Sihir Tumis Ibu

November 23, 2014 - 4 Responses

Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 23 November 2014)

Sihir Tumis Ibu ilustrasi Pata Areadi

IBU memasak tumis dengan sebuah sihir. Ia bagai membubuhkan sebuah mantra rahasia pada masakan, yang dapat membuat siapa saja merasa bahagia saat menyantapnya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan tumis buatan ibu. Tumis yang sama seperti makanan lain—ada sayur-mayur, potongan tahu-tempe, dan sedikit daging. Tapi ada sebuah bumbu rahasia yang membuat tumis ibu menjadi berbeda. Read the rest of this entry »

Anak Babi yang Masih Menyusu kepada Ibunya

November 23, 2014 - One Response

Cerpen Clara Ng (Koran Tempo, 23 November 2014)

Anak Babi yang masih Menyusu kepada Ibunya ilustrasi Munzir Fadli

RATUSAN tahun lalu di daratan Cina, anak babi kecil yang masih menyusu kepada ibunya dianggap sebagai lambang kesucian. Lambang kesucian bagi seorang pengantin perempuan yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki mana pun. Pada malam pernikahan, ia, yang masih polos dan murni, akan menjadi milik sang suami.

Ting An tahu kisah ini dari kakak Papa nomor satu yang selalu bercerita tanpa diminta di setiap pesta pernikahan keluarga. Read the rest of this entry »

Kapal Terakhir

November 23, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 23 November 2014)

Kapal Terakhir ilustrasi Bagus

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

Roderick menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.” Read the rest of this entry »

Nurani

November 23, 2014 - 2 Responses

Cerpen Rian Gusman Widagdo (Republika, 23 November 2014)

Nurani Ilustrasi Rendra Purnama

“Hussy… husy… husy….”

Kudekap koper hitam di tanganku dengan dada naik turun. Suara teriakan massa di belakangku semakin mendekat. Aku pun semakin merapatkan diri di balik puing-puing bangkai kapal bekas tsunami empat tahun lalu, berharap tak satu pun dari mereka mencium jejakku. Read the rest of this entry »

PROTES

November 23, 2014 - 3 Responses

Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 23 November 2013)

Protes ilustrasi Sunaryo

Orang kaya di ujung jalan itu jadi bahan gunjingan. Masyarakat gelisah. Pasalnya, ia mau membangun gedung tiga puluh lantai.

Ia sudah membeli puluhan hektar rumah dan lahan penduduk di sekitarnya. Di samping apartemen, rencananya akan ada hotel, pusat perbelanjaan, lapangan parkir, pertokoan, kolam renang, bioskop, warnet, kelab malam, dan kafe musik. Read the rest of this entry »

Kucing yang Berubah Jadi Manusia

November 16, 2014 - Leave a Response

Cerpen Arswendo Atmowiloto (Media Indonesia, 16 November 2014)

Kucing yang Berubah Jadi Manusia ilustrasi MI

KUCING itu sepertinya dikirim oleh induknya, seekor betina yang buta. Atau minimal pandangannya terbatas karena jalannya tidak lurus dan beberapa kali menabrak benda-benda yang ada di depannya. Bahkan kehadirannya agak aneh. Betina hamil itu muncul begitu saja di lantai 9, tempat tinggal saya.

Entah lewat mana, atau bagaimana. Saat berjalan melenggok, ia menabrak kaki saya. Biasanya kucing memang suka bermanja-manja. Tapi yang ini tidak seperti itu. Sepertinya ia kaget karena eongannya terdengar meliuk. Pada kesempatan itu, saya memberikan potongan daging ayam goreng. Read the rest of this entry »

Pagar Batu

November 9, 2014 - 3 Responses

Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 9 November 2014)

Pagar Batu ilustrasi Pata Areadi

DAPAT dikatakan ia buta sejak lahir. Tapi sebenarnya, ketika lahir ke dunia, matanya masih normal. Namun di malam pertama ia tidur, sesuatu yang entah apa, mencuri matanya. Hingga pagi-pagi saat orangtuanya bangun, mendapati bayinya sedang menangis dengan lubang mata yang kosong!

Orang-orang selalu merasa kasihan padanya. Tapi sebenarnya ia tak perlu dikasihani. Lepas dari dirinya yang tak bisa melihat, ia memiliki kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Kedua tangannya mampu menaklukkan batu-batu. Apa pun jenis batu yang dipegangnya, akan kehilangan massa, seakan-akan menyerah padanya. Ia mudah mengangkat batu-batu itu. Maka, setelah dewasa, ia memilih menjadi tukang batu. Read the rest of this entry »

Nyonya Cordelia dan Anjingnya

November 2, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ahmad Nurullah (Media Indonesia, 2 November 2014)

Nyonya Cordelia dan Anjingnya ilustrasi Pata Areadi

UDIN kesal. Amarahnya lepas. “Anjing!” makinya, seraya menendang Bruno dengan keras, setelah anjing milik majikannya dikeramasi. Entah siapa persisnya yang ia maki: anjing itu, atau majikannya?

Bruno terkaing, lalu melompat. Tubuhnya yang kuyup berjemur. Lidahnya terjulur. Sepasang matanya menghiba menatap Udin. Celakanya, kelakuan Udin tertangkap basah oleh Mak Enok. Read the rest of this entry »

Sunyi Karinding di Kawali

October 26, 2014 - 2 Responses

Cerpen Toni Lesmana (Media Indonesia, 26 Oktober 2014)

Sunyi Karinding di Kawali ilustrasi Pata AreadiWASTU berjalan paling belakang. Teman-temannya sudah jauh di depan. Ia sengaja berjalan lambat di jalan setapak yang diapit pohon-pohon mahoni. Ia enggan pulang dari hutan mungil di Kawali ini. Seolah ada yang menahannya. Hampir seharian ia mengitari situs Astana Gede. Masih saja belum puas. Read the rest of this entry »

Mata Monyet

October 19, 2014 - One Response

Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 19 Oktober 2014)

Mata Monyet ilustrasi Pata Areadi

JANGAN-JANGAN benar monyet itu jelmaan Maryam! Pikiran ini begitu menggelisahkan Liman. Ia merasa heran sendiri bagaimana gagasan aneh itu bersarang di kepalanya. Padahal, selama ini ia tak percaya takhayul, hal-hal gaib, dan cerita mistis yang bertebaran di kota kecilnya. Liman selalu berpegang pada logika. Itulah yang selalu ia tanamkan pada Punang. Ketika anak semata wayangnya itu bilang bahwa monyet-monyet di taman wisata Pelangon ialah jelmaan manusia yang suka berkhianat, Liman dengan berbagai cara menjelaskan itu dongeng belaka. Tak boleh dipercaya. Read the rest of this entry »