Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 12 Februari 2012)

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal. Ada pula yang menganggap sakit biri-biri karena sekujur badan penderita bengkak seperti biri-biri gemuk. Begitulah, untung tak dapat diraih, malang tak tertolak, kebersamaan kakek-nenek usailah sudah. Inti kalimat sedih sekaligus pasrah itu lekat dalam diri pamanku selamalamanya….

Cerita ini dibenarkan ayahku—anak laki-laki tertua nenek—dengan menambahkan bahwa paman lahir di zaman sulit. Pergolakan daerah, orang menyebut. Sehingga kemudian ayahlah yang menjadi tulang-punggung keluarga dengan berladang dan memikat burung. Ah, kau toh pernah dengar barang sekelok cerita tentang mereka. Kini tiba saatnya aku menceritakan tentang pamanku, kurasa akan lebih dari sekelok. Sebab campur-aduk, antara kenangan dan kenyataan, dongeng dan sejarah, mimpi dan halusinasi, sukar kubedakan bahkan setelah aku dewasa pun. Kadang kupikir, upayaku menceritakan dia sebenarnya tak lebih menceritakan diriku sendiri yang termangu takjub di depannya. Jadi bukan aku yang menceritakan pengalaman hebatnya, tapi hakikatnya dia sendiri yang bercerita lewat ketakjubanku, juga kedunguanku, padanya.

 .

Muasal Sebuah Nama

MENURUT paman, ayahnya meninggal memang di zaman sulit setelah sempat sakit. Tapi bukan sakit yang memberatkan keluarga, hanya sakit sejenak karena luka pertempuran. Katanya, sang ayah tak lain komandan Peri-peri (di kampungku berarti PRRI*). “Kakekmu komandan hebat. Ia berladang sambil berjuang. Suatu ketika tentara pusat menyerbu markasnya. Kakek dan anak buahnya membalas. Pecahlah pertempuran lima hari. Jika kau baca dalam buku pelajaran, pertempuran lima hari bukan di Semarang, tapi di Kambang, “ia meralat sejarah dengan merujuk kota kecamatan di daerahku. Meski terdesak, ayahnya tetap bertahan. Padahal dengan resiko anak dalam kandungan istrinya tak akan melihat wajah sang ayah dan si ayah pun tak bakal melihat wajah sang anak.

“Orang Peri-peri alangkah gagah. Mereka korbankan semuanya demi mengingatkan orang di Jawa supaya mendengar suara orang di luar Jawa,” kata paman. “Jadi ayah paman, kakekmu juga, meninggal bukan karena sakit kuning. Jika warna tetap perlu dalam kematian seseorang, maka warna kematiannya adalah biru, ya, biru semata mengharuku; tubuh biru, tatapan mata biru—dan sedikit warna merah di dadanya!” Aku tertegun haru. Sayup-sayup kuingat sebaris sajak tentang pahlawan dalam buku pelajaran sekolah. Ya, sebutir peluru lalu merenggut tubuh kakek; namun sebelum ambruk, kakek masih bisa mencapai pintu rumah. Pejuang gagah itu akhirnya jatuh di atas perut nenek yang buncit. Bibir keringnya berkata, “Untung aku sampai di rumah, jika tidak jasadku akan dibawa ke Jawa, dijadikan biri-biri percobaan calon dokter di sana!”

“Maka begitulah, Buyung, orang menghubungkan kakekmu dengan sakit biri-biri. Padahal ucapan terakhir itu bagian perjuangannya juga: waspada terhadap apa pun berbau Jawa atau Jakarta. Ketahuilah, Buyung, soal penyakit itu disebarkan pengkhianat. Merekalah yang lebih pantas disebut biri-biri berkaki dua sebab bisa ditarik ke sana ke mari oleh yang punya tali….”geraham paman gemeretuk.

