Nurani
November 23, 2014


Cerpen Rian Gusman Widagdo (Republika, 23 November 2014)

Nurani Ilustrasi Rendra Purnama

“Hussy… husy… husy….”

Kudekap koper hitam di tanganku dengan dada naik turun. Suara teriakan massa di belakangku semakin mendekat. Aku pun semakin merapatkan diri di balik puing-puing bangkai kapal bekas tsunami empat tahun lalu, berharap tak satu pun dari mereka mencium jejakku. (more…)

Firasat
June 22, 2014


Cerpen Fahdiant Uge (Republika, 22 Juni 2014)

Firasat ilustrasi Rendra Purnama

“BU, tapi ini sudah keempat kalinya. Berturut-turut!” kalimat Shafira bergetar. Ketakutan.  Air teh panas yang di tuangnya membuat gelas beling bening retak. Air teh memenuhi meja makan. Menetes ke lantai. Shafira mengempaskan teko. Ada embusan putus asa atas kepungan firasat buruk di benaknya.

“Kamu ini termakan sinetron. Gelas retak itu biasa. Kualitas pabrik sekarang menurun,” ibunya tidak menggubris. Konsentrasinya tertuju pada mangkuk berisi sayuran dan lauk yang dihidangkan di meja makan. Dalam hati, ibunya membenarkan hipotesis tersebut. Shafira berusia 30 tahun, tetapi kekanak-kanakan. Bagaimana jadi istri orang jika setiap kejadian diartikan firasat buruk? Bisa makan hati.  (more…)

Balada Rindu Nek Padma
May 25, 2014


Cerpen Y Agusta Akhir (Republika, 25 Mei 2014)
balada rindu nenek padma 25 mei 2014

MATA cekung Padma mengerjap menatap senja yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa muram. Kerinduannya akan masa lalu seolah lindap pada semburat merah kekuningan itu. Hanya desir angin yang tak memberinya isyarat apa pun yang ia dengar. Atau, gemerisik daun-daun jambu yang tumbuh di pelataran yang sudah sangat akrab di telinganya.

Dulu, saat seperti ini, dari kursi beranda ia bisa saksikan bocah-bocah itu pulang. Dan, satu per satu mereka masuk ke dalam rumah dengan wajah masai usai bermain. Bocah-bocah itu kini telah dewasa, tapi tak bersamanya lagi sejak delapan tahun lalu. Pekerjaan telah membawa mereka meninggalkan rumah dan menyebar ke tempat yang jauh. Bahkan, ada yang di luar pulau. Dan, sejak itu pula, belum pernah mereka berkumpul bersama di rumah itu. Bahkan, saat Lebaran sekalipun.  (more…)

Amplop Kosong
May 18, 2014


Cerpen Daud Insyirah* (Republika, 18 Mei 2014)
Amplop Kosong ilustrasi Rendra Purnama

Syawal 1429 H

IA masih menatap undangan yang bergerak perlahan mengikuti angin. Kemudian ia menyandarkan diri di tembok dan sesekali melihat undangan yang sempat ia buka beberapa hari yang lalu. Wajahnya kusut dan memelas seperti tak ada lembaran penyambung hidup di kantongnya.

Andai ia diterima kerja di pabrik bulan ini, mungkin ia bisa memperoleh pemasukan. Jika tak ada pemasukan, apa layak menghadiri pesta pernikahan? Biasanya, orang menyebut resepsi pernikahan dengan sebutan bowo.

Di acara tersebut ada semacam kotak infak yang dihias sedemikian rupa hingga jauh dari kesan kotak infak itu sendiri. Malahan ada juga bentuknya seperti pot bunga yang besar sekali. Namun, fungsinya sama saja. Untuk mengisi amplop.  (more…)

Kabut Api
May 11, 2014


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 11 Mei 2014)
Kabut Api ilustrasi Rendra Purnama

“KALAU kau masih nekat juga, akan kucacah-cacah, kubakar, dan kubuang ke laut!”

Seharusnya Mintarsih menyembunyikan baju yang baru selesai dijahit itu. Semestinya Yu Tami tak mengantarkannya ke rumah. Andai saja ia menyerahkannya ketika nelayan itu sedang miyang.

