PR Matematika
April 20, 2014


Cerpen N Mursidi* (Republika, 20 April 2014)
PR Matematika ilustrasi Rendra Purnama

TELEVISI di ruang tengah rumah Noura masih menyala.

Noura duduk bersimpuh di karpet, dengan tangan kanan memegang pensil dan di hadapannya terbentang dua ruas buku tulis yang sudah penuh coretan. Gadis berusia sepuluh tahun yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu bingung menuliskan angka di lembaran kertas. Sesekali, ia menambahkan beberapa angka. Sayang, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.   (more…)

Opera Langit
April 13, 2014


Cerpen Arul Chairullah* (Republika, 13 April 2014)

 

Opera Langit ilustrasi Rendra Purnama

GHADRAK biya, asshar fiya, ba taghayyarte syuwayya, ba tagh rayarte musy hu bedayah,” sembari menari-narikan sekujur tubuhnya, Harits, pemuda berkacamata kotak itu lantang mendendang lirik lagu Ummi Kultsum. Tangannya melambai-lambai biru langit menyapa burung kenari, sesekali menggayung air pantai dari samping cadik, lalu menyeka raut kusutnya dari kucuran keringat.

“Ya Said, perahu itu diikuti segerombolan burung, mengapa kita tidak?” tanya Harits sejurus kemudian pada nelayan bertubuh hitam legam yang duduk tenang di sudut perahu.  (more…)

Kerudung untuk Aini
April 6, 2014


Cerpen Julia Hartini* (Republika, 6 April 2014)
Kerudung untuk Aini ilustrasi Rendra Purnama

SORE itu, langit begitu murungnya, padahal matahari belum sepenuhnya pulang ke arah barat. Ketika angin menyeruak bersama udara, tetesan air berguguran mengaliri sungai, memenuhi semesta, membasahi rumah- rumah, gedung bertingkat, dan jalan raya. Para pengendara pun bergegas mencari tempat berteduh sambil nantinya menikmati jajanan hangat yang disediakan penjual bakso atau batagor kuah yang ikut-ikutan meneduh sambil mengais rezeki.

Berbeda dengan pengendara lainnya, Aini dengan tenang mengendarai motor merahnya sambil merasakan dingin air yang menembus pori-pori kulit. Baginya, hujan ialah sahabat, anugerah Sang Khalik.

“Mengapa semua orang takut akan hujan? Bukankan hujan tak bisa dipersalahkan atas segala longsor dan banjir yang terjadi?” gerutu Aini.  (more…)

Harapan Guru Zulkifli
March 30, 2014


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan* (Republika, 30 Maret 2014)

Harapan Guru Zulkifli ilustrasi Rendra Purnama

BARU saja Guru Zulkifli pulang dari mengajar di sekolah tempat ia mengabdi. Sekarang, ia sedang berbaring di atas ranjangnya dan masih mengenakan seragam yang sama. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada sesuatu yang begitu ingin digapainya pada pertengahan tahun ini.

Adalah seorang perempuan, kekasih dari Guru Zulkifli, yang selalu meminta agar ia segera menikahinya. Tapi, betapa berat bagi Guru Zulkifli untuk mendapatkan biaya pernikahan yang telah ia kumpulkan tiga tahun belakangan ini. Begitu juga, uang tabungan dari hasil mengajar sebagai guru honorer, tetap tak cukup untuk ongkos perkawinannya.  (more…)

Lembudana-Lembudini
March 23, 2014


Cerpen Eka Nur Apiyah* (Republika, 23 Maret 2014)

Lembudana-Lembudini ilustrasi Rendra Purnama

“JON, ke sini!” panggil seseorang pada Joni. Suaranya lirih hampir tak terdengar sedangkan napasnya berjungklatan tak teratur. Joni langsung mencari sumber suara. Ternyata itu suara Sapri, teman sekampungnya. Dengan rasa malas, Joni mendekati temannya itu.

(more…)

Ayah Tiri
March 16, 2014


Cerpen Herumawan PA (Republika, 16 Maret 2014)

Ayah Tiri ilustrasi Rendra Purnama

“SEBURUK apa pun keadaannya, rumah adalah tempat kau kembali.”

Ungkapan itu tak tepat untukku.  Rumah justru menjadi tempat yang selalu ingin aku hindari.  Di rumahku sendiri aku tak dianggap ada, selain oleh ibu.  Selama berada di rumah, kuhabiskan sebagian besar waktu di kamar. Jika tak ada hal penting, aku tak akan keluar ruang pribadiku. Atau, aku akan pergi dari pagi dan kembali saat malam. Tiba di rumah hanya untuk melepas lelah.  (more…)

Mitos Bahu Tuhan
March 9, 2014


Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 9 Maret 2014)

Mitos Bahu Tuhan ilustrasi Rendra Purnama

“JIKA kau bersedih, bersandarlah pada bahu Tuhan,” begitulah kata Ibu, setiap kali aku sedih mengingat ayah.

Hampir di sepanjang usia kanak-kanakku ibu selalu mengatakan itu. Karena, aku tumbuh sebagai anak cengeng yang sering bercucuran air mata bila mengingat ayah. Entah pria itu sekarang di mana? Aku terakhir bertemu dengannya di Stasiun Tugu, ketika ia akan berangkat ke Jakarta mencari pekerjaan.

(more…)

Ketika Rabbi Diturunkan
March 2, 2014


Cerpen Adi Zamzam (Republika, 2 Maret 2014)

Ketika Rabbi Diturunkan ilustrasi Rendra Purnama

SAAT mengambil jaket di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.

”Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?“ aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.

”Tidak tahu,“ jawabnya pendek. ”Tapi yang pasti kami harus melindunginya,“ seperti ada nada sedih.

”Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?“

”Kita harus ingat masa lalu,“ ujarnya. Aku seperti bisa melihat kegamangan di kedua matanya.  (more…)

Orang Alim dari Klampis
February 23, 2014


Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23 Februari 2014)

Orang Alim dari Klampis ilustrasi Rendra Purnama

TIDAK ada alasan yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis. ”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi, ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang terbata-bata.  (more…)

Di Ujung Desember
February 16, 2014


Cerpen Ardian Je (Republika, 16 Februari 2014)

Di Ujung Desember ilustrasi Rendra Purnama

ENTAH mengapa, sejak saat itu, dua tahun yang lalu, aku mulai membenci ayah. Abah, begitu panggilannya. Meski aku sadar, perasaan itu tak boleh terbesit. Ketika orang-orang bertemu Abah, mereka akan mendekatinya sambil membungkuk badan, kemudian mencium punggung tangannya yang sesejuk embun pada pagi hari. Mungkin, kesejukan itu datang karena Abah tak lepas dari wudhu.

Tepatnya, di ujung ranting Desember, Abah mempertemukanku dengan Kiai Zamri, sahabat baiknya saat keduanya menimba ilmu di pesantren. Abah memintaku mencium punggung tangan Kiai Zamri. Suhu punggung tangannya cukup sejuk, tapi tak sesejuk suhu punggung tangan Abah, tak sesejuk embun pada pagi hari.  (more…)