Pesawat Kertas

Cerpen Oddi Arma (Republika, 26 Juni 2011)

Kisaran, Sumatra Utara

LANANG menatap nanar dinding bambu kamarnya. Berkali-kali memaksa memejamkan mata, namun tak kunjung menutup, padahal kekuatan badan sudah meredup. Capek, dari pagi buta membantu bapaknya menderes karet. Tapi sebenarnya, percakapan dengan bapaknya tadi pagilah yang membuat gelisah menguasai tubuhnya.

“Semua anak-anak di sini tak ada yang punya cita-cita seaneh kau!!” Gerutu bapaknya, sambil menyayat kulit pohon karet. “Nyesalnya aku dulu bawa kau ke rumah uwakmu.” Lanang sengaja menyibukkan diri mengasah pisau. Tidak memedulikan bapaknya walau luncuran kata-kata bapaknya dirasa bagai ujung pisau yang beradu dengan batu asah.

Masalah ini bermula dari kunjungan Lanang dan bapaknya ke rumah uwaknya di Medan setahun lalu. Untuk menghibur sang ponakan yang sepanjang usianya hanya melihat deretan pohon karet, pamannya mengajak ke sebuah ‘lokasi wisata’.

Entah apa pantas disebut sebuah lokasi wisata karena Lanang hanya diajak ke sebuah jalan kecil, dibelikan sebungkus kacang rebus, bahkan tidak ada tempat duduk di situ—Lanang dan pamannya duduk bersebelahan di atas kereta yang dipinjam paman dari temannya.

Yang jelas, menjelang sore, banyak orang melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan Lanang dan pamannya. Ada pasangan suami-istri dan anaknya yang masih balita, pasangan muda-mudi yang saling mengaitkan tangan ke jari pasangan masing-masing, dan para penjaja makanan yang hilir mudik.

Semua yang di sini menghadap ke sebuah lapangan luas beraspal panjang. “Sayang ada pagar kawat! Andai tidak ada, akan lebih nyaman duduk di atas rerumputan hijau yang tertata rapi sepanjang pinggiran aspal,” gumam Lanang dalam hati.

Semakin sore, semakin ramai tempat ini. Sepanjang kawat pembatas dipenuhi orang. Seakan menunggu sesuatu. Pandangan mereka semua tertuju ke seberang kawat pembatas. Hanya sesekali terganggu oleh tawaran para penjaja minuman.

Langit mulai berubah warna. Kini, jingga mendominasi langit yang tadinya putih bercampur biru. Jarang Lanang melihat fenomena ini. Matanya yang selalu berkutat mencari pembuluh floem pohon karet untuk disayat membuatnya kehilangan pandangan-pandangan lain.

“Menderes adalah seni. Tidak semua orang bisa. Salah-salah, malah tanaman karet jadi rusak,” kata bapaknya saat mengajari Lanang menderes pohon karet. Tidak ada waktu bermain dan bersenang-senang. Hanya sekolah dan belajar yang menjadi hiburan bagi Lanang.

Ada perasaan tak terlukiskan saat berada di sekolah. Jiwanya bagai disiram berkarung-karung udara segar saat memegang pulpen, memecahkan soal, memandang papan tulisan, mendengar suara guru, dan guruan seisi kelas. Tapi, udara segar itu segera menguap menjadi gerah saat harus berkutat dengan pohon-pohon karet. Anehnya, semua itu tidak begitu menyiksanya. Apa mungkin karena semua anak di tempatnya bernasib sama.

Kilau jingga langit tiba-tiba terusik oleh sebuah benda putih yang melandai turun. Semakin lama semakin besar. Semua mata ternganga menyaksikannya. Sebuah kontras yang ganjil namun mengasyikkan. Bahkan, para pedagang menghentikan aksinya sesaat untuk melihat betapa anggunnya benda putih ini turun. Dari kecil menjadi begitu besar. Warna putihnya begitu menawan saat disapu kilauan matahari sore berlatar langit jingga.

Benda putih besar bersayap itu semakin menawan saat roda-rodanya mulai turun. Sama menawannya seperti elang yang menukik saat mencoba mengambil anak ayam dengan cakarnya, seperti yang sering dilihat Lanang di kampungnya. Memang ini bukan kali pertama Lanang melihat benda menawan ini. Sudah berkali-kali dia melihatnya di televisi atau di guntingan iklan koran bekas, tapi sungguh lain saat melihatnya sendiri.

