Anjing Langit

Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 5 Agustus 2012)

DI ANTARA sekian banyak kisah mitologi yang sering dituturkan pamanku selepas makan malam, salah satunya adalah cerita Anjing Langit. Ia, kata Paman, anjing peliharaan Kaisar Giok yang ditugaskan menjaga delapan gerbang khayangan. Anjing itu besar dan berbulu hitam lebat dengan lidah yang selalu terjulur merah basah. Ah, aku membayangkan betapa garangnya binatang itu, dengan taring-taring tampak putih mengkilap.

“Oh, tak perlu takut, Nak. Dia takkan menganggumu atau siapa pun. Dia hanya galak pada orang-orang jahat dan para siluman yang tak mau bertobat,” lanjut Paman di antara santer aroma dupa dari altar keluarga yang mengepul pekat.

Entahlah, aku tak tahu kenapa dari sekian banyak kisah, Paman paling kerap menuturkan cerita Anjing Langit itu padaku. Berulang-ulang. Hingga tak terhitung lagi sudah berapa kali aku mendengarnya. Kadangkala kulihat kedua matanya berbinar-binar tatkala sedang berkisah.

***

PAMAN juga memelihara seekor anjing. Kukira jenis herder tapi dari ras campuran. Bukan hitam tapi coklat gelap, bulunya panjang mengkilap. Cukup besar jika dibandingkan dengan anjing-anjing kampung.

Hanya saja Paman tak pernah memberi nama pada anjingnya. Biasanya, ia hanya memanggil anjing itu, “Keuw! Keuw!” yang dalam bahasa Hakka artinya anjing. Akulah yang kemudian menamai anjing itu: Ran Tan Plan. Meskipun dia tidaklah mirip sama sekali dengan anjing konyol Lucky Luke yang kulihat di komik dan film kartun. Tak ada yang tahu dari mana pamanku memperoleh Ran. Suatu hari, saat aku masih duduk di kelas dua SD, ia pulang membawa Ran yang masih mungil dalam keranjang rotan. Sejak itulah Paman memiliki pendamping yang begitu setia dan lengket satu sama lain.

Ya, Paman sayang sekali pada anjingnya itu. Kupikir kami semua juga menyayangi Ran. Dia jinak dan manja pada kami. Dia juga tak pernah menggonggongi para tetangga atau tamu yang bertandang ke rumah. Namun sesekali dia bakal menggeram-geram dengan buasnya pada satu-dua orang asing yang lewat di depan rumah. Cuma orang-orang tertentu saja….

Ran setiap pagi selalu mengantarku ke sekolah. Dia akan mengejar di belakang sepedaku dengan nafas terengah-engah, dengan lidah terjulur keluar. Terkadang aku iseng mengajaknya adu balapan, yang segera ditanggapinya dengan gonggongan senang. Tanpa pernah diajari oleh siapa pun, dia hanya mengantarku sampai di depan gerbang sekolah lalu berdiri mengawasiku masuk ke halaman sekolah sambil mengkibas-kibaskan ekornya. Tak jarang dia juga datang menjemputku saat bubaran sekolah. Dia biasanya menyambutku dengan riang, melonjak-lonjak kecil begitu melihatku keluar dari pintu gerbang.

Namun di malam hari, dia bakal bersiaga di depan rumah. Berbaring tengkurap di teras dengan telinga bergerak-gerak meskipun kedua matanya tampak terpejam rapat. Dia takkan beranjak dari tempatnya sepanjang malam sebelum ayam jago berkokok. Kadang-kadang di tengah malam, kami mendengarnya mendengking halus, atau melolong panjang dengan nada memilukan.

“Itu tandanya dia mendengar arwah penasaran atau siluman lewat,” bisik pamanku dengan mimik wajah serius. Aku ternganga, membayangkan Ran Tan Plan dengan pendengaran supersoniknya menangkap kehadiran makhluk-makhluk halus itu: ada tapi tak beraroma!

***

KATA Ibu, Paman seorang Thung Se [1]. Tapi aku tak pernah melihatnya melakukan ritual memanggil para dewa merasuki tubuhnya. Paman juga tak pernah terlihat sedang berpuasa atau berpantang. Malah ia menyantap semua daging dengan lahapnya: babi, sapi, kambing, ayam, juga rusa dan kijang buruan. Ya, kecuali daging anjing….

