Cerpen Indra Tranggono (Kompas, 8 April 2012) SELALU setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang.
Archive for the ‘Indra Tranggono’ Category
Wajah Itu Membayang di Piring Bubur
April 16, 2012
Ode buat Babi Hutan
February 14, 2012
Cerpen Indra Tranggono (Suara Merdeka, 12 Februari 2012) SEEKOR babi hutan membeku dalam padat tembikar. Matanya merah, menatap nanar. Menatapmu. Menatap siapa saja yang melintas dalam manik matanya. Taring-taringnya putih agak abu-abu, kusam dengan noktah-noktah darah. Tubuhnya agak tambun, lebat ditumbuhi bulu-bulu kasar. Pada tubuh yang mirip punggung bukit kecil itu, menganga lubang 3X Ω [...]
Bukan Sekadar Air Mata
January 4, 2011
Cerpen Indra Tranggono (Suara Merdeka, 2 Januari 2011) RIBUAN kilometer waktu telah ditempuh Rosoh memasuki kota demi kota. Belasan sepatu telah ia pakai: satu jebol diganti sepatu lain. Puluhan galon keringat tubuhnya telah membasah dan menguap. Satu tujuan Rosoh: ibukota negara Krusantarel. Tepatnya, Istana Presiden Klobodan.
Sonya Rury
July 18, 2010
Cerpen Indra Tranggono (Kompas, 18 Juli 2010) MENDENGAR isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat menghormati keputusannya untuk menangis, di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris.