Lelaki Berpeci

June 22, 2014 - Leave a Response

Cerpen Yusri Fajar (Media Indonesia, 22 Juni 2014)

Lelaki Berpeci ilustrasi Pata Areadi

BELUM sampai aku menjejakkan kaki di tepian pantai, tiba-tiba aku terkenang dirimu. Padahal aku mengunjungi pantai ini untuk melunaskan kerinduan pada samudra biru. Dulu ketika tempat ini masih bernama pantai Tanjung Kodok, aku, kau, dan kawan-kawan santri yang rata-rata berumur belasan tahun, setiap Jumat berolahraga lari pagi ke sini sambil melihat keindahan karang mirip katak raksasa yang dihempas ombak bertubi-tubi.

Kini Tanjung Kodok telah menjadi resor mewah, dan hamparan tanah di sekitarnya menjelma arena hiburan, mulai dari adu ketangkasan hingga rumah sakit hantu. Kau, sebagaimana aku, tak pernah menyangka, jika area yang dulu kita kenal sebagai lokasi untuk melihat hilal menjelang Ramadhan dan Lebaran, kini bersanding dengan gegap gempita kesenangan.   Read the rest of this entry »

Keluar

June 22, 2014 - Leave a Response

 

Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 22 Juni 2014)

Keluar ilustrasi Munzir Fadly

 

NICELI keluar rumah pukul delapan pagi. Ia masih ingat bunyi mangkuk jatuh. Itu mangkuk kesayangannya. Mangkuk yang tidak boleh pecah. Tapi semua sudah terjadi. Pecahan-pecahan mangkuk itu bahkan masih berserakan di lantai saat ia meninggalkan rumah.

Dengan muram ia memandang jalan panjang sambil terus memikirkan apa yang akan dikatakan Norm jika tahu mangkuk itu sudah berakhir? Ia menapaki jalan; satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, lima langkah, dan entah nanti sampai berapa saat akhirnya ia berbalik lagi. Bunyi mangkuk jatuh tidak juga pergi dari kepalanya. Bunyi yang mendekam dalam kepala dan muncul berulang-ulang.  Read the rest of this entry »

Kelelawar di Atas Kepala Mama

June 22, 2014 - One Response

Cerpen Erna Surya (Suara Merdeka, 22 Juni 2014)

Kelelawar di atas kepala mama ilustrasi hery purnomo

MAMA tak pernah marah padaku. Ia selalu muncul sebagai peri nan cantik. Rambut panjang mama tergerai indah, itu yang selalu kulihat. Selebihnya, suara lembut yang kudengar bila ia dekat-dekat denganku. Mama tak pernah meninggalkanku di malam hari. Pernah aku tersedak ketika tengah makan malam. Ia menepuk-nepuk punggungku seraya berkata, ’’Tak apa-apa.’’ Ah, mama yang baik.

’’Kau sudah besar.’’  Read the rest of this entry »

Firasat

June 22, 2014 - 2 Responses

Cerpen Fahdiant Uge (Republika, 22 Juni 2014)

Firasat ilustrasi Rendra Purnama

“BU, tapi ini sudah keempat kalinya. Berturut-turut!” kalimat Shafira bergetar. Ketakutan.  Air teh panas yang di tuangnya membuat gelas beling bening retak. Air teh memenuhi meja makan. Menetes ke lantai. Shafira mengempaskan teko. Ada embusan putus asa atas kepungan firasat buruk di benaknya.

“Kamu ini termakan sinetron. Gelas retak itu biasa. Kualitas pabrik sekarang menurun,” ibunya tidak menggubris. Konsentrasinya tertuju pada mangkuk berisi sayuran dan lauk yang dihidangkan di meja makan. Dalam hati, ibunya membenarkan hipotesis tersebut. Shafira berusia 30 tahun, tetapi kekanak-kanakan. Bagaimana jadi istri orang jika setiap kejadian diartikan firasat buruk? Bisa makan hati.  Read the rest of this entry »

Kuda Emas

June 22, 2014 - 5 Responses

Cerpen Tawakal M Iqbal (Kompas, 22 Juni 2014)

Kuda Emas ilustrasi
CIASAHAN, hanya di Ciasahan orang tua dan anak-anak mudah sekali memercayai kisah, baik sejarah ataupun bualan seorang Kakek kepada cucu-cucunya. Kisah bagaikan sesuatu yang turun dari langit, semisal kitab,yang sakral dalam dada setiap masyarakat. Tetapi, kisah ini, bagi anak kecil, adalah kisah paling fenomenal di antara yang lainnya.

Ini menyangkut banyak hal terutama misteri dan materi. Bagaimanapun kampungannya kampungku tetap saja materi selalu dijadikan prioritas, mengapa anak-anak mau menurut pada orang tuanya untuk bersekolah. Padahal jika dipikirkan, terlalu banyak waktu kami yang terbuang hanya untuk diam di kelas, mendengarkan guru berceramah misalnya. Ada banyak hal di kampungku yang sebetulnya sayang sekali dilewatkan, daripada belajar di sekolah tentunya. Sayangnya, anak-anak di kampungku tidak ada yang berani menolak apalagi melanggar perintah orang tua.  Read the rest of this entry »

Telur

June 1, 2014 - Leave a Response

Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 1 Juni 2014)

Telur ilustrasi Munzir Fadly

BEGINI awal yang kutahu: aku lahir—mungkin yang tepat bukan lahir, tapimerucut—sebagai telur, dan bukan berwujud bayi ayam. Ayam yang melahirkan aku adalah babon blorok, bekisar ayam bangkok dan ayam kate sekaligus. Artinya, ibuku adalah hasil kawin silang ayam bongsor dan ayam ceper. Tentu bisa kaubayangkan bagaimana bentuk babon yang melahirkan aku. Dan betul. Babonku adalah ayam yang tidak tinggi. Juga tidak pendek. Bolehlah dibilang sedang.

Begitu riwayat singkat babonku. Tapi sebentar. Sebagai calon ayam zaman sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana kakekku dari ras ayam bangkok melompat dan menaiki nenek dari ras kate. Umat manusia—tuan para ayam—yang hidup di zaman Kompeni tentu mudah membayangkan persetubuhan macam itu. Sebab, masa itu memang sudah biasa lelaki Kompeni berbadan tinggi besar itu dengan sembrono menyetubuhi wanita pribumi. Tapi siapa tahu ada juga wanita pribumi yang diam-diam merasa nikmat disetubuhi Kompeni? Untuk kasus kakek dan nenekku, aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana derita ayam kate ketika dinaiki ayam bangkok. Atau, jangan-jangan, kakekku memang terobsesi Kompeni. Tapi tidak penting menceritakan Kompeni di sini. Yang penting adalah mengusut persilangan sembrono kedua jenis ayam itu, yang menjadikan aku hadir ke dunia sebagai sebutir telur.  Read the rest of this entry »

Kursi Bernyawa

June 1, 2014 - One Response

Cerpen Apendi (Kompas, 1 Juni 2014)

Kursi Bernyawa ilustrasi

ADA sebuah sofa besar di rumah kakekku yang begitu tua dan antik hingga dapat disebut keramat. Kursi itu terletak di ruang tamu sehingga siapa pun yang berkunjung ke rumah kakek, otomatis akan melirik ke kursi itu terlebih dahulu. Lucunya, meskipun tidak ada yang melarang siapa pun untuk duduk di kursi itu, para tamu yang datang enggan menenggelamkan diri ke dalamnya.

Mungkin mereka menyadari kehadiran arwah-arwah yang bersemayam di kursi itu. Atau mungkin pula mereka takut ganti rugi jika kursi itu tiba-tiba rusak.  Read the rest of this entry »

Seekor Capung Merah

May 25, 2014 - 6 Responses

Cerpen Rilda A. Oe. Taneko (Media Indonesia, 25 Mei 2014)

Seekor Capung Merah ilustrasi Pata Areadi

TIRAI bambu melindungiku dari hangat mentari yang mulai terbenam. Aku berdiri di beranda rumahnya Rumi,  tetangga sebelah rumahku, dan memanggil-manggil namanya. Di samping tirai bambu, sebuah lonceng angin berkelening.

Rumi muncul dari balik pintu kawat nyamuk. Wajahnya ditutupi bedak putih. Dia menyukai itu. Dia selalu menepuk-nepuk wajahnya dengan bedak tebal setelah mandi sore.

“Datanglah ke lapangan denganku,” pintaku.  Read the rest of this entry »

Suara 3

May 25, 2014 - One Response

Cerpen Taufik Ikram Jamil (Koran Tempo, 25 Mei 2014)

Suara 3 ilustrasi Munzir Fadly

KALAU hanya satu atau dua orang warga yang melaporkan kehilangan suara, kehilangan suara yang sesungguhnya, Abdul Wahab mungkin tidak begitu risau. Tetapi nyatanya, dalam satu hari ini saja, sudah tiga orang yang melaporkan hal ihwal serupa kepadanya. Tidak hanya karena sebagai Ketua Kampung, sebagai warga biasa pun, Wahab – demikian ia selalu disapa—pastilah merasakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah kejadian biasa, malahan sesuatu yang luar biasa.

Sambil menyeruput kopi petang itu, tiba-tiba saja ia begitu yakin bahwa pelapor dalam kasus yang sama akan terus bertambah, terus bertambah. Perasaan itu yang menyeret langkahnya menuju halaman rumah. Dibiarkannya kopi yang tinggal setengah dalam gelas batu tanpa tutup dengan panas yang masih menyengat. Lupa ia bahwa masa seperti itu, Biah yang dinikahinya 40 tahun lalu, segera menemaninya sambil berbincang tentang apa saja sebelum senja melipatkan jubah merah kesumbanya untuk malam.  Read the rest of this entry »

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta

May 25, 2014 - Leave a Response

Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’ Read the rest of this entry »