Namun sesekali ada saja tetangga datang membawa anak kecil yang sakit menemuinya. Atau, “Aku susah tidur belakang ini, Hiung. Sudah seminggu ini bermimpi buruk terus.”

Paman tak pernah menulis kertas Phu [2]. Ia cuma mengangguk-angguk lantas mengambil sloki teh yang tersaji di altar Dewa Ngi Long dan memberikannya kepada para tetangga kami itu. Minumlah, semoga saja ada faedahnya, ucapnya kalem. Santai dan sedikit acuh. Toh, entah teh itu memang manjur, satu-dua hari kemudian kami selalu mendapat kabar baik dari mereka yang bertandang.

Aku ini bukan dokter, bukan dukun, Nak. Mana bisa aku sembuhkan penyakit? Kata Paman suatu kali padaku sambil tertawa kecil. Tapi Dewa tentunya bisa menolong siapa saja kan? Ia menatapku, pandangannya itu seolah hendak menembus ke dalam kedua mataku.

Di altar keluarga kami terdapat empat buah guci dupa. Yang paling besar adalah guci untuk Dewi Kwan Im yang berada di bagian tengah altar. Guci itu peninggalan Kakek, terbuat dari kuningan yang warnanya telah memudar kehitaman akibat dimakan usia dan seringnya terkena asap. Tiga guci lainnya berukuran lebih kecil dan terbuat dari tanah liat.

Di sebelah kanan adalah guci dupa untuk arwah Kakek dan Nenek yang meninggal sebelum aku lahir. Karena itu aku hanya mengenal wajah keduanya dari foto hitam-putih mereka yang dipajang berdampingan di atas altar (di kemudian hari, kukira itu foto yang sangat tua, sebab Kakek dan Nenek tampak masih muda; mungkin diambil tak lama setelah mereka menikah menggunakan kamera besar yang harus diselubungi kain hitam saat memotret).

Guci yang persis serupa diletakkan di sebelah kiri altar. Tak ada di antara kami yang bersembahyang di altar itu selain Paman. Gambar seorang lelaki muda berpakaian perang keemasan, memiliki tiga buah mata dan membawa tombak bermata tiga tampak berdiri gagah di dinding altar itu. Ia ditemani seekor anjing hitam yang duduk di sisi kanannya. Ya, Anjing Langit yang berulang-ulang diceritakan pamanku. Dan si mata tiga itu adalah Ngi Long Sin, dewa penjaga pintu khayangan, tukas Paman. Setiap pagi dan sore ia tak pernah lalai membakar dupa di depan altar itu, jauh lebih sering dari yang ia lakukan pada altar mendiang orang tuanya (hal mana yang mengundang cibiran ayahku).

Guci keempat yang terletak di bawah altar aku rasa tak penting diceritakan. Itu guci dupa Dewa Tanah yang dimiliki oleh hampir setiap keluarga Tionghoa.

***

AH, aku tak pernah tahu riwayat altar Ngi Long Sin di ruangan depan rumah kami itu. Dewa bermata tiga itu tentunya bukan dewa yang banyak disembah orang. Bahkan pada masa itu pun tak banyak keluarga Tionghoa yang memuja Dewa Ngi Long, apalagi memiliki altar pemujaannya di rumah. Dulu aku kerap membayangkan sosoknya seperti tentara yang sedang berjaga di depan Kodim saat aku diajak Ayah ke rumah salah seorang bibiku di kota kabupaten.

Tapi menurut pamanku, Ngi Long Sin adalah salah satu Panglima Langit yang memimpin balatentara khayangan. Toh, dibandingkan cerita tentang Anjing Langit, tidaklah pernah utuh Paman mengisahkan riwayat sang dewa. Seingatku hanya dua kali ia bercerita. Itupun setelah aku mendesaknya.

Menurut cerita Paman yang sepotong-sepotong dan agaknya berasal dari sumber yang campur aduk: Ngi Long Sin bernama asli Yang Jian. Dia hidup di jaman dinasti Qin dan pernah berguru pada seorang sakti bernama Giok Teng Cin Jin di Gua Lembayung Emas, puncak gunung Yu Quan. Dia adalah seorang perwira menengah balatentara kerajaan pimpinan Jenderal Li Chin, ayah Dewa Na Cha, yang kemudian dikenal sebagai Dewa Langit Raja Pagoda.

