Cerpen Niduparas Erlang (Koran Tempo, 20 Februari 2011) TARAWENGKAL seukuran pantat gelas belimbing itu telah serupa bara kayu rambutan yang membakarnya. Merah menyala. Seperti cabe matang di pohon. Namun Durahim masih terus membolak-baliknya dengan penjepit dari pelepah kelapa yang dibelah dua, seperti ketika ia membakar terasi untuk membuat sambal. Ah, sambal. Sudah hampir seminggu Durahim [...]