Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 15 April 2012) IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar.
Archive for the ‘Wendoko’ Category
Afrodit
April 17, 2012
Jazz!
March 6, 2012
Cerpen Wendoko (Suara Merdeka, 4 Maret 2012) Kau Belum Datang Di kafe ada perempuan berseragam kantor, dengan senyum yang angkuh. Perempuan bermata hitam-redup, yang menatap kosong ke laptop. Perempuan dengan lipstik ungu dan terus memijit pangkal hidung. Perempuan berkacamata dan wajah lebih banyak maskara, yang berceloteh ribut. Perempuan berambut keriting—duduk dengan kaki melingkari kursi. Perempuan [...]
Musim Gugur Ketiga
August 7, 2011
Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 31 Juli 2011) Emma KAMAR itu buram. Ada cahaya lampu berwarna jingga yang buram. Dinding-dinding kuning-cokelatnya juga buram. Lalu langit-langit yang hitam. Tapi perempuan itu sudah terbaring di ranjang. Kepalanya mendongak. Blus sutra yang dikenakannya terbuka pada dada, sementara ia terus menciumi perut perempuan itu. Di samping kepalanya, kaki perempuan itu [...]
Kafe, Impresi
May 9, 2011
Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 8 Mei 2011) KAFE adalah tempat perhentian. Tempat orang-orang bertemu atau singgah, pada satu jeda waktu. Tetapi pernahkah kau berpikir, berapa orang di kafe yang saling mengenal? Berapa banyak yang tak mengenal? Orang-orang selalu datang ke kafe, lalu duduk—sendiri atau mengelompok—dan berceloteh, pada satu jeda waktu. Atau hanya duduk diam, menyeruput [...]
Kafe
February 7, 2011
Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 6 Februari 2011) 19.24 PEREMPUAN ITU di depannya—di balik laptop yang terbuka, dan secangkir kopi yang mengepulkan uap tipis. Ia baru menyadari dua puluh menit kemudian—sejak ia masuk ke kafe, memesan kopi, duduk, dan menjawab beberapa SMS yang masuk. Lalu menyesap kopi, menatap sekenanya ke plafon yang dicat hitam, dinding berwarna [...]