Archive for the ‘Martin Aleida’ Category

Batu-Asah dari Benua Australia
February 14, 2012

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 12 Februari 2012) PUCUK cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

Melarung Bro di Nantalu
December 13, 2010

Cerpen Martin Aleida (Jawa Pos, 12 Desember 2010) TAK pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak [...]

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian
May 25, 2010

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 23 Mei 2010) SUDAH enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling. Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak [...]