Jurus Pamungkas
April 20, 2014


Cerpen Fandiant Uge (Suara Merdeka, 20 April 2014)

Jurus Pamungkas ilustrasi Toto

AKU sebenarnya tidak setuju dengan usulan Mama. Menurut agama manapun, bunuh diri bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Masih ada cara lain yang lebih manusiawi. Memang utang sebegitu banyaknya tidak mungkin terbayar dalam tempo singkat. Apalagi lima laki-laki bertubuh kekar dan bertato yang gemar membentak dan menampar hanya memberi tenggat hingga Senin depan. Harta dan barang berharga lenyap dijual. Tersisa perabot-perabot lusuh, pakaian kumal, dan lukisan ikan koi berjumlah delapan, yang kata Papa itu sebagai penarik keberuntungan. Sepertinya lukisan tersebut tidak memiliki daya tarik yang kuat, buktinya keluarga kami terjerat utang dan berujung sedemikian sial.  (more…)

Tiga Inkarnasi
April 13, 2014


Cerpen Tjahjono Widijanto (Suara Merdeka, 13 April 2014)

Tiga Inkarnasi ilustrasi Falia

1357 Masehi: Kawali-Kabantenan

PANJI-PANJI itu berkelebatan di mana-mana, diusung dan dikibar-kibarkan oleh prajurit- prajurit penunggang kuda dan gajah yang gagah. Pasukan bersama panji-panji berkelebat- kelebat itu berderap dengan langkah teratur dengan rumbai-rumbai kebesaran membentang membujur ke kiri dan ke kanan dengan formasi garuda nglayang, burung garuda yang melayang lamban tapi gagah membentangkan sayap-sayapnya. Di mata bocahku warna-warni panji-panji megah itu mengingatkanku pada dongeng Emak tentang rambut bidadari yang berkibar-kibar keemasan turun ke mayapada dengan lesung pipitnya membuat moyangku kepincut dan jatuh hati padanya.  (more…)

Angin Rumput Sabana
April 6, 2014


Cerpen Bonifasius Bulu (Suara Merdeka, 6 April 2014)

Angin Rumput Sabana ilustrasi Hery

DI pesisir Pantai Kambera, berdiri sebuah gubuk reyot, beratap alang, berdinding anyaman bambu dan beralas pasir putih. Dari situ jalan setapak itu bermula. Panjang seperti ular membelah padang sabana, melewati jalan beraspal menuju Mondu, terus memanjang ke balik bukit kering dan berbatu cadas di sisi utara.

Setiap pagi berhalimun, kala aku melintasi jalan beraspal menuju Mondu, pada jalan setapak itu melangkah seorang perempuan tua dengan langkah cepat dan tetap. Berkerudung kain hitam, berbaju putih dibalut kain sarung cokelat kemerah-merahan melingkar di pinggulnya. Di pundaknya tergantung sebuah cukulele dan bakul dari anyaman daun tuak. Tangan kanannya menggenggam sebuah periuk hitam.  (more…)

Batu Sri Delima
March 30, 2014


Cerpen Ullan Pralihanta (Suara Merdeka, 30 Maret 2014)

Batu Sri Delima ilustrasi Toto

‘’DOMAR! Keluar kau!’’

Laki-laki yang namanya sedang diserukan oleh Jakub, tergopoh-gopoh membuka daun pintu rumahnya yang terbuat dari kayu tembesu yang hampir lapuk. Di luar, telah ramai massa berdatangan, berdiri dengan wajah merah padam, penuh murka. Masing-masing dilengkapi sebilah golok dan obor menyala. Sekilas Domar melirik pada orang-orang dan berusaha mengenali satu per satu pemilik wajah yang memadati pekarangan rumahnya. Tapi, satu wajah yang pasti ia ingat selamanya bahkan hingga hayat menjemput, adalah wajah Jakub.  (more…)

Liontin untuk Mathias Dadores
March 23, 2014


Cerpen Handry TM (Suara Merdeka, 23 Maret 2014)

Liontin untuk Mathias Dadores ilustrasi -

Janganlah kau pahami cinta seperti membeli setangkup roti. Ketika kedinginan semalaman kau lantas kobarkan unggunan api. Roti kau lempar sekenanya ke tengah bara, dan kau tunggui.

 

Brisbane, Mei 1998

 ‘’LAKUKAN apa yang mesti kau lakukan, Amelia. Tapi jangan kamu membenci diriku seolah menyingkirkan beban napasmu yang kepayahan.’’

