Cerpen Jun Nizami (Suara Merdeka, 4 Desember 2011) DARI kejauhan, hanya cahaya lampu-lampu yang menyelamatkan kota itu untuk tak disebut tenggelam. Angin tiba. Angin yang terlihat sudah begitu tua bangka. Ia seperti menghela nafasnya yang mulai lambat, satu-dua, seusai mengunjungi kota demi kota, melewati negeri demi negeri. Ia terlihat begitu lelah, semacam ingin rebah atau [...]