Semakin menawan saat roda-rodanya mendecit, beradu dengan kerasnya aspal. Si putih bersayap dengan anggunnya mendarat bagai balerina yang menahan berat tubuhnya dengan jari-jari kakinya. Saat sampai di bibir aspal, lajunya semakin pelan. Badan bongsornya memutar 45 derajat saat tiba di marka jalan. Sungguh suguhan luar biasa. Benda sebegitu besar bisa melayang menantang langit dan menunggangi angin.

Sejak peristiwa itu, pikiran Lanang selalu melayang. Tidak lagi dikuasai pembuluh floem karet. Pikirannya berbagi dengan pesawat. Bukan sekadar bermimpi menaikinya, Lanang bertekad menjadi seorang pembuat pesawat. Ya… anak seorang buruh kebun karet mau jadi insinyur!

Sejak peristiwa itulah ‘konflik’ mulai bersemai antara Lanang dan ayahnya. Guntingan iklan maskapai penerbangan lengkap dengan pesawat dan senyum pramugari dari majalah pemberian uwaknya kini menjadi lukisan dinding bambu kamar Lanang. Majalah yang di dalamnya terselip kisah seorang putra Indonesia pembuat pesawat dan pernah menjadi seorang presiden itu menjadi bacaan wajibnya sebelum tidur.

“Aku mau melanjutkan sekolah ke Medan, Pak….” ucap Lanang ke bapaknya saat berjalan menuju kebun karet untuk mengambil getah. Bapaknya yang sebelumnya sudah mendengar niat anaknya ini dari istrinya semakin mempercepat langkahnya.

Acuh….

Tapi, di hatinya, ucapan Lanang begitu lekat. Mimpi indah Lanang adalah mimpi buruknya. Ketakutannya menjadi kenyataan. Itulah mengapa dia tidak pernah memuji Lanang yang selalu menjadi juara umum di sekolahnya selama sembilan tahun berturut-turut.

Itulah mengapa dia selalu melarang Lanang membantu tetangga memperbaiki radio-radio mereka. Dan itulah mengapa dia memutuskan bahwa bangku SMP sudah cukup bagi anaknya. Kepintaran Lanang bisa jadi malapetaka. Dan itu sudah sudah terjadi. Lanang anak yang penurut, tapi kalau sudah punya keinginan sekuat mungkin akan diraihnya.

Dia masih ingat bagaimana tekad anaknya untuk bisa melanjutkan sekolah di SMP negeri yang letaknya di ibu kota kabupaten. Selama tiga tahun, Lanang pergi ke kebun karet saat bapaknya masih terlelap. Dia menderes saat hari masih gelap. Tapi, justru semakin pagi, semakin banyak lateks yang keluar.

Suhu lembap pagi yang tinggi membuat tekanan turgor pada daun menjadi tinggi yang pada akhirnya membuat pembuluh floem semakin banyak. Saat inilah yang paling tepat untuk mulai menderes. Semua itu dilakukan Lanang dengan berbalut seragam SMP. Setelah matahari mulai mengintip, dia pun mengayuh sepeda bututnya puluhan kilometer menuju sekolahnya.

Dan, kini Lanang berkeinginan melanjutkan sekolahnya ke Medan. Bermimpi menjadi seorang pembuat pesawat. “Siapa yang bakal membantunya menderes? memanggul getah karet? atau menggantikannya bekerja saat rematik membuatnya hanya bisa meringkuk?” risaunya dalam hati.

Namun, yang sesungguhnya bergelayutan di kepalanya bukan ‘siapa’, tapi ‘dari mana’ biaya untuk memenuhi mimpi anaknya. Membiayai sekolah Lanang sampai SMP saja harus mengorbankan dua adik perempuannya yang harus rela mengubur mimpi mengenakan seragam putih biru.

Semakin kuat keinginan Lanang melanjutkan sekolah, semakin kuat pula upaya bapaknya menentang. Pekerjaan Lanang menderes karet semakin berat karena harus ditambah dengan memikul kalimat-kalimat apatis bapaknya. Kata-katanya bagai arus deras air sungai dan Lanang sedang mencoba berenang melawan.

“Sampai kiamat, aku tidak izinkan kau pergi,” ujar bapaknya saat Lanang bilang uwaknya bersedia menampungnya di Medan.

“Ingat Lanang, kau anak buruh kebun karet. Jangan kau mimpi yang aneh-aneh. Sadar kau ini siapa. Lihat kawan-kawan kau, semuanya menurut sama bapaknya. Semuanya bantu bapaknya.Tidak ada yang maunya aneh-aneh,” cecar bapaknya dengan suara setegas mungkin dengan harapan anaknya segera menyiram api cita-citanya.