(more…)

Sanca
March 16, 2014


Cerpen Agus Salim (Suara Merdeka, 16 Maret 2014)

Sanca ilustrasi Farid

SAAT lelaki itu muncul dari balik kegelapan malam, hujan sedang turun deras dengan hebatnya. Angin mengamuk.Daun-daun pohon mangga, nyiur, dan akasia diombang-ambingkan. Suara gemuruhnya membuat hati siapa saja menjadi giris. Termasuk aku. Petir menjulurkan lidahnya yang bercabang-cabang. Menimbulkan suara seperti ledakan meriam. Membuat sekujur tubuh bergetar. Langit seperti retak. Aku berpaling dan sesekali menutup telinga. Aku yakin, saat itu semua warga sedang asyik sembunyi di balik selimut sarung dengan mata rapat terpejam. Malam benar-benar telah dihantam gigil.  (more…)

Sungai Buntung
March 9, 2014


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 9 Maret 2014)

Sungai Buntung ilustrasi Hery

ORANG-ORANG di kampungku percaya bahwa sungai itu bertuah. Sungai itu bernama Sungai Buntung, dan entah mengapa dinamakan seperti itu padahal sama sekali tak buntung. Air tetap mengalir deras seperti biasa. Tetapi, orang-orang dahulu meyakini bahwa sungai itu buntung, dan ujung dari sungai yang buntung itu, adalah Laut Selatan.

Setiap hari, pasti ada saja orang-orang yang bertapa di Sungai Buntung. Mereka mengasingkan diri di sana, dengan duduk bersila di bawah pohon, di samping batu besar, atau di bawah sebuah jembatan, yang umurnya sudah tidak dapat dihitung dengan jari lagi. Orang-orang itu akan berhari-hari bertapa di sana, dan seandainya mereka merasa lapar, mereka cukup memakan daun yang tumbuh di sekitar sungai.  (more…)

Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina
March 2, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 2 Maret 2014)

Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina ilustrasi Toto

Debu Merah dan Renda Spanyol

ADA yang menarik tanganku dan mendekatkan wajahku pada wajahnya. Lalu ia menatapku lama. Mataku masuk ke matanya, menemukan kedalaman yang asing. Aku segera berkedip dan sepersekian detik itu pula wajahnya terhapus dari hadapanku.

Aku tahu itu wajah angin tapi tiba-tiba aku teringat Tuhan. Sosok agung yang selalu mengambil sesuatu yang aku miliki dengan paksaan. Aku ingat satu atau dua kejadian ketika pertemuan tak bisa lagi dielakkan dan Dia membuatku merasakan perpisahan, merasakan kehilangan, yang kadang terasa sakit namun lebih sering terasa membebaskan.  (more…)

Puang Rohani
February 23, 2014


Cerpen M Dirgantara (Suara Merdeka, 23 Februari 2014)

Puang Rindu ilustrasi -

SAYA baru bangun pagi itu, dibangunkan telepon. Malam sebelumnya saya menghadiri pesta koktail seorang teman. Dia merayakan kemenangannya di Grammy untuk kategori “Lagu Tahun Ini”. Dia mengalahkan saya untuk kategori itu, tapi saya menang untuk kategori lain. Kepala saya masih berat, leher saya kaku dan bunyi-bunyi saat saya bergerak.

Isi telepon dari suami Zubaedah itu singkat saja: Anda dimohon hadir di acara pemakaman Puang Zubaedah. Anda diminta menyumbang satu lagu. Saya tahu Anda teman dekatnya.  (more…)

Gogor
February 16, 2014


Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 16 Februari 2014)

Gogor ilustrasi Farid

SSTTT… jangan ke sana! Kukatakan padamu: jangan ke sana! Aku tak mengucapkan kata-kata kosong. Aku serius! Sangat serius! Aku tahu, aku seharusnya tak perlu mencampuri urusanmu. Aku juga tak ingin seperti itu. Bukankah selama ini selalu begitu? Walau sejak lama kau sudah menjadi orang yang kupilih, dari ratusan manusia di desa ini.

Sudah belasan tahun, kau memilih tinggal di tanah ini, tanah Botodayakan. Aku sudah mengenal dirimu sejak lama. Bahkan sejak kau masih dalam perut hangat ibumu, aku sudah menandaimu. Awalnya tentu saja, aku tak pernah ingin perduli dengan kau, juga dengan semua manusia yang ada di sini.  (more…)