“Tapi masih lebih banyak orang baik. Nasib yang tertuntung kepada paman mereka pakai untuk memberiku nama. Untung Uwo Kadi sempat mendekap perut istrinya, seolah berbisik kepada anaknya, begitu kata orang-orang. Memang benar, Buyung, dari balik bilik tipis perut nenek, paman merasai deru nafas terakhir kakekmu, seakan berbisik supaya paman membalas dendam kelak dikemudian hari. Paman pun mengerti. Sebelum lahir ke dunia paman mengikat janji: akan kucari orang-orang berpakaian loreng yang menyerbu kampung kita. Tak ada ampun, paman akan suruh ganti pakaian mereka dengan warna hijau semata, ya, hijau, itu bukan warna sorga, Buyung, itu warna bumi. Jika bumi belum hijau, tugas tentaralah yang membuatnya hijau. Mereka harus disuruh kerja bakti menanam kacang dan jagung, bukan malah merusaknya. Hanya macan yang boleh loreng, dan tentara bukan macan, bukan? Lagi pula macan tak suka jagung. Bersama tekad itu paman lahir, tidak menangis, tidak meronta, ya, kau harus percaya, paman tidak menangis saat dilahirkan ke dunia!”

 .

Tamasya ke Kota Suci

SUATU hari, paman mendatangi tempat bermain kami. Ia membawa kabar gem bira, “Hai, anak-anak, ayo ke mari. Mau ke kota tidak?” Anak-anak menyambut riuh. Tak seorang pun di antara kami pernah ke kota, yang terdekat sekalipun, sehingga ajakan itu membuat kami terceguk gembira. Pikirku sendiri, ini pasti tak main-main, sebab telah lama beredar kabar bahwa Pak Gaek Sani—kakak ipar Paman Untung—akan membeli sebuah bis angkutan umum. Tentu, berkat tanah pusaka. Mungkin bis itu telah datang dan sebagai rasa syukur, si empunya bis menugaskan paman untuk mengumpulkan anak-anak, mengajaknya jalan-jalan.

“Ke Padang!” kata Isam dengan mata berbinar.

“Jangan jauh-jauh…. Ke Batangkapas saja,” sahut Ijal.

“Jauh sedikit dari Batangkapas, ke Painan,” pinta Sihem.

“Sekalian ke Jarkarta!” Ujang Meren yang pemberani melewati semua kota yang kami bayangkan. Kami mencegatnya: jangan minta lebih, bisa-bisa ajakan paman dibatalkan!

“Kamu berani, apa? Jarkarta itu sudah dekat luar negeri….” Idar setengah berbisik.

Tapi di luar dugaan, Paman Untung berkata, “Lebih jauh dari Jakarta! Untuk apa ke sana? Dulu mereka kirim tentara ke mari! Kita pergi lebih jauh dari Amerika, bahkan luar negeri pun lewat, sebab ini berhubungan dengan akhirat!” Kami tersedak penasaran. Bersiap kecewa karena kalimat itu menyiratkan ajakannya telah batal, meski kami masih berharap bakal ada perjalanan di luar dugaan. Tiba-tiba dengan satu sentakan, ia patahkan ranting pohon andalu, lalu berkata, “Lihat ke mari!”

Dengan ranting itu ia cekatan menggambar sesuatu di tanah, kian lama kian besar membuat kami mundur beberapa langkah. Ternyata itu belum muat juga, kami menghindar lebih jauh sambil melihat paman seperti kesurupan. Ia memutar badannya dengan cepat untuk menyambungkan satu garis dengan garis lain, menambah bidang garis seolah tak selesai. Barulah setelah agak lama ia berhenti sendiri dan berseru, “Ini Makkah, mendekatlah!”

Kami mendekat dan menemukan tanah di bawah kerimbunan pohon manggis tempat kami biasa bermain telah penuh dengan ruang dan garis, bersilangan. Sekilas, tak lebih baik dari jejak kais ayam-ayam. Itulah peta kota yang ia sebut berhubungan dengan akhirat: Makkah. Jalan-jalan, jalur-jalur air, rumah-rumah kubus dan masjid raya ia tunjukkan dengan ujung ranting keringnya. Saking besarnya peta yang ia buat, kami harus memanjat pohon manggis untuk melihat keseluruhan kota. Ia juga menandai di mana Goa Hira, Padang Arafah, bukit-bukit tak bernama bahkan makam Rasulullah dan para sahabat. Aku tak tahu, apakah semua itu masih dalam Kota Makkah. Yang jelas, pusat kota ditandainya dengan garis lingkar dan ia sebut Baitullah. Ia tak mau menggambar detail, alasannya haram menggambar seluk-beluk Baitullah sebab bisa menyesatkan.

