Pulang Haji

October 12, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ahmad Muchlish Amrin (Media Indonesia, 12 Oktober 2014)

Pulang Haji ilustrasi Pata Areadi

MATA kami terpagut ke arah jalan. Orang-orang membuat gerbang dari bambu berpelitur, dihiasi aneka kembang. Di atas gerbang itu ditempelkan kertas kerlap-kerlip dan berkilau, berbentuk menara. Dari arah depan, terpampang sebuah tulisan ‘Selamat Datang Haji Zubaidi, Semoga Menjadi Haji yang Mabrur’. Rahnayu, satu-satunya orang yang mampu naik haji di kampung kami, telah berubah nama. Nama pemberian ayah-ibunya telah berganti menjadi Haji Zubaidi. Read the rest of this entry »

Penjara Kedua

September 28, 2014 - Leave a Response

Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 28 September 2014)

Penjara Kedua ilustrasi Pata Areadi

APA yang akan terjadi besok? Rasanya seperti merenungi anak sungai yang bermula pada bersit mata air, menyalurkan rembesan air dari celah bukit, menyusup di celah-celah bebatuan, dan membelah hutan. Menuruni lereng, terjun ke jurang, lalu hilang. Tiba-tiba sudah bermuara di laut yang jauh. Tak terjangkau oleh perhitungan angka, juga waktu. Tak tergambarkan, tak tertangkap oleh insting-insting peradaban yang menghidupkan nalar. Begitulah saat badan sudah dikurung dalam sel penjara. Read the rest of this entry »

Sepertiga Malam Terakhir

September 21, 2014 - One Response

Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 21 September 2014)

Sepertiga Malam Terakhir ilustrasi Pata Areadi

DI sepertiga malam terakhir itu, Dirminto masih duduk di belakang rumahnya. Ia sedang termenung memandangi langit. “Benarkah Tuhan turun di saat-saat seperti ini?”

Sambil mengisap rokoknya,Dirminto memperhatikan rembulan yang gersang, yang kadang dilewati awan tipis, tapi kemudian lengang kembali. Di sekeliling rembulan ada bintang-bintang yang pendiam, sebagian berkedip, sebagian lagi bersinar cukup terang. Lelaki itu lantas melangkah masuk ke rumahnya yang sempit, istrinya ternyata sudah bangun, sibuk melipat baju-baju. Sementara itu, dua anak gadisnya masih terlelap di atas tikar, Manisha yang berusia empat tahun, dan Nalea tujuh tahun. Read the rest of this entry »

Laki-laki tanpa Cela

September 14, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ni Komang Ariani (Media Indonesia, 14 September 2014)

Laki-laki tanpa Cela ilustrasi Pata Areadi

DIA hanya memberikan saya waktu sepekan untuk berpikir. Kata-katanya selama sepekan ini begitu manis dan jernih. Pertanda bahwa itu diucapkan oleh orang yang berhati bening. Seperti dia. Laki-laki yang bagi saya, tidak punya cela sedikit pun.

Ia bicara tentang keputusan yang terpaksa dilakukannya. Ia bicara tentang seorang perempuan muda yang sedang dirundung kesusahan. Mengandung anak hasil perkosaan, dengan ayah seorang berandal yang sudah masuk penjara. Read the rest of this entry »

Meja Makan yang Menggigil

September 7, 2014 - One Response

Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 7 September 2014)

Meja Makan yang Menggigil ilustrasi Pata Areadi

LUBANG kunci di pintu kamarku seperti kamera yang merekam segalanya. Semenjak Ayah mengunciku di dalam kamar, mataku selalu menempel di lubang kunci itu. Menelisik ruang makan di balik pintu.

Dari lubang kunci itu, aku bisa mengintai sebuah meja makan berbentuk persegi panjang dengan hiasan taplak renda-renda yang begitu memesona. Meja makan yang selalu tampak menggigil. Meja makan itu memiliki empat kursi di masing-masing sisinya. Dan di salah satu kursi itulah, Ibu sering terduduk dengan tangan gemetar, memandangi aneka menu yang haram disentuh, tetapi telah terhidang di tengah meja. Read the rest of this entry »

Peci Ayah

August 31, 2014 - One Response

Cerpen Satmoko Budi Santoso (Media Indonesia, 31 Agustus 2014)

Peci Ayah ilustrasi Pata Areadi

KAKEK selalu mengenakan peci. Kapan pun, di mana pun. Peci kesayangannya tak pernah lepas dari kepala. Bahkan hingga ia jatuh tertidur, peci itu bisa saja nangkring menutupi wajahnya, hingga dapat menyaring suara ngorok yang keluar dari mulutnya. Sebagai cucunya, sesekali saya iseng membuat kakek kelimpungan. Satu-satunya peci miliknya, dan hanya seminggu sekali dicuci itu, beberapa kali sengaja saya sembunyikan. Kalau sudah begitu, keributan akan terjadi. Karena ada banyak cucu, merekalah yang kemudian menjadi sasaran tuduhan. Read the rest of this entry »

