Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran

September 18, 2016 - Leave a Response

Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 18 September 2016)

sebuah-kasus-ganjil-di-sebuah-restoran-ilustrasi-fsm

Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran ilustrasi FSM

Sosok itu terlihat gelisah sejak awal-awal duduk di kursi itu. Hingga beberapa menit ke depan, entah sudah berapa kali ia menengok jam dinding. Seperti tengah menunggu sesorang.

Seorang pelayan sempat menghampirinya—menanyakan pesanan. Tapi dia hanya tersenyum saat itu, seperti telah menemukan apa yang ia cari, meski tak memberi jawab sama sekali. Seperti orang yang pelit kata-kata. Atau bahkan mungkin bisu. Membuat pelayan itu memajukan bibir—tapi berusaha memaklumi. Duapuluh menit kemudian pelayan itu tetap membawakan secangkir teh hangat ke meja itu.

“Cuma dua ribu,” kata si pelayan. “Daripada cuma menganggur. Kalau tak mau, maksudku tak sanggup bayar, biar aku yang bayar. Tak enak sama si bos, kalau sampai beliau lihat kau cuma mampir untuk duduk.” Read the rest of this entry »

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga

September 18, 2016 - Leave a Response

Cerpen Ni Komang Ariani (Jawa Pos, 18 September 2016)

telapak-kaki-yang-menyimpan-surga-ilustrasi-bagus

Telapak Kaki yang Menyimpan Surga ilustrasi Bagus

SATU harian ini aku mengelus-elus telapak kakiku. Sesekali mencoba menghadapkannya ke arah mukaku. Untuk melihat surga yang konon tersimpan di sana.

Setiap malam menjadi dingin dan kering, ia kisahkan cerita itu. Tentang surga yang tersembunyi di balik serat-serat hitam di telapak kakiku. “Di balik keburukan, selalu tersimpan kebaikan. Kebaikan tak akan hilang walaupun tersimpan di tempat yang buruk. Jangan mengeluhkan telapak kakimu yang buruk, kaki yang buruk menunjukkan kau sudah memanfaatkannya sebaik-baiknya. Untuk berbakti. Untuk menjadi perempuan yang agung.”

Mahluk yang agung. Itulah yang ia katakan tentangku. Sambil mengusap keningku yang mungkin bercahaya, ia perdengarkan lagi suaranya yang merdu di telingaku. “Segala lakumu akan membanggakan aku, atau mempermalukanku. Kalau kau meninggikan dirimu, aku pun menjadi tinggi.” Aku mendengarkan dengan takzim. Menekuri kuku-kuku kakiku yang telah panjang dan tidak terawat. Read the rest of this entry »

Nalea

September 18, 2016 - Leave a Response

Cerpen Sungging Raga (Kompas, 18 September 2016)

nalea-ilustrasi-hery-sudiono

Nalea ilustrasi Hery Sudiono

Tidurlah, Nalea. Esok kita abadi.

***

Gadis kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.

“Ini, pakai jaket,” kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. “Sepertinya kamu masuk angin.”

Mereka sedang berteduh di etalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin di sekujur kota. Read the rest of this entry »

Kasidah

September 17, 2016 - Leave a Response

Cerpen Candra Malik (Koran Tempo, 17-18 September 2016)

kasidah-ilustrasi-imam-yunni

Kasidah ilustrasi Imam Yunni

BIBIRMU memberiku ciuman paling rumit dari sekian banyak pengalaman berkecupan. Dari mula, aku sudah curiga desismu melebihi angin lalu. Sekali pagutan denganmu, puisi yang telah kuracik dari bumbu perjalanan terbaik ini seketika enyah dari ingatan dan hanya kau yang tak bisa kulupa. Ah, aku jadi tahu mengapa Calzoem menenggak bir setiap senja.

“Kau jangan mulai main dengan perempuan itu,” tegur Calzoem.

“Tapi aku perlu kata paling tepat,” sergahku. Read the rest of this entry »

Kambing Sebbal

September 11, 2016 - One Response

Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 11 September 2016)

kambing-sebbal-ilustrasi-pata-areadi

Kambing Sebbal ilustrasi Pata Areadi

APABILA aku berubah menjadi kambing, lalu dikorbankan saat Idul Adha, akankah itu bisa menjadi kendaraan ibu pergi ke surga?

Angan-angan itu terus berkecamuk dalam pikiran Sebbal, laki-laki dewasa yang terperangkap dalam tubuh dan kapasitas otak yang tak lebih baik dari seekor kerbau.

“Tentu saja bisa,” sambut Pak Baonk. Kala itu mereka sedang berada di pos ronda.

“Bagaimana bisa, Pak?” sahut Sebbal terheran-heran.

“Kalau kau membaca karya Franz Kafka, diceritakan Gregor Samsa, si tokoh utama, berubah menjadi kecoak,” Pak Baonk melanjutkan penjelasannya. “Kau ingin berubah menjadi kecoak?” Read the rest of this entry »

Kambing Kurban dan Sepotong Hati

September 11, 2016 - One Response

Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 11 September 2016)

kambing-kurban-dan-sepotong-hati-ilustrasi-hery-purnomo

Kambing Kurban dan Sepotong Hati ilustrasi Hery Purnomo

Orang-orang masih duduk berkumpul di teras masjid. Seorang takmir yang juga ikut nimbrung dengan pujian penuh kebahagiaan bercerita tentang sedekah Pak Aris. Pada mulanya Pak Aris memang pelit. Tapi, kini ia ingin berkurban pada hari raya kurban. Hanya Pak Aris satu-satunya warga yang memberikan sapinya. Selain itu, kadang hanya tiga ekor kambing. Ada yang urunan. Tapi, Kurnia selalu rutin memberikan kambing ternaknya untuk kurban pada hari raya.

Di tengah embusan angin perbincangan sebagian huruf-huruf meniupkan aroma yang membuat Kurnia harus menanggung malu. Seorang warga selalu memuji Pak Aris dengan hewan kurbannya yang tak tanggung-tanggung. Dua ekor sapi. Tapi, di tengah pujian itu, ada kata-kata yang memang sengaja mengejek Aris karena hanya berkurban satu ekor kambing setiap tahun. Itu pun kambing kurus. Read the rest of this entry »