Archive for February, 2012

Pukul Sebelas Malam
February 28, 2012

Oleh Desi Puspitasari . . “HIDUP sebenarnya hanyalah mengenai perkara kehilangan.” “Kukira begitu.” “Kau setuju?” Hari ini hari Kamis. Bar tidak begitu ramai, tentu saja. Dari sudut ruangan terdengar lamat-lamat “Shining In The Light” milik Robert Plant dan Jimmy Page. Seorang pelanggan menyulut rokok dan mengembuskan asapnya panjang-panjang. “Hidup sebenarnya hanyalah mengenai perkara kehilangan.” (Hal. [...]

Anak Ibu (3)
February 28, 2012

Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 26 Februari 2012) Anak yang baik adalah anak yang dapat memelihara hati ibunya.  . Alun-alun Surga Seorang wanita. Seorang ibu. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apa yang sebenarnya ia lakukan kepada anaknya? Begini. Seorang anak. Anak satu-satunya. Anak perempuan. Anak manis. Gadis periang. Bermain dengan teman-teman. Sebayanya. Semua laki-laki. Ibu khawatir. Kita [...]

Bintang Jatuh
February 28, 2012

Cerpen M. Iksaka Banu (Koran Tempo, 26 Februari 2012) DINI hari. Sisa ketegangan masih melekat di setiap sudut benteng, menghadirkan rasa sesak yang menekan dari segala arah. Sesekali aroma busuk air Kali Besar tercium, bergantian dengan bau barang terbakar. Ingin sekali aku berendam telanjang di dalam bak mandi setelah enam jam berteriak memberi komando serta [...]

Lelaki Tua dan Piano
February 28, 2012

Cerpen Ryan Rachman (Suara Merdeka, 26 Februari 2012) DESEMBER yang dingin. Sore yang membosankan. Kuambil sweater yang tergantung di belakang pintu dan kuputuskan untuk keluar dari Manhattan Broadway Hotel. Kulangkahkan kaki menelusuri Broadway. Udara New York sore itu begitu menusuk sungsum tulang. Jalanan sepi. Salju sisa semalam masih menutupi jalan. Aku terus malangkahkan kakiku. Mataku [...]

Surat Tanah
February 28, 2012

Cerpen Rifan Nazhif  (Republika, 26 Februari 2012) DARAHKU mendidih. Tubuhku gemetar. Terasa sekali pandanganku berkunang-kunang. Andaikan aku tengah berdiri, kemungkinan besar tinjuku langsung melayang ke wajah lelaki itu. Kali ini aku memang tengah duduk menunggu azan Maghrib dan sudah mengambil air wudhu. Percuma aku meladeninya sekarang kalau akhirnya wudhuku bakalan batal. Lagi pula, Maghrib-Maghrib tak [...]