“Meskipun karir kemiliterannya gilang-gemilang dan digilai oleh banyak gadis cantik, Yang Jian menolak kehidupan mewah dan menikah. Dia vegetarian dan bertekad keras hidup menurut tuntunan Tao dan ajaran Budha. Sehingga Kerajaan Langit pun tergugah oleh kebajikan hidup dan kepahlawanannya yang selalu membela rakyat kecil. Karena itulah, setelah diangkat jadi dewa, ia pun diserahi tugas menjaga gerbang khayangan bersama Anjing Langit,” tutur Paman.

Tapi sebagaimana kebanyakan hikayat lama, cerita Dewa Ngi Long sebetulnya memiliki beragam versi berbeda. Ya, barulah jauh di kemudian hari aku membacanya dari berbagai buku: Ada yang mengatakan kalau Ngi Long Sin sebenarnya adalah walikota Jia Zhou bernama Zhao Yu yang hidup di masa dinasti Sui, pada masa pemerintahan kaisar Sui Yang Di (605-617 M). Ketika itu dia dielu-elukan setelah berhasil membunuh seekor ular naga ganas di sungai kota Jia Zhou yang menganggu penduduk. Karena itu, dia dikenal juga sebagai dewa pelindung kota-kota tepian sungai dan terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa dalam menghadapi siluman atau roh jahat. Riwayat lain menyebutnya sebagai putra Li Bing, gubernur provinsi Sichuan pada jaman dinasti Qin. Sementara dalam cerita Si Yu Ki [3], dikisahkan pula bahwa dia adalah keponakan Dewa Giok Hong Tay Te. Ketika Sun Wu Kung mengacau di khayangan, atas saran Dewi Kwan Im, ia diperintahkan untuk meringkus raja kera itu.

“Ngi Long Sin tak pernah menang dari Sun Wu Kung. Tapi Wu Kung takut pada Anjing Langitnya,” ujar pamanku menutup cerita.

Namun bukanlah Paman jika tak bersikeras bahwa versi dialah yang paling benar. Ia kepala batu sejak kecil! Dengus ayahku bersungut-sungut ketika suatu kali mereka terlibat cekcok mulut atas masalah yang tak penting. Sejak kecil mereka memang kurang akur. Ada saja yang membuat mereka bersitegang. Sehingga sebagai anak tertua, Bibilah yang selalu menjadi pendamai kedua adiknya. Tapi menurutku, ayahku yang terlalu sering mencampuri urusan Paman. Paling tidak, ia suka mengomentari apa yang Paman lakukan, seolah-olah pekerjaan Paman tak ada yang beres di matanya….

***

NENEKKU memiliki lima orang anak dari perkawinan keduanya dengan Kakek. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Tapi dua orang anaknya—sesuatu yang normal pada masa itu di kampung terpencil—meninggal saat masih anak-anak. Paman adalah anak keempat, dua tahun di bawah ayahku. Sebelumnya, Nenek sempat menikah dengan seorang tukang tahu yang mati sebelum mereka dikarunia keturunan.

Tentu saja semua anak Nenek sudah berkeluarga kecuali Paman. Apakah Paman memang tak ingin menikah seperti Dewa Ngi Long? Aku bertanya lugu suatu kali.

“Oh, bukan begitu. Pamanmu itu mau sekali menikah kalau saja ada perempuan yang mau dengan dia!” jawab ayahku dengan sinis.

“Husy! Nanti kedengaran dia, ribut lagi!” potong Ibu yang sedang menghidupkan kayu bakar dari balik tungku dapur. Namun terlambat. Tahu-tahu sudah terdengar langkah kaki yang sangat kuhafal dan ketika aku berbalik Paman sudah berada di dapur. Aku dan Ibu sama-sama menahan nafas, bersiap-siap mendengar keributan meledak. Tapi ternyata tidak. Paman hanya menatapku sebentar, lalu tanpa berkata apa-apa ia meneruskan langkah ke kamar mandi yang terletak di sudut dapur. Hanya saja, sekilas sempat kulihat wajahnya memerah.

“Menikah itu hanya menambah masalah. Jadi buat apa? Kau tahu, pamanmu ini masih bisa mendapatkan perempuan yang paman inginkan kalau mau,” kilah Paman dengan angkuh malam harinya saat kami duduk berdua di teras, “Tapi jika kau memilih tidak menikah atau terlambat menikah, orang-orang pasti mencibir dan mengejekmu tak laku.”

