Cerpen M Je’ef (Republika, 26 September 2010) AKU mengendus anyir paradoks dalam kepekatan malam. Lidah gerimis menjilat hening, tetapi debu-debu yang mengusamkan nurani masih saja liar menari-nari. Lantunan ayat-ayat suci Alquran terdengar di berbagai menara, tapi jiwa-jiwa yang kerontang tak sekejap pun berhenti meradang.