Penjaga Kamar Mayat dan Sejumlah Fiksi Mini Lainnya

Sekumpulan Fiksi Mini Agus Noor (Koran Tempo, 4 April 2010)

Penjaga Kamar Mayat

Kemarin ia dipecat. Tadi pagi mati bunuh diri. Malam ini kulihat ia kembali masuk kerja. Duduk pucat terkantuk-kantuk di dekat pintu kamar mayat.

Ular Siluman

Ular itu menyelesup masuk mimpimu. Ular itu mendesis, matanya merah saga, menatapmu. Kau menjerit, dan cepat-cepat menghantamnya dengan lonjoran besi.

Saat terbangun, kau mendapati ibumu mati terkapar bersimbah darah. Kepalanya pecah.

Malam Seorang Tukang Ronda

Ia paling suka saat tengah malam. Saat ia berkeliling dan memukul tiang listrik. Ia suka sekali mendengar bunyi tiang listrik itu. Seperti mendengar jerit kesunyian.

Entah kenapa, ia merasa gelisah malam ini. Saat ia memukul tiang listrik, yang terdengar bukan suara denting. Tapi lengking anjing.

Misteri Laki-laki yang Tak Kembali

Perempuan itu menunggu suaminya pulang. Sejak sore ia sudah berdandan. Sekarang hari ulang tahun perkawinan mereka, dan ia ingin terlihat cantik saat laki-laki yang dicintainya itu datang.

Tapi hingga larut malam, suaminya tak juga pulang. Ia mulai terkantuk-kantuk dan bosan.

Mendadak terdengar kunci pintu dibuka pelan. Ia tergeragap dan bangkit. Tapi tak ada siapa-siapa. Sejak itulah suaminya tak pernah kembali.

Mayat Tanpa Kepala

Aku ditemukan mati tanpa kepala. Malam-malam aku mendatangi rumahmu. “Boleh kupinjam kepalamu?” kataku. Kau tampak terkesiap.

Pagi harinya, kau ditemukan tergeletak tanpa kepala.

Penyanyi Dangdut yang Mati Diperkosa

Kami, berlima, merencanakannya lama. Ia kami cegat, dan segera kami seret ke gudang. Ia cantik dan bahenol, tapi kami tergila-gila pada suaranya. “Aku ingin kamu nyanyi lagu ‘Malam Terakhir’….” bentakku.

Ia menyanyi dengan serak gemetar, sementara kami terus memperkosanya.

Sejak itu, setiap malam, saat sendirian di kamar, aku selalu mendengar suaranya bernyanyi dari arah kamar mandi di antara air yang menggemericik.

Purnama di Atas Sumur Tua

Dari sumur itu selalu tercium bau bacin. Airnya sering tiba-tiba berubah kental dan merah. “Di zaman Gestapu dulu,” cerita Nenek, “puluhan orang dibantai, dan dibuang ke dalamnya.” Sejak itu, siapa pun tak ada yang berani mendekat sumur di belakang rumahmu itu

Tapi setiap kali purnama, aku suka diam-diam ke sana. Memandangi bangkai mayatku yang mengapung di dasar sumur itu.

Paket Kematian

Kau mendapat paket yang berisi kematianmu sendiri. Mohon diterima dengan baik, tulis pesan yang menyertai.

“Aneh sekali,” gumammu, sambil memperlihatkan paket itu pada istrimu. “Siapa sih iseng ngirim beginian?” Istrimu tertawa, menganggapmu bercanda. Karena di alamat pengirim jelas tertera namamu.

Perempuan yang Mati Membakar Diri

Tubuh perempuan itu ditemukan gosong, mendekap bayi yang disusuinya. “Karena tak tahan hidup miskin, ia membakar diri,” kata orang-orang kampung. Beberapa warga yang mengangkat mayatnya bersumpah: mereka melihat air susu perempuan itu masih menetes-netes dari putingnya.

Sejak itu, malam-malam di kampung kami terasa ganjil. Sering terdegar tangis bayi melintasi kampung. Dan bau gurih daging terbakar.

Ulat dalam Kepala

Bocah itu iba pada adiknya yang bertahun-tahun sakit terbaring dengan kepala yang dari hari ke hari makin membengkak. “Seperti ada ribuan ulat berbiak di kepalaku,” erang adiknya.

Suatu hari bocah itu melihat ibunya membelah apel, dan ada ulat di dalamnya.

Tengah malam, diam-diam, ia mengambil pisau. Kini ia tahu bagaimana menolong adiknya.

Bayi

Tengah malam, bayi yang dibuang ke semak-semak itu terus menangis menjerit-jerit kelaparan. Pelan-pelan ia mulai memakan jari-jarinya, lengan dan kakinya, melahap usus dan jantungnya, hingga tak bersisa.

Tamasya Keluaga Seorang Kerani

Liburan sekolah ini ia ingin mengajak anak-anaknya tamasya. “Meski miskin, sesekali perlu juga kita rekreasi,” katanya. Anak-anak bersorak gembira.

Digoncengnya anak-anak ke Kebun Binatang. Ia tersenyum menyaksikan mereka berlarian dan main prosotan.