Gayanya seperti biasa, acuh tak acuh. Meskipun nada suaranya jelas terdengar kesal. Lalu ditambahkannya bahwa seharusnya ia tidak tinggal di kampung tapi merantau ke Jakarta seperti beberapa orang temannya. Aku cuma diam saja mendengarkan, tanpa keinginan berkomentar apa-apa. Usia Paman waktu itu sudah 42 tahun. Umur yang wajar apabila diledek orang-orang kampung sebagai bujang lapuk. Kendati begitu, seperti kebiasaannya, Paman tetap saja ngotot kalau dirinya masih seorang anak muda.

“Kau tahu, seusia Pamanmu ini Alan Tang masih beradu-akting dengan Chen-Chen dalam film romantis dan Ti Lung masih berperan jadi pendekar muda yang baru turun gunung. Lihat saja pertandingan-pertandingan Fo-le-man [4] di tivi. Coba berapa umurnya sekarang? Tapi ia masih bisa menjadi macan ring!” kata Paman dengan mimik setengah serius.

Ah, sebetulnya pamanku ini tidaklah gampang marah walaupun sering diejek, kecuali jika ia dikait-kaitkan dengan satu nama: Ling Fa…. Ya, nama itu seolah-olah nama keramat yang pantang disebut di hadapannya. Tentu saja semua orang kampung tahu itu nama mantan pacar Paman. Tapi aku sendiri baru pertama kali mendengar nama tersebut ketika suatu hari Paman terlibat keributan di warung bakmi. Aku sudah lupa bagaimana persisnya kejadian yang berujung di kantor polisi itu. Yang aku ingat, betapa gusarnya Ayah saat itu karena harus bolak-balik ke Polsek di kota kecamatan untuk mengurus perkara Paman.

“Orang Alleluya,” kata Ibu kemudian memberitahu perihal si empunya nama sekaligus muasal kisah asmara Paman yang tak sampai, “Keluarga perempuan itu tak setuju dengan pamanmu.”

Aku langsung paham kalau yang dimaksudkan oleh ibuku adalah pemeluk Kristen Protestan. Karena untuk orang Katolik, kami biasa menyebutnya sebagai ‘orang pastur’. Tak banyak orang Kristen di kampung kami waktu itu, hanya beberapa keluarga. Tapi menurut orang tua kami, mereka cukup fanatik dan sedikit menjaga jarak dengan para tetangga. Berbeda dengan ‘orang pastur’ yang tak dilarang memegang dupa dan bersembahyang untuk arwah leluhur, mereka bahkan dengan terang-terangan menyatakan altar-altar keluarga dan para dewa di rumah kami sebagai berhala yang mesti disingkirkan. Jelas, mereka juga tak makan bekuan darah atau makanan bekas sesajen sembahyang.

“Nah, bayangkan saja bagaimana kedua orang tua Ling Fa bisa merestui anak gadisnya menikah dengan seorang penyembah berhala? Apalagi pamanmu tegas-tegas menolak dibaptis,” kata ibuku.

Namun ayahku punya versinya sendiri atas garis perjodohan Paman yang buruk. Menurut Ayah, seretnya jodoh pamanku tak lain karena ia dilahirkan pada tanggal 28 bulan delapan Imlek, tepat pada hari ulang tahun Dewa Ngi Long. Bahkan untuk menguatkan argumennya tersebut, Ayah sampai perlu membeberkan sejumlah contoh:

“Kau tahu Bibi Lan yang tinggal dekat sekolahmu itu? Ia juga perawan tua kan? Itu karena tanggal lahirnya bertepatan dengan hari moksanya Dewi Kwan Im. Begitu pula Paman Ho, teman kerja ayah. Ia juga tidak menikah lantaran lahir pada perayaan Dewa Fa Kong. Secara tak langsung, mereka itu ikut ketiban bayang-bayang takdir para dewata yang dilarang menikah oleh ketentuan hukum Langit!”

“Kok bisa begitu? Tanggal lahirku tak bertepatan dengan hari ulang tahun salah satu dewa kan, Yah?” tanyaku kaget dan cemas. Ayah tertawa dan mengusap rambutku, “Jangan khawatir. Kita tidak memuja Dewa Nacha di rumah ini….”

***

TERLEPAS dari karma atau bukan, keramat atau tidaknya hari ulang tahun pamanku, toh setiap tanggal 28 bulan delapan Imlek, ia selalu menghilang bersama Ran Tan Plan. Tak seorang pun dari kami tahu ke mana ia pergi dan atas kepentingan apa. Tak pernah ia mau bercerita, pun padaku. Apakah Paman pergi menyepi ke suatu tempat untuk bersemedi? Bertapa di hutan atau gua dengan tuntunan dewanya atau menuntut kesaktian seperti para pendekar dalam film.

