Tulah Si Tulah
June 29, 2014


Cerpen Arena Bayu (Suara Merdeka, 29 Juni 2014)

Tulah Si Tulah ilustrasi Farid S Madjid

IA biasa dipanggil Tulah, si pembawa sial yang tak pernah mujur, padahal bapaknya menamainya Ragil, si anak terakhir. Tapi sekarang orang-orang kampung sudah lupa bagaimana melafalkan nama aslinya, jadilah ia akrab dipanggil Tulah.

Nyatanya hidup Tulah tak benar-benar tak mujur, setidaknya menurutnya sendiri. Dua tahun lalu ia berhasil mengawini Tini, si perawan malu-malu yang menunduk ketika dipandang dan merona ketika dipuji. Tini kecil yang bergigi gingsul, begitu Tulah menyebut istri yang selalu menyambutnya dengan teh tawar ketika pulang mencari ikan. (more…)

Kelelawar di Atas Kepala Mama
June 22, 2014


Cerpen Erna Surya (Suara Merdeka, 22 Juni 2014)

Kelelawar di atas kepala mama ilustrasi hery purnomo

MAMA tak pernah marah padaku. Ia selalu muncul sebagai peri nan cantik. Rambut panjang mama tergerai indah, itu yang selalu kulihat. Selebihnya, suara lembut yang kudengar bila ia dekat-dekat denganku. Mama tak pernah meninggalkanku di malam hari. Pernah aku tersedak ketika tengah makan malam. Ia menepuk-nepuk punggungku seraya berkata, ’’Tak apa-apa.’’ Ah, mama yang baik.

’’Kau sudah besar.’’  (more…)

Hujan
June 15, 2014


Cerpen Nufi Ainun Nadhiroh (Suara Merdeka, 15 Juni 2014)

Hujan ilustrasi Toto

“APAKAH hujan terbuat dari kesedihan sehingga setiap kali ada hujan kau menangis?’’

Kau diam. Matamu berkaca-kaca. Sedang suara hujan mungkin menyamarkan pertanyaanku. Atau, kau sudah bosan mendengar pertanyaan itu? Tapi, bukankah kau sangat menyukai hujan? Hujan yang jatuh di atap dan menimbulkan suara aneh, airnya yang menetes satu per satu dari pepohonan, menggaris di kaca-kaca, pun aroma tanah yang perlahan menelusup, katamu sayang kalau dilewatkan. (more…)

Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan
June 8, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 8 Juni 2014)

Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

/1/ Kesaksian Kedua Penunggu Makam

AKU melihat sendiri betapa lelaki tak bermata itu meratap dan memohon pada penduduk desa yang sedang sakit mata itu untuk tidak membunuh anjing kudisan di pelukannya. Lelaki itu menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi anjing itu. Beberapa pukulan yang sempat dilancarkan penduduk desa mengenai bagian belakang tubuhnya. Lelaki itu menjerit tertahan sedangkan anjing kudisan itu terus menyalak dengan ganasnya. Anjing itu tidak berlari tetapi justru meringkuk dalam dekapan si lelaki. (more…)

Sungai Wong Agung
June 1, 2014


Cerpen Agus Salim (Suara Merdeka, 1 Juni 2014)

Sungai Wong Agung ilustrasi Farid S Madjid

Prolog

SETIAP kali ada orang berkunjung ke desaku pasti akan bertanya tentang sungai yang meliuk-liuk panjang bak ular sedang terkapar dengan sebuah soal: Apa nama sungai ini? Kemudian dengan ramah mulutku akan segera menjawab: Wong Agung. Tapi ketika mereka meminta aku menjelaskan menganai riwayat sungai itu maka kukatakan kalau aku tak bisa menjelaskannya sebegitu rinci karena takut salah menguraikannya. Lalu, tatkala pengunjung lelah menuruti rasa penasarannya, pasti akan segera mengakhirinya dengan ungkapan “sungai ini sungguh indah”. (more…)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta
May 25, 2014


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’ (more…)

Lelaki Pohon Ubi Kayu
May 18, 2014


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan (Suara Merdeka, 18 Mei 2014)

Lelaki Pohon Ubi Kayu ilustrasi Toto

LOM selalu membayangkan dirinya adalah sebatang pohon ubi kayu ketika melihat Tin, perempuan yang selalu menyunggi goni yang berisi kangkung-kangkung itu, melintas dari kebun ubi miliknya saat senja tiba. Sedangkan Tin, ia bayangkan sebagai kangkung-kangkung yang menjalar di setiap kujur batang tubuhnya.

Namun, hanya hasrat Lom belaka. Sebab, Tin sudah mempunyai suami yang bernama Jon. Ketika Lom sadar bahwa Tin bersuamikan Jon, maka seketika itu khayalannya buyar bagai lebah-lebah yang berhamburan dari sarangnya karena serbuan asap.  (more…)

Tarian Membakar Diri
May 11, 2014


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 11 Mei 2014)

Tarian Membakar Diri ilustrasi Farid

DALAM hati Ratu bertanya: mengapa mesti bimbang menarikan Sinta membakar diri di Teater Fujian? Telah berhari-hari, sebelum berangkat ke Fuzhou, Ratu melatih kelenturan tubuh di sanggarnya untuk bisa menarikan Sinta: antara keputusasaan dan harapan, antara pasrah dan menggugat Rama. Berpakaian serbaputih, gerakan tubuh gadis itu menyuarakan kepedihan hati perempuan suci yang mencebur dalam kobaran api. Ratu menepis rasa terasing, menari di panggung Teater Fujian, diiringi gamelan, membawakan tarian Sinta yang mesti membakar diri di hadapan penonton sebuah negeri yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia memerankan tarian seorang putri yang tersia-siakan, dengan gerak tubuh yang menyimpan kemarahan terpendam.  (more…)

Kekasih Ameba
May 4, 2014


Cerpen Radna Tegar Zakaria (Suara Merdeka, 4 Mei 2014)

Ameba ilustrasi

RAYYA menjuluki suaminya SR dengan ameba. Rayya yakin bahwa SR bisa membelah diri seperti ameba hingga mampu berada di pelbagai tempat dan aneka kondisi, mulai taman-taman bunga di tengah kota berlumurkan senja romantis, pasar ikan amis, konser metal, atau menemani kutu buku di perpustakaan, untuk menggoda wanita-wanita lantas mengajak kencan. Sangat mungkin ameba sekarang sedang duduk bersama Anda, Anda, Anda, dan Anda karena kemampuannya melipatgandakan raga.

”Dia lihai membelah diri.“  (more…)

Lukisan Pelangi Ama
April 27, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Suara Merdeka, 27 April 2014)

Lukisan Pelangi Ama ilustrasi Farewell

HUJAN baru saja berhenti beberapa saat lalu. Dari teras rumah, Ama masih menatap lekat lengkung pelangi yang menggurat di langit biru. Ia memandangnya seolah ada yang ia lihat selain garis warna merah, kuning dan hijau yang sudah mulai pudar itu. Kuperhatikan wajahnya. Masih ada gurat sedih di wajah mungilnya itu.

‘’Apakah ia masuk surga, Tante?’’ gumamnya tanpa berpaling dari lengkung pelangi itu.  (more…)