“Baju baru, beli baju baru lagi!” Kang Baidi marah-marah.  (more…)

Debu-Debu Tuhan
May 4, 2014


Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 4 Mei 2014)
Debu-Debu Tuhan ilustrasi Rendra Purnama

“ITU SALJU, ya? ” gadis kecil itu bertanya pada ibunya.

Ibunya tidak menjawab dan malah ikut membayangkan bahwa debu-debu yang menuakan daun-daun dan memucatkan atap-atap itu adalah salju. Sang ibu seperti terhenyak dari lamunannya ketika disadarinya bahwa langit terlampau kelabu bahkan untuk ukuran langit bersalju. Reisya, gadis kecil itu, ataupun Lela, ibunya memang belum pernah melihat salju secara langsung, kecuali dari film-film kartun atau drama Korea yang ada di televisi.

“Itu debu-debu Tuhan,” balas Lela tiba- tiba, setelah beberapa lama.

“Debu-debu Tuhan?”  (more…)

PR Matematika
April 20, 2014


Cerpen N Mursidi* (Republika, 20 April 2014)
PR Matematika ilustrasi Rendra Purnama

TELEVISI di ruang tengah rumah Noura masih menyala.

Noura duduk bersimpuh di karpet, dengan tangan kanan memegang pensil dan di hadapannya terbentang dua ruas buku tulis yang sudah penuh coretan. Gadis berusia sepuluh tahun yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu bingung menuliskan angka di lembaran kertas. Sesekali, ia menambahkan beberapa angka. Sayang, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.   (more…)

Opera Langit
April 13, 2014


Cerpen Arul Chairullah* (Republika, 13 April 2014)

 

Opera Langit ilustrasi Rendra Purnama

GHADRAK biya, asshar fiya, ba taghayyarte syuwayya, ba tagh rayarte musy hu bedayah,” sembari menari-narikan sekujur tubuhnya, Harits, pemuda berkacamata kotak itu lantang mendendang lirik lagu Ummi Kultsum. Tangannya melambai-lambai biru langit menyapa burung kenari, sesekali menggayung air pantai dari samping cadik, lalu menyeka raut kusutnya dari kucuran keringat.

“Ya Said, perahu itu diikuti segerombolan burung, mengapa kita tidak?” tanya Harits sejurus kemudian pada nelayan bertubuh hitam legam yang duduk tenang di sudut perahu.  (more…)

Kerudung untuk Aini
April 6, 2014


Cerpen Julia Hartini* (Republika, 6 April 2014)
Kerudung untuk Aini ilustrasi Rendra Purnama

SORE itu, langit begitu murungnya, padahal matahari belum sepenuhnya pulang ke arah barat. Ketika angin menyeruak bersama udara, tetesan air berguguran mengaliri sungai, memenuhi semesta, membasahi rumah- rumah, gedung bertingkat, dan jalan raya. Para pengendara pun bergegas mencari tempat berteduh sambil nantinya menikmati jajanan hangat yang disediakan penjual bakso atau batagor kuah yang ikut-ikutan meneduh sambil mengais rezeki.

Berbeda dengan pengendara lainnya, Aini dengan tenang mengendarai motor merahnya sambil merasakan dingin air yang menembus pori-pori kulit. Baginya, hujan ialah sahabat, anugerah Sang Khalik.

“Mengapa semua orang takut akan hujan? Bukankan hujan tak bisa dipersalahkan atas segala longsor dan banjir yang terjadi?” gerutu Aini.  (more…)

Harapan Guru Zulkifli
March 30, 2014


Cerpen Muftirom Fauzi Aruan* (Republika, 30 Maret 2014)

Harapan Guru Zulkifli ilustrasi Rendra Purnama

BARU saja Guru Zulkifli pulang dari mengajar di sekolah tempat ia mengabdi. Sekarang, ia sedang berbaring di atas ranjangnya dan masih mengenakan seragam yang sama. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada sesuatu yang begitu ingin digapainya pada pertengahan tahun ini.

Adalah seorang perempuan, kekasih dari Guru Zulkifli, yang selalu meminta agar ia segera menikahinya. Tapi, betapa berat bagi Guru Zulkifli untuk mendapatkan biaya pernikahan yang telah ia kumpulkan tiga tahun belakangan ini. Begitu juga, uang tabungan dari hasil mengajar sebagai guru honorer, tetap tak cukup untuk ongkos perkawinannya.  (more…)