Kota Rawa
May 25, 2014


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 25 Mei 2014)

Kota Rawa ilustrasi Bagus

DI dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak.

Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga.  (more…)

Kalung
May 18, 2014


Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 18 Mei 2014)

 

20140522_233238

Arak – arakan Pengantin Kecil 

TAK ADA yang lebih menyenangkan dari keriangan anak-anak. Bahkan bagi malaikat. Menyaksikan serombongan anak-anak menirukan bebunyian gamelan mengiringi sepasang pengantin kecil bermahkotakan untaian daun nangka di siang yang terik itu, saya melayang pelan dan merasakan kegembiraan mereka. Seolah mereka arak-arakan pengantin dari surga.  (more…)

Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya
May 11, 2014


Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 11 Mei 2014)

 

Dijual Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya ilustrasi Bagus

IA menyukai lagu itu, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak apuseeee… dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse, sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu House for Sale(more…)

Hujan di Ujung Bulan *
May 4, 2014


Cerpen Wawan Setiawan (Jawa Pos, 4 Mei 2014)

Hujan di Ujung Bulan ilustrasi Bagus

SEJAK siang perbukitan berhutan ini diguyur gerimis, pepohonannya menghablur. Kabutnya muncul di sana sini, tipis dan tebal, bergantian. Ada yang bisa ditembus, ada yang tak bisa ditembus. Tak seekor burung pun berkelebat. Agak jauh di utara masih terdengar deru kendaraan, setelah itu sayup. Lalu di bawah arah timur sana masih membentang separo tubuh danau, separonya lagi berselimut kabut, perahu-perahu membeku. Dan, dari salah satu tepiannya, kudengar lagu gamelan, kalau tak salah itu kreasi gong kebyar I Wayan Beratha, berjudul ”Hujan Teduh”. Nama itu kudapat dari teman semasa kuliah dulu, Ni Luh. ”Ya, sehabis hujan, teduh,“ katanya.  (more…)

Pesta Kunang-Kunang
April 27, 2014


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 27 April 2014)

Pesta Kunang-Kunang ilustrasi Bagus

1/

TAK ADA makam di sini. Hanya rongga di batang pohon Dedalu raksasa yang tegak di tengah desa. Rongga yang disebabkan hantaman petir, dan kerap dipenuhi kunang-kunang yang berpesta selepas jasad diletakkan di dalamnya, membuatnya tampak seperti pesta lampion di malam tahun baru.

Saat Dedalu tua itu ditemukan di hutan utara, Ama (bapak) Huga takjub pada ukurannya. Ia kemudian mendirikan rumah 500 meter dari pohon itu. Pada tiga tahun pertama, orang-orang berduyun datang lalu ikut mendirikan rumah di situ. Rumah-rumah yang kini mengepung Dedalu tua raksasa. Ketakjuban Ama Huga pada Dedalu tua itu tak pernah hilang bahkan menjelang kematiannya. Ia ingin agar rongga di Dedalu tua itu menjadi makamnya dan makam setiap orang yang kelak mati di kampung yang ia namakan Lere’Ea ini. Orang-orang menurutinya. Karena pohon Dedalu menyerap aroma busuk di sekelilingnya, maka pohon itu juga menghisap bau kematian dari jasad-jasad orang mati.  (more…)

Maut Lebih Kejam daripada Cinta
April 20, 2014


Cerpen Gabriel García Márquez (Jawa Pos, 20 April 2014)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

SENATOR Onésimo Sánchez hanya punya sisa waktu enam bulan sebelas hari sebelum dijemput maut kala dia menemukan perempuan idamannya. Dia berjumpa dengan gadis itu di Rosal del Virrey, sebuah kota kecil yang seperti khayalan. Pada malam hari kota itu menjadi dermaga tersembunyi bagi kapal-kapal penyelundup dan siang harinya tampak seperti tempat terpencil paling tak berguna di tengah padang pasir yang gersang dan seaan berada di antah-berantah, menghadap laut, begitu jauh dari segala takdir siapa pun yang tinggal di tempat itu. Bahkan nama kota itu –yang berarti rumpun mawar—seolah lelucon belaka. Sebab, satu-satunya mawar yang ada di sana dipakai oleh senator Onésimo Sánchez pada suatu senja ketika dia berjumpa dengan Laura Farina.  (more…)

Kekasih Hujan (6)
April 13, 2014


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 13 April 2014)

Kekasih Hujan (6) ilustrasi Bagus

BULAN dua belas. Bulan di mana orang-orang senang membicarakan cuaca. Di bulan ini pula ia lahir. Tetapi bulan kelahiran ini, baginya, tidak lebih sebagai perayaan sekian kemurungan.

***

Ia berubah menjadi perempuan yang banyak menarik diri dari kehidupan – selain tentu pula kulitnya mulai kendur, kantung mata sedikit turun, dan bintik-bintik hitam makin banyak di pipi. Dulu –paling tidak sebelum ia memasuki usia 40—ia perempuan manis yang selalu menyenangkan di mata orang lain. Ia menyimpan kesedihan dalam-dalam dan bersikap ramah dalam situasi apa pun. Teman-teman, kenalan, tetangga, menyukainya. Ia membagikan kue-kue yang dibikin di hari libur. Anak-anak membukakan pintu dengan riang tiap ia memencet bel di rumah mereka dan menjulukinya ”Ibu Baik Hati“.  (more…)

Caleg yang Mati di Hari Pemilihan Umum
April 6, 2014


Cerpen Zen R.S. (Jawa Pos, 6 April 2014)

Caleg yang Mati di Hari Pemilihan Umum ilustrasi Bagus

OTONG Asmara mati di hari pemilihan umum. Dia mati karena kecelakaan motor pada jam 10 malam, beberapa jam setelah semua TPS selesai melakukan penghitungan suara. Saat itu dia sedang berkonvoi penuh kemenangan menuju kampungnya bersama tim sukses. Otong mati karena motor yang dikendarainya ditabrak truk yang dikendarai oleh sopir yang sedang mabuk.

Otong saat itu diliputi kegembiraan yang luar biasa. Hasil perhitungan yang dilakukannya menunjukkan dia berhasil mendapat jumlah suara yang melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).  (more…)

Istri Pengarang
March 30, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Jawa Pos, 30 Maret 2014)

Istri Pengarang ilustrasi Bagus

HANYA manusia bodoh yang menganggap cemburu sebagai tanda cinta. Tapi adakah cinta yang datang tanpa kebodohan? Kau tak akan bisa menghindari cemburu tapi kau bisa mengolahnya. Jika gagal, mungkin jalan hidupmu akan berakhir sepertiku saat ini, mendekam di tempat ini dan berurusan dengan rekan-rekan seprofesimu sekarang ini. Mungkin juga kau tak akan percaya pada cerita cemburuku ini karena ini seperti kisah cemburu pada hantu. Sebaiknya kau menyimak ceritaku ini dengan saksama karena mungkin kau dapat belajar banyak darinya.  (more…)

Taman Pohon Ibu
March 23, 2014


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 23 Maret 2014)

Taman Pohon Ibu ilustrasi Bagus

PEREMPUAN itu telah membesarkan seorang putri sedari ia mengandungnya. Ia senantiasa memberikan ragam nasihat seolah janinnya sudah gadis benar, seolah anak gadisnya ada di hadapan. Ya, bila kalian pernah membaca atau mendengar kisah seseorang yang rela digandeng Izrail demi mempersilakan oroknya mencium bumi, maka ialah ibu yang purnamulia itu1. Dan bila kalian juga pernah membaca atau mendengar kisah tukang cerita yang kerap turun ke lereng Bukit Barisan, itulah anak gadisnya. Konon, tukang cerita itu akan bercerita sampai malam memekat. Ceritanya sarat wasiat kebaikan. Tentu, buah jatuh tak jauh dari akar pohonnya; perangai ibu akan lesap ke dalam jiwa anaknya. Ketika itulah, tanpa orang-orang sadari, si tukang cerita tiba-tiba raib; bagai angslup ditelan bumi, bagai memuai dilarut angin, bagai melesat dihisap langit2.

(more…)