Cerpen Abdul Hadi (Republika, 6 Februari 2011) DI halaman itu, pandangan Barka mendarat. Tatapannya kosong menyaksikan senja yang mulai remang. Cahaya kekuningan yang terpampang makin membuat kalbunya serasa ditusuk-tusuk seribu sembilu. Pedih, perih, dan ngilu. Sengilu jiwanya yang bimbang tidak terperikan.