesti sembunyi-sembunyi di sepetak kamar pengap atau di balik kandang babi; yang ujung-ujungnya jika ketahuan dan digerebek, perkaranya tetaplah juga uang!

Itu hanya bisa terjadi pada masa-masa Paman A Nam masih hidup dan berjaya sebagai juragan lada, tauke beras, dan pemilik dua buah toko kelontong besar di pasar, sekaligus bandar togel Singapura. Para anak buahnya—ai, semacam pegawai tak resmi yang jika tertangkap haruslah bung kam—enjoy berkeliaran dari rumah ke rumah dengan pulpen dan kupon putih. Jumlahnya mungkin ada puluhan: tua-muda, laki-perempuan, sampai gadis-gadis remaja. Layaknya para sales panci, siang-malam mereka menjajakan angka dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun bermotor. Sebagian hingga ke kampung-kampung lain di sekitar, termasuk perkampungan Melayu. Read the rest of this entry »

Kerudung Perca dari Balik Jeruji

February 7, 2016 - One Response

Cerpen Novaldi Herman (Republika, 07 Februari 2016)

Kerudung Perca dari Balik Jeruji ilustrasi Rendra Purnama

Kerudung Perca dari Balik Jeruji ilustrasi Rendra Purnama

“Iah? Jariah? Ada apa?” Lamunan Jariah tampak menerawang. Sepikir baginya berlalu begitu saja. Ia tengah mengingat-ingat masa silam. Panggilan Putri Nolita membuyarkan itu.

“Ah! Tidak, tidak, Put,” ia menjawab sedikit tersenyum. “Hanya teringat beberapa kenangan, tak begitu berarti. Mari, kita lanjutkan. Sudah selesai rajutan yang engkau buat?”

“Belum. Masih sepintalan benang lagi. Ini, kerjakan saja dulu. Pasangkan sarong ke busa.” Read the rest of this entry »

Arwah Kunang-kunang

February 7, 2016 - Leave a Response

Cerpen Rafael Yanuar (Kompas, 07 Februari 2016)

Arwah Kunang-kunang ilustrasi Kadek Eko

Arwah Kunang-kunang ilustrasi Kadek Eko

Tak banyak berubah, rupanya. Papan-papan kayu dipenuhi buku bekas, juga aroma kertas tua yang menguar di sepanjang jalur pustaka. Semuanya, masih sama seperti lima belas tahun silam.

Dekat pintu masuk, aku melihat perempuan muda berambut panjang, sedang menopang dagu sambil sesekali membuka majalah yang dipenuhi resep-resep makanan. Ia teman kecilku. Ingin aku bertukar kabar, bersama melamunkan hari-hari yang berlalu semenjak kepergian itu. Namun, sepertinya ia sudah lupa padaku. Read the rest of this entry »

Perihal Sial Seminggu

February 6, 2016 - Leave a Response

Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 06-07 Februari 2016)

Perihal Sial Sehari ilustrasi Munzir Fadly.jpg

Perihal Sial Seminggu ilustrasi Munzir Fadly

Ahad

Pagi, setelah membeli Koran (yang kabarnya memajang puisiku) aku mendatangi kafe kecil langgananku. Kafe itu masih sepi sebab aku datang terlalu pagi. Aku tak tahu persis jam berapa waktu itu. Sebelum aku membuka koran, seorang perempuan tiba-tiba duduk di sebelahku. Bajunya ketat, roknya pendek. Rambutnya hitam dan panjang. Poninya rapi. Ia tersenyum dan giginya tampak bersih. Bekas cacar di sudut kanan bibirnya membuat ia makin manis saja. Ia mendekatkan duduknya ke dudukku.

“Mas penyair, ya?” Read the rest of this entry »