Kelelawar di Atas Kepala Mama
June 22, 2014


Cerpen Erna Surya (Suara Merdeka, 22 Juni 2014)

Kelelawar di atas kepala mama ilustrasi hery purnomo

MAMA tak pernah marah padaku. Ia selalu muncul sebagai peri nan cantik. Rambut panjang mama tergerai indah, itu yang selalu kulihat. Selebihnya, suara lembut yang kudengar bila ia dekat-dekat denganku. Mama tak pernah meninggalkanku di malam hari. Pernah aku tersedak ketika tengah makan malam. Ia menepuk-nepuk punggungku seraya berkata, ’’Tak apa-apa.’’ Ah, mama yang baik.

’’Kau sudah besar.’’  (more…)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta
May 25, 2014


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’ (more…)

Lelaki Pohon Ubi Kayu
May 18, 2014


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan (Suara Merdeka, 18 Mei 2014)

Lelaki Pohon Ubi Kayu ilustrasi Toto

LOM selalu membayangkan dirinya adalah sebatang pohon ubi kayu ketika melihat Tin, perempuan yang selalu menyunggi goni yang berisi kangkung-kangkung itu, melintas dari kebun ubi miliknya saat senja tiba. Sedangkan Tin, ia bayangkan sebagai kangkung-kangkung yang menjalar di setiap kujur batang tubuhnya.

Namun, hanya hasrat Lom belaka. Sebab, Tin sudah mempunyai suami yang bernama Jon. Ketika Lom sadar bahwa Tin bersuamikan Jon, maka seketika itu khayalannya buyar bagai lebah-lebah yang berhamburan dari sarangnya karena serbuan asap.  (more…)

Tarian Membakar Diri
May 11, 2014


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 11 Mei 2014)

Tarian Membakar Diri ilustrasi Farid

DALAM hati Ratu bertanya: mengapa mesti bimbang menarikan Sinta membakar diri di Teater Fujian? Telah berhari-hari, sebelum berangkat ke Fuzhou, Ratu melatih kelenturan tubuh di sanggarnya untuk bisa menarikan Sinta: antara keputusasaan dan harapan, antara pasrah dan menggugat Rama. Berpakaian serbaputih, gerakan tubuh gadis itu menyuarakan kepedihan hati perempuan suci yang mencebur dalam kobaran api. Ratu menepis rasa terasing, menari di panggung Teater Fujian, diiringi gamelan, membawakan tarian Sinta yang mesti membakar diri di hadapan penonton sebuah negeri yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia memerankan tarian seorang putri yang tersia-siakan, dengan gerak tubuh yang menyimpan kemarahan terpendam.  (more…)

Kekasih Ameba
May 4, 2014


Cerpen Radna Tegar Zakaria (Suara Merdeka, 4 Mei 2014)

Ameba ilustrasi

RAYYA menjuluki suaminya SR dengan ameba. Rayya yakin bahwa SR bisa membelah diri seperti ameba hingga mampu berada di pelbagai tempat dan aneka kondisi, mulai taman-taman bunga di tengah kota berlumurkan senja romantis, pasar ikan amis, konser metal, atau menemani kutu buku di perpustakaan, untuk menggoda wanita-wanita lantas mengajak kencan. Sangat mungkin ameba sekarang sedang duduk bersama Anda, Anda, Anda, dan Anda karena kemampuannya melipatgandakan raga.

”Dia lihai membelah diri.“  (more…)

Lukisan Pelangi Ama
April 27, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 27 April 2014)

Lukisan Pelangi Ama ilustrasi Farewell

HUJAN baru saja berhenti beberapa saat lalu. Dari teras rumah, Ama masih menatap lekat lengkung pelangi yang menggurat di langit biru. Ia memandangnya seolah ada yang ia lihat selain garis warna merah, kuning dan hijau yang sudah mulai pudar itu. Kuperhatikan wajahnya. Masih ada gurat sedih di wajah mungilnya itu.