“Ingatlah waktu kalian paman tunjukkan komik Burung Ababil dan Tentara Bergajah. Saat itu nabi baru lahir, tapi tukang gambar hanya menggambar punggung orang-orang yang merubung di tepi ranjang. Padahal beliau belum jadi nabi. Lalu, setelah beliau jadi nabi, yang diperlihatkan hanya kaki kuda dan kaki onta yang beliau naiki. Itu yang paman lihat dalam video di rumah Uni Eli. Tahu kenapa?” Tak ada jawaban, maka ia jawab sendiri, “Sebab tak kuasa kita menggambarnya.” Dan akhirnya, ia mengancam, “Jika ketentuan ini dilanggar, siap-siaplah matamu jadi buta dan jari-jarimu bengkok!”

Larangan ini tak mengejutkan. Toh kami juga dilarang menunjuk kuburan dan pelangi sebab, katanya, itu akan membuat telunjuk bengkok. Kami cukup menunjuknya dengan punggung tangan atau moncong dimonyongkan seolah punggung tangan dan mulut barang kebal yang tak bisa bengkok. Di surau, kami juga tak boleh mencibirkan mulut di halaman pertama juz ‘ama yang memuat gambar tanda melafalkan huruf-huruf sebab lidahmu bisa terjulur kelak di akhirat. Padahal jika kuingat sekarang, gambar itu dibuat sebagai petunjuk cara melafalkan huruf dengan benar. Dan kini Paman Untung menambah pantangan baru. Baiklah kalau begitu. Yang penting pada hari tak terlupakan di masa kecilku itu, ia benar-benar mengajak kami bertamasya, “Wahai kalian semua, setelah mendekat, kini masuklah!”

Maka kami masuklah ke dalam kota—cerita Paman Untung, melewati jalan-jalannya yang berdebu, naik bukit-bukit pasir, bergulingan di kebun kurma, menghalau barisan onta, singgah di mesjid indah, menyentuh Baitullah, meraba-raba terowongan panjang dan sampai juga ke Laut Merah. Semua kami nikmati dalam tuntunan laki-laki kampung, nyaris buta huruf, berusia 25 tahunan namun masih lajang itu. Setiap tiba di satu titik, misal yang ia sebut Padang Arafah, ia akan berdiri tegap, dan menjelaskan tempat apa gerangan yang kami kunjungi. “Inilah Padang Arafah, bukan padang sembarang padang, tapi padang perjumpaan Adam-Hawa; di sini mereka bertemu kembali dan jatuh cinta untuk kedua kali. Paman pun punya Padang Arafah sendiri, di mana paman akan berjumpa dengan perempuan calon istri. Orang yang setengah kantuk menggunjingkan paman sebagai bujang lapuk, akan terbelalak mendapati paman bersama perempuan yang disimpan Tuhan, khusus buat paman.”

Lalu ia berlagu bahasa Arab, serupa orang mengaji, meski jika disimak baik-baik itu tak lebih ceracauan yang dimerdukan. Tapi malah menambah keriangan tamasya suci kami, nun di bawah pohon manggis di masa kecil yang manis.

 .

Adu Ayam yang Menggiurkan

MESKI sering melafazkan kata-kata seperti orang mengaji, Paman Untung dikenal suka mengadu ayam. Dia punya ayam kesayangan bernama Biring yang ia bawa keliling kampung mencari lawan tanding. Selain bertaruh kecil-kecilan, ia lebih puas hanya menyaksikan pertarungan. Ia ikut bertampik tiap kali ayam itu bertampik dengan sepasang sayapnya yang rimbun. Menang atau kalah tak penting. Bahkan, jika tak bertemu lawan tanding, ia biasa melemparkan ayam aduannya ke kolong rumah tetangga. Di sana banyak ayam berkubang pasir sehingga sukar membedakan apakah ada ayam jantan ataukah semuanya betina. Karena itu, ayam yang dilemparkan ke kolong dengan dua kemungkinan: pertama di sana ada ayam jantan namun tak kuat melawan Biring yang terlatih. Untuk ini setidaknya ia pernah disemprot habis-habisan oleh Uni Timar. Sebab ayamnya sampai botak dipatuk Si Biring.

“Lihat, sampai habis bulu kepalanya! Doni akan menangis seharian jika melihatnya nanti,” Uni Timar berang. Paman Untung cengengesan mengambil ayam itu dan tak menunggu lama ia melepaskannya kembali ke tempat semula. Kini ayam itu sudah berjambul panjang sangat indah, membuat Doni, anak Uni Timar, jatuh hati. Itu tak lain berkat akal pamanku yang mencengangkan: ia rekatkan bulu ayam lain dengan lem, warna-warni!

