Pagar Batu

November 9, 2014 - Leave a Response

Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 9 November 2014)

Pagar Batu ilustrasi Pata Areadi

DAPAT dikatakan ia buta sejak lahir. Tapi sebenarnya, ketika lahir ke dunia, matanya masih normal. Namun di malam pertama ia tidur, sesuatu yang entah apa, mencuri matanya. Hingga pagi-pagi saat orangtuanya bangun, mendapati bayinya sedang menangis dengan lubang mata yang kosong!

Orang-orang selalu merasa kasihan padanya. Tapi sebenarnya ia tak perlu dikasihani. Lepas dari dirinya yang tak bisa melihat, ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kedua tangannya mampu menaklukkan batu-batu. Apa pun jenis batu yang dipegangnya, akan kehilangan massa, seakan-akan menyerah padanya. Ia mudah mengangkat batu-batu itu. Maka, setelah dewasa, ia memilih menjadi tukang batu. Read the rest of this entry »

Nyonya Cordelia dan Anjingnya

November 2, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ahmad Nurullah (Media Indonesia, 2 November 2014)

Nyonya Cordelia dan Anjingnya ilustrasi Pata Areadi

UDIN kesal. Amarahnya lepas. “Anjing!” makinya, seraya menendang Bruno dengan keras, setelah anjing milik majikannya dikeramasi. Entah siapa persisnya yang ia maki: anjing itu, atau majikannya?

Bruno terkaing, lalu melompat. Tubuhnya yang kuyup berjemur. Lidahnya terjulur. Sepasang matanya menghiba menatap Udin. Celakanya, kelakuan Udin tertangkap basah oleh Mak Enok. Read the rest of this entry »

Sunyi Karinding di Kawali

October 26, 2014 - One Response

Cerpen Toni Lesmana (Media Indonesia, 26 Oktober 2014)

Sunyi Karinding di Kawali ilustrasi Pata AreadiWASTU berjalan paling belakang. Teman-temannya sudah jauh di depan. Ia sengaja berjalan lambat di jalan setapak yang diapit pohon-pohon mahoni. Ia enggan pulang dari hutan mungil di Kawali ini. Seolah ada yang menahannya. Hampir seharian ia mengitari situs Astana Gede. Masih saja belum puas. Read the rest of this entry »

Mata Monyet

October 19, 2014 - One Response

Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 19 Oktober 2014)

Mata Monyet ilustrasi Pata Areadi

JANGAN-JANGAN benar monyet itu jelmaan Maryam! Pikiran ini begitu menggelisahkan Liman. Ia merasa heran sendiri bagaimana gagasan aneh itu bersarang di kepalanya. Padahal, selama ini ia tak percaya takhayul, hal-hal gaib, dan cerita mistis yang bertebaran di kota kecilnya. Liman selalu berpegang pada logika. Itulah yang selalu ia tanamkan pada Punang. Ketika anak semata wayangnya itu bilang bahwa monyet-monyet di taman wisata Pelangon ialah jelmaan manusia yang suka berkhianat, Liman dengan berbagai cara menjelaskan itu dongeng belaka. Tak boleh dipercaya. Read the rest of this entry »

Pulang Haji

October 12, 2014 - 2 Responses

Cerpen Ahmad Muchlish Amrin (Media Indonesia, 12 Oktober 2014)

Pulang Haji ilustrasi Pata Areadi

MATA kami terpagut ke arah jalan. Orang-orang membuat gerbang dari bambu berpelitur, dihiasi aneka kembang. Di atas gerbang itu ditempelkan kertas kerlap-kerlip dan berkilau, berbentuk menara. Dari arah depan, terpampang sebuah tulisan ‘Selamat Datang Haji Zubaidi, Semoga Menjadi Haji yang Mabrur’. Rahnayu, satu-satunya orang yang mampu naik haji di kampung kami, telah berubah nama. Nama pemberian ayah-ibunya telah berganti menjadi Haji Zubaidi. Read the rest of this entry »

Penjara Kedua

September 28, 2014 - One Response

Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 28 September 2014)

Penjara Kedua ilustrasi Pata Areadi

APA yang akan terjadi besok? Rasanya seperti merenungi anak sungai yang bermula pada bersit mata air, menyalurkan rembesan air dari celah bukit, menyusup di celah-celah bebatuan, dan membelah hutan. Menuruni lereng, terjun ke jurang, lalu hilang. Tiba-tiba sudah bermuara di laut yang jauh. Tak terjangkau oleh perhitungan angka, juga waktu. Tak tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Begitulah saat badan sudah dikurung dalam sel penjara. Read the rest of this entry »

Sepertiga Malam Terakhir

September 21, 2014 - 6 Responses

Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)

Sepertiga Malam Terakhir ilustrasi Pata Areadi

DI sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di saat-saat seperti ini?”

Sambil mengisap rokoknya,Dirminto memperhatikan rembulan yang gersang, yang kadang dilewati awan tipis, tapi kemudian lengang kembali. Di sekeliling rembulan ada bintang-bintang yang pendiam, sebagian berkedip, sebagian lagi bersinar cukup terang. Lelaki itu lantas melangkah masuk ke rumahnya yang sempit, istrinya ternyata sudah bangun, sibuk melipat baju-baju. Sementara itu, dua anak gadisnya masih terlelap di atas tikar, Manisha yang berusia empat tahun, dan Nalea tujuh tahun. Read the rest of this entry »

Laki-laki tanpa Cela

September 14, 2014 - 2 Responses

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014)

Laki-laki tanpa Cela ilustrasi Pata Areadi

DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih. Pertanda bahwa itu diucapkan oleh orang yang berhati bening. Seperti dia. Laki-laki yang bagi saya, tidak punya cela sedikit pun.

Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang seorang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara. Read the rest of this entry »

Meja Makan yang Menggigil

September 7, 2014 - One Response

Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 7 September 2014)

Meja Makan yang Menggigil ilustrasi Pata Areadi

LUBANG kunci di pintu kamarku seperti kamera yang merekam segalanya. Semenjak Ayah mengunciku di dalam kamar, mataku selalu menempel di lubang kunci itu. Menelisik ruang makan di balik pintu.

Dari lubang kunci itu, aku bisa mengintai sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan hiasan taplak renda-renda yang begitu memesona. Meja makan yang selalu tampak menggigil. Meja makan itu memiliki empat kursi di masing-masing sisinya. Dan di salah satu kursi itulah, Ibu sering terduduk dengan tangan gemetar, memandangi aneka menu yang haram disentuh, tetapi telah terhidang di tengah meja. Read the rest of this entry »

Peci Ayah

August 31, 2014 - One Response

Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 31 Agustus 2014)

Peci Ayah ilustrasi Pata Areadi

KAKEK selalu mengenakan peci. Kapan pun, di mana pun. Peci kesayangannya tak pernah lepas dari kepala. Bahkan hingga ia jatuh tertidur, peci itu bisa saja nangkring menutupi wajahnya, hingga dapat menyaring suara ngorok yang keluar dari mulutnya. Sebagai cucunya, sesekali saya iseng membuat kakek kelimpungan. Satu-satunya peci miliknya, dan hanya seminggu sekali dicuci itu, beberapa kali sengaja saya sembunyikan. Kalau sudah begitu, keributan akan terjadi. Karena ada banyak cucu, merekalah yang kemudian menjadi sasaran tuduhan. Read the rest of this entry »