Archive for the ‘Raudal Tanjung Banua’ Category

Cerita Campur-Aduk dari Pamanku
February 14, 2012

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 12 Februari 2012) PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit [...]

Kamus Cerita Abdul Muin
May 30, 2011

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 29 Mei 2011) ABDUL Muin, mahasiswa semester keenam sebuah perguruan tinggi, ditemukan mati pagi itu di kamar kosnya di bilangan Jalan Papringan, Yogyakarta. Tak seorang pun tahu penyebab kematiannya. Setahu kawan-kawan kosnya, Abdul Muin masih segar-bugar pada malam sebelumnya, bahkan ia tetap melaksanakan kegiatannya keluyuran keliling kota dengan sepeda [...]

Kota-Kota Rantauan
October 15, 2010

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 3 Oktober 2010) AKU merantau maka aku ada, seseorang pernah berkata tentang dirinya, dan membuat kota rantauannya tiada. Tapi, di kampungku, orang-orang merantau maka kota-kota ada.

Cerita Menyentuh dari Nenekku
September 21, 2010

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 19 September 2010) DALAM rangkaian cerita kecil yang kusampaikan dengan cara mencicil, baru sekarang nenek kusebut. Ini mungkin tidak lazim. Biasanya, neneklah rujukan cerita banyak orang, terlebih menyangkut keselamatan dunia-akhirat. Tapi bukan salah nenek berkisah kalau ceritaku terdahulu merujuk ibu dan ayah, wabah, bahkan pohon dan belukar masa kecilku. [...]

Malam, Sebuah Kota
April 12, 2010

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Suara Merdeka, 11 April 2010) LARUT malam. Ia terus berjalan, membiarkan dirinya hanyut dalam arus pikiran. Kota begitu lengang. Sesekali, ada kendaraan lewat dengan mesin menggema, lalu lenyap dengan cahaya melesat. Pohon asam yang berjejer sepanjang jalan tampak bagai raksasa mengenakan mantel kebesarannya. Sebatang beringin tua menyerupai seorang pertapa, penuh sesaji [...]