Entah keberanian dari mana yang membuat Lanang meladeni sontakan bapaknya. “Siapa bilang kawan-kawanku tidak punya cita-cita. Mereka punya. Si Tirta mau masuk catam. Si Harapan mau jadi polisi. Si Zetro mau sekolah ke STM. Tapi, mereka terlalu takut. Bahkan, untuk sekadar ngomongin cita-citanya! Anak kuli ya jadi kuli!” balas Lanang dengan suara cukup keras sambil berlalu meninggalkan kebun karet.

Bapaknya terdiam. Tidak pernah Lanang membalas kalau sedang dimarahi. Melihat gelagat dan wataknya, Lanang pasti nekat minggat ke Medan. Menjelang Maghrib, sang Ayah pulang ke rumah. Sudah siap dengan sambutan wajah sedih dan isak istrinya.

Kekerasan kepalanya telah membuat anak laki-laki satu-satunya mereka pergi. Anak yang juga menjadi penyangga asap dapur mereka. Cita-cita mengusik hubungan darah mereka. Tapi, keadaan rumah seperti biasa. Sang istri menyambutnya dengan segelas teh tawar hangat. Jelaga lampu minyak dari kamar Lanang menguap seperti biasa. Menandakan ada orang di dalam.

“Lanang katanya nggak enak badan, Pak,” ucap istrinya sambil membawa sepiring nasi.

“Dari siang tadi di kamar terus. Sore tadi baru makan. Lantas tidur lagi.”

Ayah Lanang hanya mengangguk. Ada perasaan lega.

“Mungkin dia sudah sadar,” pikirnya.

Besoknya, seperti biasa Lanang pergi menderes karet saat bapaknya masih tertidur. Pagi ini tidak sekadar peralatan menderes yang dibawanya, tapi juga sekantong pesawat dari kertas. Ibunya yang sibuk menanak nasi tidak terlalu memperhatikan perubahan sikap anaknya.

Di kebun karet, Lanang menjatuhkan pisau deresnya. Pembuluh floem tidak lagi menarik hatinya. Matanya tertuju pada puluhan pesawat kertas. Satu per satu diterbangkannya ke udara. Tidak pernah Lanang sebahagia ini. Seakan bebannya ikut terbang bersama pesawat kertas yang dilesatkannya.

Lanang berlarian mengejar puluhan pesawat kertas yang melayang-layang di udara. Terus berlari-lari dan melompat-lompat kegirangan. Setiap pesawat yang jatuh ke tanah langsung diterbangkannya lagi. Tidak ada rasa lelah sedikit pun di wajahnya. Padahal, langit yang tadinya gelap sudah mulai merah tanda matahari akan merekah.

Tampak begitu indah saat kertas putih berbentuk pesawat itu disiram kilauan mentari subuh. Sama indahnya seperti yang pernah ditengoknya dulu. Kini, kebun karet dipenuhi pesawat-pesawat kertas yang dengan bebasnya melayang-melayang. Lanang tidak peduli dengan tatapan aneh kuli-kuli kebun yang lain. Dia terus berlari, melompat, dan berteriak kegirangan. Hanya ada dia dan pesawat kertasnya.

Dari kejauhan, bapaknya hanya berdiri diam. Enggan melanjutkan langkahnya ke kebun karet. Sudah bermenit-menit dia tertegun di jalan. Menyaksikan kegembiraan anaknya. Sarafnya seakan tidak mampu mengirim perintah ke otak untuk berbuat sesuatu, setidaknya menggerakkan badannya. Tubuhnya masih mematung. Ternyata sarafnya hanya bisa mengirim pesan ke mata. Cairan darahnya mendadak naik ke kelenjar air mata. Unsur merahnya langsung disaring dinding sel, menghasilkan cairan bening. Air matanya jatuh. (*)

 .

Catatan:

uwak: sebutan untuk kakak/abang dari orang tua (paman)

kereta: sepeda motor

catam: calon tamtama

 .

.

Bagi Oddi Arma, menulis adalah sesuatu kegiatan yang dilakukannya setiap hari. Lahir di Medan, 19 November 1980, Oddi adalah seorang editor di sebuah penerbit. Beberapa karyanya dimuat di Republika dan sejumlah media nasional.

.

About these ads

3 Responses

  1. kok cuma gini aja di… mana sambungannya?

  2. Akhirnya Lanang diperbolehkan sekolah di Medan… Atau jangan2 Lanang tidak diizinkan, kemudian dia meniggal dan ayahnya sangat menyesal? Misteri.

  3. ‘air mata’ bapaknya sudah menjawab pertanyaan kelanjutan cerita ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: