Cerpen Ida Refliana (Republika, 22 Mei 2011) SEBUTIR peluru menembus jantung. Sebab itu, Sahwan mati. Ia masih ingat bagaimana rupa suaminya. Pada hari sebelum kematian datang, wajah itu sempat tercecer di mana-mana. Di atas berlembar kertas yang dikopi, lalu terbawa angin memenuhi kota dan perkampungan; menempel di dinding-dinding kedai kopi, di tembok-tembok rumah penduduk, dan [...]