Mendadak ponselnya berbunyi. Dari istrinya, “Katanya mau ngajak liburan? Anak-anak nunggu di rumah nih!”

Buru-buru ia ngebut pulang. Tapi di tikungan sepeda motornya terguling dan truk yang melaju kencang langsung menyambar. Sedetik sebelum nyawanya melayang, ia tiba-tiba teringat kalau istrinya sudah meninggal setahun lalu.

Ular Kutukan

Ia tergeragap bangun mendapati ular keling menyelusup ke dalam selimut, dan tak sempat menjerit ketika ular itu masuk duburnya. Dalam gelap ia melihat mata terbelalak bocah laki-laki yang dulu ia sodomi.

Pesan Gaib

Begitu mati, ia langsung meraih ponselnya. Dikirimnya SMS pada istrinya: Segera kujemput kamu. Ia memang berjanji mengajak pergi ke pesta malam ini.

Oke, balas istrinya. Dan ia seketika kejang-kejang. Lalu mati.

Kisah itu menjadi kasak-kusuk di kota kami. Kabarnya, SMS itu sampai sekarang masih gentayangan, dan sering muncul ke ponsel siapa saja.

Anjing Jejadian

Kau berpapasan dengan anjing itu di tikungan jalan. Bulan mati, mata anjing itu seperti menyala. Kau segera mengambil batu dan menyambitnya. Tepat mengenai matanya.

Sampai rumah kau mendapati istrimu begitu panik menggendong anakmu yang terus-terusan menangis. “Kenapa?”

“Entahlah,” jawab istrimu. “Ia mendadak terbangun. Seperti ada yang tiba-tiba menyambit matanya. Lihatlah….”

Kau melihat mata anakmu terus meneteskan darah.

Kisah Seorang Psikopat

Sebelum polisi tiba ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.

Sebuah Kuburan

Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Setiap pulang tengah malam, kau pasti merinding melewatinya. Seperti ada suara yang terus mengerang dan melolong. Mengingatkanmu pada kejadian bertahun lalu, ketika kau dulu mati dipotong-potong dan dibuang ke kuburan itu.

Mata Pembunuh

Pembunuh itu selalu mencongkel mata korban-korbannya. Ia menyimpan semua mata itu dalam toples bening, dan suka sekali memandanginya. Ia selalu merasa bahagia setiap kali mata itu berkedip padanya

Ambulans Tengah Malam

Ambulans yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati.

Kulihat ambulans itu melintas pelan menuju rumahmu.

Malam Jumat 14 Mei

Seorang pemuda mengetuk pintu. Kau menyuruhnya masuk. Dia bilang mau menemui anakmu. ”Kemarin kami bertemu, dan ia menyerahkan ini,” katanya, sambil memperlihatkan foto. Kau nyaris menangis melihat foto yang kusam bekas terbakar itu.

Sampai pemuda itu pamit pulang, kau tak pernah menceritakan: betapa putrimu sudah mati pada bulan Mei bertahun-tahun lalu.

Hantu Metromini

Tak ada lagi yang berani naik metromini itu, sejak seorang perempuan ditemukan mati meringkuk di bawah kursinya. Ia cantik dan mengenakan blazer. Kabarnya, segerombolan pemuda mabok merampok dan memperkosa perempuan yang pulang kemalaman itu.

Aku selalu menyaksikan metromini itu melintas malam-malam. Kulihat diriku duduk sendirian di dalamnya.

Muslihat Purba

Adam berbisik ke telinga Iblis yang kesepian. Iblis pun segera menyaru. Sesuatu yang mengerikan terjadi setelah itu…. (*)

 

 

Jakarta, 2010

Agus Noor tinggal di Yogyakarta. Buku terbarunya Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (Bentang Pustaka, 2010). Ia mendapat Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa, tahun lalu.

 

About these ads

29 Responses

  1. Great! I like that part of mini fiction stories. Imajis, creative, amazing and perfectionist. When I think about it, I suppose this strong character, so much imajis and to be wild in my maind. There was nothing more precious, because too simple. I don’t really know what the author(Agus Noor) thought, but when he didn’t bring stories to be come longer sentence.
    I’m waiting a great of thinking. So, I just say: A lot of great thing come for you at the short story. Successful for you.

  2. nah, saya setuju dg mas tova, kali ini..

  3. Tentang apa sih? Aneka kematian tragis-magis? Acungan jempol untuk imaji dan karakter bahasa. Tapi kayaknya bukan cerpen, tak ada kesatuan cerita antar potongannya.
    Ehm… apakah cerpen ini pernah termuat di media lain?

  4. …cerpen yang bikin penasaran. Di lakonhidup tgl 28 maret saudara Mashdar menyinggung cerpen ini, kemudian disusul yang lainnya. Berarti cerpen ini sudah termuat di media lain?

  5. Cerpen Agus Noor di Jawa Pos tanggal 1 Nov 2009 ’35 Cerita buat Seorang Wanita’ gayanya dan modelnya persis. Beberapa potongan cerita malah sama dengan di cerpen ini.