Pacar Putri Duyung

August 24, 2014 - 2 Responses

Cerpen Ratih Kumala (Media Indonesia, 24 Agustus 2014)

Pacar Putri Duyung ilustrasi

TAK ada yang mencintai laut melebihi laki-laki itu. Hari itu, seperti kemarin-kemarin juga, Gede duduk di tepi laut, membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari, hingga mengubah kulitnya menjadi kecokelatan, rambut hitamnya menjadi kemerahan. Sepasang kaca mata hitam yang mencantol di hidungnya, membuat ia lebih nyaman memandang jauh ke samudra. Ia sedang menunggu ombak. Jika ombak yang dinantinya tak datang selama beberapa saat, ia akan melinting ganja, dan setengah jam sekali ia akan terus-menerus mengisapnya hingga kepalanya serasa berputar. Putaran di kepalanya itu mengingatkan ia pada wave tube. Saat ombak bergulung-gulung dan ia berselancar mengejar pipa ombak yang memanjang. Sering, jika sudah terlalu banyak ganja, matanya akan memerah. Kacamatanya akan berfungsi menutupi mata merah itu. Ia akan terlihat setengah mengantuk, tapi penglihatannya justru makin jelas dan tajam. Read the rest of this entry »

Keputusan Ely

August 3, 2014 - 2 Responses

Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 3 Agustus 2014)

Keputusan Ely ilustrasi Seno

ELY mengemas semua yang tak bisa ditinggalnya. Bahkan suara burung-burung di pohon akasia yang berkicau sepanjang hari sudah dia masukkan ke dalam toples. Dengan secongkel cat warna merah jambu dari ayunan di taman belakang rumah, dan cacing-cacing pada tanah gembur dari taman ayahnya.

Saat meninggalkan ayah Ely, ibunya hanya berkata maaf. Ayah Ely di kursi roda tak menyahuti. Ia hanya dapat menatap mata istrinya. Melihat itu, Ely ingin menghamburkan tubuh ke pangkuan ayahnya. Namun, kakak Ely sudah berdiri di belakang kursi roda. Hanya menggelengkan kepala, lantas mengangkat dagu mengusir Ely. Read the rest of this entry »

Ziarah Lebaran

July 27, 2014 - One Response

Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 27 Juli 2014)

Ziarah Lebaran ilustrasi Pata Areadi

DIK, maaf, sudah lama aku tak mengunjungimu. Apa kabarmu? Kapan kali terakhir aku datang ke sini, ya? Aku lupa. Kau? Entahlah, pastinya sudah lama sekali. Aku memang sangat sibuk. Sepanjang pekan, berhitung bulan, tak terasa sudah setahun. Mungkin lebih. Bahkan 24 jam sehari pun kadang-kadang terasa kurang.

Begitulah, pada akhirnya aku memang harus mewujudkan cita-citaku, Dik. Cita-cita yang dulu, yang setiap kali kuungkapkan, tak pernah kau sambut gembira. Kau bilang, untuk apa menyibukkan diri dengan perkara yang memusingkan, padahal hidup kita sudah tenang. Politik, menurutmu, hanya akan membuat tidur kita didatangi mimpi buruk. Waktu itu aku tertawa hingga terbahak-bahak. Sebab, kau terlalu naif. Dunia bukan sekadar tempat numpang lewat. Jika pun singgah di kedai, sungguh sayang kalau hanya bisa minum kopi. Hidup tenang bukan tolak ukur kebahagiaan. Kita tak bisa sepakat perihal pandangan ini. Tapi aku tahu bahwa kau sepenuhnya tahu, cita-cita ini sudah kupupuk jauh sebelum kita bertemu, dan kau juga tahu, aku bukan orang yang gampang menyerah. Read the rest of this entry »

Bulan Bulat Penuh

July 20, 2014 - Leave a Response

Cerpen Budi Hatees (Media Indonesia, 20 Juli 2014)

Bulan Bulat Penuh ilustrasi Pata Areadi

BULAN bulat penuh di atas pohon bacang yang tumbuh semarak di halaman rumah. Pendar cahayanya bagai hendak mengganti malam menjadi siang. Membias sampai ke dalam rumah, menyusup lewat celah dinding tepas, membentuk jarum-jarum cahaya dan menembus binar redup lampu minyak tanah yang tergantung di dinding. Angin malam menusukkan gigil pada kulit tubuhmu yang tua dan rapuh. Perlahan kau bangkit dari ranjang, mengansur selangkah untuk meraih lampu minyak, mendekatkan nyalanya ke ranjang, guna memastikan apakah Salminah sudah terlelap. Read the rest of this entry »