‘’Apakah ia masuk surga, Tante?’’ gumamnya tanpa berpaling dari lengkung pelangi itu.  (more…)

Jurus Pamungkas
April 20, 2014


Cerpen Fahdiant Uge (Suara Merdeka, 20 April 2014)

Jurus Pamungkas ilustrasi Toto

AKU sebenarnya tidak setuju dengan usulan Mama. Menurut agama manapun, bunuh diri bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Masih ada cara lain yang lebih manusiawi. Memang utang sebegitu banyaknya tidak mungkin terbayar dalam tempo singkat. Apalagi lima laki-laki bertubuh kekar dan bertato yang gemar membentak dan menampar hanya memberi tenggat hingga Senin depan. Harta dan barang berharga lenyap dijual. Tersisa perabot-perabot lusuh, pakaian kumal, dan lukisan ikan koi berjumlah delapan, yang kata Papa itu sebagai penarik keberuntungan. Sepertinya lukisan tersebut tidak memiliki daya tarik yang kuat, buktinya keluarga kami terjerat utang dan berujung sedemikian sial.  (more…)

Tiga Inkarnasi
April 13, 2014


Cerpen Tjahjono Widijanto (Suara Merdeka, 13 April 2014)

Tiga Inkarnasi ilustrasi Falia

1357 Masehi: Kawali-Kabantenan

PANJI-PANJI itu berkelebatan di mana-mana, diusung dan dikibar-kibarkan oleh prajurit- prajurit penunggang kuda dan gajah yang gagah. Pasukan bersama panji-panji berkelebat- kelebat itu berderap dengan langkah teratur dengan rumbai-rumbai kebesaran membentang membujur ke kiri dan ke kanan dengan formasi garuda nglayang, burung garuda yang melayang lamban tapi gagah membentangkan sayap-sayapnya. Di mata bocahku warna-warni panji-panji megah itu mengingatkanku pada dongeng Emak tentang rambut bidadari yang berkibar-kibar keemasan turun ke mayapada dengan lesung pipitnya membuat moyangku kepincut dan jatuh hati padanya.  (more…)

Angin Rumput Sabana
April 6, 2014


Cerpen Bonifasius Bulu (Suara Merdeka, 6 April 2014)

Angin Rumput Sabana ilustrasi Hery

DI pesisir Pantai Kambera, berdiri sebuah gubuk reyot, beratap alang, berdinding anyaman bambu dan beralas pasir putih. Dari situ jalan setapak itu bermula. Panjang seperti ular membelah padang sabana, melewati jalan beraspal menuju Mondu, terus memanjang ke balik bukit kering dan berbatu cadas di sisi utara.

Setiap pagi berhalimun, kala aku melintasi jalan beraspal menuju Mondu, pada jalan setapak itu melangkah seorang perempuan tua dengan langkah cepat dan tetap. Berkerudung kain hitam, berbaju putih dibalut kain sarung cokelat kemerah-merahan melingkar di pinggulnya. Di pundaknya tergantung sebuah cukulele dan bakul dari anyaman daun tuak. Tangan kanannya menggenggam sebuah periuk hitam.  (more…)

Batu Sri Delima
March 30, 2014


Cerpen Ullan Pralihanta (Suara Merdeka, 30 Maret 2014)

Batu Sri Delima ilustrasi Toto

‘’DOMAR! Keluar kau!’’

Laki-laki yang namanya sedang diserukan oleh Jakub, tergopoh-gopoh membuka daun pintu rumahnya yang terbuat dari kayu tembesu yang hampir lapuk. Di luar, telah ramai massa berdatangan, berdiri dengan wajah merah padam, penuh murka. Masing-masing dilengkapi sebilah golok dan obor menyala. Sekilas Domar melirik pada orang-orang dan berusaha mengenali satu per satu pemilik wajah yang memadati pekarangan rumahnya. Tapi, satu wajah yang pasti ia ingat selamanya bahkan hingga hayat menjemput, adalah wajah Jakub.  (more…)