  6. Maaf sebelumnya:
    Agus Noor? Bagi saya luar biasa cerpen-cerpennya. Pengarang yang sudah dapat tertebak dari karyanya. Saya heran banyak komentar yang tak menyukainya. Seandainya: Bamby pengekor…, S. Raga pengekor…, Benny A pengekor… (?) Agus Noor punya ciri khas yang mirip dengan Seno GA. Siapa yang mau meneliti Seno GA mengekor siapa? Pasti ketemu…
    Nasib Agus Noor lah yang sial, dianggap pengekor.
    Demikian pendapat saya, maaf bila menyinggung.

  7. Gabriel Garcia Marquez bgt. setelah lepas dari bayang2 SGA, apakah telah beralih?

  8. Kita acungi jempol untuk Agus Noor yang mencintai produk dalam negeri.

  9. ini bukan cerpen!!!!!! ini maksa! ini potongan sktes yang gagal dibuat cerpen utuh. lalu dikumpulkan!!!!

    • lho?? emang iya ko’
      ko’ sewot cih!!

    • Ini Fiksi Mini, mbak Menik :)

  10. Coba Anda bandingkan dengan Membunuh Shakespeare-nya Benny Arnas yang dimuat Lampung Post, atau Pengakuan-nya Wendoko yang dimuat Suara Merdeka, di hari yang sama; karya ini saklek kalah!

  11. Soal banding-membandingkan, jadi teringat cerpen-cerpen ‘kematian’ Beni Setia yang realis. Maka saya membayangkan apabila sket-sket itu menjadi cerpen yang gelap dan ‘gila’.

  12. @ narana : ini memang bukan cerpen, ini fiksi mini. dimana tidak ada kaitan antara fiksi yang satu dengan fiksi yang lain. namun masih dalam satu tema : kematian.

    • nah,,,
      ini baru orang yang paham yang comment,

  13. semua ceritanya mengerikan

  14. wuiih mantep gan!
    kerennnn

  15. Bagus… saya suka cerita yang begini. :)

  16. Malam Seorang Tukang Ronda mengingatkan saya pada cerpen Penjaga Malam dan Tiang Listrik karya SGA
    Mata Pembunuh mengingatkan saya pada cerpen Saksi Mata karya SGA
    Perempuan yang Mati Membakar Diri mengingatkan saya pada cerpen Polaroid karya Intan Paramaditha

  17. Malam Seorang Tukang Ronda mengingatkan saya pada cerpen Penjaga Malam dan Tiang Listrik karya SGA

    Mata Pembunuh mengingatkan saya pada cerpen Saksi Mata karya SGA

    Perempuan yang Mati Membakar Diri mengingatkan saya pada cerpen Polaroid karya Intan Paramaditha

  18. Malam Seorang Tukang Ronda mengingatkan saya pada cerpen Penjaga Malam dan Tiang Listrik karya SGA

    Mata Pembunuh mengingatkan saya pada cerpen Saksi Mata karya SGA

    Perempuan yang Mati Membakar Diri mengingatkan saya pada cerpen Polaroid karya Intan Paramaditha

  19. BguZ bngeT fiksi’na kang!
    I Like this so muCh..
    Truz b’karya!

  20. wahh.. kerennn…
    kesannya serem yang tentang kematian, tapi aku justru ngakak, lucuuuu..

  21. ini emang khusus crita2 misteri ya?
    apa fiksi mini itu hrus crita2 misteri yang aneh2 gt?
    jd bingung aku.
    kesannya jadi hanya kayak crita2 di koran merapi.hahaha

  22. Aku setuju dengan -denioktora- sebuah cerpen tak harus monoton pada satu alur cerita yang sama. Tapi bisa juga berada pada satu tema yang sama dengan ending yang jelas.

    @ Other : Seorang penulis, siapapun itu, bisa terilhami dari karya manapun, dari cerita apapun, dari siapapun, dan dari pengalaman apapun. Tetapi yang membuatnya terlihat sebagai seorang penulis sejati yaitu ketika ‘Apapun’ yang dia ilhami itu dapat diracik dalam rentetan kalimat dengan gaya menulisnya sendiri.
    ( waduh…maap. Bukan menggurui. Hanya ingin melatih diri untuk berpendapat)

    @Agus Noor : Nice Story…Terus berkarya bang!

  23. aku sebenarnya suka bc karya2 agus noor. tapi membaca cerpen ini, aku kecewaaaaaaaaaaaaaaaaaa berat. cos, ada kalo nggak salh 4 cerpen karya beliau yg mirip bahkan beberapa penggalan yg sama persis. dan dimuat di 4 media berbeda kalo gak keliru, diantaranya; jurnal nasional (kalo gak salah apa jurnal bogor ya) trus Jawa pos, dan Kedaulatran Rakyat.
    kok bisa ya redaktur gak teliti memuat cerpen yang beberapa bagiannya sama….

  24. tambah satu lagi, dimuat tempo. ck ck ck….
    piye to bang redaktur sastrane

  25. Menurut saya fiksi mini atau apapun namanya ini bagus sekali. Banyak mengambil dari penyakit2 kejiwaan yg dihadapi manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: