Kitab Ular

May 8, 2016 - 2 Responses

Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 08 Mei 2016)

Kitab Ular ilustrasi Farid

Kitab Ular ilustrasi Farid

Hah… hah… hah…

Matahari tepat di atas kepalaku. Keringat seperti sudah membasuh tubuhku. Membasahi seluruhnya. Mulai kurasakan kakiku tak lagi sekokoh sebelumnya, seakan tanah yang kujejak terasa goyah. Aku tahu dalam keadaan seperti ini, aku seharusnya berhenti sejenak untuk beristirahat. Ini sudah memasuki hari kedua aku berlari. Wadah airku telah kosong—kosong beberapa saat setelah aku meninggalkan dusunku—tapi aku terpaksa menolak keinginan itu. Kupikir, di padang gersang seperti ini, istirahat hanyalah sesuatu yang percuma.

Hah… hah… hah… Read the rest of this entry »

Cerita Kedasih

May 8, 2016 - One Response

Cerpen R Giryadi (Kompas, 08 Mei 2016)

Cerita Kedasih ilustrasi Dyan Anggraini

Cerita Kedasih ilustrasi Dyan Anggraini

“Itu burung apa, Mak?” tanya Mimin pada Kedasih, emaknya, ketika sore memerah jingga.

Kedasih pun bercerita tentang burung-burung yang sering nangkring di pohon tak jauh dari rumah Tuannya. Itulah hiburan yang bisa menambal sedih anaknya karena saban hari harus dikurung dalam kamar emaknya.

Kamar yang berukuran 3 x 4 itu, bekas gudang Tuannya. Gudang butut itu, hanya terdiri dari satu dipan dan almari yang sudah pecah kacanya. Sebuah televisi yang separuh gambarnya hilang, tanpa remote. Di satu sisi tembok kamar ada jendela menghadap ke jalan, sehingga Mimin bisa melihat pokok pohon trembesi yang tumbuh berjajar-jajar sepanjang jalan depan rumah Tuannya. Read the rest of this entry »

Quantum

May 1, 2016 - Leave a Response

Cerpen Nurul Alfiyah Kurniawati (Jawa Pos, 01 Mei 2016)

Quantum ilustrasi Bagus

Quantum ilustrasi Bagus

Je te vois partout dans le ciel

Je te vois partout sur la terre

Tu es ma joie et mon soleil

Ma nuit, mes jours, mes aubes claires *)

 

Marseille, 2016

Suara khas Edith Piaf seolah menggema di sepanjang jalan menuju katedral-katedral tua di Marseille. Kota terbesar kedua setelah Paris ini tak pernah sungkan membuatku terpesona. Dibingkai pantai Mediterania, dengan angin mistral yang bertiup dari utara di musim-musim terbaiknya. Hawa nostalgia semerbak dari segala arah, dalam setiap suasana. Read the rest of this entry »

Pendaki Bukit Nyanyian

April 30, 2016 - Leave a Response

Cerpen Karisma Fahmi Y. (Koran Tempo, 30 April-01 Mei 2016)

Pendaki Bukit Nyanyian ilustrasi Munzir Fadly

Pendaki Bukit Nyanyian ilustrasi Munzir Fadly

LAGU itu kembali terdengar. Kami berpandangan, lalu diam seribu kata. Itu bukan suara angin, bukan pula derap gema yang melintasi tebing. Dia ada di antara kami untuk saling menguji. Itulah mengapa bukit ini disebut Bukit Nyanyian. Karena ia tegak berdiri dan selalu bernyanyi. Selalu terdengar seseorang menyanyi di bukit kecil ini. Bernyanyi kecil, seolah lagu untuk diri sendiri.

Lagu itu terdengar timbul tenggelam. Kami terus melanjutkan perjalanan dalam diam. Debu, batu, dan nyali mulai runtuh satu persatu di tengah terjal dan curam tanah pegunungan ini, pegunungan yang telah puluhan kali kutaklukkan tapi belum juga menjawab berbagai pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menyelimuti diriku tentang lagu yang dinyanyikan itu. Read the rest of this entry »

Kawan Keluarga

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Rilda A Oe Taneko (Media Indonesia, 24 April 2016)

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

Kawan Keluarga ilustrasi Reza Pratmoko

DAVE datang lagi. Untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Ketika ia masuk ke rumah, dibawanya pula salju dan udara dingin dari luar. Minus satu sore itu.

“Jika tidak keberatan, boleh kau tutup pintu?” tanya Wibi.

Dave menutup pintu. Ia melepas sarung tangan, kemudian memasukkannya ke kantong mantel. Topi dijejalkannya ke kantong satunya lagi. Ia membuka mantel dan menggantungnya di kaitan yang terletak di samping rak sepatu. Beberapa serbuk salju yang menempel di mantelnya jatuh ke lantai keramik khas zaman Victoria, meninggalkan bercak air di beberapa tempat. Read the rest of this entry »

Ular-ular Peliharaan Bapak

April 24, 2016 - Leave a Response

Cerpen Rahmy Madina (Suara Merdeka, 24 April 2016)

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Ular-ular Peliharaan Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Sudah berulangkali kami meminta Bapak berhenti. Memelihara ular bukan pilihan yang tepat. Apalagi dalam jumlah banyak. Dipelihara sejak baru menetas pun, ular tetap buas dan licin. Kalau ular-ular itu lepas dari kandang, Bapak dan kami sekeluarga pasti bingung. Seekor ular sajalepas bisa bikin geger orang sekampung, bahkan lebih.Ular itu bisa menyelinap masuk ke kamar, ke laci meja, ke lemari baju, bahkan ke brankas Bapak.

“Jangan pelihara ular, Pak! Mereka licik. Bisa-bisa Bapak ketularan.” Read the rest of this entry »