Archive for the ‘Hasan Al Banna’ Category

Kebohongan Ustad Baihaqi
March 6, 2012

Cerpen Hasan Al Banna (Jawa Pos, 4 Maret 2012) SETIBA di rumah, air muka Baihaqi keruh. Apa pasal? Apalagi, kalau bukan karena aduan istrinya perihal kedatangan tamu lepas asar tadi. Lama Baihaqi terpaku. Dia mengais janggutnya dengan jemari, seolah hendak melacak jawaban. Namun, dia tetap tak kuasa membebaskan diri dari sandera pertanyaan: mengapa Ujang Pelor [...]

Pengkolan Buaya
January 12, 2012

Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 8 Januari 2012) PERHATIKAN buaya berwarna abu-abu gersang itu lekat-lekat! Tampangnya beringas, bukan? Mulutnya menganga, memamerkan sengketa gigi yang meski bak gergaji usang, tapi menakutkan. Eh, lihat, bukankah kujur tubuhnya menyerupai huruf S raksasa? Ia banting kepala ke kanan, seolah ingin menerkam ekornya sendiri. Namun, sebaliknya, ekor buaya laksana [...]

Guru Jabut
August 22, 2011

Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 21 Agustus 2011) BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium [...]

Jaelani di Tangan Juru Cerita
May 2, 2010

Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 2 Mei 2010) SEKIRANYA Jaelani dituntut meluruhkan dedaun kegetiran hidup dari dahan kenangannya, tolong kasih tahu bagaimana caranya! Heh, sejak kanak, nasib telah menjebloskannya ke kubang kemelaratan. Lantas, hampir setengah abad kemudian Jaelani baru merasakan betapa hangatnya matahari kebahagiaan. Andai di hilir usianya ia sebenar bahagia, kepayang sekalipun, riwayat [...]

Tio na Tonggi
January 28, 2010

Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 3 Januari 2010)     LEGENDA Pitta Bargot Nauli! Bagaimana bisa Tio merontokkan sepahatan cerita itu dari dinding benaknya? Bayangkan, tak terbilang jumlah malam yang dihabiskan Tio untuk tekun menyimak Bapaknya bercerita. Sebelum berakhir, jangan harap Tio hanyut ke sungai lelap, lalu tenggelam ke kedalaman dekap Bapaknya. Konon di [...]