Cerpen Anna Prameswari Pramodhawardani (Suara Merdeka, 19 Februari 2012) MENGGANTUNG matanya menatap rembulan sabit yang pucat di ketinggian. Perlahan, berarak jarak pandangnya menyelami pekat malam dengan binar matanya yang ingin mengadu. Sesaat, terdengar hela nafasnya. Berat, seakan berkisah tentang asanya, impiannya, yang hanya menggumpal sebagai angan, yang terus-menerus ia kejar, tapi tak kunjung mendekat, apalagi [...]