“Ada-ada saja pikiranmu! Dia tuh cuma mencari sensasi saja! Dia pasti pergi ke tempat seorang temannya, atau mungkin pergi mancing ke laut!” sergah Ayah yang tak suka mendengar tebak-tebakanku.

Biasanya Paman sudah berangkat pagi-pagi sekali dan baru kembali setelah hari sudah gelap atau keesokan pagi. Namun kadang-kadang bisa sampai dua hari, bahkan pernah sampai seminggu baru pulang. Demikian setiap tahun. Sampai suatu kali, ia pergi lama sekali. Baru sekitar tiga minggu atau lebih ia kembali. Sendirian. Lesu, acak-acakan, dan tampak lebih kurus.

“Ran mana, Paman?” tanyaku menghambur ke halaman menyambutnya karena tidak melihat anjing kesayangan kami itu bersamanya. Kulihat Paman seperti tercenung, raut wajahnya setengah bloon setengah sedih. Dua kali aku bertanya, tetapi Paman masih saja bungkam, tampak enggan menjawab. Diteruskan langkahnya masuk ke dalam rumah dengan gontai.

“Paman!” aku mengejarnya, “Ran di mana, Paman?!”

“Paman!!” aku berteriak dan mengguncang-guncang tubuhnya, “Di mana Ran, Paman?!” tapi Paman tetap saja bergeming. Ayahku yang sedang membersihkan sepeda jadi meradang. Dihampirinya Paman dengan wajah merah, “Hei, jawab! Ke mana kau bawa anjing itu, Hiung!”

Wajah Paman ikut memerah, mulutnya tampak berkomat-kamit tapi tak bersuara. Ditatapnya wajahku dengan pandangan seperti bersalah lalu berbisik, “Maaf, Lie, Ran sudah kembali ke tempatnya di khayangan. Ia moksa….”

Aku kaget setengah mati. Namun sebelum tangisku pecah, Ayah keburu membentak, “Moksa kau bilang? Kalau mau gila jangan ajak-ajak orang ya! Kau apakan anjing itu?!”

Ibu tergopoh-gopoh datang dari dapur. Tapi ayahku sudah keburu mencekal kerah baju Paman. Paman mendorongnya. Terjadi dorong-mendorong antara kakak-beradik. Ibu berteriak-teriak melerai. Saat itulah, kedua mataku yang berlinang melihat sehelai kertas terjatuh dari saku kemeja Paman. Tepat di bawah kakiku. Selembar foto. Foto perempuan muda. Seorang gadis Melayu yang berkulit hitam manis….

Ah, ibuku selalu percaya, hujan—lebat ataupun sekadar gerimis—bakal turun pada setiap tanggal suci para dewa. Begitu pula jika ada orang meninggal di sekitar kita. Tentu saja hal itu sulit diterima logika. Tapi tak perlu berdebat dengannya, pengalaman masa kecilku seolah menunjukkan: Ibu memang nyaris selalu benar! Setiapkali beliau membersihkan dan menghias altar Dewi Kwan Im dengan bunga-bunga di hari ulang tahun dan moksa sang dewi yang welas asih, aku selalu mengingat rintik-rintik hujan menerpa genteng, terkadang tercurah dengan hebatnya hingga selokan di depan rumah meruap.

Toh hari itu, tak seorang dewa atau peri pun yang berhajat besar di khayangan, namun hujan tiba-tiba mengucur begitu deras.(*)

 

 

Krapyak Wetan, Jogjakarta, Juli 2012

 

Catatan Kaki:

1. Thung Se: orang yang melakoni ritual kerasukan dewa. Di Kalimantan Barat disebut juga sebagai Ta Thung.

2. Phu: Kertas kuning persegi panjang yang ditulisi mantera, biasanya digunakan sebagai jimat penangkal bala.

3. Si Yu Ki: Perjalanan Ke Barat, sebuah epos tentang perjalanan Rahib Tang mencari kitab suci ke India ditemani tiga siluman.

4. George Foreman, mantan juara dunia tinju kelas berat di tahun 70-an yang kembali naik ring pada umur 40 tahun pada tahun 1990.

.

.

About these ads

One Response

  1. Cerita masa kini yang dicampur legenda. Enak juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: