Sepanjang Aliran Sungai

May 22, 2012 - 6 Responses

Cerpen Sungging Raga (Koran Tempo, 13 Mei 2012)

BAYANGKAN dirimu adalah aliran sungai. Pada sebuah sore hari, kau berkelok di sebuah hutan tak bernama, di antara baris pepohonan yang memandangmu enggan sambil menjatuhkan daun-daunnya di permukaanmu, dan angin dingin membentuk riak kecil di tubuhmu, bersama bebatuan hitam yang telah lebih dulu menghuni dasarmu. Read the rest of this entry »

Paruntungan

May 22, 2012 - Leave a Response

Cerpen Beni Setia (Suara Merdeka, 13 Mei 2012)

PARUNTUNGAN pasti terlahir di bulan Mei. Tidak jelas tanggal berapa karena kami tidak mengetahui siapa orang tuanya dan kapan proses persalinannya. Mungkin ketika demostrasi anti-pemerintahan Orba dari mahasiswa dan semua orang memuncak di Jakarta, dan berserentakan—dengan intensitas yang sama—diikuti oleh demonstrasi di daerah. Kemudian ada penembakan mahasiswa oleh sniper tak pernah teridentifikasi, dan puncaknya—pada momentum terjadi kekerasan terhadap orang dan aset China di Jakarta oleh si pihak tak pernah teridentifikasi—: Paruntungan digeletakkan di muka gerbang panti asuhan. Di hari ketika semua orang disihir siaran langsung kekerasan itu. Read the rest of this entry »

Senandung Rindu di Istanbul

May 22, 2012 - 2 Responses

Cerpen Ikaningsih (Republika, 13 Mei 2012)

AKU melihatnya. Bukan hanya serupa bayangan. Melainkan, ini sungguh-sungguh realita. Bukan mimpi yang kukubur lama di lubuk hati. Di sini, di negeri yang jauh dari Indonesia. Jauh dari Solo, kota kelahiran kami. Turki. Read the rest of this entry »

Mengenang Kota Hilang

May 21, 2012 - One Response

Cerpen R Giryadi (Kompas, 13 Mei 2012)

Maka lumpur pun datang membasuh wajah kota itu.

(Hasan Aspahani, 2006)

ITULAH bait pertama yang kau tulis dengan tinta yang ragu-ragu keluar dari penanya, ketika perlahan-lahan kotaku terendam lumpur. Begitupun aku menyambut gembira, atas suratmu yang kau kirim melalui denyut hati, karena kau tahu arti penderitaan kami. Read the rest of this entry »

Sepatu

May 9, 2012 - 8 Responses

Cerpen Khrisna Pabichara (Jawa Pos, 6 Mei 2012)

[1]

MUSIM kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tapi, mimpi sepasang sepatu yang terus berkelebat di kepala di sepanjang jalan. Andai kata aku punya sepatu, telapak kakiku tidak akan melepuh atau membengkak. Sebenarnya aku sudah mencoba mencari uang, sebanyak mungkin, agar bisa beli sepatu. Sejak Kelas 3 SR, aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan sepulang sekolah, di sela-sela jadwal rutin menggembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku—sepatu dan sepeda. Namun, sering kali kuserahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan mengisi perut lebih mendesak ketimbang mimpi sederhanaku itu. Setiap menyerahkan hasil nguli nyeset, biasanya mata Ibu berkaca-kaca, seperti hendak mengatakan: “Tidak seharusnya kamu bekerja seperti ini, Nak!” atau mungkin “Terima kasih, Nak.” Read the rest of this entry »