Kemungkinan kedua adalah, ayam di kolong tak lebih kumpulan betina yang membuat Si Biring tak mau ke luar sekalipun dipanggil “kur, kur, kur!” beberapa kali. Dan akhirnya memang tak akan dipanggil lagi. Itu taktik supaya paman leluasa merangkak ke kolong rumah untuk menjemput si Biring yang tergoda pasangan. Untuk yang kedua ini ia ikut tergiur sebab pas di bawah lantai kamar Uni Ijus, ia acap mendengar suara tak biasa dari atas rumah. Tentu saja, sebagai pelaut yang berangkat malam, Bang Suman, suami Uni Ijus, hanya punya waktu bercampur dengan istrinya siang hari. Paman tinggal menempelkan telinganya ke lantai papan, sesekali ia cari lobang seperti mencari matahari di kolong langit.

Itu semua diceritakan paman padaku tanpa sungkan. “Dengan cara itu paman melihat dunia diciptakan dalam keadaan terbalik. Meski paman lebih banyak mendengar suara-suara, persis radio, hanya sesekali seperti televisi hitam-putih jika mereka tergolek ke lantai. Tungkai Bang Suman tampak bergerak menekan-nekan ke tepi dipan.” Keakraban kami memang bagai teman, kadang untuk membicarakan hal yang ditabukan. Lantaran itu pula ia mengaku padaku punya alasan kenapa suka mengadu ayam. “Paman membayangkan diri sebagai Bujang Jibun, laki-laki yang pandai mencari lahan menggiurkan.” Aha, Bujang Jibun, nama itu hidup dalam cerita ayahku dan sangat kusukai!

 .

Telur Kegelapan

CERITA tentang dunia yang diciptakan dalam keadaan terbalik ini agak sering diulang paman, termasuk kisah tentang telur, ayam atau burung. Suatu malam menjelang tidur, saat lampu dimatikan, ia bercerita sesuatu yang menakutkan. Tapi aku tak takut, hanya penasaran. Konon, sepotong tangan dalam gelap pernah mengulurkan dua butir telur kepadanya. “Simpanlah telur ini baik-baik,” kata sesuara tanpa kelihatan wujud tubuhnya, kecuali sepotong tangan yang juga samar. Telur itu seperti melayang. Paman Untung mengambil keduanya. “Lalu seekor ayam, ah, sebenarnya lebih tepat burung, juga dititipkan kepadaku. Katanya, ‘Burung ini akan menetaskan dua butir telur yang engkau punyai. Jika abai, ia akan lepas dan telurmu dikutuk untuk utuh bulat selamanya.’”

“Paman masih menyimpannya,” katanya menyaran. Aku tambah penasaran. “Kau boleh merabanya, tapi jangan dilihat sebab kau masih kecil, tak kuat syarafmu nanti.”

“Meraba pun tak apa,” kataku penuh ingin tahu.

Tapi ia masih mengajukan syarat, “Burungnya harus kau jepit supaya tak lepas.”

Dalam gelap ia pegang pergelangan kaki kiriku, lalu ditekuknya lututku kuat-kuat. Saat itulah sebuah benda tegang-padat terjepit di antara lipatan lututku! Lalu dituntunnya tanganku meraba dua telur yang ia maksud. Bulat berselaput dalam kantong kulit!

Aku berontak. Paman pun tak memaksa, seketika ia sangkarkan lagi burung dan telurnya. Waktu itu usiaku mungkin empat atau lima. Aku bisa saja membenci Paman Untung sampai sekarang, kalau saja ia tak “diberkahi” penyakit kemudian. Ya, sehari setelah malam itu, ia kena demam panas yang membuatnya meracau sepanjang waktu. Penyakit ini biasa disebut kena jilawik (mungkin maksudnya jin laut). Kalau kupikir sekarang, itulah yang disebut orang kota sebagai stres. Sebagaimana penyakit layu sebatang badan di kampungku disebut tapaindo, di kota dibilang stroke. Kampung punya nama penyakitnya sendiri.

Ibu berkata padaku, “Pamanmu kena jilawik, untung semalam kau tidak diapa-apakan. Sementara ini jangan tidur dulu di rumah nenek.”

