Perempuan-Perempuan

April 13, 2014 - Leave a Response

Cerpen Ana Mustamin (Media Indonesia, 13 April 2014)

Perempuan-Perempuan ilustrasi Pata Areadi

1/

TELEPON genggam itu bergetar lagi. Dan untuk ke sekian kali, ia meraihnya dengan perasaan rawan.

“Ya?” Telinganya menguping lebih tajam. “Sa… saya akan bicara dengan Ibu!”

Suara dengan timbre kasar menghardik. Membuatnya seperti terjengkang.

“Se… sebelum jam sembilan!” Meski tergeragap, ia berusaha meyakinkan.  Read the rest of this entry »

Kejadian-kejadian pada Layar

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 13 April 2014)

Kejadian-Kejadian pada Layar ilustrasi Munzir Fadly

—untuk Avianti Armand

SEBUAH layar. Sebuah biru yang dominan. Di sudut kanan agak ke bawah, sesosok lelaki.

Ada benda-benda serupa burung lamat beterbangan dari kanan tengah ke kiri atas, dari sebentuk rimbun pohon dengan daun-daun gemuk menuju semacam langit yang masih hampa. Hanya ada kepak yang gamak. Lelaki itu mendengkur. Seseorang di sampingnya, sesosok perempuan, serupa perempuan, mengatur desah napasnya untuk tak mengendap jadi mimpi buruk yang akan membangunkan lelaki itu. Tangan kanannya menjuntai, seperti hendak menyentuh tubuh lelaki itu. Tapi, tangan itu terhenti, seperti jeda yang dipaksa ada.  Read the rest of this entry »

Tiga Inkarnasi

April 13, 2014 - 2 Responses

Cerpen Tjahjono Widijanto (Suara Merdeka, 13 April 2014)

Tiga Inkarnasi ilustrasi Falia

1357 Masehi: Kawali-Kabantenan

PANJI-PANJI itu berkelebatan di mana-mana, diusung dan dikibar-kibarkan oleh prajurit- prajurit penunggang kuda dan gajah yang gagah. Pasukan bersama panji-panji berkelebat- kelebat itu berderap dengan langkah teratur dengan rumbai-rumbai kebesaran membentang membujur ke kiri dan ke kanan dengan formasi garuda nglayang, burung garuda yang melayang lamban tapi gagah membentangkan sayap-sayapnya. Di mata bocahku warna-warni panji-panji megah itu mengingatkanku pada dongeng Emak tentang rambut bidadari yang berkibar-kibar keemasan turun ke mayapada dengan lesung pipitnya membuat moyangku kepincut dan jatuh hati padanya.  Read the rest of this entry »

Kekasih Hujan (6)

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 13 April 2014)

Kekasih Hujan (6) ilustrasi Bagus

BULAN dua belas. Bulan di mana orang-orang senang membicarakan cuaca. Di bulan ini pula ia lahir. Tetapi bulan kelahiran ini, baginya, tidak lebih sebagai perayaan sekian kemurungan.

***

Ia berubah menjadi perempuan yang banyak menarik diri dari kehidupan – selain tentu pula kulitnya mulai kendur, kantung mata sedikit turun, dan bintik-bintik hitam makin banyak di pipi. Dulu –paling tidak sebelum ia memasuki usia 40—ia perempuan manis yang selalu menyenangkan di mata orang lain. Ia menyimpan kesedihan dalam-dalam dan bersikap ramah dalam situasi apa pun. Teman-teman, kenalan, tetangga, menyukainya. Ia membagikan kue-kue yang dibikin di hari libur. Anak-anak membukakan pintu dengan riang tiap ia memencet bel di rumah mereka dan menjulukinya ”Ibu Baik Hati“.  Read the rest of this entry »

Opera Langit

April 13, 2014 - Leave a Response

Cerpen Arul Chairullah* (Republika, 13 April 2014)

 

Opera Langit ilustrasi Rendra Purnama

GHADRAK biya, asshar fiya, ba taghayyarte syuwayya, ba tagh rayarte musy hu bedayah,” sembari menari-narikan sekujur tubuhnya, Harits, pemuda berkacamata kotak itu lantang mendendang lirik lagu Ummi Kultsum. Tangannya melambai-lambai biru langit menyapa burung kenari, sesekali menggayung air pantai dari samping cadik, lalu menyeka raut kusutnya dari kucuran keringat.

“Ya Said, perahu itu diikuti segerombolan burung, mengapa kita tidak?” tanya Harits sejurus kemudian pada nelayan bertubuh hitam legam yang duduk tenang di sudut perahu.  Read the rest of this entry »

Syukuran

April 13, 2014 - One Response

Cerpen Sori Siregar (Kompas, 13 April 2014)

Syukuran ilustrasi 13 April 2014

SETELAH aku baca, undangan itu kulemparkan ke meja di depanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil keputusan, tidak akan memenuhi undangan itu. Ini tak dapat ditawar karena merupakan keputusan final. Tidak akan.

Tidak ada yang salah sebenarnya jika untuk memasuki rumah baru Dilan mengadakan upacara selamatan atau syukuran. Tapi mengaitkannya dengan pembebasan Darmola terlalu mengada-ada. Aku mengenal Dilan selama dua puluh tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, kejujurannya mengagumkanku. Ia menabung bertahun-tahun untuk membayar sebagian uang muka rumah jenis T-70. Pembayaran cicilan juga akan dilakukannya bertahun-tahun.  Read the rest of this entry »

Dongeng Laba-Laba

April 6, 2014 - 3 Responses

Cerpen Yetti A. KA (Media Indonesia, 6 April 2014)

Dongeng Laba-Laba ilustrasi Pata Areadi

WAKTU bergerak, namun dia tidak–umurnya berhenti di angka 15 tahun setelah 40 tahun dilahirkan. Duri. Itu nama dia. Banyak orang tidak menyukai kehadirannya. Mungkin karena dia tidak sama dengan orang lain. Perempuan 40 tahun yang bertingkah laku seperti remaja menyebalkan. Terkikik-kikik genit dan sering dianggap tidak tahu diri.

Dia memiliki dunia yang orang lain tidak miliki. Dunia kecil yang riang bersama orang-orang yang menyukainya. Orang-orang itu tentu saja teman-teman remaja Duri. Mereka yang terjerat dalam cerita-ceritanya, dalam dongeng dengan banyak pintu yang menawarkan kejutan. Dalam imajinasi-imajinasi yang sebagian orang menganggap tidak lebih dari pikiran perempuan gila.  Read the rest of this entry »

Keledai

April 6, 2014 - Leave a Response

Cerpen Dedy Tri Riyadi (Koran Tempo, 6 April 2014)

Keledai ilustrasi Munzir Fadly

LELAKI tua itu memandang ke arah jalan yang ramai di luar jendela. Di jalanan, entah karena apa, banyak sekali orang seperti sedang menunggu sesuatu yang akan lewat. Mungkin karnaval atau seorang pembesar akan datang ke kota ini. Tangan lelaki itu kelihatan sedikit gemetar ketika mengambil secawan anggur di atas meja di dalam kedai ini. Ketika dia hendak minum, matanya bertumbuk dengan mataku yang dari tadi memperhatikan gerak-geriknya.

“Ayo, minum,” katanya seolah mengajaknya ikut minum bersamanya.

“Silakan,” sahutku singkat sedikit tersipu karena aku merasa tertangkap basah olehnya mengamati dia.  Read the rest of this entry »

Angin Rumput Sabana

April 6, 2014 - 2 Responses

Cerpen Bonifasius Bulu (Suara Merdeka, 6 April 2014)

Angin Rumput Sabana ilustrasi Hery

DI pesisir Pantai Kambera, berdiri sebuah gubuk reyot, beratap alang, berdinding anyaman bambu dan beralas pasir putih. Dari situ jalan setapak itu bermula. Panjang seperti ular membelah padang sabana, melewati jalan beraspal menuju Mondu, terus memanjang ke balik bukit kering dan berbatu cadas di sisi utara.

Setiap pagi berhalimun, kala aku melintasi jalan beraspal menuju Mondu, pada jalan setapak itu melangkah seorang perempuan tua dengan langkah cepat dan tetap. Berkerudung kain hitam, berbaju putih dibalut kain sarung cokelat kemerah-merahan melingkar di pinggulnya. Di pundaknya tergantung sebuah cukulele dan bakul dari anyaman daun tuak. Tangan kanannya menggenggam sebuah periuk hitam.  Read the rest of this entry »

Caleg yang Mati di Hari Pemilihan Umum

April 6, 2014 - 3 Responses

Cerpen Zen R.S. (Jawa Pos, 6 April 2014)

Caleg yang Mati di Hari Pemilihan Umum ilustrasi Bagus

OTONG Asmara mati di hari pemilihan umum. Dia mati karena kecelakaan motor pada jam 10 malam, beberapa jam setelah semua TPS selesai melakukan penghitungan suara. Saat itu dia sedang berkonvoi penuh kemenangan menuju kampungnya bersama tim sukses. Otong mati karena motor yang dikendarainya ditabrak truk yang dikendarai oleh sopir yang sedang mabuk.

Otong saat itu diliputi kegembiraan yang luar biasa. Hasil perhitungan yang dilakukannya menunjukkan dia berhasil mendapat jumlah suara yang melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).  Read the rest of this entry »