Ini sudah cukup membuatku lebih baik, hanya disuruh menjepit burung dan meraba telur ajaibnya tanpa paksaan. Sebab kau tahu, orang yang kena jilawik bahkan pernah mencangkul punggung ayah kandungnya. Sebaliknya, aku kasihan pada paman: ia meracau terus, “Telur kegelapan, menetaslah, menetaslah!” Sebagian orang menyebutnya gila. Untunglah penyakitnya tak lama, sehingga tak sampai dipasung seperti Bualis tetangga jauh kami. Namun beberapa kali penyakit paman kambuh. Terakhir ia bertapa di atas pohon besar ketika usiaku sudah cukup jadi seorang penggembala. Saat itu ia sempat dipasung sebentar.

 .

Dunia yang Berubah

SEJUJURNYA, paman orang yang menyenangkan jika keadaannya normal. Ia juga bukan pemalas. Orang bersawah, dia juga membantu nenek bersawah. Orang ke laut, ia juga ikut ke laut menjadi anak buah kapal ikan. Di mataku ia cukup cerdas, terbukti jika ia bercerita pengetahuannya luas, membuat yang mendengar sulit membantah. Padahal sekolahnya hanya sampai kelas lima SD, sekadar membebaskannya dari buta huruf. Maka seperti pemuda lainnya, paman mesti menjalani pekerjaan yang lazim di kampung. Ke lautlah pekerjaan yang ditekuni paman, dan di luar dugaan membawanya keluar dari kampung. Ia pernah mengadu untung ke Pariaman, ikut sebuah bagan (kapal kayu kecil). Pernah sebentar di Sibolga, lalu ke Mentawai. Kemudian terdengar kabar ia pindah ke Air Bangis, Pasaman, dipercayakan jadi nakhoda. Aku sering terceguk mendengar nama-nama tempat yang diceritakan saat sesekali ia pulang. “Pariaman itu pantainya putih, negerinya ramai,” katanya suatu ketika.

“Wah, bisa kawin bajapuik kamu nanti,” kata ibuku ikut nimbrung.

“Itu untuk doktorandus, Uni. Bisa dijemput seharga satu sepeda motor. Awak kan doktor bagan, hahaha….”

“Lebih perlu doktor bagan, jelas dapat ikan. Di kampung ini camatnya doktorandus, tapi mengenali ikan busuk saja ia tak bisa….”

“Husy, dinding bertelinga!” ayahku menyela. “Ingin aku dijemput Koramil, ya?”

“Memang kenyataannya begitu! Sudah menyebar dalam kampung ia dekat sama janda si Anu. Hendak ia sembunyikan ikan busuk, sepandai-pandainya pasti berbau juga….”

“Di Air Bangis pernah ada ikan paus terdampar!” Paman sengaja mengeraskan suaranya, melerai ibu dan ayahku. “Tapi tidak sampai busuk….”

“Sebesar kapal?” sambutku tangkas, tak ingin terganggu ayah-ibu.

“Sebesar kapal terbang. Dagingnya diambil nelayan. Tulang-tulangnya disimpan di museum Bukittinggi. Di Mentawai, pohon kayunya yang besar-besar, ditarik oleh kapal. Di Sibolga, suara orangnya yang besar, ramai dan sesak. Tak cocok paman di sana. Banyak orang tentara datang ke kapal minta pungutan. Paman tak suka. Tak tentara dari Jawa, tak tentara di Sumatera, sama saja. Tapi tidak semua, ya. Coba kalau sekolahku tamat dan gigiku tak berlapis, pasti paman sudah masuk tentara menunaikan perintah kakekmu. Sekarang kamu saja yang masuk tentara setamat sekolah nanti. Tak perlu pangkat tinggi. Cukup dua bantal di bahu sudah itu.”

Ibuku berseru, “Jelaskan yang kau maksud, Ntung, nanti Kudal membawa bantal tidur pula ke luar rumah….”

Paman tertawa dan menjelaskan bahwa yang ia maksud adalah tanda pangkat seorang tentara, kadang diistilahkan balok. “Tak usah bintang tinggi-tinggi. Patah urat lehermu nanti,” katanya. “Dengan dua balok saja kamu sudah bisa ambil ayahmu di kantor Koramil, melaksanakan pesan kakek dan menertibkan pelabuhan dari orang-orang yang berebut ikan.”

Mencengangkan: pamanku berubah seperti ikan terbang melihat dunia!

 .

Paman Untung Ketiban Jodoh

PERUBAHAN itu kian jauh ketika kudengar kabar dari ibu bahwa paman akan menikah. “Dengan siapa, Bu?” aku bertanya karena teringat masa ia di kampung tak punya kawan perempuan. Aku lupa ia sudah ke luar ke mana-mana dan itu artinya ia bisa bertemu dengan siapa saja.

“Orang Jawa….” ibu berbisik lirih. Aku pun ikut lirih mengucapkan, “O….”

Ibu bersikap begitu semata karena tak banyak pasangan menikah dengan orang jauh. Satu dua pasangan luar daerah juga tinggal di rantau. Lalu bagaimana bisa paman yang dulu sinis pada sesuatu berbau Jawa, akan tinggal serumah dengan perempuan Jawa? Dunia berubah. “Ia dari Wonogiri, tapi bertransmigrasi ke Simpang Empat. Keluarganya baik sekali. Tak bisa lain, paman harus menikahinya sekalipun jika paman harus pindah dari laut ke kebun. Tapi bila benih sudah ditanam, paman bisa kembali ke laut.”

Begitulah mereka berjanji ketika paman dengan gagah mengalahkan pesaingnya di pelabuhan. Tak perlu pakai ilmu macam-macam, kecuali ikhlas. Kata paman, gadis itu sering ikut Bu Lik-nya membantu berjualan nasi pecel. Dia sudah dikenal di pelabuhan dan banyak yang menggodanya. Tapi paman cukup bilang dari atas kapal, “Kalau musim kemarau engkau tinggalkan kebun dan pergi ke pelabuhan Air Bangis, maka bisa juga sebaliknya lho!”

Si gadis Jawa membalas, “Maksudnya apa toh?”

“Kalau suatu saat paceklik ikan, aku juga bisa meninggalkan pelabuhan dan pergi ke kebun orang trans di Simpang Empat!”

“Oalah, Mas, ikut saja kalau berani!”

“Lha, kalau dia berani datang ke Air Bangis, masak paman tak berani ke Simpang Empat? Maka suatu hari, tak perlu alamat, paman datangi daerah orang trans di pedalaman Pasaman. Karena sengaja hanya bermodal nama dan ciri-cirinya, ternyata sulit mencari perempuan itu. Daerah transmigrasi itu luas sekali. Paman putus asa, tapi ajaib, di jalan paman bertemu lelaki berjanggut putih bersorban putih, ‘Berbaliklah tujuh langkah ke kanan, anak muda, kamu akan lihat pohon mangga mulai berputik,’ katanya. ‘Aku tak mencari mangga,’ jawabku. ‘Tapi mangga itu menunggu kamu, putiknya akan menjadi buah,’ ia mendesak. ‘Aku buru-buru, Pak Tua, nanti bis ke Air Bangis keburu habis,’ paman mengelak. ‘Panggil aku Kyai Mustofa! Berbelok sekarang juga!’ Antara kaget dan kesal paman berbelok, dan benar, tujuh langkah kemudian paman lihat pohon mangga berputik di depan sebuah rumah. Seorang perempuan tersenyum manis di bawahnya, ‘Monggo, Mas….’”

“Hahaha, ternyata benar ini yang kucari. Tapi Kyai itu sudah hilang entah ke mana, paman lupa berterima kasih….” (*)

 .

.

Rumahlebah Yogyakarta, Juni 2010-Desember 2011

 .

Catatan

PRRI, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, gerakan pemberontakan daerah Sumatera Tengah terhadap Pemerintah Pusat (1958-1961).

.

Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku kumpulan cerita pendeknya Parang Tak Berulu (2005).

.

.

About these ads

5 Responses

  1. Cerpen yg cukup panjang.
    Bagus. Terima kasih.

  2. cerita yg “sangat” menginspirasi…

  3. Terima kasih Raudhal dan Iin. Ingek jo Untuang. Lah lamo ndak basuo

  4. Salah satu cerpen panjang yang kubaca habis, dan aku sangat suka!

  5. Kemasan dari banyak cerita yang menarik. Apabila mau beliau sudah banyak bahan bermutu …. diurai satu-satu. Tks anyway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: